Bangga menjadi kafir

Agustus 21, 2006

Walaupun orang islam sering menganggap derajat orang kafir itu lebih rendah daripada orang islam, wakaupun nanti orang kafir bakalan dimasukkin ke neraka selama-lamanya, walaupun orang kafir dianggap nggak bisa mikir sama orang islam, walaupun darah orang kafir halal bagi orang islam, Gue tetap bangga dan lega menjadi kafir !

Terima kasih gue ucapkan kepada Allah Swt Yang Maha Esa, atas anugerah, bimbingan rohani dan ajarannya dalam Al Quran yang telah membimbing gue keluar dari Islam, Terima kasih buat kaum terorist dan koruptor yang telah menginspirasi gue untuk memikirkan kembali tentang agama luar biasa damai dan tenang ini. Terima kasih buat pemuka-pemuka agama yang telah memberikan contoh kehidupan perkawinan yang amat sangat baik seperti poligami, kawin siri dan kawin kontrak. Terima kasih buat para majikan arab yang memperlakukan wanita-wanita TKI sebagaimana harusnya seperti yang tertuang dalam al-quran yaitu memperlakukan seperti budak-budak kamu dan dihalalkan untuk disetubuhi. Mereka semua sangat luar biasa dalam memberikan inspirasi mengenai kehidupan beragama yang penuh rahmat lil alamin ini. Akhir kata gue ucapkan Alhamdulillahi robbil alamin. Gue kini telah bergabung dengan 3.5 milyard penduduk bumi yang kafir.

weleh, ada milis gebrak-usa

Agustus 21, 2006

huahahuahaaaa….ooo…jadi memang diajarin di al-quran buat berperang ya ?
Ya Allah  Swt yang maha perkasa lagi maha bijaksana, kenapa tidak engkau gunakan cara Engkau sendiri ? kenapa harus menurunkan umatmu untuk menggempur amerika.

katanya maha perkasa ?

Ya Tuhan Allah SWT, jadi Engkau ciptakan manusia untuk saling berperang ? Engkau beda-bedakan mana yang beriman dan mana yang kafir menurut kehendak Engkau sendiri ? kenapa tidak engkau Islamkan saja semua makhluk diplanet ini ? kenapa harus Umatmu yang berjuang untuk mengislamkan planet Bumi ini ?

Sungguh, sumpah mampus, Engkau memang Tuhan paling Aneh yang aku kenal wahai Allah Swt

http://groups.yahoo.com/group/gebrak-usa/

Syaikh Asy-Syahid Abdullah Azzam:

“Teror Adalah Sebuah Kewajiban Dalam Kitabullah”
Saat ini ‘jihad’ hanya menjadi bahan wacana pada sebuah masjid yang tenang yang dimulai dengan pepsi dan di akhiri dengan nasi dan daging.

‘Jihad’ hanya pertemuan tiga pemuda yang membaca buku di sebuah tempat dan sebuah masjid. Menulis artikel di surat-surat kabar yang hasil uangnya lebih banyak dari isinya. Menulis sebuah buku tentang jihad. Tanpa ada pengamalannya.

Tapi ia belum pernah menembakkan sebutir peluru pun apalagi pergi beribath satu malam di jalan Allah.

Saudara-saudara, kami ajak pemuda-pemuda Islam kembali mengikuti ajaran Muhammad SAW dan mencontohi apa yang telah beliau laksanakan. Dan kami ajak menuju kemari datang kelembah-lembah dan pegunungan ini, supaya hati mereka menjadi jernih kembali dan iman mereka bertambah mantap.

Nyatakan kepada orang kafir dan sallibis, bahwa kami adalah teroris, karena teror itu adalah sebuah kewajiban yang tercantum dalam Kitabullah. Dunia timur dan barat harus tahu bahwa kita adalah teroris dan ekstrim. Itu tercantum dalam surat Al-Anfal ayat 60:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan kekuatan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
Jadi, menteror musuh-musuh Allah adalah sebuah kewajiban dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Bidadari…bidadari…oh bidadari….

Agustus 21, 2006

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/6/11/opini.html

“Saya sempat menawarkan diri menjadi pelaku bom bunuh diri. Waktu itu, Ustad saya (maksudnya Subur, tahanan Polda Metro Jaya) mengatakan, dengan menjadi pelaku bom bunuh diri, saya akan masuk surga. Saat meledak dan darah saya mengalir, saat itu dosa saya akan dihapuskan. Kemudian saya akan dijemput 72 bidadari yang akan mengantar saya ke surga,” ungkap terdakwa Bom Bali II, Anif Solchanudin alias Pendek bin Suyadi di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.
(DenPost, Rabu 7 Juni 2006)
—————–
PENGAKUAN Anif itu, konon kontan membuat para pengunjung sidang, tak terkecuali para hakim dan jaksa, tertawa sembari geleng-geleng kepala. Rubag yang hanya membaca koran, juga geli dan prihatin. Ternyata di tengah-tengah kemajuan sains dan teknologi, yang juga disertai kemajuan perangkat komunikasi yang mampu mengakses seluruh pelosok Tanah Air, masih ada orang-orang seperti Anif yang senantiasa dibuai khayal dan mimpi. Ironisnya, khayalan serta mimpi tentang surga dan bidadari diindoktrinasi orang yang seharusnya mengajarkannya tentang kesolehan dan kebaikan, justru menjerumuskannya untuk jadi pembunuh massal.
“Apakah tidak lantaran banyak terjadi pembunuhan yang mengatasnamakan Tuhan membuat Karl Marx melontarkan aphorisme, agama adalah candu masyarakat? Mungkin karena perilaku beberapa orang yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan, kemudian memerintahkan para pengikutnya melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Tuhan, membuat Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Selanjutnya, ‘tuhan-tuhan kecil’ atau manusia yang berlagak seperti Tuhan itu memicu konflik-konflik berlatar agama yang meletus sejak abad pertengahan dan menelan jutaan korban manusia serta harta benda, termasuk peninggalan sejarah,” renung Rubag.
Rubag berusaha membayangkan kisah Perang Salib yang pecah tahun 1099 dan berlangsung selama beberapa abad, sehingga runtuhnya WTC New York 11 September 2001 pun dianggap Rahul Mahajan sebagai “Perang Salib Baru”.
Sebagai orang Bali beragama Hindu, Rubag sebenarnya tak punya urusan dengan Perang Salib yang terjadi di sebuah kawasan yang tidak pernah dikunjunginya, bahkan tak ada kaitannya dengan Hinduisme dan Bali(isme). Perang Salib semata-mata masalah perebutan pengaruh dan kawasan suci Yerusalem di kalangan rumpun agama Oksidental yang meliputi Ibrani, Kristen dan Islam. Sedangkan Hindu, Budha dan Kong Hu Cu termasuk rumpun Oriental, sama sekali tidak terkait dengan urusan itu.
Namun, lantaran bom bunuh diri meledak dua kali di tempat kelahiran Rubag tahun 2002 dan 2005, yang menelan ratusan jiwa dan merobek citra Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia paling nyaman, terbetik pertanyaan di benak Rubag, apakah skenario “Perang Salib Baru” memperluas wilayahnya hingga ke Bali? Syukur, orang-orang Bali yang selalu berpedoman pada kepercayaan “Karma Phala” tidak terpancing sehingga terhindar dari perang saudara seperti yang dialami masyarakat Ambon, Poso dan Palu. Di benak orang Bali selalu terpateri ujaran “ala tinindak ala tinemu, ayu tinindak ayu tinemu” sehingga dua kali ledakan bom hanya disikapi dengan upacara dan doa atau yadnya.
“Saya tidak tahu wajah bidadari, saya juga tidak tahu surga itu seperti apa. Pokoknya, pikiran saya terus dinasihati agar membenci orang Amerika. Katanya orang-orang muslim di Amerika disiksa, membuat saya benci Amerika dan pikiran saya terus dikontaminasi nasihat-nasihat seperti itu. Dan saya baru tahu kalau itu semua tidak benar, saya bersyukur tidak jadi menjadi pelaku bom bunuh diri,” tutur Anif, seperti dikutip DenPost, menjawab pertanyaan hakim, apakah Anif tahu wajah bidadari dan pernah melihat surga.
***

MEMBACA pengakuan Anif itu, Rubag teringat tentang somnambulisme yang ditulis Djorghi. Sebuah praktik kebatinan yang dilakukan seorang ahli hipnotis terhadap seseorang, di mana otak orang yang dijadikan objek atau somnambulis, dikosongkan dan panca inderanya dinonaktifkan. Segala doktrin yang didengarnya dari pihak yang menghipnotis menjadi dasar pijakannya selama dalam kondisi somnambul. Dia mengalami amnesia dan penuh halusinasi. Karena terputusnya hubungan panca indera dengan otak, dia tidak mampu menganalisis apa pun kecuali doktrin yang didengarnya dari penghipnotis.
Dalam kasus Anif, yang didengar cuma tentang kebencian terhadap Amerika, instruksi membunuh lewat bom bunuh diri, penghapusan dosa, janji masuk surga dan disambut 72 bidadari. Dalam keadaan somnambul (somnus = tidur, ambulare = jalan) atau tidur sambil jalan, somnambulis bisa melakukan tugasnya lebih cekatan dibanding orang-orang normal karena tidak terpengaruh situasi lingkungan akibat tidak berfungsinya panca indera.
“Pada saat pelaku bom bunuh diri melakukan misinya, semua sistem pertahanan menjadi telanjang dan tidak relevan. Kecerdikan bom bunuh diri jauh melampaui smart bomb yang senantiasa dibanggakan Amerika Serikat,” komentar pakar antiteroris Israel, Boaz Ganor.
Pendapat Boaz Ganor itu tidak perlu diragukan. Paling tidak, ada dua kali bom bunuh diri yang terjadi di kota kebanggaan AS, New York dengan sasaran yang sama, World Trade Center (WTC). Pertama, sebuah truk sewaan penuh bahan peledak mengguncang lapangan parkir gedung yang menjadi lambang kapitalisme global itu pada 26 Februari 1993, meski hanya menimbulkan kerusakan tidak berarti. Mahmud Abouhalima, pria keturunan Mesir yang menetap di New York City ditangkap dan dituduh sebagai otak pelaku pengeboman.
Di pengadilan, Abouhalima yang beristrikan wanita Jerman karena sebelumnya pernah tinggal di Munich mengatakan bahwa dia tidak tersangkut paut dalam pengeboman itu, namun menyetujui tindakan itu bila dikaitkan dengan tindakan serupa yang dilakukan AS terhadap Nagasaki dan Hiroshima pada Perang Dunia II. Dia kecewa karena kerusakan tak seberapa. Selanjutnya dia berkomentar bahwa Amerika adalah musuh dunia.
Guru spiritual Abouhalima, Syekh Omar Abdul Rahman menambahkan, “Pembalasan Tuhan akan mencoret Amerika dari muka bumi!”
Kebencian serupa juga dinyatakan Osama bin Laden, sebelum dua pesawat komersial bajakan menghujam WTC, 11 September 2001. Alasannya, AS telah menduduki tanah-tanah Islam di tempat-tempat yang paling suci, semenanjung Arabia, menguras kekayaannya, mendikte para penguasanya, merendahkan orang-orangnya dan mengadu domba negara-negara muslim yang bertetangga.
Karena itu, Osama menyerukan agar semua umat muslim bergabung dengannya dalam sebuah perang demi kebajikan untuk membunuh orang-orang Amerika dan merampas uang mereka di mana pun dan kapan pun. “Hal ini sesuai dengan firman Tuhan Yang Mahakuasa dan setiap muslim yang beriman pada Tuhan dan ingin mendapatkan pahala harus menuruti perintah Tuhan,” seru Osama seperti ditulis Mark Juergensmeyer dalam buku “Teror Atas Nama Tuhan, Kebangkitan Global Kekerasan Agama”.
Agaknya, pikir Rubag, doktrin serupa yang diserukan Osama-lah mungkin didengar Anif secara berulang-ulang sehingga dia membenci Amerika seperti musuh bebuyutan. Karena saking terbius ingin menginjak surga dan disambut 72 bidadari, pria kelahiran Semarang itu nyaris ikut membunuh orang-orang yang bahkan tidak pernah dikenalnya dan bukan musuh pribadinya. Mungkin karena di bawah somnambul, tidak pernah dipikirkannya kalau banyak di antara mereka yang tewas dan terluka dalam tragedi bom 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran itu, pernah menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa” dan “Indonesia Raya” semasa hidupnya.

\—————————————-\

oooo….jadi ini semua gara-gara 72 bidadari sexy itu ? oh bidadari…bidadari….
kecantikanmu membuat makhluk-makhluk gila seks menjadi biadab dan kejam….

oh…wahai bidadari….makhluk ciptaan siapakah gerangan engkau ?

email dari seseorang

Agustus 21, 2006

dibawah ini email dari seseorang yang bagus sekali isinya menurut gue…..

\—————————————-\

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2
muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak segan2
mempertanyakan keimanan dan aturan2 dalam agama. Kalau kurikulum
pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu mengaddress
masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

1) anak2 muda ini menjadi ragu terhadap agama dan bila keragu2an ini
lambat laun menumpuk, mereka tidak segan2 mendeclarekan diri keluar
dari agama atau bahkan mencela agama,

2) mereka akan mencari sumber2 informasi dari luar sekolah yang dapat
menjawab pertanyaan2 mereka. Informasi dari luar ini mungkin bisa
memuaskan keingintahuan dalam pemahaman terhadap agama. Bisa jadi ini
mengantarkan mereka kepada pemahaman agama yang benar, atau pemahaman
agama yang salah yang dapat melahirkan sikap ekstrimisme dalam
beragama, atau sebaliknya mungkin malah membuat mereka tambah ragu dan
keluar dari agama.

Berdasarkan pengalaman saya sejak SD sampai SMA di tanah air dahulu,
pelajaran2 agama di sekolah lebih bersifat kepada doktrin dan sangat
sedikit (kalau bisa dibilang ada) yang membahas kerangka berpikir
dalam menyikapi pertanyaan2 terhadap masalah keimanan dan aturan2
agama. Baru semasa kuliah S1 dulu, ketika saya tinggal dengan beberapa
roomates non-Muslims, saya dihadapkan kepada banyak pertanyaan2 yang
sebelumnya tidak pernah saya dapatkan dari pelajaran agama di sekolah
di Indonesia. Kebetulan roomates saya dulu ada yang Kristen, ada yang
atheist dan ada yang agnostic. Saya dihadapkan kepada pertanyaan
mengenai masalah keimanan, baik dari si atheist (“Why do you believe
in God that cannot be seen?”, “Why do you believe in such God that
creates evil in the world?”, etc.), dari agnostic (“Why are you so
sure that God sent down His revelation to us on this earth?”, “Isn’t
possible God of all religions is infact an alien -UFO- that has more
advanced technology than us who wants to control over us?”, etc.),
maupun dari Kristen (“Why are you not sure that you are going to
heaven like us who accept Jesus died for our sin?”, “Why do you
believe in the Arabian Prophet who came 600 years later after Jesus?”,
etc). Ada pula pertanyaan mengenai masalah tata cara ibadah yang
diamati mereka (“Why do you have to wash 3-3 times?”, “Why do you have
to pray 5 times a day?”, “Why do you have to face that way?”, “Why do
you have to say your prayer in Arabic?”, “Why do you have to suffer
not eating or drinking for many hours?”, etc.). Belum lagi kalau ada
peristiwa2 yang terjadi di Middle East yang diberitakan di media
massa. “Look, Muslims are killing innocent people again!”, “Are
Muslims not allowed to live peacefully with people of other faith?”,
“Aren’t you somewhat embarrassed to profess this faith that has
spilled so much blood in its history?”, etc.

Mungkin pertanyaan2 atau komentar2 seperti di atas tidak pernah
terdengar di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslims, sehingga
tidak ada atau masih sedikit usaha dari pihak pengajar agama untuk
meng-address-nya. Mungkin menurut banyak da’i di Indonesia, buat apa
buang2 waktu menjawab pertanyaan2 yang aneh2 macam itu, masih banyak
urusan umat yang real, yang harus diperbaiki. Para da’i seharusnya
siap menghadapi pertanyaan2 yang mungkin sebelumnya tidak pernah
keluar (atau tidak berani) ditanyakan oleh generasi2 zaman mereka.
Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap
“kafir” oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak2
yang sejak kecil (terutama yang dibesarkan di negara2 barat) yang
kritis dan tidak mau menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan
yang masuk akal mereka. Dan saya rasa pertanyaan2 macam ini cepat atau
lambat akan keluar juga dari para generasi muda akibat era globalisasi
di mana pertukaran informasi di bumi sudah terjadi dan tidak bisa
dihindarkan lagi. Dan bila tidak ada yang care terhadap masalah ini,
tidak mustahil tidak sedikit generasi muda yang bingung dan
berpandangan liberal yang menghalalkan segala2nya, atau berpandangan
extrim yang mudah termakan emosi dan membuat konflik di masyarakat,
atau bisa pula menjadi ragu dan keluar dari agama. Ini semua muncul
akibat pemahaman agama yang salah.

Berdasarkan pengamatan saya, perasaan sensitif anak2 muda terhadap
agama ini bisa dipengaruhi pula oleh pandangan mereka terhadap tingkah
laku orang2 tua (terutama para ulama atau ustadz) yang mereka anggap
merupakan contoh “ideal” dari orang2 yang ahli agama. Ketika ada orang
tua atau ulama yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, image
agama orang tsb turut menjadi buruk dalam pandangan mereka. Kekaguman
mereka terhadap seorang ustadz misalnya berubah menjadi kebencian
(bukan hanya terhadap sang ustadz tapi juga terhadap agamanya) setelah
mengetahui “kekurangan” dari ustadz tsb. Karena itu tidak aneh kalau
ada anak muda yang KTPnya Islam berkomentar “Ah agama apaan tuh,
ngajarinnya cuma kawin melulu!” atau “Ah, nggak usah capek2 belajar
Islam, tuh lihat orang ahli Islam aja tingkah lakunya seperti itu!” -
akibat kecewa melihat “kemunafikan” orang2 yang sebelumnya diidolakan.
Mereka menilai suatu agama dari perbuatan pemeluk2nya, serupa dengan
banyak orang di banyak negara yang menilai Islam sebagai agama yang
buruk akibat melihat perbuatan buruk pemeluknya.

Atau bisa pula kekecewaan mereka timbul akibat melihat pertikaian yang
tidak kunjung habis antara intern pemeluk agama sendiri, baik yang
berbeda pandangan atau pun akibat banyaknya sekte2 di dalam Islam.
Bagi banyak orang mungkin banyaknya paham2 dalam Islam ini membuat
mereka bingung sehingga feel frustrated dalam memahami perbedaan2 yang
ada ini. “Islam yang mana?” menjadi pertanyaan yang tidak asing lagi
di telinga kita. Tiap2 pandangan yang berbeda sama2 berusaha
mendasarkan pandangannya dengan Qur’an maupun hadits Nabi. “Islam
warna-warni”, “Islam multi-interpretasi”, “jangan mengklaim kebenaran
sendiri”, dll, juga sering terlontar secara apriori tanpa ada usaha
melihat dan menganalisa setiap pandangan yang berbeda ini.

Ada baiknya kerangka dasar dalam berpikir atau berargumentasi yang
benar dipahami oleh setiap Muslim terutama para generasi mudanya
sehingga mereka dapat meresponse dengan baik argument2 yang banyak
ditemui dalam pergolakan pemikiran (ghazwul fikr) baik dari kalangan
internal (paham liberalism, extremism, sectarians, dll) dan kalangan
external (atheism, orientalism, missionaries, Islamophobic, dll).
Sebenarnya para ulama sejak dulu dalam membahas masalah2 agama, baik
itu dalam hal ushul fiqh, ibadah, aqidah, maupun muamalah, selalu
menggunakan metode2 maupun kerangka berpikir yang bisa dijumpai dalam
kitab2 mereka. Sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini
sering hilang dalam argument2 orang Islam ketika meresponse pendapat
yang berbeda, yang sering kali lebih terasa nada emosionalnya daripada
bobot argumentnya.

Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari kesalahan2 dalam
berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini antara lain:

1. “Inconsistent”: Contohnya si A bilang “Sirah dan hadits tidak bisa
dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal”. Tapi ketika A
ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad,
atau dari mana ia tahu Qur’an yang ia percayai terjaga kemurniaannya
sejak zaman Nabi sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis
sirah dan hadith, ini namanya inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah
dan hadits, mengapa masih dipakai untuk dasar keimanannya?

Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika menghujat Nabi SAW
dengan leluasa menggunakan cuplikan2 hadits dan sirah sesukanya (Nabi
berpoligami, kisah2 dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi ketika
ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan
tanda2 kenabian Nabi seperti mu’jizat2 beliau, mereka berkomentar
bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh
sesudah Nabi wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih
dipakai untuk menghujat Nabi?

Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang pada
kenyataannya jelas2 berbeda. Kalau ada orang yang bilang “Semua
interpretasi atau tafsiran agama adalah sah2 saja dan benar adanya
karena kebenaran itu relatif sifatnya”, maka ia harus bisa konsisten
untuk tidak menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh
orang2 tak berdosa, atau pendapat2 yang menghalalkan sex bebas,
incest, dlsb, dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan
orang tidak ada salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu
bilang halal, yang lain bilang haram, benar kedua2nya? Kalau kita mau
jujur, kita akan mengakui bahwa “logical circuit” dalam otak kita
jelas menolaknya.

2. “Incomprehensive”: Si A bilang “Orang Islam diajarkan Qur’an ayat
5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang2 non-Muslim.”
Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata2, context maupun
historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan
ayat tsb seharusnya tahu ada ayat2 Al Qur’an lain yang menjelaskan
lebih jauh mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang
partial terhadap hal2 ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil
kesimpulan.

3. “Out-of-context”: Si A bilang “Dalam Al Qur’an ayat 9:5, orang
Islam diperintahkan membunuh orang2 musyrik di mana saja mereka
jumpai”. Si A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum
mengambil kesimpulan demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang2
kafir Quraisy serta sekutu2 mereka yang memerangi umat Islam saat itu).

4. “Generalization”: Ini serupa dengan pepatah “Karena nila setitik
rusak susu sebelanga”. Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena
di antara pemeluk2nya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan
dalih agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya,
mayoritas umat Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang
teguh pada prinsip2 agama yang jelas2 melarang aksi terorisme. Apakah
orang2 Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama
penjajah “gold-glory-gospel” karena perlakuan sebagian kelompok mereka
terhadap bangsa2 di dunia?

5. “Double-standard”: Si A yang beragama Kristen bilang “Islam adalah
agama palsu karena Nabinya berpoligami”. Seharusnya si A tahu bahwa
Nabi2 yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang
mengutuk pembunuhan orang2 tak bersalah sebagai perbuatan terorisme,
tapi di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah
melabelnya sebagai “collateral damage”. Dengan menggunakan standard
yang sama, pembunuhan orang2 tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai
tindakan terorisme, tidak peduli siapa korban dan siapa pelakunya.

6. “Straw-man” : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya
(biasanya dicampur “half-truth” atau “twisted-truth”). Misalnya si A
menuduh “Al Qur’an merendahkan status wanita di bawah status laki2″.
Meskipun dalam Qur’an disebutkan “Laki2 adalah pelindung /pemimpin
kaum wanita” ini tidak berarti di dalam Islam status wanita itu lebih
rendah dari status laki2 karena masing2 memiliki role yang berbeda
dalam pandangan Allah SWT.

7. “Red-herring” : mengalihkan subject sehingga bukan membahas
argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya,
ketika si A ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya
menjawab pertanyaan tsb, si A malah membawa tuduhan banyaknya
kontradiksi di dalam Qur’an.

8. “Appeal to authority”: Si A bilang ke si B “Argument anda pasti
salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli
dalam bidang ini”. Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan
merefer ke authority yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si
professor yang disebutnya tadi.

9. “Ad-hominem” (argument to the man): bukan argumentnya yang dibahas,
tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan
dengan argument yang didebatkan. Misalnya, “Pendapat si A itu sudah
pasti salah karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren”, atau
“Ah, pendapat si B yang playboy kayak gitu kok dibahas!”. Padahal
logis tidaknya suatu argument tidak bisa ditentukan dari pribadi orang
yang berargument. Dalam beargumentasi, yang harus dilihat adalah
argumentnya, jangan diserang orangnya.

etc.

Kerangka berpikir hanyalah “tool” (framework) yang bisa digunakan
dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan
masalah2 agama, tapi juga masalah2 dalam hidup lainnya. Karena hanya
general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa
saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang2
non-Muslim orang2 Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan
mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini,
metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama
dapat dimengerti, sehingga diskusi2 maupun debat2 dalam memahami agama
dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing2 pihak
yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan
perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari.

Wallahu’alam.

Mudah2an ada manfaatnya.


Wassalam,
Ridha

\—————————————————————-\

Too late Ridha….too late…gue  udah jadi orang murtad dan kafir..karena  nggak ada yang bisa diajak diskusi dengan logis ke gue.

MANUSIA-MANUSIA YANG HIDUP DI MASA KINI ADALAH KORBAN AMBISI POLITIK DAN HASIL MANIPULASI ORANG-ORANG DIMASA LALU !!. SEGALA SESUATUNYA YANG TIDAK RELEVAN TERUS MENERUS DIPAKSAKAN SEHINGGA TIMBUL KONFLIK ANTARA DOGMA AJARAN MASA LALU DAN KEINGINAN KAUM PEMIKIR BERDASARKAN LOGIKA DAN BUKTI EMPIRIS

aduh seramnya

Agustus 20, 2006

ingin lihat orang ditimpukkin pake batu sampai meninggal ?
udah gitu yang nimpuk pakai acara teriak-teriak Allahu Akbar…

http://www.apostatesofislam.com/media/stoning.htm

aduh gimana nggak jadi tambah murtad lihat hukuman kejam seperti ini
as tagfirlullah, ya Tuhan Allah Swt, aku pilih jadi murtad dariada lihat perlakuan umatmu seperti ini.

salah satu alasan juga buat murtad

Agustus 20, 2006

diambil dari situs http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=44175#44175

Memang susah dicerna dengan akal sehat tentang adanya Tuhan yang mengkhendaki terus adanya perang. Susah banget nih masuk di akal sehatku.

itulah sebabnya aku lebih baik jadi mrutad dan kafir daripada percaya dengan dogma tanpa dasar !!!

Biar Murtad yang penting punya semangat Damai untuk sesama umat manusia. Peace for all human mankind!!

sumber orisinal : http://www.sitemaker.umich.edu/satran/files/atranba_asyirinterview0209 05.pdf.

Wawancara dgn Abu Bakr Ba’asyir, tertuduh ketua Jemaah Islamiyah, tgl 13-15 August, 2005 dari penjara Cipinang, Jakarta. Pertanyaan diajukan Scott Atran dan diterjemahkan dlm Bahasa Indonesia oleh Taufiq Andrie.

Q. UNTUK MENJADI MARTIR, ARTINYA SEBAGAI BOM BUNUH DIRI ?

A. Kemarin sudah saya terangkan kan. Jadi kalau didalam orang kafir itu ada dua; bunuh diri karena putus asa dan bunuh diri karena ingin pahlawan. Tapi dua-duanya ini bunuh diri hukumnya tidak ada nilainya. Tapi kalau dalam Islam ada orang yang bunuh diri karena putus asa, ada juga dalam Islam, itu namanya bunuh diri. Tapi kalau dia itu membela Islam dan menurut pertimbangannya itu dia musti mati, mesipun berusaha keras tapi karena matinya untuk Islam ya dia berangkat.

Jadi pertimbangannya itu disitu. Pertimbangannya begini, saya berbuat seperti ini Islam akan untung musuh islam akan rugi. Tapi saya mesti mati kalau tidak mau mati maka tidak bisa. Nah itu usaha, nggak apa-apa, tapi kalau bisa mengelak kalau bisa ndak mati. Tapi kalau mati ndak apa-apa. Itu namanya istimata atau ijtijhad.

Istimata artinya mencari mati syahid. Ijtijhad artinya mencari mati syahid. Karena mati dalam perjuangan itu mati yang mulia. Menurut Islam itu mati itu kan mesti karena semua orang pasti mati, didalam islam itu bagaimana mendapat mati yang baik, namanya Khusnul Khatimah. Nah mati yang baik itu, topnya mati baik itu syahid.

Q. APAKAH TINDAKAN MARTIR DAPAT DIBATALKAN BILA HASIL YANG SAMA DAPAI TERCAPAI MELALUI TINDAKAN LAINNYA, SEPERTI BOM DI PINGGIR JALAN ?

A. Tentunya. Kalau ada yang memang lebih baik, yang bisa tanpa mengorbankan jiwa, tentunya ditempuh itu. Karena tenaga masih bisa dimanfaatkan untuk yang lain. Itu kan asal mulyana ulama memperbolehkan itu kan asalnya dari cerita nabi Muhammad.

Jadi pada saat itu ada seorang pemuda yang dia itu tadinya dididik untuk jadi tukang sihirnya Firaun. Raja dulu itu punya tukang sihir, pejabat sekarang pun banyak yang punya dukun. Suharto itu dukunnya banyak. Setelah tukang sihirnya tua, dia disuruh untuk menunjuk pengganti, tapi di dalam perjalanan dia ketemu pendeta. Akhirnya dia belajar pada pendeta itu.

Kesimpulannya, akhirnya dia bisa lebih baik belajar pada pendeta itu daripada belajar pada tukang sihir. Ketika itu lalu dia mulai berdakwah, dia kemudian diberi kemampuan untuk mengobati orang buta. Setelah itu dia mengobati banyak orang, kemudian dia mengobati menteri raja yang buta.

Kemudian setelah menteri tersebut sembuh dia menanyakan mau apa saja yang dia mau akan dituruti oleh menteri. Kemudian dia bertanya, saya tidak menyembuhkanmu, hanya Allah yang bisa menyembuhkanmu. Dia tuhanku dan tuhanku. Jadi kalau kamu mau sembuh dan mau mengakui Allah maka kamu akan sembuh. Kemudian diobati sembuh, kemudian beriman pada Tuhan. Setelah sembuh menterinya Firaun tersebut masuk kantor.

Firaun tanya, “Siapa yang menyembuhkanmu?”
“Yang menymbuhkan saya Allah.”
“Siapa Allah?”
“Allah adalah Tuhanku.”
Firaun ini marah dan akhirnya orang ini disiksa. Akhirnya orang ini mengaku dia diajar anak tadi itu. Anak ini disuruh murtad, dakwahnya hanya agar orang mengakui Allah sebagai tuhan agar dihentikan. Ini persoalan pokok kan, dia nggak mau murtad.

Dicoba mau dibunuh berkali-kali tapi tidak bisa. Nah anak itu memberi petunjuk, kamu tidak akan bisa kalau tidak memenuhi permintaan saya. Kalau mau membunuh saya, nggak perlu bawa tentara. Berdirikan saja saya ditengah-tengah lapangan, ambil panahku ini kumpulkan seluruh rakyat di lapangan dan bidiklah aku. Tapi sebelum membidik kamu membaca Bismillahi tuhannya kamu. Tapi anak ini terkenal tidak bisa dibunuh. Ketika dipanah ternyata bisa setelah membaca nama Allah. Berarti memang hanya Allah yang bisa mematikan. Dia memang mati tapi dakwahnya berhasil. Anak tadi itu mengorbankan dirinya demi berhasilnya dakwah. Nah dari situ ulama mengambil kesimpulan siapa saja boleh asal menguntungkan islam dan umat Islam. Di pengadilan saya terangkan itu.

Q. APAKAH TINDAKAN MARTIR DAPAT DIBATALKAN BILA ADA ORANG LAIN YANG SECARA TEKNIS LEBIH BAIK DAN DENGAN SUKARELA MENAWARKAN DIRI UNTUK TINDAKAN TERSEBUT ?

A. Ya, persoalannya kalau memang penggantian ini lebih menguntungkan, lebih besar keuntungannya diamalkan dia daripada saya. Keuntungannya hanya satu yaitu bagaimana menguntungkan islam, memenangkan islam. Itu pertimbangannya. Dalam Islam harus begitu, saya harus begini, saya harus begitu kemudian tidak ada perhitungan itu tidak boleh. Jadi ada perhitungan dan tidak asal-asalan. Matiku itu harus membawa kebesaran islam. Kalau sudah ada begitu orang bisa jihad. Kalau jaman Rasulullah itu kan biasa. Orang menyerang sendiri itu kan biasa. Nah ini istimata ini.

Q. SEANDAINYA TINDAKAN MARTIR TELAH DIJADWALKAN DALAM SEMINGGU – APAKAH TINDAKAN TERSEBUT BISA DIUNDUR ?

A. Tergantung pertimbangannya, termasuk pertimbangan perhitungan. Maka ulama tadi membolehkan selama ijtijhad itu bisa membawa keuntungan Islam dan kaum muslimin. Kalau tidak malah tidak boleh. Kalau malah bikin fitnah itu tidak boleh. Tapi meskipun demikian, niatnya dia mau jihad itu tetap ada nilainya sendiri. Kalaupun keliru perhitungannya itu ada nilainya sendiri.
Insyaallah kalau dia mujahid akan diampuni dosa-dosanya.

Q. KALAU DITUNDA ITU UNTUK MISALNYA BERIBADAH HAJI ?

A. Oh itu nggak perlu ditunda, karena jihad itu lebih penting daripada pergi haji.

Ibnu Taimiyah pernah ditanya seorang kaya dia bilang, “Bagaimana ini Syekh saya ini punya dana banyak, tapi ada dua kubu yang memperebutkan. Ada banyak orang miskin yang kalau tidak saya bantu maka mereka akan mati semua. Kalau tidak saya bantu mereka akan mati kelaparan. Tapi kalau uang saya dipakai untuk itu, jihad ini akan kekurangan biaya. Lalu minta fatwa, bagaimana caranya.”

Dia bilang, “Itu kasihkan jihad semua. Itu nanti mati semua. Itu mati tidak apa-apa itu sudah takdir Allah. Sebab kalau jihad kalah yang mati lebih banyak.”

Kalau sudah jihad itu tidak ada amalan diatas jihad, itu tidak ada. Amalan paling tinggi dalam islam itu jihad. Kalau sudah jihad itu yang lain-lain hilang. Itu yang ingin dihilangkan Amerika itu ini lewat ajaran Ahmadiyah ini.

Lewat organisasi antek ini. Ahmadiyah itu kan mengharamkan jihad, karena itu kan buatan Kristen, sejak dari India itu kan. Makanya pusatnya di seluruh dunia kan di London, itu kan dibiayai Amerika. Itu memang alatnya untuk menghancurkan Islam, Ahmadiyah, JIL. Shocked Shocked Shocked

Q. PENUNDAAN ITU TIDAK BERLAKU UNTUK SEMUA HAL, ATAU MENUNGGU ORANG TUA SAKIT ?

A. Tidak, tidak. Jadi kalau sudah jihad itu harus dinomorsatukan, kecuali kalau jihadnya itu fardhu kifayah. Kalau fardhu ain, maka harus didahulukan. Sudah nggak wajib ijin orangtua. Tapi kalau fardhu kifayah, itu tadi, jihad untuk mendatangi negeri-negeri kafir untuk mengawasi. Tapi kalau sudah fardhu kifayah itu sudah tidak perlu ijin orangtua. Paham?

Q. APAKAH TINDAKAN MARTIR DAPAT SAMASEKALI DIBATALKAN BILA BESAR KEMUNGKINAN KELUARGA MARTIR YANG BERSANGKUTAN BAKAL TERBUNUH DALAM TINDAKAN PEMBALASAN?
BEGITUPULA DENGAN MASYARAKAT TEMPAT ASAL SANG MARTIR YANG JUGA BAKAL MENGALAMI PEMBALASAN DAN KORBAN ?

A. Itu kan resiko, konsekuensi dari jihad. Kalau keluarga itu paham Islamnya kuat maka mereka akan dapat pahala banyak. Karena kan pahalanya disitu. Kalau paham. Jadi dia itu memang sudah merelakan, sudah ikhlas. Maka orangtua yang mengerti itu berterima kasih pada Allah. Jadi ini ada satu riwayat, supaya jelas.
Di jaman nabi, ada perempuan bernama Khomsyah, sebelum masuk islam, ada kematian saudaranya, kakaknya meninggal itu nangisnya sampai sebulan. Tapi setelah dia masuk islam dia punya empat anak laki-laki. Dia kemudian menyuruh anak-anaknya untuk jihad, untuk menjaga seorang sahabat nabi yang buta bernama Ibnu Mahtum.

Sebenarnya Allah memberi ijin untuk tidak jihad, tapi dia minta ijin pada Panglima, setelah berdebat-debat, akhirnya diijinkan oelh panglima untuk memegang bendera. Anak-anaknya diminta untuk menjaga. Nah dalam jihad mati semua, sebelum Ibnu Mahtum ini mati, anak-anak yang menjaga mati semua, mati syahid.

Datang berita orang hati-hati menyampaikan. Kematian seorang saudara saja sebulan, nangisnya apalagi ini kematian empat orang anak laki-laki, siapa ibu yang tidak menangis. Tapi akhirnya lain. Setelah diberi berita dengan hati-hati, dia bilang “Alhamdulillah, Allah memuliakan aku dengan kematian keempat anakku.” Shocked Shocked Shocked

Itu semangat jihad itu kalau sudah dalam jihad itu yang ditakuti orang kafir. Itu moral force. Moral force ini yang menurut Jenderal De Gaulle yang 80 %, tindakan hanya 20 %. Karenakalau orang kafir kan kepahlawanan, kebangsaan, malah ada yang disuruh minum-minum apa itu supaya berani.

Rusia itu kalang kabut menghadapi Afghanistan, lain dengan Eropa timur, sebulan dua bulan bisa ditakhlukkan. Dia pikir kalau Afghanistan paling dua minggu wong orang bodoh-bodoh, iya kan. Berdasarkan pengalaman di Eropa timur, tapi Afghanistan berdasarkan kekuatan Aqidah tentang jihad itu yang membuat perangnya. Ini ada cerita juga supaya bapak paham.

Ada seorang ibu di Afghanistan yang kerjanya bikin roti terus menyuruh anaknya membagi-bagikan ke mujahidin. Terus pada suatu saat anaknya kena bom, ditengah jalan anaknya kena bom. Diberitahu ibunya, dia menangis terus ditanya oleh mujahidin dihibur, “Sudahlah ibu sabar, anak ibu syahid.” Lho, saya nggak menangisi anak saya. Tapi saya menangisi, siapa nanti yang akan membawa roti pada para mujahid. Shocked Kemudian salah seorang mujahidin menyanggupi untuk menggantikan orang ini.

Nah, ini namanya semangat jihad. Ada keihlasan bahkan keinginan. Bahkan Rasulullah pernah bersabda bahwa saya itu ingin bisa berjihad kemudian mati, kemudian dihidupkan lagi, jihad lagi, mati lagi, dihidupkan lagi sampai sepuluh lagi. Karena begitu mulianya mati syahid.

Q. MENURUT ANDA APAKAH MASYARAKAT YANG PERCAYA AKAN TINDAKAN KEMARTIRAN PEDULI BILAMANA SESEORANG MELAKUKAN TINDAKAN MARTIR TAPI HANYA BERHASIL MELEDAKKAN DIRI SENDIRI DAN GAGAL MEMBUNUH MUSUHNYA ? MENGAPA ?

A: Bukan, niat syahid itu harus untuk Allah. Kalau waktu-waktu perang lain lagi. Kalau istimata lain lagi, tapi semua itu kan kembalinya pada kesyahidan itu. Tapi kalau sudah perang sudah lain. Tapi kalau tidak perang, seperti misalnya di London, di Amerika itu harus ada perhitungan.

Q. MENURUT ANDA APAKAH TUHAN LEBIH MEMILIH ATAU MENGASIHI SEORANG MARTIR YANG BERHASIL MEMBUNUH 100 MUSUH ATAU 1 MUSUH ?

A. Nilai pahala sama.

Q. BERKAITAN DENGAN KONDISI GLOBAL DUNIA INI KIRA-
KIRA APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN NEGARA BARAT DAN TERUTAMA AMERIKA AGAR MAKIN DAMAI, APA PERILAKU-PERILAKU YANG HARUS DIRUBAH KIRA-KIRA ?

A. Yang harus dirubah adalah menghentikan permusuhannya terhadap Islam. Tapi itu tidak mungkin karena itu sudah Sunnatullah mereka akan memusuhi kita. Tapi mereka pasti akan kalah. Bukan berarti saya ahli lamar, mereka akan hancur dan yang akan menang islam. Begitu Rasulullah bilangnya. Kalau orang Islam bisa habis ndak apa-apa, tapi Islam mesti menang. Orang barat pasti hancur nanti. Karena mereka bathil kan mesti hancur, cepat atau lambat. Uni Sovyet sudah hancur, Amerika itu sebentar lagi. Tidak memusuhi dan membiarkan Islam berkembang dan akhirnya harus dibawah islam. Kalau tidak mau dibawah islam kacau, titik. Kalau ingin damai harus diatur oleh islam.

Q. KALAU MASIH NGOTOT ?

A. Ya akan terus dilawan, dan mesti kalahnya. Yang bathil mesti kalah, cepat atau lambat. Saya dulu juga pernah kirim surat pada Bush, saya bilang kamu mesti kalah, tidak ada gunanya kamu berbuat. Laughing

Itu semua sudah ada dalam Quran. Waktu itu lewat pengacara saya, saya kirim lewat kedutaan, entah sampai atau tidak. Kamu itu percuma, mesti kalahnya. Sudah ada ayat-ayat yang menujukkan. Kamu sudah mengeluarkan biaya sedemikian banyaknya kamu nanti mesti kecewa. Ayatnya itu ada, jadi saya bukan tukang ramal, tapi saya mendapat informasi dari Allah, maka saya nggak pernah kecil hati, nanti ada saatnya.

Tapi saya menjadi susah melihat kondisi umat islam sendiri. Jadi kalau umat islam itu kalah bukan karena orang lain, karena umat islamnya sendiri. Karena rusaknya orang islam. Orang islam itu kalau tidak rusak pasti dapat pertolongan dari Allah, kalau dapat pertolongan mesti menang kan. Tapi karena rusak tidak dapat pertolongan.

Q. KALAU ADA FACTOR YANG MENYEBABKAN ISLAM KALAH MISALNYA SENJATA, KALAU UMAT ISLAM MENGGUNAKAN NUSKLIR MISALNYA, BAGAIMANA MENURUT USTADZ ?

A. Ya, kalau memang diperlukan boleh. Tapi umat islam itu kalau berperang berusaha sesedikit mungkin. Maka Allah memerintahkan kita dalam surat 8 ayat 60, itu perintah untuk kita mempersiapkan kekuatan senjata. Itu perintah. Tapi bukan untuk membunuh, tapi disitu digunakan untuk menakut-nakuti musuhmu dan musuh Allah. Tujuan utama nakut-nakuti. Shocked Shocked

Kalau sudah takut dan nggak ganggu ya sudah, tapi kalau meleset ya harus dibunuh. Maka Nabi Muhammad berusaha, itu dalam peperangannya minim sekali.

Q. KALAU PANDANGAN PRIBADI USTADZ TERHADAP KEJADIAN BOM DI TANAH AIR, BOM BALI, MARRIOT DAN BOM KUNINGAN, BAGAIMANA ?

A. Saya nilai semua itu mujahid. Niat mereka baik, ingin jihad di jalan Allah tujuannya adalah untuk mencari ridho Allah. Kemudian sasaran mereka sudah betul. Yaitu Amerika, karena Amerika sedang memerangi islam. Jadi tujuannya sudah betul, sasaran yang diserang sudah betul, tapi perhitungannya yang perlu dipersoalkan. Kalau saya berpendapat, kalau ngebom itu di wilayah konflik. Atau kalau di wilayah aman ya di wilayah musuh. Bukan di negara yang banyak orang islamnya.

Q. PERHITUNGAN YANG SALAH ITU APAKAH TERMASUK, MISALNYA TERNYATA ADA KORBAN UMAT MUSLIM ?

A. Ya artinya antara lain. Kalau perhitungan saya, kalau ngebom di wilayah aman itu mudah difitnah mudah ditunggangi. Ini pendapat saya, bisa salah. Oleh karena itu saya tetap menilainya sebagai mujahid adapun salahnya itu sebagai manusia, biasa. Salah itu biasa. Lagipula mereka ini bukan langkah awal mereka ini membela diri.

Q. ARTINYA USTADZ MENGANGGAP BAHWA MEREKA TIDAK MENYERANG ?
A. Tidak menyerang, karena mereka membela diri. Mestinya mereka tidak harus dihukum. Bali itu yang 200 orang terbunuh, itu bomnya Amerika itu. Shocked Rolling Eyes Rolling Eyes Mini nuklir itu, nggak mungkin Amrozi bisa melakukan itu.

Q. AMROZI BILANG SENDIRI KE USTADZ ?

A. Ya dia sendiri heran bisa meledakkan itu, ya itu pertolongan Allah memang betul ya, tapi kan bukan dia yang mbikin, tapi ditunggangi oleh Amerika. Laughing Laughing Itu banyak buktinya dan polisi tidak berani menyelidiki selanjutnya. Jadi Bali itu sebenarnya yang mematikan 200 orang itu bomnya Amerika, bukan bomnya Amrozi. Menurut seorang ahli Inggris, itu bukan bomnya Amrozi, ente tanya Fauzan ngerti itu. Itu bomnya CIAnya yahudi, Mossad dan kerjasama dengan CIA.

Saya pernah tukar pikiran juga dengan polisi. Mereka diam saja. Saya bilang, “bapak itu bodoh, kalau Amrozi bisa bikin itu kok malah dihukum, harusnya kan diangkat jadi penasihat militer.” Wong nggak ada militer yang bisa begitu, polisi saja nggak bisa bikin bom yang begitu.

Saya nggak tahu kok, saya itu nggak pernah kenal. Tapi Ali Imron dalam sidang pernah saya tanya, “Iya, saya yang melakukan.” Saya pun percaya. Kata seorang ahli bom dari Australia, orang yang percaya bahwa bom itu dibuat oleh Amrozi dkk yang dari karbit itu adalah orang idiot. Kalau ahli bom Inggris, yang saya pernah baca dari majalah itu. Kalau memang benar Amrozi yang melakukan bom tersebut harus diberi hadiah nobel. Jadi dihukum mati itu tidak adil, dihukum itu tidak adil.

Q. SAYA INGIN MEMINTA PENDAPAT USTADZ TENTANG BUKUNYA
NASIR ABAS, DIMANA SALAH SATUNYA MENYEBUT USTADZ ADALAH AMIR JI ?

A. Itu pengkhianatan, namanya pengkhianatan itu. Jadi saya di Malaysia itu ada jamaah, namanya jamaah Sunnah, itupun hanya urusan mengaji saja.

Q. TAPI USTADZ MENGETAHUI BAHWA NASIR ABAS, ADALAH SALAH SEORANG MURID USTADZ ?

A. Iya, saya tahu. Tapi bukan murid disitu, dia bekas muridnya ustadz Hasyim Gani namanya, saya bergabung sama dia. Sudah meninggal sekarang. Itu saya menilai, buku Nasir Abas itu hanya karena disuruh oleh polisi, dan uang.

Q. MENURUT USTADZ, ISINYA TIDAK BENAR, TERUTAMA MENGENAI
JEMAAH ISLAMIYAH DAN MENYEBUT USTADZ SEBAGAI AMIR ?

A. Ya, kan tidak terbukti di pengadilan. Pengadilan saja tidak bisa membuktikan.

Abas refused to openly condemn Ba’asyir or accuse him of ordering any terrorist operations, always respectfully referring to Ba’asyir as Ustadz. In July 2005 Abas published Membongkar Jamaah Islamiyah (Unveiling
Jamaah Islamiyah). The first part of the book details JI’s organization, ideology and strategy. The second part is a rebuttal to Samudra’s own book , Aku Melawan Terroris, and what Abas believes to be a tendentious use of the Quran and Hadith to justify suicide bombing and violence against fellow Muslims and civilians.

In between my interviews with Ba’asyir I interviewed Abas, who says that he quit JI over Ba’asyir’s refusal to condemn or contain the operations and influence of Riduan Isamuddin (aka Hambali). In January 2000, Hambali hosted a meeting in an apartment owned by JI member Yazid Sufaat in Kuala Lumpur that included 9/11 mastermind Khalid Sheikh Mohammed and 9/11 highjackers Khalid al-Mihdhar and Nawaf al-Hamzi. As Abas tells it, Hambali, who was JI’s main liaison with Al-Qaeda and a close friend and disciple of Khalid Sheikh Muhammed, was given control of Mantiqi 1, which covered the geographical region of Malaysia and environs and was strategically responsible for JI finances and economic development. But Hambali was dissatisfied being saddled with the “economic wing” (iqtisod) and wanted to play a more active role in the conflict zones. The then-leader of Mantiqi 3, Mustafa (now in custody) blocked Hambali from muscling in on his area but Hambali was able to send fighters to fight Christians in Ambon (Maluku) in 1999, which was under Mantiqi 2 (covering most of Indonesia and strategically responsible for JI recruitment and organizational development). Encouraged by success in heating up the Maluku crisis, Hambali decided first to extend his (and al-Qaeda’s) conception of Jihad to all of Indonesia (including the 1999 bombing of the Atrium Mall in Jakarta, the August 2000 bombing of the Philippines Ambassador’s house, and 17 coordinated Church bombings on Christmas eve 2000) and then to “globalize” the Jihad by enlisting suicide bombers to hit Western targets and interests (including a failed plot to blow up Singapore’s American, Australian and Israeli embassies in December 2001, and the successful 2002 Bali bombings and 2003 suicide attack on Jakarta’s Marriott hotel). Although Abas argues that JI shouldn’t be outlawed because many in JI reject Al-Qaeda’s vision of global jihad, in fact JI’s infrastructure and leadership continue to protect (with safe houses) and condone (as “self-defense”) efforts by the likes of master-bomber Dr. Azhari bin Hussain and his constant sidekick, JI’s top recruiter Nurdin Nur Thop, who some tell me recently established a suicide squad, called Thoifah Muqatilah, for large actions against Western interests.

Q. APA DASAR NASIR ABAS MENULIS BUKU TERSEBUT ?

A. Ndak tahu saya. Dasarnya disuruh polisi, dikasih uang. Dasarnya hanya itu. Pokoknya semua pekerjaan itu disuruh polisi dan dikasih uang. Ketemu saya saja nggak berani itu. Kalau ketemu saya akan saya suruh jihad ke Checnya atau ke Philipina selatan sampai mati baru tobatnya bisa diterima. Ngarang-ngarang cerita. Shocked

Q. SAYA DENGAR NASIR ABAS PERNAH KESINI, APA TIDAK KETEMU USTADZ ?

A. Tidak, untuk ketemu yang lain-lain.

According to Abas, JI’s essential organization and ideology is outlined in a set of general guidelines for the Jemaah Islamiyah Struggle (Pedoman Umum Perjuangan al-Jamaah al-Islamiyah, PUPJI), a 44-page manual that contains a constitution, outlines the roles of office bearers and gives details of how meetings must be organized (e.g., about what to do if a quorum cannot be obtained in the leadership council). The guidelines declare that anyone who adheres to fundamental Islamic principles that are devoid of corruption, deviation (e.g. Sufism) or innovation, can take the bayat (oath of allegiance) to the Emir of JI and become a JI member.
Although JI would be, in principle, open to anyone who meets these conditions, in fact only carefully selected individuals, including the Mantiqi leaders, were allowed to take the bayat and obtain copies of the PUPJI. Such individuals generally (but not always) would have undergone previous training in Afghanistan or graduated at the top of their class in courses that Sungkar and Ba’asyir designed for JI recruitment (though designation of courses as JI was unknown to potential recruitees). Abas fulfilled both conditions. Although many people (including some Afghan Alumni I have interviewed) think of themselves as JI, or are not certain of whether or not they belong to JI, Abas insists that if they did not formally take the bayat they are considered sympathizers or supporters of JI but not members (just as some prisoners at Guantánamo are sincerely uncertain as to whether or not they belong to al-Qaeda if they did not formally take the bayat to Bin Laden).

Abas says the PUPJI was drafted by a committee, including Ba’asyir, and then formally approved by Sungkar as the basis for JI. When asked about the PUPJI in an earlier (untaped part of the) interview, Ba’asyir claimed, on the one hand, that the PUPJI manual was planted by police and intelligence services but, on the other hand, that it contains sound principles modeled on the doctrine of the Egyptian Islamic Group (Gama’at Islamiyah). Abas says that the manual also contains elements of Indonesia’s military organization, particularly in regard to the ranking of personnel (binpur) and responsibility for territory (bintur). He adds that although the PUPJI allows the JI to conduct itself as a “secret organization” (tanzim sir) – and conceal its doctrine, membership and operations from public view – it does not allow the practice of taqiyyah (dissimulation) to extend to lying to the (Muslim) public (another reason Abas gives for his leaving JI).

Q. USTADZ, KALAU BOLEH TAHU KAPAN PERTAMA KALI USTADZ MENDENGAR NAMA AL QAEDA ?

A. Setelah saya diperiksa polisi, saya kan pernah diperiksa waktu saya melaporkan karena saya difitnah oleh Time. Kan saya pernah menuntut Time, saya tuntut Time. Saya pernah akan dikasih 100 juta rupiah untuk menghentikan, tapi saya tidak tahu bagaimana kasusnya itu sekarang. Ketika itu saya dicurigai, tapi tidak ditahan. Saat itu saya baru mendengar nama Al Qaedah itu. Ketika itu polisi di bagian intel, namanya saya lupa itu. Saya diperiksa dari pagi sampai sore. Ditanya apa saya tahu nama ini. Baru itu saya mendengarnya. Sebelum itu tidak pernah tahu, wong nggak pernah ada. Saya kan pernah di Pakistan mosok nggak denger. Saya kan nganter anak saya, saya kan jumpa orang-orang Arab tapi nggak pernah dengar nama itu. Di kantor polisi itu saya baru dengar.

Q. KALAU SYEKH OSAMA BIN LADEN ?

A. Saya sudah dengar, lama itu sudah dengar lama. Membaca tulisan-tulisan, melihat videonya, ketemu orang-orang Arab waktu di Pakistan itu cerita-cerita tentang Osama bin Laden. sekitar itu waktu saya mengantar Abdur Rahim anak saya. Siapa yang tidak kenal Osama? Dia mujahid waktu melawan Uni Sovyet itu dia mempunyai pasukan sendiri yang dibiayai sendiri. Itu kan pahlawan yang dipuji Amerika dulu, dia kan dibantu Amerika juga.
Amerika kan membonceng karena Amerika kan tidak berani dengan Sovyet kan. Mereka takut dengan Sovyet terus mbonceng Afghan.

Other members of JI who freely acknowledge sympathy with Bin Laden and Qaeda say much the same thing.

For example, I interviewed the JI member who founded the first mujahedin training camp in 2000 for the conflict in Poso, Sulawesi. He had earlier been sent by JI founder Abdullah Sungkar during the Soviet-Afghan War to train in Abu Sayyafs’s Ihtihad camp in Sada, Pakistan and to study with Abdullah Azzam, Bin Laden’s mentor and the person who first formulated the notion of “Al-Qaeda sulbah” (“the strong base”) as a vanguard for jihad. This JI member also acknowledges hosting 9/11 mastermind Khalid Shaikh Muhammed at his home in Jakarta for a month in 1997. Yet, he claims never to have heard of “Al-Qaeda” applied to a specific organization or group headed by Bin Laden until 9/11.
Ba’asyir sent his younger son, Abdul Rahim, to the Afghanistan border during the Soviet-Afghan war to spend time under the wing of Aris Sumarsono (aka Zulkarnaen, who became JI’s operations chief) later enrolling Rahim in an Islamic high school in Faisalabad, Pakistan. Seeking a stricter salafist education for his son, Ba’asyir directed Rahim in the mid-nineties to Sana’a, Yemen, to study under Abdul Madjid al-Zindani (like Abdullah Azzam, Zindani was a legend among self-proclaimed “Afghan Alumni” who fought the Soviets). By 1999, Rahim was in Malaysia and soon under Hambali’s stewardship. Abdul Rahim now operates freely in Indonesia but he is suspected of having taken over JI’s contacts with Al-Qaeda remnants after Hambali’s capture.

Q. KALAU BERTEMU BELUM PERNAH USTADZ ?

A. Nggak, nggak. Saya ingin malahan, mudah-mudahan bebas ini bisa ketemu.

Ba’asyir’s statement that he never met Bin Laden is contradicted by testimony from other JI members, both free and in custody. In the following letter (authenticated by Indonesian intelligence) dated August 3, 1998 and addressed to regional jihadi leaders, Ba’asyir and Sungkar state they are acting on Bin Laden’s behalf to advance “the Muslim world’s global jihad” (jabhah Jihadiyah Alam Islamy) against “the Jews and Christians.”
Malaysia, 10 Rabiul Akhir 1419 [August 3, 1998]
From: Abdullah Sungkar and Abu Bakar Ba’asyir
To: Al Mukarrom, respected clerics, teachers (ustadz), sheikhs
All praises upon God who has said:
“The Jews and Christians will never be satisfied until you follow their way of worship” Al Baqarah: 120 Praise and peace upon Prophet Muhammed who has said:
“If I’m still alive, I’ll surely expel the Jews and Christians out of the Arabian peninsula” And may God bless us and any of his followers who want to follow his orders.
Respected clerics, teachers and sheikhs This letter is to convey a message from Sheikh Osama Bin Laden to all of you. We send you this letter because we can’t visit and see you directly. However, we send our envoy, Mr. Ghaus Taufiq [a Darul Islam commander in Sumatra], to bring this letter personally to all of you.
We also attach Bin Laden’s written message in this letter and Bin Laden also sends these messages to all of you:
1. Bin Laden conveys his regards “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh)
2. Bin Laden says that right now, after “Iman” (to believe in God), the most important obligation for all Moslems in the world is to work hard to free the Arabian Peninsula from the occupation of Allah’s enemy America (Jews and Christians).
This obligation is mathalabusy syar’i (a consequence of the sharia) that every Moslem must not consider this obligation to be a simple matter. Prophet Muhammed, although he was sick, ordered the Muslim ummah to prioritize their obligation to expel the infidels from the Arabian Peninsula. Therefore, as the Prophet has said, the Muslim ummah must take this obligation seriously. It is very important for the Muslim world to work very hard to free the Arabian Peninsula from colonization by the infidel Americans.

If we can free the Arabian peninsula as masdarul diinul Islam (the source of Islam) and makorrul haromain (Holy Mecca) from occupation by the infidel Americans, Inshallah (God willing) our struggle to uphold Islam everywhere on God’s land will be successful. Stagnation and the difficulty in upholding Islam at present stems from the occupation of the Arabian Peninsula by the infidel America.

This great struggle must be put into action by the ummah (Muslim community) all over the world under the leadership and guidance of clerics in their respective countries. Under such leadership, we will prevail.

The first step of this struggle is issuing fatwa (Islamic edict) from clerics all over the world addressed to thekingdom of Saudi Arabia. The edict must remind the King what Prophet Muhammed said about the obligation
for the Muslim ummah to expel the infidels from the Arabian Peninsula. Otherwise, this world will suffer a catastrophe. These edicts will give strong encouragement and influence to the King of Arabia. This is the
message from Osama bin Laden conveys to all of you.

Sheikh Osama bin Laden really wants to visit all clerics and Islamic preachers everywhere in the world to share his views so that there will be a common understanding about this momentous struggle. In the end, we will have similar movements simultaneously across the world. However, Bin Laden realizes that the situation outside his sanctuary is not presently safe. He also awaits your visit with his deep respect so that this great struggle may proceed. These are Bin Laden’s messages that we convey to all of you.

We take this opportunity to explain certain facts about Bin Laden:
• At present, Sheikh Osama stays in Afghanistan, in the Kandahar area, under the protection of Taliban
• He doesn’t oppose either the Taliban or Mujahideen. He’s trying to unify both groups.
From his camp in Kandahar, Bin Laden organizes plans to expel infidel America from the Arabian Peninsula by inviting ulemas and preachers from all over the world. In this camp, Bin Laden is accompanied by a number of Arab mujahideen, especially those who previously fought in Afghanistan. Bin Laden and these mujahideen prepare to form “jabhah Jihadiyah Alam Islamy” (The global jihadi coalition in the Moslem world) to fight against America.

The above information is about Sheikh Osama Bin Laden that you should know. If you have the time and commitment to visit Sheikh Osama, Inshallah we can help you meet him safely.
We praise God to all of you for your attention and cooperation.
Jazakumullah khoirul jaza (Thanks to God the best thanks)
Wassalamu’alaukim, Your brother in Allah
Abdullah Sungkar
Abu Bakar Ba’asyir

Q. DIMANA, USTADZ MAU MENCARI KESANA ?

A. Kalau ada, tapi mana bisa. Saya juga masalah Osama itu tegas jawaban saya waktu dipersidangan. Saya simpati dengan perjuangannya, Osama itu tentara Allah. Kalau saya lihat ceritanya, sudah begitu Osama itu mujahid, tentara Allah.

Q. ARTINYA TETAP BERADA DISISI BELIAU ?

A. Banyak yang cerita, dan memang benar. Adapun langkah, perhitungan ada salah, manusia biasa. Tapi tidak semua langkahnya saya setujui. Antara lain, dia menyuruh ngebom-ngebom itu tidak saya setujui. Pengakuannya kan jemaah islamiyah itu kan itu kan mengikuti fatwanya. Kan fatwanya itu semua orang Amerika harus dibunuh, dimana saja harus dibunuh. Karena Amerika itu harus dibunuh, termasuk warganegara. Pokoknya ada warga Amerika harus diserang. Dia perlawanan total, itu yang saya tidak saya setuju. Kalau di negara Islam, kalau kena fitnah akibatnya dirasakan orang Islam. Kalau di negara mereka silahkan.

Q. ITU ARTINYA PERLAWANAN TERHADAP AMERIKA TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI KAN ?

A. Nggak akan dan itu wajib hukumnya. Orang Islam yang tidak benci Amerika berdosa. Orang Islam yang tidak benci kepada Amerika, yang saya maksud Amerika itu regim George Bush, itu tanda tidak ada Iman. Paling sedikit menyerang itu kan ada tiga; dengan tangan, dengan lisan dan dengan hati.

Q. ARTINYA, PEMERINTAHAN, KEBIJAKAN-KEBIJAKANNYA ?

A. Kalau warganya, kalau warganya yang baik ya tidak apa-apa. Apalagi yang muslim itu kan saudara. Kalau yang nggak muslim pun nggak apa-apa, asal mereka tidak mengganggu kita. Itu yang jadi saksi kemarin, Frederick Burks. Itu dia sendiri yang menulis, dia kan melawan Bush.

Q. BAGAIMANA KALAU REGIMNYA BERGANTI DAN KEBIJAKANNYA BERUBAH ?

A. Ya itu kita lihat, selama tidak ada tujuan memerangi secara an-sich. Kemudian Islam dibiarkan berkembang, pokoknya Islam itu harus berkuasa. Itu memang doktrin Islam. Islam dikuasai itu tidak boleh. Itu hukumnya Allah kok berlindung dibalik hokum manusia, mana ada. Hukumnya Allah ya harus diatas manusia, yang lain dibawahnya. Itu yang nggak dimaui sama kafir itu kan, yang ditakuti Amerika itu kan itu.

Saudara baca buku; Wajah Kebudayaan Amerika oleh Adian Husaini, itu buku bagus itu. Tebel bukunya. Wajah kebudayaan barat, bukan Amerika. Kesimpulannya adalah itu. Jadi memang ada beberapa doktrin dari beberapa cendekiawannya untuk memusuhi Islam, memang iya. Clash civilitation itu memang betul itu, pembahasannya memang betul. Selamanya islam dan kafir itu clash. Nggak ada Islam dan kafir itu rukun, yang hak dengan yang batil kok.

Twisted Evil Twisted Evil

PS: Sudahkah anda merasakan kedamaian Islam ? hehehheheheh…. Twisted Evil

sebab sebab murtad

Agustus 20, 2006

gw murtad karena banyak hal antara lain

1. Bosen kebanyakan diancam dengan azab api neraka waktu sekolah madrasah bertahun-tahun. ditakut-takutin dengan siksaan api neraka. Anak kecil gimana nggak stress ditakut-takutin terus.

2.  Susah masuk di hati, kenapa isi al-quran ada yang menonjolkan kebencian terhadap umat kafir alias yahudi, kristen/non muslim.

3. Bingung, kenapa orang muslim disuruh berperang memerangi orang kafir. Susah dicerna dengan akal sehat.

4. Isi kitab sucinya Kebanyakan sok ngatur ini itu,  cuma dogma yang harus diimani tanpa ada dasar logika yang sehat dan jelas. Contohnya kenapa daging babi haram ? nggak ada penjelasan haramnya itu kenapa. cuma ada statement saja. Biarlah hal ini menjadi rahasia Allah SWT ( sorry bro…, gue orang perlu penjelasan logis bukan hanya statement yang harus dipercaya begitu saja )

5.kontradiksi dalam kitab suci antara lain ada yang menyatakan perdamaian tapi ada juga yang menganjurkan berperang.

6. Kenapa di al-quran ditulis suami boleh mukul istri ?

7. Kebanyakan kejadian terorisme atas nama islam, pelakunya mengaku itu dianjurkan dalam kitab suci. Islam moderate berusaha  menjelaskan bahwa agama islam adalah agama damai, tapi tetap saja peristiwa terorisme selalu terulang kembali lagi dan lagi.  Lagian memang ada ayatnya kok yang menganjurkan untuk berperang melawan orang kafir.  Kenapa ini terjadi ????

8.  Kebanyakan orang islam cuma bisa teriak-teriak , bakar ini bakar itu, rusak ini rusak itu, ganyang ini ganyang itu. jadi malu kan tuh punya agama islam tapi penganutnya kayak FPI gitu.

9. Agak-agak rasis karena cenderung menganggap rendah derajat orang kafir apalagi murtad. Kenyataannya justru orang kafir lah yang banyak berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahun teknologi dan budaya.

10. kitabnya banyak janggalnya, banyak dipaksain supaya cocok dengan ilmu pengetahuan.

11. Kenapa Allah swt perlu rumah di kabah ? kenapa sholatnya menyembah kabah ?

12. Setiap diskusi sama orang islam kalau mereka udah mentok kasih jawaban, pasti marah-marah lalu bawaannya malah mau ngajak berantem..

murtad termasuk kejahatan

Agustus 20, 2006

Upaya Membumikan Syariat Islam
sumber : http://www.solusihukum.com/resensi.php?id=31

Syariat Islam perlu ditegakkan dibumi Allah, untuk itu perlu memahamkan pada masyarakat tentang syariat dan hokum-hukumnya, agar hal itu semakin mendekat antara teori dan prakteknya.

Buku bersampul putih inilah salah satu buku yang menggambarkan potret hukum pidana Islam secara utuh. Gambaran ini meliputi adaministrasi peradilan pidana Islam, perlindungan HAM dalam hukum pidana Islam, efektivitas penerapan syariat Islam untuk membentuk non criminal society ‘memasyarakatkan anti kriminal’ dan agenda serta tantangan untuk membumikan hukum pidana Islam. Semua ini dilakukan oleh Penulis buku ini untuk mempersempit jarak teoritis hukum pidanan Islam dengan realitas.

Syariat Islam merupakan jalan yang diberikan oleh Allah Sang Pencipta makhluknya yang disampaikan melalui Al Qur;an dan hadits, sehingga hal itu dijamin kebenarannya. Dan ini telah digaransi oleh Sang Maha Pencipta sendiri. Sedangkan hukum yang dibuat manusia adalah hukum yang tidak terlepas dari kepentingan dan nafsu manusia. Syariat Islam itu pun bukan untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan manusia itu sendiri. Untuk di Indonesia, untuk memahamkan tentang jarimah/tindak pidana diperlukan seratusan dokter untuk memahamkan seluruh bidang hukum pidana Islam.

Para ahli hukum Islam mengklasifikasi tujuan-tujuan yang luas dari syariat sebagai berikut :

1. Menjamin keamanan dari kebutuhan hidup merupakan tujuan pertama dan utama syariat. Yang dijamin ini meliputi agama, jiwa, akal, pikiran, keturunan dan hak milik

2. Menjamin keperluan hidup (keperluan sekunder) atau hajiyat.

3. Membuat perbaikan-perbaikan yaitu menjadikan hal-hal yang dapat menghiasi kehidupan sosial dan menjadikan manusia mampu berbuat dan mengatur urusan hidup lebih baik atau tahsinat (hal 19)

Yang jelas syariat Islam itu memiliki tujuan yang jelas, untuk mengamankan umatnya, dari berbagai kejahatan. Disini terdapat beberapa kejahatan yang diklasifikasikan dalam hukum pidana Islam.

Muhammad Ibnu Ibrahim ibnu Jurair, menyebut yang tergolong kejahatan hudud ada tujuh kejahatan yaitu riddah/murtad, al baghi/pemberontakkan, zina, qadzab/ tuduhan palsu zina, sariqah atau pencurian, hirobah/perampokkan dan shurb alkhamr/meminum khamr.

Kejaharan-kejahatan itu hukumnya sudah jelas, seperti zina hukumannya bagi penzina yang belum nikah didera 100 kali dan diasingkan setahun. Bagi penzina yang telah menikah hukumannya didera 100 kali dan dirajam dengan batu. Hukuman ini jika diberlakukan, orang Amerika banyak yang kena hukuman, makanya disama menolak hukuman itu, karena zina dianggap menyenangkan. Bahkan ia minta agar hukum itu agar dihilangkan. Untuk qadzab/ menuduh palsu zina hukumannya 80 kali dera. Meminum minuman keras hukumannya didera 40 kali. Pencuri hukumannya dipotong tangannya. Perampokkan hukumannya perampok dipotong tangan dan kakinya secara bersilang. Untuk riddah/murtad hukumannya dibunuh atau dibiarakan supaya mati sendiri. Sebelumnya disadarkan agar kembali ke Islam. Pemberontak hukumannya diperangi. Serta pembunuh hukumannya diqishas dibalas dibunuh, atau bias juga diampuni oleh keluarganya.

Keputusan untuk menghasilkan hingga diberlakukan hukuman itu, dengan cermat dan teliti serta harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syariat, sehingga tidak sembarangan untuk mencapai hasil pelaksanaan hukuman itu. Misalnya hukuman penzina, harus ada saksi empat, atau pelakunya mengakui, saksinya tak boleh berdusta, dan harus benar-benar telah melaksanakan zina. Baru nanti dihukum.

Dalam hukum pidana Islam kedua golongan tindak pidana tadi yang berjumlah 12 (7 tindak pidana hudud dan 5 tindak pidana qishash dan diyat) sudah pasti dan tidak bias ditambah atau dikurangi. Sedangkan yang bias berubah hukum ta’zir untuk menjerat berbagai perbuatan merugikan, yang terus muncul atau berkembang dimasyarakat. (hal 39)

Adapun keunggulan hukum pidana Islam, yaitu mampu menekan kejahatan sampai titik yang sangat rendah. Misalnya di Arab Saudi, dalam waktu 25 tahun hanya terjadi 16 kali hukuman potong tangan setelah diberlakukan hukum pidana Islam. Makanya disana aman dari pencurian. Menurut Prof. Souryal orientalis, syariat Islam sangat berperan dalam membentuk satu masyarakat anti Islam sangat berperan dalam membentuk satu masyarakat anti kejahatan dan masyarakat dengan kontrol sosial yang tinggi (hal 89)

(Buku : Membumikan hokum Pidana Islam, Penegakkan Syariat dalam Wacana dan Agenda, karya Topo Santoso, SH, MH)

Sumber : Tabloid Jum’at, 23 Januari 2004 Resentor : Toha

Komentarku:

Mohon ampun ya orang-orang Islam yang derajatnya lebih tinggi dari orang murtad dan orang kafir. Jangan bunuh aku, jangan cincang aku. Ampunilah aku dan teman-temanku yang telah menjadi murtad. Biarkan kami memiliih neraka jahanam sebagai tempat terakhir kami. Naudzubillah min dzalik !

hukuman bunuh murtad tidak berasal dari quran

Agustus 20, 2006

http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=899

JIL: Bagaimana Anda memandang hukuman bunuh bagi orang yang dituduh murtad?

Hukuman itu bukan hukuman Qurani. Hukuman itu berasal dari hadis-hadis yang diklaim berasal dari Nabi. Namun hadis-hadis itu perlu diselidiki dengan Ilm al-Jarh wa Ta’dîl (ilmu bedah hadis). Jika hadis itu bertentangan dengan Alqur’an tidak bisa dioperasikan. Karena Alqur’an mengakui bahwa hukuman bagi orang murtad nanti di akhirat, bukan di dunia ini. Jadi hukuman pisik duniawi bagi orang murtad tidak ada dalam Alqur’an []

Murtad menurut Wikipedia

Agustus 20, 2006

Kemurtadan dalam Islam

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: panduan arah, cari

Kemurtadan dalam Islam didefinisikan oleh kaum Muslimin sebagai keadaan yang memperlihatkan ketidaksetiaan terhadap Islam oleh tiap Muslim yang telah sebelumnya berserah pada teologi Islam. Termasuk dalam hal ini ialah tindakan meninggalkan Islam dan sejumlah tindakan pemfitnahan terhadap Islam. Konsep inilah yang membedakan dengan sistem keagamaan lainnya.

Hal ini disebabkan karena Islam juga merupakan institusi yang tidak memisahkan urusannya dengan urusan politik. Pada masa awal penyebarannya di Madinah, orang yang murtad dianggap sebagai desertir atau yang membelot kepada institusi politik lain (dalam hal ini orang-orang Makkah), karena antara dua negara tersebut sedang berada dalam kondisi perang dan orang yang bergabung dalam Islam sendiri diikat dengan sumpah atau bay’at.

Di masa Khilafah Islam, kemurtadan dianggap sebagai pengkhianatan, dan karena itu diperlakukan sebagai pelanggaran hukum yang dikenakan hukuman mati (hudud). Hukuman mati (hudud) dilaksanakan di bawah otoritas kholifah apabila setelah tiga hari ia diminta kembali pada Islam gagal. Walau mungkin sarjana modern mengeluarkan pendapat mereka sendiri dalam kasus tertentu, kini tiada otoritas pusat yang sanggup memperkenalkan dan membawa acara kerja resmi terhadap orang murtadin yang menolak atau berbicara dengan tegas menantang Islam sebab tiada lagi Khilafah Islam. Tokoh kontemporer yang paling menonjol yang dikutuk sebagai murtadin oleh sarjana individual kemungkinan ialah Salman Rushdie.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.