Blog Murtad

Wahai sahabatku para murtadin yang dikutuk Allah swt, janganlah bersedih dikucilkan oleh lingkungan sosial. Marilah berbagi kisah menjadi murtad. ceritakan proses dan sebab musabab menjadi murtad. Tapi ingat tidak diperkenankan mempromosikan dagangan agama tertentu.

Sudah siapkah kalian wahai orang murtad menjadi penghuni neraka jahanam ? berkumpullah wahai murtad-murtad Indonesia disuatu tempat di neraka jahanam, niscaya kita akan baik-baik saja.

Hai orang-orang murtad, berkumpulah kalian disini di blognya orang murtad. Berkenalanlah kalian dengan sesama murtad. Yang seperti inilah yang sungguh aku inginkan. Sesungguhnya aku ingin tahu berapa banyak orang murtad indonesia. Telah kuutus satu atau beberapa dari kalian semua untuk menjadi kontributor penulis di blog murtad wordpress com. kirimkan email kalian ke kaum_murtad di yahoodotcom

salam murtad

11 Tanggapan to “Blog Murtad”

  1. Dukut Nugroho Says:

    saya heran orang tentang situs ini, sudahkan anda mendirikan bukan mengerjakan sholat, sudahkah anda mengenal diri anda sendiri, karena jika ada mengenal diri anda pasti akan mengenal tuhan (ALLOH SWT), sudahkan anda membaca riwayat Muhammad SAW, ia memang beristri banyak, penggal leher saya jika ini salah, ia menikah setelah istri pertamanya Khadijah meninggal, ia menikahi Aisyah diusia 9 th, dan baru ditiduri setelah 13 th tp saat itu usia segitu sudah dewasa, jgn dibayangkan saat ini, istri nabi yg lain tidak ada yg gadis semua janda bahkana da yg saking tuanya tdak bisa ditiduri (memang kewajiban untuk menafkahi bathin) wassalam saya tunggu komentarnya

  2. Dukut Nugroho Says:

    kenapa kok yesus lahir dari maaf ” vagina ” perempuan ya , padahal dia kan tuhan yg seharusnya maha segalanya

  3. getdesk Says:

    yang dibahas murtad tapi kok Dukut Nugroho pikiran ke Kristen..?
    mengapa dia jadi bodoh begitu?

  4. Dukut Says:

    Indahnya malam pertama kita

    Satu hal sebagai bahan renungan Kita…
    Tuk merenungkan indahnya malam pertama
    Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
    Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

    Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
    Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
    Hari itu…mempelai sangat dimanjakan
    Mandipun…harus dimandikan
    Seluruh badan Kita terbuka….
    Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
    Tak Ada sedikitpun rasa malu…
    Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
    Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
    Bahkan lubang – lubang itupun ditutupi kapas putih…
    Itulah sosok Kita….
    Itulah jasad Kita waktu itu

    Setelah dimandikan.. .,
    Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
    Kain itu …jarang orang memakainya..
    Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
    Wewangian ditaburkan ke baju Kita…
    Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
    Tataplah…. tataplah. ..itulah wajah Kita
    Keranda pelaminan… langsung disiapkan
    Pengantin bersanding sendirian…

    Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
    Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
    Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
    Serta rasa haru para handai taulan
    Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
    Akad nikahnya bacaan talkin…
    Berwalikan liang lahat..
    Saksi – saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
    Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

    Dan akhirnya…. . Tiba masa pengantin..
    Menunggu Dan ditinggal sendirian…
    Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
    Malam pertama bersama KEKASIH..
    Ditemani rayap – rayap Dan cacing tanah
    Di kamar bertilamkan tanah..
    Dan ketika 7 langkah tlah pergi….
    Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…
    Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…
    Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur…..
    Kita tak tahu…Dan tak seorangpun yang tahu….
    Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan… .
    Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
    Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
    Seolah barang berharga yang sangat mahal…

    Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
    Atau melemparkan dirimu ke neraka..
    Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga…
    Tapi….tapi ….sudah pantaskah sikap kita selama ini…
    Untuk disebut sebagai ahli syurga

    Baca jika anda ada masa /waktu untuk ALLAH.
    Bacalah hingga habis.
    Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi anugerah untuk membaca terus hingga ke akhir.

    ALLAH, bila saya membaca e-mail ini, saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini….
    Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar bahwa pemikiran semacam inilah yang ….
    Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia ini.

    Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum’at……
    Mungkin malam JUM’AT?
    Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
    Kita suka ALLAH pada masa kita sakit….
    Dan sudah pasti waktu ada kematian…

    Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu bekerja atau bermain?
    Karena…
    Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri tanpa bergantung padaNYA.

    Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka……
    Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

    Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA berikan kepada kita.
    DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita meminta.

    ALLAH
    Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
    IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
    TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

    Susah vs. Senang
    Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

    Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai ceramah kita segar kembali?
    Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita bangga mem “forward” kan email yang tak senonoh?
    Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
    Solat adalah yang terbaik…. Tidak perlu bayaran , tetapi ganjaran lumayan.
    Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA ALLAH
    setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

    Tidakkah lucu bila seseorang berkata “AKU BERIMAN PADA ALLAH” TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also “believes” in ALLAH ).

    Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email lawak yang akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali., tetapi bila anda mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10 kali untuk berkongsi?

    Tidakkah mengherankan bagaimana bila anda mulai mengirim pesan ini anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda karena memikirkan apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti apakah mereka suka atau tidak?.

    Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda.

    Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua rekan mereka di rahmati ALLAH.

  5. Dukut Nugroho Says:

    Detik terakhir Rasulullah
    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
    salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
    masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan
    badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
    bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
    “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”
    tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
    pandangan yang menggetarkan.

    Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
    memisahkan pertemuan di dunia.
    Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
    tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan
    kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit
    dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya Rasululllah
    dengan suara yang amat lemah.
    “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
    “Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
    Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
    kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.
    “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
    “Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah
    berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
    Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
    Rasulullah ditarik.

    Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
    menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
    Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
    menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

    “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”
    Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
    “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata
    Jibril.
    Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak
    tertahankan lagi.

    “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
    kepadaku, jangan pada umatku.”
    Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
    Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera
    mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”
    “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

    Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
    Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
    telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    “Ummatii,ummatii,ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”
    Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
    Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
    Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

    Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

    NB:
    Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk
    mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan
    Rasulnya mencintai kita.

  6. Dukut Nugroho Says:

    Lisan Pembuka Rahasia Hati
    Imam Abu al-‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba merahasiakan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah Subhaanahu wata’ala akan menampakannya melalui ucapan lisannya.”
    (Syarh ath-Thahawiyah)

    Saksi Atas Perbuatan Kita di Dunia
    Al-Hasan pernah berkata, “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

    Jadilah Seperti Anak Kecil!
    as-Sirri as-Saqthi pernah berkata, “Jadilah Anda (di hadapan Allah) seperti seorang anak kecil di hadapan orang tuanya yang apabila ia menginginkan sesuatu dari mereka akan tetapi mereka tidak mengabulkan keinginannya maka ia akan merengek dan menangis di hadapan keduanya.
    Demikian pulalah sebaiknya keadaan Anda di hadapan Allah, apabila Anda telah memohon sesuatu kepada-Nya dan Allah belum juga mengabulkan permohonan Anda, maka bersimpuhlah dan menangislah dihadapan-Nya!

    Jangan Pernah Berhenti Berdoa!
    Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, “Janganlah kalian meninggalkan doa! Dan jangan sampai perbuatan dosa yang kalian lakukan, menghalangi kalian untuk berdoa kepada Allah, karena sesungguhnya Allah telah mengabulkan permohonan Iblis, padahal ia adalah makhluk yang paling buruk.

    Allah Subhaanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Hijr ayat 36 dan 37 yang artinya, “Iblis berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

    Diterimakah Amalan Kita?
    Sulaiman bin al-Mughirah bercerita bahwa Yunus bin ‘Ubaid pernah berkata,
    “Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia pernah berkata, “Kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, “Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.””
    (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

    Kekuatan Iman
    Syumaith pernah berkata, “Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.”

    (Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

    Ketajaman Firasat
    al-Kirmani pernah berkata, “Barangsiapa menjaga pandangannya dari hal-hal yang haram, menanah diri dari syahwat, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), menghiasi amalan lahirnya dengan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.
    (Hilyatul Auliya, karya Abu Nuaim al-Ashbahani)

  7. Dukut Nugroho Says:

    Sandal Jepit Isteriku

    Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

    “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

    “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

    “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

    Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

    *******

    Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

    “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

    Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

    “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

    Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

    ********

    Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
    “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
    “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
    “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

    “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

    *******

    Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.

    Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

    “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

    “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

    Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

    “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

    “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
    “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

    ******

    Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

    Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

    (Oleh : Yulia Abdullah)

    Keterangan
    (*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
    (**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
    (***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu

  8. Dukut Nugroho Says:

    Dari milis sebelah, mudah2an bermanfaat.

    BISMILLAHIRAHMANIRR AHIIM…
    Bukan sekadar teka teki tapi amat baik untuk kita jadikan panduan dlm hidup harian kita.
    Waallahualam.

    Satu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :

    Imam Ghazali = ‘ Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
    Murid 1 = ‘ Orang tua ‘
    Murid 2 = ‘ Guru ‘
    Murid 3 = ‘ Teman ‘
    Murid 4 = ‘ Kaum kerabat ‘
    Imam Ghazali = ‘ Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI . Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

    Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?’
    Murid 1 = ‘ Negeri Cina ‘
    Murid 2 = ‘ Bulan ‘
    Murid 3 = ‘ Matahari ‘
    Murid 4 = ‘ Bintang-bintang ‘
    Iman Ghazali = ‘ Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU . Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama’.

    Iman Ghazali = ‘ Apa yang paling besar didunia ini ?’
    Murid 1 = ‘ Gunung ‘
    Murid 2 = ‘ Matahari ‘
    Murid 3 = ‘ Bumi ‘
    Imam Ghazali = ‘ Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179).
    Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.’

    IMAM GHAZALI’ Apa yang paling berat didunia? ‘
    Murid 1 = ‘ Baja ‘
    Murid 2 = ‘ Besi ‘
    Murid 3 = ‘ Gajah ‘
    Imam Ghazali = ‘ Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ).
    Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah
    pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.’

    Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling ringan di dunia ini ?’
    Murid 1 = ‘ Kapas’
    Murid 2 = ‘ Angin ‘
    Murid 3 = ‘ Debu ‘
    Murid 4 = ‘ Daun-daun’
    Imam Ghazali = ‘ Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT . Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat ‘

    Imam Ghazali = ‘ Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? ‘
    Murid- Murid dengan serentak menjawab = ‘ Pedang ‘
    Imam Ghazali = ‘ Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri ‘

    ‘sampaikanlah walau satu ayat’..

  9. Dukut Says:

    Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.

  10. Dukut Says:

    Era Muslim. Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.

    Asriwid@yahoo.com

  11. dukut nugroho Says:

    Era Muslim. Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: