Membunuh Seorang yang Murtad

sumber dari : http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/11404

Membunuh Seorang yang Murtad

Pertanyaan:

Assalamualaikum,
pak ustadz rahimakumullah, kalo secara sadar dan tegas seorang muslim menyatakan keluar dari islam, kan konsekuensinya dibunuh setelah sebelumnya diperiksa oleh mahkamah syariah. lantas siapa yang melakukan prosesi pembunuhan itu?….bagaimana dengan di indonesia, adakah mahkamah syariah, dimana alamatnya?……apakah islam membolehkan membunuh makhluq allah, sedangkan hak mematikan makluq tentunya hak prerogatifNya?. Jazaakallahu khair

Ahmad

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Apa yang anda sampaikan itu sudah benar, yaitu syariat Islam telah menghalalkan darah seorang muslim yang secara tegas-tegas menyatakan diri keluar dari agama Islam. Sehingga mahkamah syar`iyah yang berdaulat di wilayah tempat yang bersangkutan tinggal berkewajiban untuk melakuikan eksekusinya.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW tentang halalnya darah orang yang murtad.

 
  • Siapa yang mengganti agamanya (keluar dari Islam) maka bunuhlah. (HR. Jamaah)Dari Binu Madsud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,�Tidak halal dari seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal. [1] Tsayyib yang berzina, [2] membunuh nyawa manusia dan [3] orang murtad keluar dari jamaah.(HR. Bukhari dan Muslim).

    Secara khusus juga ada hadits yang memerintahkan untuk membunuh wanita Islam yang murtad dari agamanya. Dan hal itu pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Namun tentu saja sebelumnya harus diminta kepadanya untuk taubat terlebih dahulu. Bila dia menolak, barulah halal darahnya.

  • Dari Jabir ra bahwa Ummu Marwan murtad dari Islam dan hal itu sampai kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau memerintahkan agar kepadanya diminta untuk bertaubat dan bila tobat tidak apa-apa tapi bila menolak maka dibunuh.�. (HR. Ad-Daruquthuny dan Al-Baihaqi dengan sanad yang dhaif).

    Namun hak untuk membunuh seorang yang murtad hanya ada pada hakim yang berkuasa dan memerintah secara syah dalam sebuah mahkamah syar�iyah. Sehingga tidak ada hak barang sedikit pun bagi individu muslim untuk melakukannya begitu saja.

    Di Indonesia, rasanya belum ada satu pun wilayah hukum yang telah memberlakukan hukum Islam secara 100 %. Jadi hukuman mati untuk orang yang murtad tidak boleh atau tidak bisa dijalankan. Tentu ini menjadi tanggung-jawab mereka yang sedang berkuasa di hadapan Allah SWT. Yang jelas mereka akan dipersalahkan karena punya kesempatan menjadi penguasa tapi malah tidak menjalankan pemerintahan itu dengan hukum-hukum-Nya.

    Dan masalah hak untuk mematikan itu hanya milik Allah SWT, sebenarnya masih ada pengecualiannya. Sebab khusus terkait dengan hukum membunuh orang murtad, atau hukum qishash dan juga dalam perang, Allah malah memerintahkan umat Islam untuk melakukan pembunuhan atau penghilangan nyawa manusia. Karena sudah diperintahkan, maka hukumnya menjadi wajib. Dan bila tidak dikerjakan malah berdosa.

    Silahkan Anda simak ayat-ayat berikut ini :

    Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (QS. Al-Hajj : 39)

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 216)

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (QS. Al-Baqarah : 178)

    Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik , atau dibuang dari negeri . Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, (QS. Al-Maidah : 33)

    Dan masih banyak lagi dalil yang datang dari Allah SWT yang mewajibkan seorang hakim untuk menghukum mati atau menghilangkan nyawa seseorang. Dan sebagai hamba yang taat, tentu saja ketaatan kita harus dibuktikan dengan menjalankan perintah dari Allah SWT. Dan Allah tidak akan menerima penghambaan seseorang yang dilakukan hanya dengan perasaan, logika atau nalar pribadi seseorang. Sebaliknya, semua bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT harus didasarkan atas firman dan petunjuk dari Allah SWT. Maka apa yang diperintahan-Nya wajib dijalankan dan apa yang dilarangnya harus ditinggalkan.

    Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

  • Komentar :
    duh…serem….jadi orang murtad bakalan dibunuh, jadi gimana dong nih hai wahai kaum murtad ? kalau elo murtad ya mendingan diem aja, daripada di eksekusi mati. weeeehhh…. Ya Tuhan Allah swt yang maha pengasih dan maha penyayang, gw murtad kan karena kehendak Allah swt. Allah swt maha berkehendak, Allah lha yang menentukan manusia mana yang murtad dan manusia mana yang beriman, jadi kesimpulannya kalau gw murtad ya karena kehendak Allah swt, gitu lho..Lalu konon katanya Allah swt mengizinkan orang islam untuk membunuh orang murtad itu.., itulah hukuman Allah swt terhadap orang murtad. Ini agama kok kaya’ doktrin mafia begitu ya ? maen bunuh aja, maen libas aja.

    3 Tanggapan to “Membunuh Seorang yang Murtad”

    1. St. Mike Says:

      Matt 5

      5:43 Ye have heard that it hath been said, Thou shalt love thy neighbour, and hate thine enemy.

      5:44 But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you;

    2. Dukut Nugroho Says:

      Kekuatan Sedekah

      Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sbb :

      Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bu mipun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumipun terdiam.

      Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung ?”

      Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batupun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi),

      Para malaikat bertanya lagi “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi ?”

      Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api” (besi, bahkan bajapun bisa menjadi cair dan lumer setelah dibakar api),

      Para malaikat kembali bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api ?”

      Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun niscaya akan padam jika disiram air),

      Para malaikatpun bertanya kembali “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air ?”

      Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (air disamudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain karena kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat),

      Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi “Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua ?”

      Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya “.

      Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih , tulus dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain .

      Berkaitan dengan ikhlas ini, RasulAllah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah : “Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat , dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya” .

      Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata, tanpa tendensi ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia.

    3. alvit82 Says:

      kamu yang bodoh, hukum islam bukan seperti hukum mafia yang maen libas, kalo kamu gk mau mati karna murtad jaga ucapanmu

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s


    %d blogger menyukai ini: