Bangga menjadi kafir

Walaupun orang islam sering menganggap derajat orang kafir itu lebih rendah daripada orang islam, wakaupun nanti orang kafir bakalan dimasukkin ke neraka selama-lamanya, walaupun orang kafir dianggap nggak bisa mikir sama orang islam, walaupun darah orang kafir halal bagi orang islam, Gue tetap bangga dan lega menjadi kafir !

Terima kasih gue ucapkan kepada Allah Swt Yang Maha Esa, atas anugerah, bimbingan rohani dan ajarannya dalam Al Quran yang telah membimbing gue keluar dari Islam, Terima kasih buat kaum terorist dan koruptor yang telah menginspirasi gue untuk memikirkan kembali tentang agama luar biasa damai dan tenang ini. Terima kasih buat pemuka-pemuka agama yang telah memberikan contoh kehidupan perkawinan yang amat sangat baik seperti poligami, kawin siri dan kawin kontrak. Terima kasih buat para majikan arab yang memperlakukan wanita-wanita TKI sebagaimana harusnya seperti yang tertuang dalam al-quran yaitu memperlakukan seperti budak-budak kamu dan dihalalkan untuk disetubuhi. Mereka semua sangat luar biasa dalam memberikan inspirasi mengenai kehidupan beragama yang penuh rahmat lil alamin ini. Akhir kata gue ucapkan Alhamdulillahi robbil alamin. Gue kini telah bergabung dengan 3.5 milyard penduduk bumi yang kafir.

63 Tanggapan to “Bangga menjadi kafir”

  1. penyelamat Says:

    Istighfar nak…istighfar….nggak takut adzab Allah Swt ? kembalilah ke jalan yang benar dan jalan yang lurus. Jangan kau butakan mata hatimu dengan kesenangan sesaat. Ingat Akhirat nak !

  2. Adadeh Says:

    Selamat jadi murtadin, ya. Dulu kau buta, sekarang melek abizz. Siiip!!! Kutahu perjalananmu berat dan berliku, tapi akhirnya di ujung jalan kau bisa melihat semua kepalsuan ajaran Muhammad yang intinya mengadu manusia kafir versus manusia Muslim. Muhammad adalah sampah tak berguna, tukang adu domba eh kambing.

  3. giez suzian Says:

    loe adalah orang yang paling terbodoh yang pernah gua tahu.your knowledge about islam is zero,man! and you have to study moreeeeeeeeeeeeeeeee! what is islam teach about. semoga 4jji memberi loe hidayah kembali.

  4. noname Says:

    WALAHHHH……….JADI KAFIR KOK BANGGA!!!
    KURANG KERJAAN…..
    SAYA PIKIR ANDA ITU ORANG YANG GAMANG….TERBUKTI ANDA MESTI PAKE KOAR-KOAR BUAT NYATAIN DIRI ANDA KAFIR….KALO DAH KAFIR YA SUTRA LAH….ITU KAN URUSANMU…KEYAKINANMU….GAK PERLU DAH PAKE JELEK-JELEKIN…SESUATU YANG ANDA SENDIRI MASIH BELUM PAHAMI SECARA JELAS….

  5. Abi Says:

    Ha ha ha kenapa kalian percaya kalau dia murtad? ini mah trik basi’ tau!…Paling juga dia ini orang kristen, maaf bukan asal menganggap, saya sudah biasa nemuin orang kristen ngaku2 murtad. Bahkan yang menjadi tokoh pun banyak.

    BTW memang tidak ada jalan dakwah yang lebih baik diagama kamu selain bermunafik dan dusta ya mr.Kristen? tapi gw gak heran kok memang udah diajarin ama alkitabnya untuk berdusta (lihat alkitab roma 8) dan bermuka dua (lihat alkitab korintus).

    So, ngapain percaya?

  6. Dukut Nugroho Says:

    kenapa kok yesus lahir dari maaf ” vagina ” perempuan ya , padahal dia kan tuhan yg seharusnya maha segalanya

  7. getdesk Says:

    yang dibahas murtad tapi kok Dukut Nugroho pikiran ke Kristen..?
    mengapa dia jadi bodoh begitu?

  8. Dukut Nugroho Says:

    Saya tahu siapa anda, nggak susah kok menemukan siapa pembuat situs ini, saya cuma heran ngapain sih capek2 bikin situs yang nggak bermutu ini, kalau kemurtadan ini menurut anda benar, ayo dong buktikan dengan perbuatan dan ajak orang untuk murtad dengan kegiatan sosial, kajian ilmilah kek

    pesan saya buat anda inget tuh didapur beras abis, anak istri ada butuh diberi makan,

  9. Dukut Says:

    Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.

  10. dukut nugroho Says:

    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma

    bahwasanya dia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah ta’aala ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya,

    maka syaitan akan berkata kepada teman-temannya: ‘Tidak ada tempat bermalam maupun makan malam untuk kalian di sini.’

    Tetapi sebaliknya, apabila ia masuk ke dalam rumahnya tanpa menyebut nama Allah pada waktu masuknya, maka syaitanpun akan berkata:

    ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam’. Dan bila ia tidak menyebut nama Allah ta’aala ketika menghadapi makanannya,

    maka syaitanpun berkata: ’Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam sekaligus’.”(HR Muslim 10/293)

  11. Dukut Nugroho Says:

    Anggota Kongres AS Tunaikan Ibadah Haji

    Setahun lamanya anggota Kongres AS itu menyimpan keinginan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Keinginannya itu akhirnya terwujud pada musim haji tahun ini, anggota Kongres yang cukup berpengaruh di antara 535 anggota Kongres AS itu, saat haji kemarin berada diantara sekitar tiga juta jamaah haji dari seluruh dunia.

    Dia adalah Keith Ellison, Muslim AS pertama yang menjadi anggota Kongres AS. “Ellison sudah merencanakan perjalanan haji selama seminggu sejak ia melakukan kunjungan ke Arab Saudi setahun yang lalu,” kata Rick Jauert, juru bicara Ellison.

    Itulah sebabnya, Ellison tidak ikut dalam rapat-rapat panas dan panjang di Kongres yang belakangan sibuk membahas upaya penyelamatan perekonomian AS, terutama rapat-rapat penentuan terkait dana penyemalatan bagi industri otomotof AS.

    “Ia (Ellison) sudah memberitahu juru bicara dan para pimpinan di Kongres bahwa ia akan menunaikan ibadah haji. Jika mereka tahu, suara Ellison akan memberikan pengaruh yang cukup penting dalam pembahasan-pembahasan itu, Ellison kemungkinan tidak akan pergi,” ujar Jauert.

    Ia mengatakan, Ellison menunaikan ibadah haji bersama sejumlah jamaah dari Masjid Minneapolis, masjid yang tempat Ellison bergabung. “Ini adalah perjalanan pribadi, ibadah haji. Dan ia menggunakan uang pribadinya untuk membiayai perjalanan ini,” ujar Jauert.

    Ellison memang tidak mengajak salah satu anggota keluarganya. Dua anak lelakinya ditinggal di rumah bersama istrinya yang masih memeluk agama Katolik. Semoga dengan ibadah hajinya, Ellison bisa menyampaikan dakwah Islam di tengah keluarganya. (ln/startribune)

  12. Axioma Says:

    YAKIN AKAN PERTOLONGAN ALLOH’
    ‘Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Sehingga, Allahlah yang harus memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Angkabut [29]: 60). Betulkah ekonomi yang tak menentu sekarang ini yang menyebabkan ‘penyakit’ panik sangat mudah menyerang bangsa kita? Barangkali tidak, jika kita menyelam ke inti persoalannya, bahwa bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan kita umumnya tidak memiliki keyakinan. Karena tidak optimistis, kita menjadi gamang, marah, takut, dan khawatir yang berlebihan. Selanjutnya, tidak adanya keyakinan itu kadang mendorong kita nekat bertindak yang tak terhormat. Tanpa keyakinan, manusia tak bisa hidup. Akan terus diselimuti keragu-raguan …

  13. Axioma Says:

    Kemudian jangan pernah berpendapat bahwa rezeki kita akan diambil atau direbut oleh orang lain. Yakinlah bahwa kita hanya tinggal menjemput rezeki yang telah ditakdirkan Allah SWT dengan cara berusaha semaksimal mungkin. Bahasa lainnya, jangan memiliki mental kelangkaan yang iri atau dengki ketika orang lain lebih sukses daripada kita. Setiap orang yang berhasil lebih daripada kita sesungguhnya tidak pernah merebut sedikitpun rezeki kita. Miliki mental berkelimpahan yang merasa puas dan cukup dengan apa yang kita dapatkan. Lalu berusaha lagi untuk menjemput rezeki milik kita sendiri yang telah ditentukan Allah SWT. Inilah cara ikhlas dan bersyukur yang benar. Wallahu’alam.
    Salam Berkah!,

  14. Dukut Nugroho Says:

    Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
    Kau bangun tanpa mensyukuri nikmat hidupmu (tidak berdoa setelah bangun tidur)
    dan tanpa sujud mengerjakan subuhmu..
    Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai santapanmu,
    kau tinggalkan sholat dhuhur dan asr karena kesibukan kerjamu,
    kau tinggalkan sholat maghrib karena kelletihanmu..
    juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu
    Kau benar-benar ‘orang yang bersyukur’, Aku menyukainya
    Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.

    Hai Bodoh, Kamu millikku.
    Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
    dan aku masih belum bisa benar-benar mencintaimu…
    Malah aku masih membencimu, karena kau telah membuatku keluar dari surga
    Aku hanya menggunakanmu untuk membuktikan janjiku kepada Allah.
    Dia sudah mencampakkan aku dari surga karenamu, dan aku akan membuatmu tersesat agar kau juga dicampakkan dari surga-Nya

    Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan Dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan
    Dia masih memberikan padamu nikmat hidup dan nikmat Islam..
    Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
    dan aku akan membuat kehidupanmu seperti di surga..
    sehingga kau akan tetap kedalam kedholiman dan kesesatanmu…
    dan kau tidak akan bertaubat didalam kedholiman dan kesesatanmu..
    kita akan bersama-sama menjalani kehidupan dunia ini..
    Sehingga kita akan bisa bersama-sama pula dikehidupan kelak..

    Aku benar-benar berterimakasih padamu,
    karena aku sudah menunjukkan kepada-NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa-masa yang kita jalani

    Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangya , guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua , Tidak menghargai Masjid, tidak sholat berjama’ah, berperilaku buruk.
    TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.

    Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
    Aku masih memiliki rencana-rencana hangat untuk kita.
    Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
    Aku ingin mengucapkan ‘TERIMAKASIH’ karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.

    Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
    Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
    Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.

    Aku sudah 40 tahun bersamamu, dan sekarang aku perlu darah muda.
    Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa..
    Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berzina, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin,
    dengan ini kuresmikan engkau sebagai pengikutku, dan kuangkat engkau menjadi waliku..
    Lakukan semua ini didepan anak-anak agar mereka akan menirunya..
    Begitulah anak-anak..

    Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
    Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi..
    Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu..
    Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit..

    Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
    Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu..
    Hanya saja kau harus menjadi orang to lol yang menanggap dirimu melakukan hal yang baik.. dan melupakan Penciptamu..

    Catatan : Jika kau benar-benar menyayangiku , kau tak akan rela berbagi suratku ini dengan siapapun..

    Sumber:
    email dari seorang teman, dengan sedikit editan

    semoga bisa dapat kita jadikan pelajaran berharga,
    amin, ya rabbal ‘alamin..

  15. Dukut Nugroho Says:

    Lisan Pembuka Rahasia Hati
    Imam Abu al-‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba merahasiakan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah Subhaanahu wata’ala akan menampakannya melalui ucapan lisannya.”
    (Syarh ath-Thahawiyah)

    Saksi Atas Perbuatan Kita di Dunia
    Al-Hasan pernah berkata, “Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

    Jadilah Seperti Anak Kecil!
    as-Sirri as-Saqthi pernah berkata, “Jadilah Anda (di hadapan Allah) seperti seorang anak kecil di hadapan orang tuanya yang apabila ia menginginkan sesuatu dari mereka akan tetapi mereka tidak mengabulkan keinginannya maka ia akan merengek dan menangis di hadapan keduanya.
    Demikian pulalah sebaiknya keadaan Anda di hadapan Allah, apabila Anda telah memohon sesuatu kepada-Nya dan Allah belum juga mengabulkan permohonan Anda, maka bersimpuhlah dan menangislah dihadapan-Nya!

    Jangan Pernah Berhenti Berdoa!
    Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata, “Janganlah kalian meninggalkan doa! Dan jangan sampai perbuatan dosa yang kalian lakukan, menghalangi kalian untuk berdoa kepada Allah, karena sesungguhnya Allah telah mengabulkan permohonan Iblis, padahal ia adalah makhluk yang paling buruk.

    Allah Subhaanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Hijr ayat 36 dan 37 yang artinya, “Iblis berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

    Diterimakah Amalan Kita?
    Sulaiman bin al-Mughirah bercerita bahwa Yunus bin ‘Ubaid pernah berkata,
    “Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia pernah berkata, “Kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, “Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.””
    (Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

    Kekuatan Iman
    Syumaith pernah berkata, “Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.”

    (Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

    Ketajaman Firasat
    al-Kirmani pernah berkata, “Barangsiapa menjaga pandangannya dari hal-hal yang haram, menanah diri dari syahwat, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah), menghiasi amalan lahirnya dengan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali yang halal, maka firasatnya tidak akan meleset.
    (Hilyatul Auliya, karya Abu Nuaim al-Ashbahani)

  16. Dukut Nugroho Says:

    WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB

    Oleh
    Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

    Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang
    berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk
    berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik
    tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan
    tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang
    utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan,
    kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara
    lain.

    [1]. Sepertiga Akhir Malam

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun
    setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu
    berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa
    yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta
    ampun, pasti Aku akan mengampuninya” . [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat
    bab Doa Nisfullail 7/149-150]

    [2]. Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa
    yang tidak ditolak”. [Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da’watuhu
    1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya
    oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17].

    [3]. Setiap Selepas Shalat Fardhu

    Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
    beliau menjawab.

    “Artinya : Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat
    fardhu”.
    [Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani
    dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782].

    [4]. Pada Saat Perang Berkecamuk

    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
    wa
    sallam bersabda.

    “Artinya : Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak ; doa pada
    saat adzan dan doa tatkala peang berkecamuk”. [Sunan Abu Daud, kitab Jihad
    3/21 No. 2540. Sunan Baihaqi, bab Shalat Istisqa’ 3/360. Hakim dalam
    Mustadrak 1/189. Dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Adzkaar hal. 341. Dan
    Al-Albani dalam Ta’liq Alal Misykat 1/212 No. 672].

    [5]. Sesaat Pada Hari Jum’at

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi
    wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak
    bertepatan
    seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah
    melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan
    sedikitnya waktu tersebut”. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/166.
    Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6]

    Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing
    riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang
    telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.

    Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik
    mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar
    bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

    [6]. Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur
    Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah

    Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya :Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun
    padamalam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat
    melainkan Allah akan mengabulkannya” . [Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No.
    3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595]

    Terbangun tanpa sengaja pada malam hari.[An-Nihayah fi Gharibil Hadits
    1/190]
    Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” terbangun dari tidur pada malam
    hari.

    [7]. Doa Diantara Adzan dan Iqamah

    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
    wa
    sallam bersabda.

    “Artinya : Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah”. [Sunan Abu
    Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat
    13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani,
    kitab Tamamul Minnah hal. 139]

    [8]. Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat

    Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
    sallam bersabda.

    “Artinya : Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhl ah berdoa
    sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. [Shahih Muslim, kitab Shalat
    bab Nahi An Qiratul Qur’an fi Ruku’ wa Sujud 2/48]

    Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan doa kamu.

    [9]. Pada Saat Sedang Kehujanan

    Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
    ‘alaihi wasallam bersabda.

    “Artinya : Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa
    pada waktu kehujanan”. [Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi
    2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3078].

    Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak
    ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat
    khususnya curahan hujan pertama di awal musim. [Fathul Qadir 3/340].

    [10]. Pada Saat Ajal Tiba

    Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari
    wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu
    beliau memejamkannya kemudian bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan
    mengikutinya’ . Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : ‘Janganlah
    kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat
    mengamini apa yang kamu ucapkan”. [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]

    [11]. Pada Malam Lailatul Qadar

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
    turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk
    mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar”.
    [Al-Qadr : 3-5]

    Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa
    setiap orang pasti dikabulkan. [Tuhfatud Dzakirin hal. 56]

    [12]. Doa Pada Hari Arafah

    Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya
    bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah”. [Sunan At-Tirmidzi,
    bab
    Jamiud Da’waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta’liq alal Misykat
    2/797 No. 2598]

  17. Dukut Nugroho Says:

    7 Tanda Pewaris Surga

    “Sudahkah kita bahagia?” itulah pertanyaan yang Ustadzah Bana lontarkan kepada semua peserta yang hadir di Acara Tahun Baru Islam 1430 H dengan tema Meningkatkan Amal Jama’i. Dimanapun kita berada dan dalam kondisi apapun sudah menikah atau pun belum maka sepatutnya harus kita syukuri. Karena sesungguhnya yang harus kita pertanyakan kepada diri kita adalah ” Sudahkah kita mencapai kebahagiaan yang Hakiki ??”

    Ingat dengan salah satu lagu nya Opik yang berjudul 7 tanda pewaris surga?

    1. Beriman kepada Allah dengan mulut, hati, dan langkahnya

    2. Meninggalkan perkara-perkara yang tiada guna

    3. Menunaikan zakat

    4. Menjaga Kemaluannya

    5. Memelihara amanah

    6. Memenuhi janjinya

    7. Selalu menjaga waktu ter khusyuk waktu sholatnya.

    Kalau kita mau mencerna lagu tersebut, sudah kah semuanya atau salah satu ada dalam dari diri kita? Sudahkah kita menjaga amanah, menjalankan amanah, baik amanah pribadi ataupun sosial ? Allah sudah memberikan kita life skill, kemampuan, dll. Dan ketika semuanya itu sudah kita miliki maka bersiaplah untuk mendapatkan amanah yang lain. Begitu juga dengan janji terdapat dalam Al-Qur’an.

    “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya), … (QS Al Ahzab (33) : 23)

    [1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.

    Janji… terkadang kita hanya bisa mengucapkan tapi berat rasanya untuk menepati. Lalu yang ciri yang manakah yang sudah kita miliki? Sudahkah kita menjadi pewaris surga yang disayang Allah.

    Wallahu’alam bi showab. Semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. Amin.

  18. Dukut Nugroho Says:

    Hermawan Kartajaya – Ekonomi Islam itu Adil dan Indah

    Guru marketing Hermawan Kartajaya sudah beberapa lama bergaul dengan praktisi keuangan syariah. Ia mulai fasih mengatakan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin. Beragama Katolik, Hermawan malah berniat ikut dalam mengembangkan nilai marketing Islami. Berikut petikan wawancara sesaat setelah peluncuran buku Sharia Marketing di Jakarta pekan lalu.

    Sebetulnya apa beda marketing syariah dan konvensional ?

    Dalam dunia marketing itu ada istilah kelirumologi. Itu lho sembilan prinsip yang disalah artikan. Misalnya marketing diartikan untuk membujuk orang belanja sebanyak-banyaknya. Atau marketing yang yang pada akhirnya membuat kemasan sebaik-baiknya padahal produknya tidak bagus. Atau membujuk dengan segala cara agar orang mau bergabung dan belanja. Itu salah satu kelirumologi ( merujuk istilah yang dipopulerkan Jaya Suprana). Marketing syariah itu mengajarkan orang untuk jujur pada konsumen atau orang lain. Nilai syariah mencegah orang (marketer) terperosok pada kelirumologi itu tadi. Ada nilai-nilai yang harus dijunjung oleh seorang pemasar. Apalagi jika ia Muslim.

    Apakah nilai marketing syariah bisa diterapkan umat lain?

    Lha ya nilai Islam itu universal. Rahmatan lil alamin. Begitu kan istilahnya. Nabi Muhammad itu menyebarkan ajaran Islam pasti bukan hanya untuk umat Islam saja. Jadi tidak apa-apa jika nilai marketing syariah ini inisiatif orang Islam supaya bisa menginspirasikan orang lain. Makin banyak non-Muslim yang ikut menerapkan nilai ini, makin bagus. Saya ikut mengendorse marketing syariah. Soal jujur itu kan universal. Jadi marketing syariah harus diketahui orang lain dalam rangka rahmatan lil alamin itu.

    Apa nilai inti marketing syariah ?

    Integrity atau tak boleh bohong. Transparansi. Orang kan tak boleh bohong. Jadi orang membeli karena butuh dan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan, bukan karena diskonnya. Itu jika konsep marketing dijalankan secara benar.

    Bagaimana muasal perkembangan nilai spiritual dalam marketing ?

    Sejalan dengan perkembangan dunia. Setelah September attack, orang melihat IQ dan EQ saja tidak cukup. Harus ada SQ, spiritual quotient.

    Orang melihat apakah nilai marketing syariah ini akan bertahan?

    Ya pasti sustain. Karena prinsip dasarnya kejujuran. Ini yang dibutuhkan semua orang. Apalagi setelah kasus seperti Enron, Worldcom dan lainnya. Orang melihat bisnis itu harus jujur.

    Lalu di mana peran ilmu marketing dalam konsep syariah ?

    Syariah meng-endorse marketing dan marketing mengendorse syariah. Ilmu marketing menyumbangkan profesionalitas dalam syariah. Karena jika orang marketing tidak profesional, orang tetap tidak percaya. Lihat saja bagaimana investor Timur Tengah belum mau investasi di Indonesia, meski negara ini populasinya mayoritas Muslim. Karena mereka tidak yakin dengan profesionalitas kita. Jadi, jujur saja tidak cukup.

    Bukankah nilai kejujuran dan transparansi itu diajarkan semua agama ?

    Ya. Memang semua agama mengajarkan nilai itu. Tapi jangan lupa bahwa Islam itu rahmatan lil alamin. Jadi, ada titik singgung. Bukankah lebih baik mencari yang serupa dari pada memperkarakan yang berbeda. Jika begitu hidup kita damai. Menurut saya, tak mengapa kita sebut marketing syariah. Karena mayoritas populasi di Indonesia itu Muslim. Jadi nilai syariah yang kita kedepankan. Kita mulai di sini, di Indonesia. Ada bagusnya jika yang mengendorse itu orang Islam, bukan yang lain.

    Setelah nilai spiritual konsep apa lagi yang akan mengemuka dalam dunia bisnis ?

    Millenium. Orang mencari keseimbangan. Maksudnya orang berbisnis itu harus menjaga kelangsungan alam, tidak merusak lingkungan. Berbisnis juga ditujukan untuk menolong manusia yang miskin dan bukan menghasilkan keuntungan untuk segelintir orang saja. Nilai-nilai ini ke depan akan mengemuka. Sekarang pertemuan para praktisi marketing mulai mengarah ke sana.

    Setelah mengenal Islam, apa pendapat Anda tentang nilai yang diajarkan ?

    Islam agama yang universal dan komprehensif. Guidance-nya lengkap. Ada petunjuk untuk seorang pedagang, kepala negara, seorang anak, panglima perang dan semuanya. Ada diatur secara lengkap. Di atas semua itu saya melihat Islam itu ajaran yang damai dan indah. Ajaran Islam bisa dipakai semua orang. Itu kesan saya dan mengapa saya mau mempelajari nilai Islam untuk dikembangkan dalam konsep marketing. Saya sekarang menjadi aktivis lingkungan dan nilai-nilai.(Sumber: Harian Republika)

  19. Axioma Says:

    Thanks

    Deny Nurcahya (deden)

    “Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup..”

    Renung-renungkan dan selamat beramal..
    Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju
    Mekah……. , aku bertanya pada Ibu.
    ‘Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah….?’
    Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah.
    Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya.
    Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya
    bergabung untuk Umrah dibulan July 2007 yang lalu.
    Kebetulan umrahku dimulai di M adinah dulu
    selama 4 hari, baru ke Mekah.

    Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku
    punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.
    Ibu berkata…’Shinta, * Allah hanya memanggil kita 3 kali saja
    seumur hidup*
    Keningku berkerut…. ….’Sedikit sekali Allah memanggil
    kita..?’ Ibu tersenyum. ‘Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan
    itu..?’ Saya menggelengkan kepala.

    ‘Panggilan pertama adalah* **Azan*’, ujar Ibu.

    ‘Itu adalah panggilan Allah yang pertama.
    Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat
    terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan
    Allah. Tetapi Allah masih fleksibel,
    Dia tidak ‘cepat marah’ akan
    sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak
    sholat sama sekali karena
    malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya,
    masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab
    panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya
    ketika hari Kiamat nanti’.
    Saya
    terpekur…. .mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih
    melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain.
    Masya Allah…….

    Ibu melanjutkan, ‘Shinta, Panggilan yang kedua adalah panggilan*
    Umrah/ Haji*
    Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya
    dengan panggilan yang halus dan sifatnya ‘bergiliran’ . Hamba
    yang satu mendapatkan
    kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain.
    Jalan nya bermacam-macam.
    Yang tidak punya uwang menjadi punya uwang,
    yang tidak merancang pula akan pergi, ada yang memang merancang dan
    terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian
    Ihram dan melafazkan ‘Labaik Allahuma Labaik/
    Umrotan’, sesungguhnya kita saat itu
    menjawab panggilan Allah yang ke dua.
    Saat itu kita merasa bahagia,
    karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus
    sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu’.

    Mata saya semakin
    berkaca-kaca. ……..Subhanal lah…… .saya datang menjawab
    panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan..
    ….Alhamdulill ah…

    ‘Dan panggilan ke-3’, lanjut Ibu, ‘adalah* KEMATIAN*.
    Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus, Allah
    tidak
    Memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab
    dengan lisan dan
    gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu Shinta,
    manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..Jawablah 3 panggilan Allah
    dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah…. ……..Insya Allah
    syurga adalah
    balasannya.. ….’

    ** Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud
    bertaubat pada Allah
    karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya.
    …..Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih
    sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju
    Ihram dan berniat….. ….Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya
    Allah, Tuhan Semesta Alam…….. **
    *Huraisy*
    *Pada hari kiamat akan
    keluar seekor binatang dari neraka jahanam yang bernama ‘Huraisy’
    berasal dari anak kala jengking. Besarnya Huraisy ini dari timur
    hingga ke barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi.

    Malaikat Jibril bertanya : ‘Hai Huraisy! Engkau hendak ke mana dan siapa

    yang kau cari?’ Huraisy pun menjawab, ‘Aku mahu mencari limaorang.’

    Pertama, orang yang meninggalkan sembahyang.
    Kedua, orang yang tidak mahu keluarkan zakat.
    Ketiga, orang yang durhaka kepada ibubapanya.
    Keempat, orang yang bercakap tentang dunia di dalam
    masjid.

    Kelima, orang yang suka minum arak.’*
    kesal saya dgn sikap buruk sangka saya terhadap org lain dan sikap tidak
    tahu berterima kasih dgn kawan yg
    sentiasa berlapang dada…*
    sampaikan pesanan ini biarpun 1
    ayat.. Wallahualam*

  20. Axioma Says:

    Beberapa hari ini saya berkeliling melakukan perjalanan ‘ruhani’, masuk ke pesantren-pesantren, bertemu santri dan kyai, berdiskusi di sekolah-sekolah bersama siswa dan guru, dan bertemu dengan berbagai komunitas mahasiswa di beberapa kampus besar di pulau Jawa. Saya katakan perjalanan ‘ruhani’ karena memang dari dialog dan diskusi hangat dengan mereka yang tersegarkan justru adalah batin saya, bukan sekedar otak saya. Dari mereka saya menemukan spirit bahwa kata bangkit itu masih ada.

    Siswa dan santri yang lugu adalah alasan negeri ini untuk bangkit, mahasiswa yang kritis dan idealis adalah alasan untuk bangkit, guru dan kyai yang sederhana namun menyimpan energi yang luar biasa adalah alasan untuk bangkit. Mereka semua kini telah membincangkan hal yang sama bahwa perubahan harus terus dilakukan. Ketika wakil rakyat mulai lupa diri, pemerintah kehilangan kendali, para politisi haus oleh ambisi, para siswa dan santri tetap serius menempa diri di bawah bimbingan guru dan kyai, sementara mahasiswa terus berdiskusi mematangkan rencana aksi. Ini semua adalah alasan yang cukup untuk bangkit.

    Tangis keluarga dan kerabat yang ditinggalkan oleh seorang ibu hamil yang meninggal karena tidak ada yang bisa dikonsumsi, rintihan bayi-bayi kurang gizi di penjuru negeri, keangkuhan dan ketamakan para pejabat dan birokrat, ketidak pedulian wakil rakyat pada persoalan yang seharusnya ditangani, adalah alasan yang kuat untuk bangkit. Bencana yang tak jua berhenti, penanganan bencana yang justru menjadi objek jual beli para politisi, uang yang mulai menggantikan hati nurani, adalah alasan mengapa negeri ini harus bangkit.

    Dari tangan santri, siswa dan pemuda kebangkitan itu harus dimulai. Dari tangan kaum dhu’afa yang selalu teraniaya kebangkitan itu harus digerakkan. Bukankah Muhammad SAW telah memulai kebangkitan bersama tangan mereka? Kini kita harus sudah mulai menyusun strategi bagaimana aksi kebangkitan itu akan kita jalani. Tentu semua harus dimulai dari diri sendiri untuk menjaga konsistensi agar semangat kebangkitan itu tetap terjaga dalam hati. Kedua, kita harus menyelamatkan santri, siswa dan mahasiswa dari kontaminasi senior-senior mereka yang mulai gila harta dan posisi meski mereka dulu pernah menjadi agen-agen reformasi. Ketiga, membangun sinergi nurani agar hati tetap tegar dijalan kebangkitan. Keempat, terus bergerak tanpa henti memperjuangkan agenda-agenda keummatan yang belum terselesaikan. Kelima, hancurkan semua penghalang unsur-unsur kebaikan dengan penuh keberanian dan melangkahlah dengan pasti menuju puncak kebangkitan.

    Jalan kebangkitan tentu tidak akan mudah, terlalu banyak godaan yang dapat merubah sang jagoan menjadi bajingan, terlalu banyak tantangan yang mendudukkan pahlawan di kursi pesakitan. Semua itu adalah bagian dari ujian yang selalu ada di setiap zaman. Bukankah pasukan Rasulullah SAW berantakan di medan uhud karena begitu kuatnya godaan? Bahkan godaan itu telah memaksa Aisyah dan Ali bin Abi Thalib berada dalam pisisi yang berhadap-hadapan.

  21. getdesk Says:

    Bekerja dengan Ikhlas, niat ibadah dan selalu mohon keridhoan ALLOH SWT
    Jaga perut, jaga mata dan jaga mulut, pasti engkau selamat dunia akhirat
    Kerjakan shalat witir sebelum tidur, shalat dhuha, dan puasa 3 hari setiap bulan (13,14,15 bulan Hijriah)
    Perbanyak sedekah, lakukan setiap hari, keluarkan zakat setiap mendapat rizki sebanyak 2,5 %

    4 golongan yang sangat dirindukan surga
    Orang yang sering membaca Al Qur’an
    Orang yang mampu menjaga mulutnya
    orang yang selalu memberikan makanan orang yang lapar
    Orang yang berpuasa dibulan Ramadhan

    3 macam orang yang bisa membuat bangkrut dunia-akhirat
    Memfitnah, selalu menjelekkan orang lain
    Makan hak orang lain, membuat hutang namun tidak mau bayar
    Menghakimi orang lain tanpa hak

    Tanda-tanda puasa kita berasil diterima oleh ALLOH SWT
    Mempunyai sifat dermawan, punya jiwa sosial
    Sabar, dapat mengendalikan diri/hawa nafsu
    Mau memaafkan kesalahan orang lain
    Mau mengakui kesalahan sendiri, selanjutnya berupaya memperbaiki diri

    Wassalam
    Komarudin

  22. Axioma Says:

    Bekerja dengan Ikhlas, niat ibadah dan selalu mohon keridhoan ALLOH SWT
    Jaga perut, jaga mata dan jaga mulut, pasti engkau selamat dunia akhirat
    Kerjakan shalat witir sebelum tidur, shalat dhuha, dan puasa 3 hari setiap bulan (13,14,15 bulan Hijriah)
    Perbanyak sedekah, lakukan setiap hari, keluarkan zakat setiap mendapat rizki sebanyak 2,5 %

    4 golongan yang sangat dirindukan surga
    Orang yang sering membaca Al Qur’an
    Orang yang mampu menjaga mulutnya
    orang yang selalu memberikan makanan orang yang lapar
    Orang yang berpuasa dibulan Ramadhan

    3 macam orang yang bisa membuat bangkrut dunia-akhirat
    Memfitnah, selalu menjelekkan orang lain
    Makan hak orang lain, membuat hutang namun tidak mau bayar
    Menghakimi orang lain tanpa hak

    Tanda-tanda puasa kita berasil diterima oleh ALLOH SWT
    Mempunyai sifat dermawan, punya jiwa sosial
    Sabar, dapat mengendalikan diri/hawa nafsu
    Mau memaafkan kesalahan orang lain
    Mau mengakui kesalahan sendiri, selanjutnya berupaya memperbaiki diri

  23. getdesk Says:

    saya setuju dengan tulisan dukut nugroho

  24. dukut Says:

    Di pinggiran sebuah hutan, satu keluarga kelinci mulai beranjak tidur. Malam membatasi gerak anak-anak mereka hanya di sekitar lubang yang menjadi rumah mereka. Walau tak berpintu, anak-anak kelinci seperti melihat dinding tebal antara rumah dan dunia luar.

    Seekor anak kelinci bertingkah lain dari yang lain. Sesekali, ia menjulurkan kepalanya keluar lubang. Ia menoleh ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang dianggapnya baru. Tapi, tindakan itu dicegah keras induknya. “Jangan coba-coba lakukan itu lagi, Nak!” teriak sang induk marah.

    “Kenapa, Bu?” tanya anak kelinci heran. “Kenapa tak satu kelinci pun yang berani keluar lubang di saat malam?”

    Induk kelinci menatap anaknya tajam. “Anakku,” ucapnya kemudian. “Malam sangat berbahaya untuk hewan seperti kita. Ketika malam datang, lubang menjadi tempat yang paling aman buat kita,” jelas sang induk kemudian.

    “Bukankah tanah di sekitar sini hanya dihuni para kelinci, Bu?” sergah si anak menawarkan sudut pandang lain.

    Induknya tersenyum. “Anakku, justru karena malamlah, kita tidak bisa membedakan mana teman dan mana pemangsa. Sabarlah untuk bergerak sekadarnya, hingga siang benar-benar datang!” ucap sang induk kelinci begitu meyakinkan.
    **

    Malam dan siang memang bukan sekadar pergerakan sisi bumi yang menjauh dan menghadap ke arah matahari. Ada makna lain dari yang namanya malam. Sesuatu yang menggambarkan suasana gelap, tertutup, curiga, dan ketakutan.

    Dalam diri manusia pun punya dua suasana itu: malam dan siang. Malam menunjukkan suasana hati yang picik dan dangkal, dan siang menggambarkan kelapangan dada. Pada hati yang terselimuti malam, orang menjadi mudah curiga, senang dengan yang serba tertutup, sulit memaafkan, bahkan berkecenderungan menjadi pemangsa.

    Orang bijak mengatakan, siang adalah di mana kita mampu membedakan antara pohon nangka dengan pohon cempedak. Selama kita tidak bisa menangkap kearifan diri kita pada wajah orang yang kita temui, jam berapa pun itu, hal itu menandakan kalau hari masih malam.

  25. Dukut Nugroho Says:

    Wasiat Dahsyat Penolak Kefakiran

    Islam itu sangat solutif, untuk berjihad di dunia melalui bisnis, tentulah dia memiliki dua ujung mata pedang dalam langkah perjuangannya, yaitu pertama : Ikhtiar yang sungguh sungguh dalam menjemput rezeki, dan kedua : Kekuatan amalan ibadah dan doa.

    Kedua mata pedang tersebut saling menguatkan, kedua mata pedang tersebut menambah kekuatan keyakinan hamba atas kekuasaan Yang Maha Kuasa. Logika bisnis dan usaha kadang-kala menjadi terbalik, bahkan hasil yang di raih pun seringkali ilmu matematika ataupun indikator ekonomi tak mampu menjangkau.

    “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 35:2)

    “Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang di kehendaki Nya di antara hamba-hambaNYA dan menyempitkan bagi (siapa yang di kehendakiNya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi Rezeki yang sebaik baiknya” (QS 34:39)

    Pada saat krisis tiba, niscaya mereka para pribadi muslim haruslah merasa yakin dan tetap tenang. Mereka tidak gundah atas berita yang beredar di media masa, mereka tidak turut serta menggaungkan senandung yang sama dengan kaum yang lain , mereka punya sikap yang unik dan berbeda dengan kaum yang lain, alasannya karena mereka punya keyakinan yaitu mereka memiliki ALLAH, PEMILIK SEGALA KEPUTUSAN, PEMBERI REZEKI.

    Seringkali ummat islam terlupakan adanya kekuatan ujung mata pedang yang kedua ini yaitu kekuatan amalan ibadah dan doa , sebahagian ummat islam sekarang cenderung mengikuti pola manajemen barat yang serba ‘sebab akibat’ secara rasional, yang tentunya paham barat tersebut telah nyata melupakan faktor Tuhan sebagai Penentu. Walaupun sebagian mereka berhasil dalam usahanya, maka hasil kerja yang di dapat paling tidak hanya memperbanyak digit nilai materi saja, dan hampa dalam nilai keimanan serta berpeluang hilang keberkahannya, ketahuilah bila niat dan hasilnya dasarnya sudah menyimpang , hasil itu semua kelak akan nihil di hadapan Allah.

    Rugi sekali bagi seorang muslim, apalagi kalangan pengusaha muslim khususnya, bila meninggalkan kekuatan yang satu ini, mereka punya Allah, mereka punya peluang doanya terkabul, mereka memiliki kesempatan yang lebih baik di banding orang kafir, kenapa kita harus tunduk kepada yang lainnya, bahkan melemahkan diri?

    Adalah Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat dekat Rasul SAW. Di masa Khalifah Usman bin Affan, dia menderita sakit dan terbaring di atas tempat tidurnya, Khalifah usman menjenguknya dan menyaksikan Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedih.

    Usman : “Apa yang membuatmu sedih?”

    Abdullah : “Dosa dosaku”

    Usman : “Apa yang engkau inginkan dariku, aku akan penuhi?”

    Abdullah : “Saya merindukan rahmat Allah”

    Usman : “Jika engkau setuju, aku akan memanggilkan tabib”

    Abdullah : “Tabib hanya membuatku sakit”

    Usman : “Jika engkau tak keberatan, aku akan perintahkan bendaharaku untuk memberimu harta dari baitul mal”

    Abdullah : “Ketika aku amat membutuhkannya, engkau tak memberiku sesuatu, dan sekarang tatkala aku sama sekali tak membutuhkannya, engkau hendak memberikan sesuatu!”

    Usman : “Pemberian itu juga hadiah untuk putri putrimu”

    Abdullah : “Mereka juga tak membutuhkan sesuatu, karena aku telah berwasiat kepada mereka untuk membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan tertimpa kefakiran”

    Nah, saudara muslimku, informasi ini sudah sampai kepada anda semua, jangan di sia-siakan , mari kita lakukan amalan ini, Insha Allah, kita mampu untuk tetap tegar dalam menghadapi ujian kehidupan ini dan niscaya Insha Allah, kefakiran pun tak akan hadir di hadapan kita semua. Dan berilah wasiat yang sama kepada orang orang yang anda cintai, agar mereka bisa seberuntung seperti yang di sabdakan Rasul SAW di atas. Amin.

  26. Dukut Nugroho Says:

    Baru kemaren rasanya saya duduk bercengkrama dengannya. Baru beberapa hari yang lalu rasanya saya mendengarkan suaranya. Tapi waktu begitu cepat berlalu. Saya dikejutkan dengan berita kematiannya. Jiwa saya bergetar. Hati saya terkejut. Saya terdiam. Saya merasa tidak sanggup berkata apa-apa. Seakan kemaren saya menanyakan kapan ia akan menyelesaikan studi S2-nya. Dan seakan kemaren saya mendorongnya untuk menyegerakan menikah.

    Tapi kematian telah lebih dulu merenggut nyawanya. Ia terbaring kaku. Tidak bisa berkata, mendengar dan merasakan kehadiran orang-orang disekitar dirinya.

    Saya tidak menduga begitu cepat kematian datang menjemputnya. Saya seakan masih belum percaya dengan apa yang saya dengar, saya masih terdiam hanyut dalam kenangan-kenangan indah yang pernah saya lewati bersamanya.

    Kini, semua harapannya telah hilang, keinginannya untuk menyelesaikan studi S2 tidak bisa lagi diwujudkan, harapannya untuk menikah selepas S2 telah lenyap. Kematian telah memutuskan semua harapan dan keinginan itu. Kematian seakan menjadi jembatan pemisah antara dirinya dengan dunia. Dunia telah ia tinggalkan untuk selama-lamanya. Ia tak akan pernah kembali lagi untuk selama-lamanya.

    Ia adalah seorang sahabat dekat saya sejak satu tahun yang lalu. Ia saya kenal sebagai seorang pemilik senyum mesra. Seorang laki-laki yang mencintai ilmu dengan segenap jiwanya. Seorang pemuda yang telah menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu sehingga iapun rela untuk menunda pernikahannya.

    Tidak hanya saya, tapi banyak orang yang kenal dengannya mengakui keluasan ilmunya. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Siapa yang mendengarkan pembicaraannya pasti akan berdecak kagum akan dalamnya samudera ilmu yang telah ia selami. Karenanya tak heran banyak mahasiswa yang meminta waktunya untuk belajar padanya. Iapun menjadi sumber ilmu dan kebaikan.
    Hari-harinya dihabiskan untuk ilmu, tiada menit yang ia lewati melainkan ia curahkan untuk ilmu. Tidak ada kesibukan yang lebih mengisi waktunya kecuali pada ilmu.

    Sejak satu setengah bulan yang lalu ia jatuh sakit. Pada awalnya sakit yang ia derita tidak parah, hanya demam ringan. Namun semakin hari kondisinya bertambah berat, sakitnya bertambah kronis hingga pada akhirnya teman-teman yang serumah dengannya membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Hari terus berjalan, keadaan belum menunjukkan harapan akan sembuh, sehingga pada hari Rabu sore, tanggal 28 Januari iapun menghembuskan nafas terakhir. Dan esoknya ia dishalatkan kemudian dikuburkan di Perkuburan 6 Oktober, Mesir.

    Ketika ditanyakan pada orang tuanya di Bangladesh, apakah jenazahnya akan dibawa pulang, orang tuanya berkata, “Ia telah meninggalkan kami untuk pergi menuntut ilmu, biarlah ia dikuburkan di Mesir.”
    Akhi, semoga Allah Swt. menerima amal ibadahmu dan menempatkan dirimu di tempat yang mulia, amin.
    * * *

    Saudaraku, sesungguhnya hanya Allah Swt. yang maha kekal. Sedangkan kita dan semua makhluk akan binasa. Allah swt. telah berfirman :
    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ” [Ali Imran : 185 ]

    Dalam ayat lain Allah berfirman :
    “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar Rahman : 26-27]

    Saudaraku, bayangkan ketika dirimu sedang berada di ranjang kematian, engkau sedang menunggu saat-saat ajalmu akan dijemput, saat-saat ruhmu akan meninggalkan jasadmu. Bayangkan disekelilingmu ada Ayah, Ibu, keluarga, dan sahabat-sahabatmu yang akan melepas kepergianmu untuk selamanya. Mereka larut dalam sedih dan tangisan yang tidak tertahankan.
    Pada saat itu, apakah yang sedang terbayang olehmu? Tentu engkau akan teringat bekal yang akan engkau bawa, tentang dosa-dosa, tentang waktu yang telah engkau habiskan dalam hidupmu. Dan adakah penyesalan ketika itu berguna?
    Mari kita sejenak merenung, mari kita membuka kembali lembaran masa lalu kita, mari kita buka satu persatu, kita teliti dengan penuh kecermatan.

    Untuk apakah waktu yang Allah berikan selama ini kita gunakan? Untuk apakah kita habiskan? Apakah kita masuk pada golongan orang-orang yang selalu menjadikan setiap saat yang dilewati bernilai kebaikan? Ataukah sebaliknya? Bahwa selama ini kita telah banyak lalai dan lupa diri, hingga tanpa kita sadari, diri kita begitu jauh dari Allah, begitu jauh dari kebaikan dan kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk perkara yang sia-sia, untuk bermain dan berhura-hura.

    Sadarkah kita bahwa kematian sesungguhnya sangat dekat, kematian tidak bisa ditunda, ia datang tanpa kita duga. Coba kita bayangkan, ketika kita masih asyik dengan kelalaian, ketika bergelimang dosa dan maksiat, ia datang menjemput kita, bisakah kita menolaknya, bisakah kita memintanya untuk diundur barang sehari, agar kita bisa bertobat dan berbuat baik, tentu tidak akan bisa. Lalu adakah penyesalan ketika itu bermanfaat? Adakah tangisan kita ketika itu berarti? Adakah deraian air mata darah ketika itu bisa menunda kematian barang satu menit? Lalu kenapa disaat kelapangan kita tidak berbuat baik? Kenapa kita tidak menggunakan kelapangan itu untuk meningkatkan ibadah, bersedekah, membaca Al Quran, berdzikir, meningkatkan iman dan amal ibadah lainnya? Kemana waktu luang kita selama ini dihabiskan? Kenapa baru menyesal ketika semuanya telah berakhir?

    Dalam sebuah hadits yang sudah sering kita dengar Rasulullah Saw. bersabda : “Perbanyaklah mengingat pemusnah kelezatan (kematian).” [H.R An Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

    Juga dalam sebuah hadits beliau bersabda ketika ditanya oleh seorang Anshar, “Siapakah mukmin yang cerdas? Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan lebih baik persiapannya untuk setelah kematian, itulah yang cerdas.” (H.R Ibnu Majah)

    Seorang Ulama bernama Ad Daqaq pernah berkata, “Barangsiapa yang banyak mengingat mati, maka ia akan memperoleh tiga kebaikan : Selalu bersegera untuk bertobat, hati yang selalu qana`ah dan selalu bersemangat dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa pada kematian akan tertimpa tiga hal : Selalu menunda-nunda untuk bertobat, tidak pernah merasa cukup/puas dengan apa yang dimiliki, dan malas untuk beribadah.”

    Saudaraku, dengan banyak mengingat mati akan membuat kita selalu berhati-hati dan mengontrol lidah dalam berbicara, selalu menjaga pandangan mata, pendengaran, gerak hati, gerak langkah kaki dan perbuatan kita.

    Namun bila kita lalai, lupa diri, kita begitu sibuk dengan dunia yang hanya sementara ini dan mengabaikan akhirat, tentu masa hidup kita akan banyak habis untuk perkara yang sia-sia. Kehidupan dunia bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang tanpa batas tentu sungguh sangat pendek. Hidup kita di dunia hanya berkisar antara 60-70 tahun dan hanya sedikit yang melewati itu, sedang kehidupan akhirat bukan hanya satu hari, satu tahun, ribuan abad, tapi kekal selama-lamanya.

    Saudaraku, semoga sepenggal kisah diatas dan sedikit perenungan yang kita lakukan dapat mendorong kita untuk senantiasa giat mempersiapkan diri menghadapi kematian yang telah ditetapkan untuk kita.

  27. dukut nuroho Says:

    RENUNGAN UNTUK SUAMI DAN ISTRI

    Pernikahan akan menyingkap tabir rahasia kalian berdua..

    Untuk suami, renungkanlah..
    Istri yang kami nikahi tidaklah semulia Khadijah..
    Tidaklah setaqwa Aisyah..pun setabah Siti Hajar.
    Istrimu hanya wanita akhir zaman yang bercita menjadi solehah..

    Istri menjadi tanah..kamu langit penaungnya..
    Istri adalah murid..kamu mursidnya..
    Istri bagaikan anak kecil.. kamu tempat bermanjanya..

    Seketika istri menjadi racun..kamulah penawar bisanya..
    Seandainya istri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya..

    Untuk Istri Renungkanlah..
    Suami yang kamu nikahi tidaklah semulia Muhammad SAW..
    Tidaklah sekaya Sulaiman, apalagi setampan Yusuf
    Suamimu hanya pria akhir zaman yang bercita keluarga sakinah..

    Suami pelindung..kamulah penghuninya..
    Suami adalah nahkoda kapal..kamu navigatornya..
    Suami bagai balita yang nakal.. kamu penuntun kenakalannya..

    Seketika suami menjadi bisa ..kamu penawar obatnya..
    Seandainya suami masinis yang lancang..sabarlah memperingatinya..

    Duhai suami istri…
    Pernikahan menginsyafkan kalian untuk meniti sabar dan ridha ALLAH SWT
    Karena ketidaksempurnaannya justru kalian akan tersentak dari alpa..
    Kamu bukanlah Rasullulah dan bukanlah Khadijah..
    Cuma insan akhir zaman yang berusaha menjadi manusia taqwa.

  28. DUKUT NUGROHO Says:

    TAMENG UNTUK AYAH

    Ayahku seorang tukang jahit cukup ternama di kampung ini. Beliau sangat bersahaja dan sangat ramah kepada setiap orang yang ditemuinya, baik yang dikenalnya atau pun tidak. Kesehariannya, ayah selalu menghabiskan waktunya di sebuah kios kecil tepat di depan pintu rumah kami untuk menjahit baju pesanan langganannya. Apabila order lagi sepi ayah mencari order keliling dengan menggunakan sepeda, sehingga ayah dikenal juga sebagai tukang jahit keliling oleh warga setempat.

    Rumah kami berada di Kampung Zaitun. Rumah yang sebagian besar dindingnya tanpa plesteran semen itu, lebih mirip sebuah kotak pembungkus televisi raksasa. Hanya ada sebuah pintu masuk, satu buah jendela tepat di samping pintu dan satu buah lagi jendela kamar. Tidak ada pintu belakang, karena persis di belakang rumah kami berdiri juga rumah-rumah warga lain yang tidak kalah kumuhnya dengan rumah yang kami tempati. Kondisi rumah-rumah sangat rapat.

    Kios tempat ayah berkerja untuk menjahit adalah ruang tamu yang telah disekat menjadi dua bagian. Sekatan yang agak besar menjadi tempat ayah bekerja, menjahit baju pesanan langganannya. Di pojok ruang itu terdapat lemari kaca untuk menggantung pakaian pelanggannya yang sudah selesai ia jahit. Sekatan yang lebih kecil menjadi ruang tamu keluarga kami.

    Udara di luar rumah sekarang ini sangat panas. Hawa panas sampai menusuk ubun-ubun kepalaku. Mungkin akibat dominasi iklim laut. Iklim di tanah Palestina memang berubah-ubah, antara iklim laut tengah dan iklim gurun, Kendati demikian pada masa-masa tertentu iklim gurun pasir juga mempengaruhi iklim keseluruhan. Sehingga pada malam hari udara sangat dingin.

    Kampung Zaitun berada di Jalur Gaza. Ada beberapa kota yang berada di Jalur Gaza, di Gaza utara ada kota Beit Hanoun dan Beit Lahiya, di bagian Timur Jalur Gaza juga banyak perkampungan.

    Karena kampung kami berbatasan langsung dengan Negara Yahudi, Israel, kondisinya sangat menakutkan dan berbahaya. Peristiwa memilukan sering kami saksikan dengan mata kepala. Beberapa ruas jalan utama setiap hari diblokade oleh Pasukan Israel dengan persenjataan lengkap.

    Mereka sering bentrok dengan orang-orang dewasa atau pun anak-anak tanggung Palestina, bahkan dengan anak kecil seusiaku, bentrokan sering memakan korban jiwa.

    ***
    Sebagian besar teman-teman seusiaku sudah tidak mempunyai orang tua, ayah atau ibu mereka tewas akibat kekejaman tentara Israel. Yaitu yang orangtuanya tergabung dalam kelompok-kelompok mujahidin penentang Israel.

    Maka itu, aku sangat sayang dan hormat kepada ayah. Beliau tidak banyak berbicara tetapi dari caranya bersikap, aku tahu ia sangat sayang dan selalu melindungi kami. Ibuku, aku dan adikku.

    Namaku Jamal, Jamal Ahmad Fayyad. Usiaku sekarang baru 7 tahun. Adikku Fatimah Shafiyah. Ayahku sering dipanggil orang-orang Mister Tailor, nama profesinya.Nama ayah sebenarnya adalah Mohammad Al Fayyad. Ibuku bernama Siti Aisyah Mish’al.

    Sering aku membayangkan hidup tanpa seorang ayah, aku paling sedih apabila mendengar cerita tentang teman-temanku yang kehilangan ayahnya karena pertempuran dengan pasukan Israel. Sebagian besar orang dewasa dan remaja memilih bergabung dengan Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas yang menguasai seluruh Jalur Gaza.

    Hari ini rasanya malas sekali untuk bermain di luar rumah, biasanya menjelang siang setelah pulang sekolah, aku pasti bermain dengan Abbas, Ali, Salam dan Yunus. Kami bermainan layang-layang atau perang-perangan dekat tembok pembatas. Kali ini aku memilih tinggal di rumah, sambil melihat ayah yang asyik sendiri dengan mesin jahitnya. Ibu di kamar mengipasi Fatimah yang tidur kepanasan.

    “Jamal, coba kamu ke sini sebentar,” ayah memanggilku.

    “Ada apa yah?” tanyaku.

    “Temani ayah ke pasar,” katanya sambil merapikan sisa-sisa potongan kain dan menggulung benang yang tidak terpakai.

    “Asyik, nanti beliin Jamal mainan yah,” aku berseru kegirangan. Biasanya kalau ke pasar aku minta dibelikan mainan.

    “Khan mainanmu masih banyak,” balas ayah memandangku.

    Aku menunduk. Benar juga mainanku banyak. Semua mainan disimpan dengan amat rapi oleh ibu dalam sebuah kotak kayu besar.

    Selesai sholat Dzhuhur, kami sudah bersiap. Ayah mengambil sehelai Kafiyeh dan dilingkari di kepalanya, mirip Yasser Arafat batinku. Tapi, Yasser Arafat sewaktu masih muda, sewaktu berusia lebih kurang 38 tahun.

    “Ayo kita jalan sekarang,” ayah langsung memegang tanganku. Ibu mengantarkan kami sampai di depan pintu dan kemudian menutupnya rapat-rapat.

    Jalanan siang ini tidak terlalu ramai oleh lalu lalang orang. Sebagian orang bergerombol di kedai-kedai atau di depan rumah yang berkanopi sambil duduk-duduk ngobrol.

    Kami berjalan kaki. Ayah masih menuntunku. Tangannya memegang erat tanganku. Padahal aku ingin tanganku jangan dipegang biar aku bisa jalan sambil berlari-lari atau menendang-nendang batu di jalanan yang berdebu.

    Tetapi keinginan itu aku tidak sampaikan. Aku memandang wajahnya, wajah selalu serius. Menyadari aku menatapnya, ayah tersenyum.

    “Kenapa lihat-lihat ayah?” tanyanya.

    “Ayah keringatan tuh,” balasku. Beliau hanya tersenyum, sambil menyusutkan keringat di dahinya dengan ujung kafiyeh.

    “Kamu kepanasan juga ya, nanti di pasar ayah akan belikan jus dingin biar kamu segar,” rayu ayahku. Mungkin ayah pikir aku memandang dia karena kesal diajak jalan ke pasar siang-siang begini.. Padahal aku memandanginya karena aku kagum padanya.

    Tujuan kami adalah pasar Wahd, pasar yang paling ramai dan lengkap di kawasan Jalur Gaza. Pasar Wahd masih agak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki seperti ini.

    Sesekali tanganku dilepas ayah, kemudian dipegang lagi, tadi tangan kanan, sekarang tangan kiri. Aku senang punya ayah sebaik Mister Tailor ini. Aku tidak akan berpisah dengannya. Aku membutuhkannya. Aku pandangi lagi wajahnya. Ayah, aku sayang ayah, batinku.

    ***
    Tiba-tiba dari arah depan kami, banyak sekali orang-orang berlarian. Aku dan ayah menepi ke atas trotoar jalanan. Sebagian dari yang berlarian itu terlihat berdarah-darah.

    Ayah langsung memelukku dan menggendong tubuhku. Ayah mencari celah untuk bersembunyi. Kami akhirnya menemukan sebuah pot bunga besar di atas trotoar jalan.

    Teriakan orang-orang menjadi lebih panik. Aku melihat tank-tank tentara Israel sudah mulai mendekat ke arah kami, suara tank-tank itu bergemuruh. Ayah tercekat. Di udara Helikopter serbu tentara Israel meraung-raung.

    Di sebelah jalan aku melihat beberapa pejuang sedang berusaha menembakkan roket RPG, aku hafal karena jenis roket tersebut sering kami lihat dipakai oleh para pejuang. Roket RPG diluncurkan ke arah helikopter, tetapi meleset tidak mengenai sasaran. Helikopter Israel malah melancarkan serangan balasan.

    Balasan tembakan dari helikopter itu, kemudian berdesing-desing di kuping. Aku menutup mata dan telinga. Ayah semakin merapatkan pelukan, ia berusaha melindungiku di balik pot bunga besar. Beberapa rentetan tembakan membahana membelah siang yang panas. Keadaan sekeliling kami kocar-kacir. Akibat tembakan roket RPG para pejuang, tentara Israel yang menggunakan tank kemudian membombardir jalanan.

    Beberapa orang mulai melempar bom-bom Molotov ke arah tank. Pejuang Palestina terdesak di jalanan, aku bahkan melihat tiga tubuh tergolek bersimbah darah. Mereka tidak bergerak. “Ya, Allah tolonglah kami,” pintaku membatin berdoa.

    Aku tahu, ayahku bukan penakut. Dia sedang membela dan melindungi aku dari situasi pertempuran ini. Tubuhnya basah oleh keringat. Sekali-kali ia beristigfar dan menyebut asma Allah.

    Deru tank-tank Israel semakin terdengar, petanda semakin dekat dengan tempat posisi kami bersembunyi. Tembakan-tembakan mortir juga memekakan telinga. Menghancurkan rumah-rumah dan gedung yang berada di sepanjang jalan menuju pasar.

    Suasana hingar bingar mendadak senyap. Ayah dan aku masih berjongkok, bersembunyi di balik pot bunga besar.

    Tiba-tiba, ada suara lantang yang berteriak mengagetkan kami.

    “Hai, keluar kalian dan angkat tangan!” hardik tentara Israel yang tiba-tiba sudah berada di depan kami.

    Ayah tetap memeluk aku. Aku ketakutan luar biasa.

    “Lepaskan anak itu!” kali ini tentara Israel sudah berjumlah tiga orang. Berdiri dengan pongah di depan kami, sambil menenteng senapan perang otomatis.

    “Ini anak saya, biarkan kami pergi,” teriak ayahku kepada tentara Israel.

    “Ngapain kalian di sini?” bentak seorang tentara berkumis tebal.

    “Saya mau ke Pasar Wahd, dan kami terjebak dalam pertempuran ini,” jawab ayah tanpa terdengar takut.

    “Cepat kalian pergi dari sini!” kata tentara lainnya.

    Ayah dengan cekatan memegang aku, untuk pergi. Namun aku sangat curiga dengan perilaku ketiga tentara Israel itu. Mereka bersenjata lengkap, bahkan moncong senjatanya selalu mengarah ke muka kami. Kami diperlakukan layaknya bukan manusia.

    Ayah berjalan cepat ke arah jalan menuju rumah kami, tanganku dipegang sangat erat. Ayah berjalan terus memandang ke depan. Aku berjalan sesekali kepalaku melihat-lihat ke belakang.

    Ya, Allah! Aku terkesiap, saat aku menoleh ke belakang tiga tentara itu sedang bersiap mengarahkan senjatanya ke arah kami, mereka telah mengokang senjata itu siap untuk menembak ayah.

    “Tembak!” perintah seorang dari mereka.

    Senjata laras panjang itu menyalak. Dengan refleks aku melepaskan tanganku dari pegangan ayah. Aku berlari ke arah peluru yang sedang meluncur ke arah ayah. Keberanianku muncul, aku tidak mau kehilangan ayah, aku tidak mau ayah meninggal dibunuh tentara Israel!

    Berondongan tembakan mengenai seluruh tubuhku. Ayah langsung berteriak memegang tubuhku yang hendak jatuh ke bumi. Aku tidak merasakan apa-apa, saat tubuhku tergolek di pangkuan ayah. Ayah menangis meraung-raung. Aku berusaha memegang wajah ayahku. Tapi tanganku tidak pernah sampai untuk sekadar mengusap wajah ayahku. Aku kemudian melihat sinar yang terang benderang berada tepat di depan mataku.

    Aku hanyalah seorang anak yang tidak mau kehilangan seorang ayah. Aku sangat tahu betapa sedih dan perih perasaan teman-temanku yang ditinggal mati oleh ayah. Biarlah aku yang mati. Namaku Jamal Ahmad Fayyad bin Mohammad Al Fayyad. Aku tameng untuk ayahku tercinta***

  29. DUKUT NUGROHO Says:

    Nama Anak-Anak Putri

    ALIF (الألف)

    1. Atiah : آتِيَة : yang datang
    2. Azifah : آزِفَة : yang mendekat ; nama lain dari hari Kiamat
    3. Asiah : آسِيَة : nama isteri Fir’aun yang beriman kepada Allah; ahli dalam pengobatan
    4. Aminah : آمِنَة : Nama ibu Rasulullah; yang aman
    5. Abiyyah : أَبِيَّة : yang menolak kehinaan; punya kepribadian yang kokoh
    6. Atsilah : أَثِيْلَة : yang berakar; mempunyai keturunan yang baik
    7. Ahlam :أَحْلاَم : jamak dari hulm ; mimpi
    8. Adibah :أَدِيْبَة : sastrawati
    9. Arja : أَرْجَى : lebih diharapkan
    10. Aribah :أَرِيْبَة : yang berakal; pandai
    11. Aridhah : أَرِيْضَة : yang bersih, terang ; mengesankan
    12. Arij :أَرِيْج : bau yang sedap
    13. Arikah : أَرِيْكَة : permadani yang dihias
    14. Azka : أَزْكَى : lebih suci, bersih
    15. Azaliyyah : أَزَلِيَّة : yang bersifat azaly, dari sejak dulu
    16. Asma’ : أَسْمَاء : jamak dari ism ; nama
    17. Asma : أَسْمَى : lebih mulia, tinggi
    18. Asywaq : أَشْوَاق : jamak dari syauq ; kerinduan
    19. Ashilah : أَصِيْلَة : yang asli, orisinil
    20. Adhwa’ : أَضْوَاء : jamak dari dha-u’ ; cahaya
    21. Agharid : أَغَارِيْد : jamak dari ughrudah : kicauan burung
    22. Afanin : أَفَانِيْن : daun yang lembut; jenis perkataan yang khas
    23. Afrah : أَفْرَاح : jamak dari farhah : kegembiraan; pesta
    24. Afkar : أَفْكَار : jamak dari fikr : pemikiran
    25. Afnan : أَفْنَان : Cabang pohon
    26. Alfiyyah : أَلْفِيَّة : dinisbatkan kepada kata alf : ribuan
    27. Althaf : أَلْطَاف : taufik, lembut
    28. Amany : أَمَانِي : jamak dari umniyah : cita-cita
    29. Amjad : أَمْجَاد : Maruwah; kedermawanan; keagungan
    30. Amirah : أَمِيْرَة : pemimpin
    31. Anisah : أَنِيْسَة : yang lembut; jinak
    32. Aniqah : أَنِيْقَة : indah menawan
    33. Ibtisamah : اِبْتِسَامَة : senyuman
    34. Ibtihaj : اِبْتِهَاج : keceriaan, kegembiraan
    35. Ibtihal : اِبْتِهَال : memohon/berdoa (kepada Allah)
    36. Ihtisyam : اِحْتِشَام : malu
    37. Ihtifa’ : اِحْتِفَاء : sambutan penu
    38. Ihtima’ : اِحْتِمَاء : berlindung, bertahan
    39. Ihtiwa’ : اِحْتِوَاء : mencakup, mengandung (sesuatu)
    40. Irtiqa’ : اِرْتِقَاء : meningkat
    41. Irtiyah : اِرْتِيَاح : puas, senang
    42. Izdihar : اِزْدِهَار : maju, berkembang
    43. Istifadah : اِسْتِفَادَة : mengambil faedah, memanfaatkan
    44. Isytihar : اِشْتِهَار : terkenal, masyhur
    45. Iftikhar :اِفْتِخَار : bangga
    46. Imtitsal : اِمْتِثَال : menjalankan perintah
    47. Imtidah : اِمْتِدَاح : memuji
    48. Imtinan : اِمْتِنَان : Rasa syukur dan penghargaan; menyebut keutamaan diri
    49. Intishar : اِنْتِصَار : kemenangan
    50. Intima’ : اِنْتِمَاء : berafiliasi (kepada)
    51. In’am : إِنْعَام : penganugerahan
    52. Inas : إِيْنَاس : penjinakan; melembutkan hati; Yakin
    53. Umamah : أُمَامَة : nama anak tiri Rasulullah (anak Ummu Salamah); onta yang berjumlah tiga ratus
    54. Umaimah : أُمَيْمَة : Diminutif (tashgir) dari kata Umm (ibu)
    55. Unsyudah : أُنْشُوْدَة : syair yang dilantunkan.

    BA’ (الباء )

    1. Bahitsah : بَاحِثَة : Yang mencari; mengkaji/meneliti
    2. Badirah : بَادِرَة : Yang bersegera
    3. Badiyah : بَادِيَة : yang tampak; perkampungan di pelosok
    4. Bazilah : بَاذِلَة : yang membanting tulang, berupaya keras
    5. Barrah : بَارَّة : yang berbakti (kepada kedua orangtuanya, dll); yang berbuat baik
    6. Bari’ah : بَارِعَة : yang menonjol, unggul, cemerlang
    7. Bariqah : بَارِقَة : yang berkilau; awan yang berkilat
    8. Bazigha : بَازِغَة : yang muncul
    9. Basilah : بَاسِلَة : yang berani
    10. Basimah : بَاسِمَة : yang tersenyum
    11. Balighah : بَالِغَة : yang sudah mencapai usia baligh
    12. Bahirah : بَاهِرَة : Yang bercahaya
    13. Bahiyah : بَاهِيَة : wajah yang ceria
    14. Bahriyyah : بَحْرِيَّة : yang dinisbatkan kepada bahr : laut
    15. Badriyyah : بَدْرِيَّة : yang dinisbatkan kepada badr : bulan purnama
    16. Badi’ah : بَدِيْعَة : yang cantik, indah
    17. Badilah : بَدِيْلَة : pengganti
    18. Badinah : بَدِيْنَة : yang gemuk
    19. Bari`ah : بَرِيْئَة : yang selamat, terbebas dari ikatan, polos tidak berdosa
    20. Barokah : بَرَكَة : keberkahan; pertumbuhan; pertambahan
    21. Basmah : بَسْمَة : senyuman
    22. Basyirah : بَشِيْرَة : yang menyampaikan kabar gembira
    23. Balqis : بَلْقِيْس : nama Ratu negeri Saba’ pada masa Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam
    24. Balighah : بَلِيْغَة : yang fashih, amat sangat mengena
    25. Bahjah : بَهْجَة : kegembiraan, keceriaan
    26. Bahirah : بَهِيْرَة : wanita yang terhormat
    27. Bahiyyah : بَهِيَّة : yang cantik; bersinar; berkilau
    28. Baydla` : بَيْضَاء : yang putih
    29. Butsainah : بُثَيْنَة : (diminutif dari Batsnah) ; wanita yang cantik
    30. Buraidah : بُرَيْدَة : (diminutif dari bard); dingin ; nama sebuah tempat/propinsi di Arab Saudi

    TA’ (التاء)

    1. Tâiqah : تَائِقَة : yang merindu, sangat menginginkan sesuatu
    2. Tâbi’ah : تَابِعَة : yang mengikuti
    3. Tâsi’ah : تَاسِعَة : yang kesembilan
    4. Tâliyah : تاَلِيَة : yang membaca (al-Qur’an); yang berikutnya, yang mengikuti
    5. Tabrîz : تَبْرِيْز : yang lebih unggul; penampakan
    6. Tahiyyah : تَحِيَّة : ucapan selamat
    7. Tarbiyah : تَرْبِيَة : mendidik, pendidikan
    8. Tarqiyah : تَرْقِيَة : meningkatkan, peningkatan
    9. Tazkiyah : تَزْكِيَة : menyucikan (diri); penyucian (diri); rekomendasi
    10. Tasliyah : تَسْلِيَة : menghibur, hiburan
    11. Taghrîd : تَغْرِيْد : kicau burung
    12. Taqiyyah : تَقِيَّة : yang taqwa
    13. Talîdah : تَلِيْدَة : klasik
    14. Tamîmah : تَمِيْمَة : penciptaan yang sempurna; perlindungan
    15. Tawaddud : تَوَدُّد : cinta kasih
    16. Tahâni : تَهَانِي : jamak dari kata tahni-ah ; ucapan selamat
    17. Taima’ : تَيْمَاء : padang sahara; nama lembah di bagian utara jazirah Arab

    TSA’ (الثاء)

    1. Tsâbitah : ثَابِتَة : yang kokoh; teguh hati; lurus
    2. Tsariyyah : ثَرِيَّة : yang kaya
    3. Tsurayya : ثُرَيَّا : kumpulan bintang
    4. Tsuaibah : ثُوَيْبَة : nama wanita penyusu Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam ; diminutif dari tsawâb (pahala)

    JÎM (الجيم)

    1. Jâizah : جَائِزَة : hadiah, orang yang membolehkan
    2. Jasîmah : جَسِيْمَة : yang besar badannya, gemuk
    3. Jamîlah : جَمِيْلَة : yang cantik
    4. Jalîlah : جَلِيْلَة : yang tinggi, mulia, agung
    5. Jauharah : جَوْهَرَة : mutiara
    6. Jahra’ : جَهْرَاء : yang bersuara lantang, jelas
    7. Jaida’ : جَيْدَاء : leher yang jenjang
    8. Jinân : جِنَان : (kata jamak dari jannah) taman, kebun, surga
    9. Jumânah : جُمَانَة : butir mutiara yang besar
    10. Juwairiyyah : جُوَيْرِيَّة : nama salah seorang Isteri Rasulullah

    AL-HA’ (الحاء)

    1. Habibah : حَبِيْبَة : Kekasih; tersayang
    2. Hasanah : حَسَنَة : Perkataan atau perbuatan yang baik
    3. Hasibah :حَسِيْبَة : Yang memiliki keturunan terpandang
    4. Hasna` : حَسْنَاء : Cantik; indah; molek
    5. Hakimah : حَكِيْمَة : yang bijaksana
    6. Halwa : حَلْوَى : manisan
    7. Halimah : حَلِيْمَة : Yang sabar, lembut; wanita yang menyusui Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam
    8. Hamdunah : حَمْدُوْنَة : Yang memiji; yang bersyukur
    9. Hamidah : حَمِيْدَة : Yang tingkah lakunya terpuji
    10. Hannan : حَنَّان : Yang banyak mengasihi; kelembutan hati
    11. Hanin : حَنِيْن : Yang penuh kasih sayang
    12. Hawwa` : حَوَّاء : yang mengandung sesuatu; isteri Nabi Adam
    13. Haura` : حَوْرَاء : Wanita berkulit putih yang memiliki mata yang sangat hitam
    14. Husna : حُسْنَى : Kesudahan yang menyenangkan
    15. Hamnah : حَمْنَة : Kemudahan
    16. Hishshah : حِصَّة : Bagian; jenis mutiara
    17. Husniyah :حُسْنِيَّة : Yang bersifat baik
    18. Hulwah : حُلْوَة : Mata atau mulut yang indah; manis
    19. Humaira` : حُمَيْرَاء : Diminutif (tashghir) dari kata ‘Hamra`’ (yang kemerah-merahan)
    20. Huriyah : حُوْرِيَّة : Bidadari surga; wanita cantik
    21. Hazimah : حَازِمَة : Yang memiliki keteguhan hati dan keyakinan diri; bersikap tegas
    22. Hafizhah :حَافِظَة : Yang memelihara, menjaga diri
    23. Hamidah : حَامِدَة : Yang bersyukur; yang memuji

    AL-KHÂ’ (الخاء)

    1. Khatimah : خَاتِمَة : Kesudahan atau penghabisan sesuatu
    2. Khathirah : خَاطِرَة : Pikiran atau rasa yang melintas didalam hati
    3. Khalidah : خَالِدَة : Abadi
    4. Khalidiyah : خَالِدِيَّة : Yang menisbatkan kepada ‘khalidah’
    5. Khalishah : خَالِصَة : Murni, bening
    6. Khashibah : خَصِيْبَة : Banyak kebaikan; subur
    7. Khadhra` : خَضْرَاء : Hijau; langit.
    8. Khulashah : خُلاَصَة : Kesimpulan; ringkasan
    9. Khamilah : خَمِيْلَة : Beludru; hutan belukar
    10. Khansa : خَنْسَاء : Yang memiliki hidung mancung; wanita yang baik
    11. Khaulah : خَوْلَة : Rusa betina
    12. Khairiyah : خَيْرِيَّة : Yang memiliki sifat baik
    13. Khizanah : خِزَانَة : Harta yang disimpan; lemari

    AD-DÂL (الدال)

    1. Daliyah : دَالِيَة : Pohon anggur
    2. Danah : دَانَة : Batu mulia
    3. Daniyah : دَانِيَة : Dekat
    4. Dalilah : دَلِيْلَة : Bukti; jalan yang terang
    5. Dauhah : دَوْحَة : Hujan yang turun terus-menerus dan tidak lebat
    6. Daulah : دَوْلَة : Negara; pemerintahan
    7. Daumah : دَوْمَة : Pohon yang lebat; kelangsungan
    8. Dayyinah : دَيِّنَة : Taat beragama
    9. Diyanah : دِيَانَة : Agama
    10. Dimah : دِيْمَة : Hujan yang turun terus-menerus
    11. Durrah : دُرَّة : Mutiara yang besar
    12. Durriyah : دُرِّيَّة : Dinisbahkan kepada ‘Durrah’

    ADZ-DZÂL (الذال)

    1. Dzakirah : ذَاكِرَة : Yang berzikir; yang selalu ingat
    2. Dzakiyyah : ذَكِيَّة : Cerdas
    3. Dzahabiyyah : ذَهَبِيَّة : Yang memiliki sifat emas
    4. Dzikra : ذِكْرَى : Ingatan; ketenangan
    5. Dzihniyyah : ذِهْنِيَّة : Menurut akal
    6. Dzu`abah : ذُؤَابَة : Rambut yang dikepang; jambul

    AR-RÂ’ (الراء)

    1. Ra`idah : رَائِدَة : Pemandu; penunjuk jalan
    2. Rabihah : رَابِحَة : Yang beruntung
    3. Rabi`ah : رَابِعَة : Subur; keempat
    4. Rabiyah : رَابِيَة : Permukaan tanah yang menonjol
    5. Rajihah : رَاجِحَة : Yang utama; yang diprioritaskan
    6. Rajiyah : رَاجِيَة : Yang mengharapkan
    7. Rasikhah : رَاسِخَة : Yang tegar; yang kuat; yang tetap
    8. Rasiyah : رَاسِيَة : Yang tegar; yang kuat
    9. Rasyidah : رَاشِدَة : Yang matang pikirannya
    10. Radhiyah : رَاضِيَة : Yang rela; yang merasa puas
    11. Raghibah : رَاغِبَة : Yang menyayangi
    12. Raghidah : رَاغِدَة : Yang hidupnya enak
    13. Raqiyah : رَاقِيَة : Yang tinggi
    14. Raniyah : رَانِيَة : Yang memandang dengan terpesona
    15. Rabwah : رَبْوَة : Tanah yang mendaki
    16. Rajwa : رَجْوَى : Permohonan
    17. Rajiyyah : رَجِيَّة : Yang diharapkan
    18. Rahimah : رَحِيْمَة : Penyayang; pengasih
    19. Rasmiyyah : رَسْمِيَّة : Menurut resmi; dinisbatkan kepada ‘rasm’ (tulisan)
    20. Rasyidah : رَشِيْدَة : Yang dibimbing; diberi petunjuk
    21. Rashafah : رَصَافَة : Taman disekitar kota
    22. Rashanah : رَصَانَة : Kewibawaan; ketenangan
    23. Radhwa : رَضْوَى : Keridhaan; nama bukit yang terletak diantara Madinah Dan Yanbu`
    24. Radhiyyah : رَضِيَّة : Yang puas
    25. Raghdah : رَغْدَة : Kehidupan yang damai
    26. Raghibah : رَغِيْبَة : Anugerah yang banyak; yang disenangi
    27. Raghidah : رَغِيْدَة : Air susu; buih
    28. Rafidah : رَفِيْدَة : Yang diberi pertolongan
    29. Rafi`ah : رَفِيْعَة : Yang tinggi
    30. Rafiqah : رَفِيْقَة : Istri; pendamping
    31. Ramziyyah : رَمْزِيَّة : Simbolik
    32. Rana : رَنَا : Sesuatu yang indah dan enak dipandang
    33. Rawdhah : رَوْضَة : Taman yang banyak pepohonannya
    34. Raihanah : رَيْحَانَة : Wanita yang baik jiwanya
    35. Rifqah : رِفْقَة : Perkumpulan; himpunan; nama istri Ishaq atau ibu Yaqub
    36. Riqqah : رِقَّة : Kasih sayang; rasa malu; kelembutan
    37. Ridah : رِيْدَة : Angin semilir

    Az-Zây (الزاي)

    1. Zahirah : زاهرة : Cemerlang; Bercahaya
    2. Zakiyyah : زَكِيَّة : Yang beruntung
    3. Zahra` : زَْهْرَاء : bentuk muannats (gender) dari kata Azhar; wajah yang cemerlang; bulan; julukan Fathimah, putri Rasulullah
    4. Zahrah : زَهْرَة : Bunga; keindahan
    5. Zahidah : زَهِيْدَة : Yang utama; yang diprioritaskan
    6. Zahiyyah : زَهِيَّة : Yang bersinar; cemerlang
    7. Zainab : زَيْنَب : Nama putri dan isteri Rasulullah
    8. Zubaidah : زُبَيْدَة : diminutif dari kata Zubdah ; intisari dari sesuatu
    9. Zulfa : زلفى : Kedudukan, derajat;dekat;taman
    9. Zuhdiyyah : زُهْدِيَّة : Dinisbahkan kepada kata Zuhd
    10. Zuhrah : زُهْرَة : Putih mengkilat; warna yang bening

    As-Sîn (السين )

    1. Sabikah :سَبِيْكَة : Batang emas yang dilebur
    2. Sa`danah : سَعْدَانَة : Burung dara; bahagia
    3. Sa`diyah :سَعْدِيَّة : Yang menisbatkan kepada kata-kata sa`ad (kebahagiaan)
    4. Sa`adah :سَعَادَة : Kebahagiaan; Kesenangan
    5. Sa`idah :سَعِيْدَة : Yang berbahagia; yang hidupnya enak
    6. Sakinah :سَكِيْنَة : Tenang; berwibawa; lembut
    7. Salsabil :سَلْسَبِيْل : Nama mata air di surga; air yang sedap
    8. Salma : سَلْمَى : Selamat; sehat; nama pohon
    9. Salwa : سَلْوَى : Madu; burung berwarna putih mirip seperti burung layang-layang
    10. Samahah : سَمَاحَة : Kelapangan dada; kehormatan; kemudahan; gelar bagi seorang mufti
    11. Samihah : سَمِيْحَة : Yang tolerans; yang mulia
    12. Samirah : سَمِيْرَة : Yang Mengobrol di waktu malam
    13. Saniyyah : سَنِيَّة : Berkedudukan tinggi; yang bersinar
    14. Saudah : سَوْدَة : Harta melimpah; nama istri Nabi Muhammad saw
    15. Sausan : سَوْسَن : Tumbuhan yang harum baunya dan banyak jenisnya
    16. Sulthanah : سُلْطَانَة : Pemimpin wanita
    17. Sumayyah : سُمَيَّة : Berkedudukan tinggi; yang bersinar
    18. Suha : سُهَا : Bintang kecil yang cahayanya tersembunyi
    19. Suhailah : سُهَيْلَة : (Diminutif sahlah) Mudah.
    20. Sabiqah : سَابِقَة : Yang terlebih dahulu
    21. Satirah : سَاتِرَة : Yang menutupi (seperti aib suaminya)
    22. Sajidah : سَاجِدَة : Yang bersujud
    23. Sarrah : سَارَّة : nama istri Ibrahim; yang bergembira
    24. Salimah : سَالِمَة : Yang terhindar dari cacat; yang sehat
    25. Samiyah : سَامِيَة : Tinggi; terhormat.
    26. Sahirah : سَاهِرَة : Tanah lapang yang mudah dijejaki; tanah lurus dan putih; mata air; bulan; yang berjaga malam

    ASY-SYÎN (الشين)

    1. Syarifah : شَرِيْفَة : Yang mulia; yang terhormat
    2. Syafi`ah : شَفِيْعَة : Perantara; yang memberi syafat
    3. Syafiqah : شَفِيْقَة : Yang menaruh belas kasihan; iba hati; yang lemah lembut
    4. Syamma` : شَمَّاء : Yang berhidung mancung
    5. Syahba` : شَهْبَاء : Pasukan yang bersenjata lengkap
    6. Syahla` : شَهْلاَء : Yang memiliki mata kebiru-biruan
    7. Syahidah : شَهِيْدَة : Wanita yang mati syahid
    8. Syahirah : شَهِيْرَة : Yang termashur
    9. Syaima` : شَيْمَاء : Yang bertahi lalat; putrid halimah Sa`diyah, saudara sesusuan Nabi saw
    10. Syukriyyah : شُكْرِيَّة : Yang memiliki sifat syukur

    ASH-SHÂD (الصاد)

    1. Shabirah : صَابِرَة : Yang bersabar
    2. Shahibah : صَاحِبَة : Istri; pendamping
    3. Shadiqah : صَادِقَة : Benar; jujur
    4. Sha`idah : صَاعِدَة : Yang meninggi; yang mulai menonjol
    5. Shalihah : صَالِحَة : Yang memiliki keahlihan; kelayakan atau keutamaan
    6. Shabihah : صَبِيْحَة : Wajah yang berseri-seri; waktu pagi hari raya
    7. Shadiqah : صَدِيْقَة : Teman; sahabat
    8. Sha`dah : صَعْدَة : Sungai yang lurus; tanjakan
    9. Shafiyyah : صَفِيَّة : Yang bersih; jernih; murni; nama salah seorang istrI Nabi saw
    10. Shiddiqah :صِدِّيْقَة : Yang banyak kebenarannya

    ADL-DLÂD (الضاد)

    1. Dhari`ah : ضَارِعَة : Yang kecil mungil; yang masih muda; yang merendahkan diri (arti positif)
    2. Dhafiyah : ضَافِيَة : Yang lebat (rambutnya)
    3. Dhamrah : ضَامِرَة : Yang halus kulitnya
    4. Dhaminah : ضَامِنَة : Yang menjamin; komitmen
    5. Dhawiyah : ضَاوِيَة : Yang bercahaya; kurus
    6. Dhahwah : ضَحْوَة : Waktu Dhuha
    7. Dhaifah : ضَيِّفَة : Tamu wanita
    8. Dhifaf : ضِفَاف : (Jama` dari Dlaffah) Pinggiran sungai; tebing lembah; suatu kelompok

    ATH-THÂ` (الطاء)

    1. Thalibah : طَالِبَة : Yang menuntut ilmu; yang menyenangi sesuatu
    2. Thamihah : طَامِحَة : Yang ambisi untuk mencapai puncak
    3. Thahirah : طَاهِرَة : Suci; bersih; mulia; terlindungi dari maksiat dan kehinaan
    4. Thahiyah : طَاهِيَة : Tukang masak yang pandai
    5. Tharfa` : طَرْفَاء : Yang baik, yang langka
    6. Tharifah : طَرِيْفَة : Yang jarang ada; aneh, lucu
    7. Thariyyah : طَرِيَّة : Yang empuk; lunak; lembab
    8. Thalawah : طَلاَوَة : Yang baik, ceria
    9. Thalihah : طَلِيْحَة : Yang cantik dan mengagumkan
    10. Thali`ah : طَلِيْعَة : Pelopor; perintis
    11. Thaibah : طَيِّبَة : Negeri yang subur dan tentram.

    AZH-ZHÂ` (الظاء)

    1. Zhafirah : ظَافِرَة : Yang beruntung; yang menang
    2. Zha’inah : ظَاعِنَة : Yang bepergian
    3. Zhahirah : ظَاهِرَة : Jelas; unggul; menang
    4. Zhabyah : ظَبْيَة : Kijang betina
    5. Zharifah : ظَرِيْفَة : Yang lembut dan halus
    6. Zhafrah : ظَفْرَة : Kemenangan
    7. Zhalilah : ظَلِيْلَة : Taman yang banyak pepohonannya
    8. Zhufairah : ظُفَيْرَة : Yang banyak mendapatkan kemenangan

    AL-‘AIN (العين)

    1. A`idah : عائدة : Yang datang; anugerah; keuntungan; manfaat
    2. Abidah : عابدة : Yang taat; yang beribadah; kepada Allah
    3. ‘Abirah : عَابِرَة : Pelalu lalang; yang sedih (berlinang air mata)
    4. ‘Atikah : عَاتِكَة : Yang jernih; mulia
    5. ‘Adilah : عَادِلَة : Yang berbuat adil
    6. ‘Arifah : عَارِفَة : Yang mengetahui; anugerah
    7. ‘Asilah : عَاسِلَة : Yang mengambil madu dari tempatnya; yang berbuat baik
    8. ‘Ashimah : عَاصِمَة : Ibu kota suatu negara; yang menjaga suami dan dirinya dari dosa
    9. ‘Athifah : عَاطِفَة : Perasaan; rasa kasih saying
    10. ‘Aqila : عَاقِلَة : Yang berakal; pandai
    11. ‘Akifah : عَاكِفَة : Yang menetap; beri’tikaf
    12. ‘Alimah : عَالِمَة : Pandai; berilmu
    13. ‘Amirah : عَامِرَة : Penghuni; lembah; yang dipenuhi oleh keimanan dan pekerti yang mulia
    14. ‘Ahidah : عَاهِدَة : Yang menjaga janji atau urusan
    15. ‘Ablah : عَبْلَة : Wanita yang sempuran fisiknya
    16. ‘Adzbah : عَذْبَة : Sedab; baik; enak; lezat
    17. ‘Adzra` : عَذْرَاء : Perawan; julukan bagi Maryam
    18. ‘Azbah : عَذْبَة : Yang manis dan nikmat
    18. ‘Azzah : عَزَّة : Anak kijang/rusa
    19. ‘Azizah : عَزِيْزَة : mulia; terhormat; kuat
    20. ‘Azmah : عَزْمَة : Kekuatan; keinginan
    21. ‘Asjad : عَسْجَد : Emas; mutiara
    22. ‘Asla` : عَسْلاَء : campuran dengan madu
    23. ‘Asyirah : عَشِيْرَة : Kabilah
    24. ‘Ashma` : عَصْمَاء : Yang terlindungi; yang terpelihara
    25. ‘Athfah : عَطْفَة : Yang penuh welas dan kasih sayang
    26. ‘Afifah : عَفِيْفَة : Yang mensucikan diri; yang baik
    27. ‘Afra` : عَفْرَاء : Jenis kijang/rusa yang amat putih
    28. ‘Aliyyah : عَلِيَّة : Tinggi
    29. ‘Alya` : عَلْيَاء : Tempat yang tinggi; puncak gunung; langit; kemuliaan
    30. ‘Anbarah : عَنْبَرَة : Minyak wangi;za’faran
    31. ‘Awathif : عَوَاطِف : Jamak dari kata ‘Athifah ; yang penyayang; baik akhlaqnya
    32. ‘Itrah : عِتْرَة : Kerabat dekat
    33. ‘Ithaf : عِطَاف : Pedang; pakaian
    34. ‘Iffat : عِفَّت : Yang suci, menjaga diri
    35. ‘Inayah : عِنَايَة : Perhatian; pertolongan; tuntunan
    36. ‘Urubah : عُرُوْبَة : Yang cantik dan berhijab; Yang tertawa
    37. ‘Ulayya : عُلَيَّا : Diminutif dari kata ‘Alya` ; Puncak; langit; kemuliaan

    ALGHAIN (الغين)

    1. Ghadah : غادة : Wanita yang lembut
    2. Ghaziyah : غَازِيَة : Yang mampu menaklukkan hati karena kecantikannya
    3. Ghaliyah : غَالِيَة : Mahal harganya; campuran minyak wangi
    4. Ghazalah : غَزَّالَة : Saat matahari terbit; kijang; pertama dari sesuatu
    5. Ghaniyyah : غَنِيَّة : Yang memiliki harta berlimpah
    6. Ghaitsanah : غَيْثَانَة : Awan yang menurunkan hujan
    7. Ghaina` : غَيْنَاء : Pohon yang dahan-dahannya rimbun
    8. Ghaida` : غَيْدَاء : Wanita yang anggun dan lembut
    9. Ghurrah : غُرَّة : Awal munculnya bulan sabit; pemuka kaum; wajah
    10. Ghulwa` : غُلْوَاء : Yang berlebihan; kematangan masa muda

    AL-FÂ` (الفاء)

    1. Fa`izah : فَائِزَة : Yang beruntung; yang menang
    2. Fa`iqah : فَائِقَة : Yang paling menonjol kecantikannya dan kebaikannya
    3. Fatihah : فَاتِحَة : Permulaan sesuatu; surat fatihah
    4. Fakhirah : فَاخِرَة : Yang bagus sekali
    5. Fadiyah : فَادِيَة : Yang mengorbankan diri untuk orang lain dan menyelematkannya
    6. Fari’ah : فَارِعَة : Yang panjang dan tinggi
    7. Fadhilah : فَاضِلَة : Yang utama; yang menonjol
    20. Falihah : فَالِحَة : Yang sukses meraih apa yang diinginkan
    21. Fathiyyah : فَتْحِيَّة : Dari kata Fath ; pangkal kebaikan, kemenangan dan keberuntungan
    22. Fatiyyah : فَتِيَّة : Yang muda dan penuh vitalitas
    23. Fakhiriyyah : فَخْرِيَّة : Yang bersifat kebanggaan
    24. Farhah : فَرْحَة : Kesenangan; kegemberiaan
    25. Faridah : فَرِيْدَة : Mutiara yang berharga; yang tiada saingannya; sendirian
    26. Farizah : فَرِيْزَة : Yang sudah diundi dan diseleksi
    27. Fashihah : فَصِيْحَة : Fasih; lancar dan baik bicaranya
    28. Fathinah : فَطِيْنَة : Cerdas
    29. Fakihah : فَكِيْهَة : Yang baik jiwanya
    30. Fahimah : فَهِيْمَة : Yang banyak paham
    31. Fauziyyah : فَوْزِيَّة : Yang bersifat keberuntungan
    32. Faiha` : فَيْحَاء : Rumah yang luas; julukan bagi kota Damaskus, Bashrah dan Tripoli, Libanon; kuah yang ada rempah-rempahnya
    33. Fairuz : فَيْرُوْز : Batu permata yang berwarna biru agak kehijau-hijauan
    34. Fidhdhah : فِضَّة : Perak
    35. Fikriyyah : فِكْرِيَّة : Yang bersifat pemikiran

    AL-QÂF (القاف)

    1. Qabilah : قَابِلَة : Dukun beranak
    2. Qanitah : قَانِتَة : Wanita yang berdiri lama saat shalat dan berdoa
    3. Qani’ah : قَانِعَة : Yang merasa puas; sederhana
    4. Qarirah : قَرِيْرَة : Wanita yang lapang hatinya
    5. Qathifah : قَطِيْفَة : Nama tumbuhan; Pakain yang dilemparkan seseorang ke arah dirinya sendiri
    6. Qamariyyah : قَمَرِيَّة : Jenis burung dara yang berkicau
    7. Qismiyyah : قِسْمِيَّة : Wajah yang cantik penampilannya
    8. Qiladah :قِلاَدَة : Kalung
    9. Qudsiyyah : قُدْسِيَّة : Kesucian dan keberkahan
    10. Qudwah : قُدْوَة : Panutan; suriteladan

    AL-KÂF (الكاف)

    1. Katibah : كَاتِبَة : Sekretaris
    2. Katimah : كَاتِمَة : Yang menyembunyikan rahasia, pemegang amanah di dalam beramal
    3. Kadziyah : كَاذِيَة : Nama jenis bunga yang harum baunya.
    4. Kasibah : كَاسِبَة : Yang beruntung.
    5. Kazhimah : كَاظِمَة : Dapat menahan diri dari amarah
    6. Kafiah : كَافِيَة : Yang mencukupkan sehingga tidak perlu yang lain
    5. Kamilah : كَامِلَة : Yang sempurna; yang komplit
    6. Kahilah : كَحْلاَء : Wanita yang bercelak
    7. Karimah : كَرِيْمَة : Yang mulia;anak; saudara perempun
    8. Kawakib : كَوَاكِب : Bintang-gemintang
    9. Kayyisah : كَيِّسَة : Wanita yang berakal jernih dan cerdik
    10. Kinanah : كِنَانَة : Penjagaan; perlindungan
    AL-LÂM (اللام)

    1. Labibah : لَبِيْبَة : Wanita yang cerdas; pandai
    2. Lahzhah : لَحْظَة : Sekilas pandang
    3. Lathifah : لَطِيْفَة : Wanita yang lembut; baik
    4. Lamya` : لَمْيَاء : Yang keabu-abuan; agak kurus (sedikit daging)
    5. Lahfah : لَهْفَة : Kerinduan
    6. Lawahizh : لَوَاحِظ : Mata yang awas
    7. Laila : لَيْلَى : Malam yang gelap
    8. Lu`lu`ah : لُؤْلُؤَة : Mutiara
    9. Lubabah : لُبَابَة : Inti sesuatu; pilihan; nama istri Abbas bin Abdul-Muthalib.
    10. Lubanah : لُبَانَة : Hajat kebutuhan
    11. Lubna : لُبْنَى : Sejenis pohon yang mempunyai air seperti madu dan terkadang dijadikan sebagai wewangian dengan membakarnya; madu
    12. Luwazah : لُوَزَة : Pohon yang berbuah dan amat masyhur; buah badam

    AL-MÎM (الميم)

    1. Ma`munah : مَأْمُوْنَة : Yang dapat dipercayai
    2. Matsilah : مَاثِلَة : Yang menyerupai; tampil
    2. Majidah : مَاجِدَة : Yang mulia; yang agung; yang baik budinya
    3. Mariyah : مَارِيَة : Wanita yang wajahnya berseri-seri; nama salah seorang istri nabi saw berasal dari Mesir Mariyah al-Qibthiyyah
    4. Mazinah : مَازِنَة : Yang bercahaya wajahnya
    5. Maziyah : مَازِيَة : Awan yang membawa air hujan berseri-seri
    7. Mahirah : مَاهِرَة : Pandai
    8. Mabrukah : مَبْرُوْكَة : Yang pendapat barakah
    9. Mahabbah : مَحَبَّة : Kecintaan; kasih saying yang tulus
    10. Mahasin : مَحَاسِن : Keindahan
    11. Mahbubah : مَحْبُوْبَة : Yang dicintai; yang disayang; terkasih
    12. Mahrusah :مَحْرُوْسَة : Yang terlindungi; yang terpelihara; julukan bagi kota Cairo, ibukota Mesir
    13. Mahfuzhoh : مَحْفُوْظَة : Sesuatu yang dihafal/dijaga dengan penuh perhatian
    14. Madihah : مَدِيْحَة : Yang terpuji; Yang banyak memuji
    15. Marjanah : مَرْجَانَة : Satu biji mutiara
    16. Marjuwwah : مَرْجُوَّة : Orang yang diharapkan
    17. Marzaqah : مَرْزُوْقَة : Yang memperoleh rizki yang banyak
    18. Marwah : مَرْوَة : tumbuhan medis dan beraroma; nama bukit di Mekkah (Yaitu tempat sa’i)
    19. Maryam : مَرْيَم : Nama ibu Isa as
    20. Mazaya : مَزَايَا : Kelebihan; keunggulan
    21. Masarrah : مَسَرَّة : Kegembiraan
    22. Musrurah : مَسْرُوْرَة : Yang bergembira
    23. Mas`udah : مَسْعُوْدَة : Yang berbahagia
    24. Masya`il : مَشَاعِل : Sesuatu yang dinyalakan untuk penerangan;obor
    25. Masykurah : مَشْكُوْرَة : Yang diterima kasihi
    26. Masyhurah : مَشْهُوْرَة : Terkenal; termasyhur
    27. Mashunah : مَصُوْنَة : Yang terjaga
    28. Ma’azzah : مَعَزَّة : Tempat yang dimuliakan
    29. Ma’zuzah : مَعْزُوْزَة : Yang memiliki kedudukan di kalangan kaumnya
    30. Ma’unah : مَعُوْنَة : Yang tidak kikir untuk membantu kaumnya
    31. Mafakhir : مَفَاخِر : Sesuatu yang dibangga-banggakan
    32. Maqbulah : مَقْبُوْلَة : Yang diterima
    33. Maqshudah : مَقْصُوْدَة : Yang dituju
    34. Makkiyyah : مَكِّيَّة : Dinisbahkan kepada kota Mekkah
    35. Malihah : مَلِيْحَة : Cantik; indah penampilannya
    36. Mamduhah : مَمْدُوْحَة : Yang dipuji
    37. Manal : مَنَال : Anugerah dan nikmat Allah
    38. Manahil : مَنَاهِل : Sumber ilmu dan akhlaq
    39. Mantsurah : مَنْثُوْرَة : Ucapan yang baik
    40. Mansyudah : مَنْشُوْدَة : Yang dituntut untuk memenuhi kepentingan manusia; yang diidam-idamkan
    41. Manshurah : مَنْصُوْرَة : Yang ditolong
    42. Mani`ah : مَنِيْعَة : Kuat perkasa
    43. Mawaddah : مَوَدَّة : Kasih saying; kecintaan
    44. Mauhibah : مَوْهِبَة : Anugrah; hadiah; pemberian
    45. Mahdiyyah : مَهْدِيَّة : Yang mendapat hidayah Allah
    46. Mahibah : مَهِيْبَة : Yang disegani; penuh wibawa
    47. Mayyasah : مَيَّاسَة : Bintang yang berkilau
    48. Mayyadah : مَيَّادَة : Yang bergoyang-goyang
    49. Maitsa` : مَيْثَاء : Pepasir yang ringan dan tanah datar yang baik
    50. Maysurah : مَيْسُوْرَة : Yang dimudahkan
    51. Maimunah : مَيْمُوْنَة : Yang diberi kebaikan; yang diberi taufik
    52. Maila : مَيْلاَء : Pohon yang banyak cabangnya; yang condong
    53. Miskah : مِسْكَة : Kasturi
    54. Misykah : مِشْكَاة : Lentera
    55. Mibarrah : مِبَرَّة : Makanan untuk bepergian yang ringan
    56. Mu’minah : مُؤْمِنَة : Wanita yang beriman
    57. Mu’nisah : مُؤْنِسَة : Wanita yang menghibur
    58. Mubinah : مُبِيْنَة : Yang menjelaskan apa yang diinginkannya
    59. Mujahidah : مُجَاهِدَة : Yang berjihad
    60. Muhsinah : مُحْسِنَة : Yang berbuat baik
    61. Mukhlishoh : مُخْلِصَة : Yang ikhlas
    62. Mudrikah : مُدْرِكَة : Yang memiliki pemahaman yang baik
    63. Muradah : مُرَادَة : Yang dicintai
    64. Murtaja : مُرْتَجَى : Tempat menumpukan cita-cita
    65. Muznah : مُزْنَة : Awan yang membawa air
    66. Musta’inah : مُسْتَعِيْنَة : Yang minta pertolongan Allah
    67. Muslimah : مُسْلِمَة : Wanita muslimah
    68. Musyirah : مُشِيْرَة : Yang memberikan masukan
    69. Mudhi`ah : مُضِيْئَة : Bercahaya; wajah yang berseri-seri
    70. Muthi`ah : مُطِيْعَة : Taat; lembut; mudah
    71. Mu`adzah : مُعَاذَة : Yang terpelihara; yang terlindungi
    72. Mu’inah : مُعِيْنَة : Yang membantu hajat orang
    73. Mufidah : مُفِيْدَة : Yang berguna bagi orang lain
    74. Multazimah : مُلْتَزِمَة : Yang komitmen
    75. Mumtazah : مُمْتَازَة : Yang unggul dan memiliki kelebihan; istimewa
    76. Muna : مُنَى : Harapan; cita-cita
    77. Munibah : مُنِيْبَة : Yang kembali kepada Tuhannya
    78. Munirah : مُنِيْرَة : Bercahaya; terang
    79. Munifah : مُنِيْفَة : Tinggi; serasi
    80. Muhjah : مُهْجَة : Darah jantung dan roh
    81. Muwaffaqah : مُوَفَّقَة : Yang mendapatkan ilham; mendapat petunjuk/taufiq

    AN-NÛN (النون)

    1. Na`ilah : نَائِلَة : Yang mendapatkan nugerah apa yang diinginkan –insya Allah-
    2. Na`ibah : نَائِبَة : Yang mewakili
    4. Natsirah : نَاثِرَة : Yang pandai merangkai prosa
    5. Najilah : نَاجِلَة : Yang memiliki keturunan yang terhormat
    6. Najihah : نَاجِحَة : Yang sukses
    7. Najiyah : نَاجِيَة : Selamat
    8. Nadiyah : نَادِيَة : Yang memanggil
    9. Nasyidah : نَاشِدَة : Yang mencita-citakan kesempurnaan dan dapat meraih cita-cita
    10. Nashi’ah : نَاصِعَة : Yang polos, suci dan terang
    11. Nasihah : نَاصِحَة : Wanita penasihat
    12. Nazhimah : نَاظِمَة : Ahli membuat syair; kumpulan mutiara
    13. Na`imah : نَاعِمَة : Yang halus, lembut
    14. Nafi`ah : نَافِعَة : Yang memberi manfaat kepada orang lain
    15. Namiah : نَامِيَة : Yang sempurna tubuh, akal dan akhlaqnya
    16. Nahidhah : نَاهِضَة : Yang bangkit dengan tekad bulat
    17. Nahilah : نَاهِلَة : Yang menyumbangkan ilmu dan adab
    18. Nabilah : نَبِيْلَة : Mulia; terhormat; pandai
    19. Nabihah : نَبِيْهَة : Yang cerdas dan unggul
    20. Najdah : نَجْدَة : Cepat menolong
    21. Najla` : نَجْلاَء : Yang memiliki mata yang hitam, indah dan lebar
    22. Najmah : نَجْمَة : Bintang; kata-kata
    23. Najwa : نَجْوَى : Pembicaraan antara dua orang; bisikan
    24. Najibah : نَجِيْبَة : Yang cerdas, berakal lagi cerdik
    25. Nakhwah : نَخْوَة : Harga diri; maruwah
    26. Nadidah : نَدِيْدَة : Yang semisal, sepadan; yang sama
    27. Narjis : نَرْجِس : Tumbuhan yang enak aromanya
    28. Nazihah : نَزِيْهَة : Yang jauh dari hal-hal yang buruk
    29. Nasibah : نَسِيْبَة : Yang nasabnya terhormat
    30. Nasywah : نَشْوَة : Kebahagiaan dan kegembiraan
    31. Nasyithah : نَشِيْطَة : Yang gesit dan enerjik
    32. Nasyamah : نَشَامَة : Yang kuat, suci dan punya kepribadian kokoh
    33. Nadhirah : نَضِرَة : Yang penuh vitalitas dan menawan
    34. Nazhirah : نَظِيْرَة : Yang setara, sepadan; menjadi pusat perhatian
    35. Na’amah : نَعَامَة : Nama burung yang terkenal
    36. Nafhah : نَفْحَة : Aroma yang melegakan hati
    37. Nafisah : نَفِيْسَة : Yang amat berharga; berkedudukan tinggi
    38. Naqiyyah : نَقِيَّة : Yang bersih
    39. Nawal : نَوَال : Bagian; pemberian
    40. Nawwarah : نَوَّارَة : Yang amat bercahaya
    41. Nibras : نِبْرَاس : Lentera yang bercahaya
    42. Nirdin : نِرْدِيْن : Tumbuhan yang enak aromanya
    43. Nisrin : نِسْرِيْن : Bunga ros putih semerbak dan amat menyengat
    44. Nismah : نِسْمَة : Angin semilir
    45. Ni’mah : نِعْمَة : Nikmat; karunia
    46. Nuzhah : نُزْهَة : Rileks; tamasya
    47. Nuwairah : نُوَيْرَة : Api kecil yang bercahaya dan membakar
    48. Nufah (Nova) : نُوْفَة : Yang sempurna tinggi dan kecantikannya
    49. Nuha : نُهَى : Akal

    AL-HÂ` (الهاء)

    1. Hasyimah : هَاشِمَة : Yang pintar membuat susu
    2. Hasyimiyyah : هَاشِمِيَّة : Dinisbahkan kepada Bani Hasyim
    3. Hajar : هَاجَر : Waktu tengah hari tepat saat udara panas
    4. Halah : هَالَة : Lingkaran cahaya
    5. Hazar : هَزَار : sejenis burung yang merdu suaranya
    6. Hallabah : هَلاَّبَة : Angin dingin disertai hujan
    7. Halilah : هَلِيْلَة : Tanah yang terkena hujan
    8. Hamsa` : هَمْسَاء : Yang membisikkan
    9. Hamsah : هَمْسَة : Bisikan
    9. Hana` : هَنَاء : Kegembiraan; kebahagiaan
    10. Hanadi : هَنَادِي : Dinisbahkan kepada India
    11. Haniyyah : هَنِيَّة : Yang senang dan gembira
    12. Hawadah : هَوَادَة : Kelembutan, ketenangan
    13. Haya : هَيَا : Yang bagus gerakan dan penampilannya
    14. Hayaf : هَيَاف : Yang sangat haus
    15. Haibah : هَيْبَة : Kewibawaan
    16. Haifa` : هَيْفَاء : Yang ramping pinggangnya
    17. Hibah : هِبَة : Pemberian; anugerah
    18. Hidayah : هِدَايَة : Hadiyah; petunjuk
    19. Hilalah : هِلاَلَة : Bulan penuh
    20. Himmah : هِمَة : Kemauan
    21. Hindun : هِنْد : Nama isteri Abu Sufyan; segerombolan onta
    22. Hila : هِيْلاَ : Pasir
    23. Hubairah : هُبَيْرَة : Binatang buas sejenis anjing hutan
    24. Huda : هُدَى : Pentunjuk; menunjukkan dengan kelembutan
    25. Huwaidah : هُوَيْدَة : Yang menyatukan dan tidak mencerai-beraikan dengan cara lembut

    AL-WÂW (الواو)

    1. Wa`ilah : وَائِلَة : Yang kembali kepada Allah
    2. Watsiqah : وَاثِقَة : Yang memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri
    3. Wajidah : وَاجِدَة : Yang merasa cukup dengan dirinya dan tidak terlalu memerlukan bantuan orang
    4. Wahah : وَاحَة : Tanah subur terletak di gerun pasir
    5. Wadi’ah : وَادِعَة : Yang tenang dan mantap
    6. Warifah : وَارِفَة : Yang panjang
    7. Washilah : وَاصِلَة : Yang menyambut hubungan dengan sanak kerabatnya
    8. Wadlihah : وَاضِحَة : Yang jelas; yang istiqamah
    9. Wa’izhah : وَاعِظَة : Wanita yang memberikan wejangan, nasehat
    10. Wafirah : وَافِرَة : Yang sempurna, banyak baiknya dan merata manfa’atnya
    11. Wajnah : وَجْنَة : Yang diatas kedua pipi
    12. Wajizah : وَجِيْزَة : Yang bicaranya ringkas
    13. Wajihah : وَجِيْهَة : Yang memiliki urusan dan kehormatan
    14. Wahidah : وَحِيْدَة : Yang satu-satunya; sendirian
    15. Wada’ : وَدَاع : Ketenangan; perpisahan
    16. Wardah : وَرْدَة : Bunga ros
    17. Wazirah : وَزِيْرَة : Menteri wanita
    18. Wasma` : وَسْمَاء : Bekas keindahan dan kecantikan
    19. Wasithah : وَسِيْطَة : Wanita Perantara; Yang menjadi pemutus perkara/wasit
    20. Wasimah : وَسِيْمَة : Wajah yang cantik
    21. Washifah : وَصِيْفَة : Pendamping ratu; dayang
    22. Wadli`ah : وَضِيْئَة : Yang cantik sekali
    23. Wathfa` : وَطْفَاء : Yang bulu alisnya lebat
    24. Wafa` : وَفَاء : Ketulusan; Kesetiaan
    25. Wafidah : وَفِيْدَة : Yang datang
    26. Wafiqah : وَفِيْقَة : Yang mendapatkan taufiq
    27. Wafiyyah : وَفِيَّة : Yang setia
    28. Wala` : وَلاَء : Loyalitas
    29. Walladah : وَلاَّدَة : Yang banyak anak
    30. Waliyyah : وَلِيَّة : Wali (wanita); penanggung jawab (wn)
    31. Widad : وِدَاد : Yang mencintai orang-orang di sekitarnya
    32. Wisyah : وِشَاح : Sulaman dari mutiara
    33. Wifaq : وِفَاق : Yang sesuai dengan dikehendaki
    34. Wihad : وِهَاد : Dataran rendah

    AL-YÂ` (الياء)

    1. Yasminah :يَاسَمِيْنَة : Bunga yasmin
    2. Yafi`ah : يَافِعَة : Yang menginjak baligh
    3. Yaqutah : يَاقُوْتَة : Salah satu jenis batu mulia; yaqut
    4. Yani’ah : يَانِعَة : Buah sudah boleh dipetik
    5. Yasra` : يَسْرَاء : Wanita kidal
    6. Yaqzhanah : يَقْظَانَة : Yang tanggap/sigap; jaga
    7. Yamamah : يَمَامَة : Sejenis burung dara
    7. Yamaniyyah : يَمَانِيَّة : Yang bersifat keberkahan
    8. Yusra : يُسْرَى : Yang paling mudah
    5. Yusriyyah :يُسْرِيَّة : Yang bersifat mudah
    6. Yumna : يُمْنَى : Tangan kanan

  30. dukut nugroho Says:

    Demi Menjaga Mata dan Hati Kita
    o
    Suatu kali, masih dalam suasana lebaran, Hamid dan istrinya diundang Rozi datang ke rumahnya. Setelah disepakati, akhirnya mereka datang pada hari Kamis setelah ashar. Rozi tinggal di kawasan Hay Tsamin, sedangkan Hamid tinggal di bilangan Hay `Asyir. Perjalanan dari Hay `Asyir ke Hay Tsamin hanya memakan waktu lebih kurang seperempat jam dengan mengendarai mobil.
    Rozi dikenal sebagai seorang aktifis. Ia baru menyempurnakan setengah agamanya beberapa waktu yang lalu. Istrinya adalah rekan kerjanya disebuah organisasi yang pernah ia geluti. Rozi termasuk salah seorang figur yang dikenal luas dikalangan mahasiswa. Walau selalu menjadi Top Leaders dibeberapa organisasi yang pernah ia terjuni, ia juga termasuk mahasiswa yang berprestasi dibangku kuliah.
    Tak heran banyak mahasiswi yang melirik padanya. Tapi Rozi bukan tipe cowok matre, ia punya prinsip dalam menentukan pilihan hidup. Baginya kecantikan bukanlah prioritas, yang paling utama adalah akhlak dan agama.
    Sedangkan Hamid tak jauh berbeda dengan Rozi, ia juga seorang aktifis. Aktifitas Hamid lebih banyak dalam pergerakan dakwah. Ia juga termasuk figur dikalangan mahasiswa. Namanya sering tampil pada deretan teratas dalam setiap organisasi yang ia geluti. Hamid adalah seorang pribadi yang penuh hati-hati. Sebelum melangkah ia akan berpikir dua kali.
    Hamid dan Rozi telah lama menjalin persahabatan sejak di Indonesia. Namun belakangan sejak mereka tiba di Mesir, mereka memilih aktifitas yang berbeda sehingga diantara mereka pun timbul perbedaan manhaj berfikir. Walau demikian, mereka tetap akur dan saling menghargai pandangan masing-masing. Persahabatan mereka tetap terjaga.
    Rozi dan istrinya punya pikiran yang seirama. Dan karenanya mereka pun memadu cinta yang terbina dalam bingkai pernikahan. Risa, istri Rozi dikenal seorang akfitis di Kairo. Tulisan-tulisannya menyebar di buletin mahasiswa. Ide-idenya yang segar selalu mendapat respon positif dari pembaca. Selain cerdas, Risa juga seorang yang jelita. Ia bahkan jadi rebutan para mahasiswa, tapi sayang, cinta mereka tidak bersambut, buah cinta Risa jatuh pada Rozi. Rozi dan Risa memang pasangan yang serasi, sama-sama pintar, sama-sama gagah dan cantik dan sama-sama jadi rebutan.
    Rima istrinya Hamid, juga dikenal seorang aktifis dikalangan mahasiswi. Dalam beberapa kesempatan ia sering diminta tampil memberikan materi dalam acara bedah buku, dialog, diskusi, kajian, seminar dan lain-lainnya.
    Hamid dan Rima adalah pasangan yang serasi, sama-sama aktifis pergerakan dakwah dan punya komitmen yang sama. Mereka juga sama-sama punya daya tarik bagi lawan jenis. Hamid dengan perawakan tenang dan air muka yang selalu berseri, enak di pandang mata, cerdas dan taat. Sedangkan Rima, adalah wanita anggun dengan sikap penuh keibuan dan kasih sayang.
    Kita kembali ke cerita awal, sesampai di depan pintu rumah Rozi, Hamid dan istrinya dipersilahkan masuk menuju ruang tamu. Di ruang tamu Risa telah menunggu kedatangan mereka.
    Hamid dan Rima agak berat kaki melangkah menuju ruang tamu, mereka masih berdiri di depan pintu.
    Rozi bertanya pada Hamid, “Ada apa Akhi ?”
    Hamid menjawab, “Nanti akan saya jelaskan pada Akhi, saya minta istri kita di ruang dalam dan kita berdua di ruang tamu”.
    Rozi pun menyetujui dan ia tidak merasa keberatan. Mereka berdua duduk diruang tamu. Saling berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati makanan dan minuman yang telah dihidangkan Rozi.
    Akhirnya rasa penasaran yang bergejolak dalam hati Rozi ingin segera ditumpahkan, ia bertanya pada Hamid, “Akhi, apa yang menjadi alasan Akhi sehingga antara kita dengan istri kita berpisah ruangan? Coba Akhi jelaskan alasan yang Akhi miliki”
    Hamid hanya tersenyum, kemudian berkata, “Hanya ingin jaga mata dan hati kita”.
    “Hanya sebatas itu?”, Rozi bertanya sambil mengernyitkan keningnya.
    “Iya”, jawab Hamid sambil kembali tersenyum.
    Hamid melanjutkan, “Akhi, kita sudah sama-sama pernah belajar, sudah sama-sama tahu bahwa Allah telah perintahkan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman untuk selalu menjaga, menahan dan menundukkan pandangan mereka dari melihat segala sesuatu yang diharamkan Allah dan dari segala sesuatu yang akan dapat membangkitkan syahwat, karena itu lebih menyucikan hati.
    Pandangan adalah umpama anak panah beracun dari syetan yang akan mengotori dan meracuni hati kita. Semakin sering mata melihat pada sesuatu yang akan mengotori hati, maka akan berkurang dan hilanglah lezatnya iman dalam hati dan nikmatnya beribadah.
    Apa yang akan terjadi, kalau kita sama-sama duduk diruangan ini dengan istri-istri kita?
    Kita tetap berbaik sangka, kita mungkin bisa saling menjaga, namun kita tidak tahu apa yang terjadi dalam hati. Dan mencegah lebih baik dari mengobati. Sebelum syetan lebih dulu menjerat kita dengan tipuannya, seorang mukmin harus lebih dahulu tahu akan hal itu.
    Kalau kita duduk saling berhadapan, saya duduk dengan istri saya dan akhi duduk dengan istri akhi. Kemudian kita saling mengobrol, saling memandang, saling tertawa dan tersenyum. Bisa jadi terbersit dalam hati istri akhi ketika melihat saya rasa tertarik pada paras saya, senyum saya, mendengar suara saya dan seterusnya. Kemudian ia coba bandingkan antara saya dengan diri akhi yang telah ia kenal luar-dalam segala kekurangan dan kelemahan akhi. Dan ia menemukan ada daya tarik dari diri saya yang ia sukai tapi tidak ia temukan dalam diri akhi. Mungkin akan timbul sedikit penyesalan dalam hatinya, kenapa ia dahulu cepat-cepat menikah, sedangkan pria dihadapannya, lebih ganteng, lebih sopan, lebih manis senyumnya, lebih indah suaranya, lebih kekar tubuhnya, lebih pintar dan segalanya.
    Apakah akhi ingin keadaan tersebut menimpa istri akhi? Tentu tidak bukan?! Begitu juga dengan saya, saya juga sangat cemburu bila istri saya punya perhatian dan daya tarik pada lelaki lain, saya ingin istri saya hanya milik saya seutuhnya.
    Sebagaimana saya dan akhi tidak ingin hal itu terjadi pada istri-istri kita, istri-istri kitapun juga tidak ingin dihati suaminya ada wanita-wanita lain yang lebih membuatnya tertarik. Kalau kita saling bertemu, akhi melihat istri saya, rupanya ada sisi daya tarik yang akhi temukan pada dirinya, akhi bandingkan dengan istri akhi, yang mungkin suaranya kurang indah, kata-katanya kurang manis terdengar, budi bahasanya kurang elok dan lain-lainnya, singkatnya segala hal yang akhi dambakan, tapi tidak akhi temukan hal tersebut pada diri istri akhi. Barangkali syetan akan membisikkan dihati akhi rasa penyesalan, ah.., kenapa saya menikah terlalu cepat dahulunya, rupanya masih banyak wanita yang lebih jelita, anggun, dan cerdas dari istri saya saat ini. Dan hal itu juga mungkin bisa terjadi pada diri saya.
    Apa yang saya utarakan hanya sebagai contoh, agar kita lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan kita, jangan sampai kita memberi peluang pada syetan dan hawa nafsu untuk mencelakakan diri kita. Seorang mukmin harus cerdas.
    Saya berbaik sangka, dugaan-dugaan diatas mungkin tidak akan terjadi diantara kita, tapi kita tidak bisa menjamin seutuhnya bahwa kita bisa selamat dari keadaan itu. Mungkin hari ini kita bisa tejaga, tapi kita tidak tahu dengan esok, lusa dan seterusnya. Jadi pada intinya mencegah lebih baik dari pada mengobati.
    Disamping itu saya ingin istri saya menjadi bidadari di dunia sebelum menjadi bidadari di sorga. Diantara karakteristik bidadari sorga adalah ‘Qashiratut tharfi’, maksudnya adalah ia hanya melihat, mamandang pada suaminya. Tidak ada pria yang ia kenal selain suaminya. Dan tidak ada pria yang lebih gagah dan ia cintai selain suaminya. Betapa indahnya hubungan tersebut.
    Apa yang saya sampaikan hanyalah pandangan saya yang mungkin salah dan mungkin juga benar. Tapi inilah yang saya pahami selama pembelajaran saya sampai saat ini. Mungkin terkesan agak fundamental dikalangan sebagian orang, tapi mempertahankan agama di zaman yang fitnah telah tersebar dimana-mana ibarat memegang bara api”.
    Rozi tertegun mendengar penjelasan Hamid, ia manggut-manggut tanda setuju. Sejak saat itu kehidupan Rozi mulai berubah juga keadaan istrinya. Iapun nampak lebih alim. Kalau dahulu ia selalu gesit dalam kegiatan yang didalamnya ada ikhtilath dengan lawan jenis, sekarang semua itu berusaha ia hindari. Ketika ditanya kenapa ia berobah, ia menjawab “Saya telah bertobat”.
    * * *
    Betapa berharganya seorang sahabat yang soleh. Sahabat yang tak ragu menyampaikan kebenaran. Sahabat yang melandasi persahabatan atas dasar ketaatan pada Allah. Sungguh beruntung orang-orang yang selalu mengambil manfaat dari sahabat yang soleh dan amat merugilah mereka yang mengabaikan keberadan mereka.

  31. Dukut Nugroho Says:

    Itulah kisah yang Arif sampaikan kepada saya bahwa ia telah menuai pertolongan Allah Swt untuk pembelian mobil, namun apa yang ia sumbangkan untuk rumah-Nya dengan cara berhutang rupanya tidak dianggap demikian oleh Allah Swt. Demikianlah sebuah kisah yang menakjubkan tentang pertolongan Allah Swt melalui sedekah. Tidakkah Anda meyakininya?

  32. dukut nugroho Says:

    Al qur’an menjawab pertanyaan manusia

    Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
    Qur’an
    Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
    mengatakan:” Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
    (Al-Ankabuut : 2). Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang
    sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

    Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
    Qur’an Menjawab : boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
    baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia
    amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
    (Al-Baqarah : 216)

    Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
    Qur’an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah : 286)

    Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
    Qur’an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula)
    kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
    (derajatnya) , jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

    Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
    Qur’an Menjawab : dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
    Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang
    kafir. (Yusuf : 87)

    Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
    Qur’an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan
    kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan
    negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali
    Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
    sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang
    yang khusyu’. (Al-Baqarah : 45)

    Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
    Qur’an Menjawab : Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal. (At-Taubah : 129)

    Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
    Qur’an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
    mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
    (At-Taubah : 111)

  33. Dukut Says:

    KITA TIDAK BISA MEMILIH UJIAN

    Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.

  34. Dukut Nugroho Says:

    Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

    1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
    Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

    2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)

    3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)

    4. Kematian datang secara tiba-tiba.
    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

    5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

    Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
    Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

    Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
    Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

    Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

    Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

    Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

    Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

    Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

    Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

    Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

    Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
    (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

    Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

    Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
    Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

    Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

    Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
    Amin !

    (Sumber Tulisan Oleh : NN, dikumpulkan dari berbagai sumber)

  35. Dukut Nugroho Says:

    Surat Untuk Calon Anakku

    oleh Malik Zahri

    Teruntuk calon anakku
    Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.

    Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
    Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
    Karena di sana memang tidak ada sekolah.
    Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
    Karena kita satu jiwa
    Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
    Dan terutama,
    Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda ….🙂

    Nak !
    Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
    Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
    Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
    Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

    Nak!
    Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
    Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
    Tapi Ayahanda akan terus berusaha
    Tunaikan titah Baginda

    Ayahanda pun berharap
    Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
    Mencintai, menaati dan menghormati
    Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
    juga Ayahandamu ini
    Itulah mimpi Ayahanda
    Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
    Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

    Tapi, Ayahanda merasa malu
    Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
    Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
    Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
    Malu …..
    Karena belum mempersiapkan diri
    Untuk menunaikan hakmu

    Nak!
    Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
    Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
    Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
    Yang menerangi mayapada

    O ya!
    Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
    Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
    Agar kau tumbuh perkasa
    Dinaungi nama mulia
    Yang ia adalah doa

    Yang membuat Ayahanda bingung,
    Bagaiamana menunaikan hak pertama
    yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
    Karena Ayahanda tidak tahu
    Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
    Ayahanda juga tidak tahu
    Apakah kita memiliki selera yang sama …. :-)?

    Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
    Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
    Melainkan harus seorang Shalehah

    Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
    Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
    Melihat jenggot ibumu
    Yang gagah jelita ……🙂

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    Yang mencintaimu karena-Nya

    Calon Ayahandamu

  36. Dukut Nugroho Says:

    Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut

    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

    1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
    Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

    2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)

    3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)

    4. Kematian datang secara tiba-tiba.
    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

    5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

    Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
    Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

    Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
    Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

    Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

    Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

    Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

    Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.

    Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

    Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

    Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

    Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

    Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
    (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

    Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

    Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
    Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

    Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

    Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

    Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
    Amin !

  37. Dukut Nugroho Says:

    KISAH NYATA : HAKEKAT JILBAB

    Kisah ini saya dapat dari sahabatku yang bekerja di salah satu perusahaan asing, di Kaltim: Disini saya kutibkan kisah nyata seorang gadis yang menginjak remaja atau kerennya jaman sekarang (ABG) yang sebelumnya tidak karuan tingkah lakunya, namun setelah sadar akan kekeliruannya dan sudah mengerti “HIKMAH MEMAKAI JILBAB” Allah memanggilnya.

    Kisah nyata ini dari kawan saya bekerja.
    Kisah nyata ini semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum Hawa, juga bagi yang punya istri, yang punya anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya Ibu, yang punya keponakan perempuan… …..

    Sahabatku menceritakan:
    Ini cerita tentang adikku Nur Annisa , gadis yang baru beranjak dewasa namun rada Bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku , banyak teman cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang guru ngaji.

    Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh , tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita kita , malah teman teman Ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om , sering jalan jalan , masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan ” , bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis , lirih terdengar doanya: “Ya Allah , kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “.

    Pada satu hari didekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang masih kecil kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri ,(bukan Effendy Khoiri lhoo)(entah nama aslinya siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.

    Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah , hingga dijuluki si buta , bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku , dan dia bertanya sama aku: “Kak , memang yang baru pindah itu istrinya buta , bisu dan tuli ? “..hus aku jawab sambil lalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung kerumahnya”.

    Eehhh tuuh, anak benar benar datang kerumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku , kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi….eentah apa yang terjadi.?

    Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab ..yang panjang, lagi..rok panjang, lengan panjang…aku sendiri jadi bingung….aku tambah bingung ng campur syukur kepada Allah SWT karena kulihat perubahan yang ajaib..yah kubilang ajaib karena dia berubah total..tidak banyak lagi anak cowok yang datang kerumah atau teman teman wanitanya untuk sekedar bicara yang nggak karuan…kulihat dia banyak merenung, banyak baca baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah anak muda kaya gadis atau femina ganti jadi majalah majalah islam , dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku …tak ketiinggalan tahajudnya, baca Qur’annya, sholat sunat nya…dan yang lebihh menakjubkan lagi….bila teman ku datang dia menundukkan pandangan…Segala puji bagi Engkau ya Allah SWT jerit hatiku..

    Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan asing (PMA). Dua bulan aku bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga ibuku memanggil ku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun). Di pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah SWT agar Adikku di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha, ketika aku tiba di rumah, didepan pintu sudah banyak orang, tak dapat kutahan aku lari masuk kedalam rumah, kulihat ibuku menangis, aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku, sambil tersendat sendat ibuku bilang sama aku: “Dhi, adikkmu bisa ucapkan dua kalimat Syahadah diakhir hidupnya “..Tak dapat kutahan air mata ini…

    Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya..diary yang selalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur kala kulihat sewaktu almarhumah adikku masih hidup, kemudian kubuka selembar demi selembar…hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku..perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu Khoiri…disitu kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggakku, isinya seperti ini :

    Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas tetesan airmata ):

    Annisa : Aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari), ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.

    Istri tetanggaku : Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.

    Annisa : Tapi ibu kan udah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.

    Istri tetanggaku : Subhanallah, sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT dan bila Allah SWT berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya.

    Annisa : Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam macam dan kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku nggak pernah mau untuk pakai jilbab, menurut ibu bagaimana?

    Istri tetanggaku : Duhai Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT diakhirat nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita.

    Annisa : Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.

    Istri Tetanggaku : Jilbab hanyalah kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.

    Annisa : Apa itu hakekat jilbab ?

    Istri Tetanggaku : Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (ghosib) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat.

    Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab.

    Annisa : Ibu aku jadi jelas sekarang dari arti jilbab, mudah mudahan aku bisa pakai jilbab, namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya.

    Istri tetanggaku : Duhai Anisa bila kamu memakai jilbab itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rahmat, yang Maha Penyayang, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan amalan jilbab hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT.

    Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh roh manusia seperti anai anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.

    Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada dialam ini.

    Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah SWT murka, belum pernah Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah SWT dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.

    Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal dihari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah SWT. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!

    Sampai disini aku baca diarynya karena kulihat, berhenti dan banyak tetesan airmata yang jatuh dari pelupuk matanya, Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan, kemudian kulihat tulisan kecil di bawahnya: buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT, wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, ghosib dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia tak tahan airmata ini pun jatuh membasahi diary.

    Itulah yang dapat saya baca dari diarynya, semoga Allah SWT menerima Adikku di sisinya, Amin , Subhanallah.

    Bapak-Bapak, Ibu-ibu, Saudara-Saudaraku, adik-adikku dan Anak-anakku yang dimuliakan oleh Allah SWT. Khususnya kaum hawa. Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita , bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap dihati yang membacanya dan semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk, memberi Rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

    Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat didunia sampai di akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafa’at di hari yaumul hisab dan mendapat surga yang tinggi, amien. Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    Bila anda mau beramal saleh, kertas ini setelah dibaca jangan disobek, berikan kepada orang lain agar dibaca, supaya menambah iman dan taqwa mereka, insya Allah.

  38. dukut nugroho Says:

    From: Adiratu Inan [mailto:adiratuinan@yahoo.com]
    Sent: Monday, April 21, 2008 8:24 PM
    To: andit tebet; Purwani Djulu Sukastirin; diyah_lulu@yahoo.co.id; nani tebet; Nurhayati Armansyah; Dea Thamrin; emma; tropika
    Subject: SEBUAH RENUNGAN TENTANG SHOLAT

    SEBUAH RENUNGAN

    TENTANG SHOLAT

    Renungkanlah …

    · Islam menuntun penganutnya hidup di dunia bahagia dan di akhirat masuk surga dengan pedoman kepada Al qur’an dan Hadits.

    · Bahagia adalah : Suatu perasaan yang tidak didasari oleh materi yang mengakibatkan tidak ada lagi rasa : was-was, takut, gelisah, stress; karena hidup danmati ini hanya karena Allah semata.

    · Surga adalah : Segala sesuatu yang paling menyenangkan di dunia ini, tidak ada seujung kukunya kesengan di surga.

    · Sedangkan neraka adalah : segala sesuatu yang paling menyakitkan di dunia ini, tidak ada seujung kukunya kesakitan di neraka.

    · Jadi apalah artinya kesenangan di dunia ini kalau nantinya mengakibatkan diri digiring ke neraka.

    · Hidup di dunia ini adalah kompetisi untuk menentukan tempat kita kelak di akhirat yaitu surga atau neraka. Ini sangat tergantung kepada persiapan apa yang dilakukan untuk mencapai tempat mana yang kita inginkan nanti di akhirat.

    · Salah satu ibadah namun utama adalah shalat, dimana begitu istimewanya shalat, sampai-sampai Jibril pun tidak dipercaya oleh Allah untuk menyampaikan perintah shalat kepada Rasulullah.

    · Allah menyuruh langsung Rasulullah untuk datang menghadap dalam bentuk Mi’raj agar langsung didengar perintah shalat tersebut oleh Rasulullah.

    Rasulullah saat sakratull maunya, berpesan untuk umatnya : Peliharalah Shalat, periharalah shalat, peliharalah shalat …

    · Sabda Rasulullah saw : di akhirat nanti ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allah swt, kemudian shalatnya diterima dan dilipat-lipatnya kain usang dan kotor lalu shalatnya itu dibantingkan ke wajahnya.

    · Sabda Rasulullah saw : Bagi orang yang berangan-angan dalam shalatnya, maka ia tidak akan memperoleh apapun selain dari angan-angannya itu.

    · Sabda Rasulullah saw : Sesungguhnya perumpamaan shalat itu seperti orang yang mandi. Bila seseorang mandi 5 kali sehari, tetapi badannya belum juga bersih, boleh jadi karena air yang digunakan untuk mandi tersebut memang kotor, atau di waktu mandi ia tidak menggunakan sabun. Jadi jika ada orang yang mengerjakan shalat 5 kali sehari, tetapi perilakunya masih saja buruk, berarti orang tersebut belum memahami benar akan artinya shalat.

    HAKEKAT SHALAT …

    Pada hakekatnya shalat adalah aktifitas yang mempunyai arti sebagai berikut :

    1. Menyanjung dan memuji Allah : Allahu Akbar, Maha suci Allah dan Maha Agung, Maha Tinggi Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    2. Membuat janji/komitmen dengan Allah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah semata dan tidak akan menserikatkan Allah.

    3. Memohon kepada Allah : Meminta : jalan yang lurus, ampunan, disayangi, cukup kekurangan, tinggikan derajad, rezeki, petunjuk, kesehatan.

    4. Mendoa’kan Rasulullah : shalawat.

    FAKTA …

    Fakta yang ada dalam lingkungan kita adalah :

    · Bagaimana agar sembahyang kita khusuk, sehingga keluarlah berbagai macam aturan yang didominasi oleh kata-kata jangan dan harus, misalnya : jangan bawa pikiran yang lain dalam shalat, wajah harus tetap ke sajadah dan lainnya.

    · Shalat dilakukan hanya sebagai suatu pemenuhan kewajiban sehingga sering dilakukan buru-buru, tetapi saat berdo’a cukup lama.

    · Sementara mulut mengucapkan bacaan shalat, namun hati melanglang buana entah kemana, tahu-tahu shalat sudah selesai. Ini tidak beda dengan orang mabok, tidak mengerti apa yang sedang diucapkannya. Inilah yang dikatakan dalam QS : Al Ma’un (107 : 4-5) : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yakni) orang-orang yang lalai dari shalatnya.

    · Sebaliknya, QS AL Mu’minun (23: 1-2) : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.

    · Coba kita ingat-ingat : bila dipanggil atasan, betapa kita datang dengan rapi dan bertutur kata lembut, dan mengerti persis apa yang akan diucapkan, jarang terpikir hal-hal lain, apalagi bila itu menyangkut kelangsungan jabatan.

    · Berjanji dalam shalat tidak akan menserikatkan Allah, tetapi kenyataannya dalam shalat secara tidak sadar telah melakukan serikat bagi Allah (Syirik).

    · Syirik bukan saja menyembah berhala, tetapi juga bila kalbu ini didominasi oleh hal-hal selain Allah. (Syirik adalah dosa yang tidak berampun).

    SHALAT KITA …

    Penduduk Indonesia yang dominant beragama Islam dan melaksanakan shalat, namun shalatnya tidak dapat mencegah yang keji dan mungkar sesuai dengan tujuan shalat itu sendiri QS AL ‘Ankabuut (29 : 45) : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.

    Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Ini bisa kita lihat dari betapa banyak maksiat yang masih terjadi berupa : perkosaan, perzinahan, pembunuhan, korupsi, penipuan, perampokan, penyogokan, dlsb.

    TAFAKURLAH …

    Mari bertafakur sejenak untuk memperkuat keyakinan ilahiyah, sebab sabda Rasulullah : Bertafakur sejenak, lebih baik daripada ibadah satu tahun :

    · Bila datang kepada kita malaikat Jibril yang menyampaikan bahwa umur kita tinggal 2 jam lagi, apa yang akan diperbuat ? tentulah sikap yang timbul adalah : dengan rasa takut, rendah diri dan penuh harap tanpa lagi menghiraukan harta, istri dan anak : mendirikan shalat tobat dan memohon ampunan-Nya. Bahkan selama 2 jam tersebut akan digunakan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lainnya.

    · Maka anggaplah bahwa shalat ini adalah shalat yang terakhir, seolah-olah habis shalat ini akan meninggal.

    QS An Naml (27 : 3) : (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.

    · Tidak dihitung amalan yang lain apabila shalat tidak diterima.

    · Kita akan berkomunikasi langsung dengan Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar.

    QS Asy Syu’araa’ (26 : 218) : Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang).

    · Syirik adalah dosa yang tidak berampun.

    QS An Nisa (4 : 48) : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

    QS An Nisa (4 : 116) : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

    · Shalat adalah peluang besar untuk meraih surga

    QS Al Baqarah (2 : 277) : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

    · Percuma hidup di dunia bila nanti di akhirat akan masuk neraka.

    · Setan akan menggoda dari segala sisi dan segala cara.

    TANAMKAN DALAM KALBU …

    Setelah keyakinan ini tertanam kokoh dalam kalbu, maka secara otomatis sikap kita adalah :

    · Berpakaian yang terbaik untuk ketemu dengan Allah (shalat).

    · Mengikhlaskan waktu untuk ketemu dengan Allah (shalat).

    · Setiap akan memulai suatu pekerjaan, selalu memohon kepada Allah agar terlindung dari godaan setan.

    · Mengucapkan bacaan shalat dengan tenang dan sabar, tidak tergesa-gesa.

    · Berusaha untuk mengerti apa yang diucapkan dalam shalat sehingga mulut berucap, kalbu tidak dibiarkan terdominasi oleh selain Allah yaitu dengan memberikan tugas : mengartikan apa yang sedang diucapkan. Wajar apabila masih saja ada gangguan bagi kalbu yang melanglang buana, tetapi dengan cepat kembali kepada Allah.

    · Janji kepada Allah dalam shalat, yakni : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah karena Allah semata, dijadikan sebagai alat control dalam setiap akan memulai tindakan. Sehingga bila tindakan yang akan dilakukan tersebut bukan karena Allah semata, maka tidak perlu dilakukan. Misalnya : Bila ada niat dalam hati hendak melakukan zina atau korupsi, segera tanya kalbu ini, apakah ini kita hadirkan atau lakukan karena Allah? Bila tidak, tentu segera meninggalkan niat berbuat tersebut.

    AMALKANLAH …

    Bila shalat yang dilakukan berdasarkan keyakinan tersebut di atas, maka akan terasa bahwa betapa shalat itu nikmat, sehingga sehabis shalat akan terasa tentram dalam kalbu.

    Keyakinan ilahiyah ini jualah yang antara lain akan membuahkan shalat yang mana selaras antara mulut yang mengucapkan dengan kalbu yang menghayati maknanya dan otak mengingat kebesaran-Nya. (Khusyu”).

    Shalat seperti inilah yang dapat mencegah Keji dan Mungkar.

    Insya Allah.

    SEBARKAN KEPADA SAUDARAMU.

    ——————————————————————————–

    Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.. Try it now.

  39. alfred Says:

    setuju, jadi ngapain Dukut Nugroho capek2, capek ngomentari situs nggak bermutu ini, okeeeeeeeeeeeeeeeee

  40. dukut nugroho Says:

    saya ingin mengomentari get desk, mengapa dia jadi pintar begitu

  41. dukut Says:

    weleh-weleh hari gini masih murtad, cape deh

  42. dabo Says:

    salam buat dukut nugroho, semoga ALLOH merahmati anda dan keluarga

  43. getmail Says:

    yang dibahas murtad tapi kok Dukut Nugroho .?
    mengapa dia jadi pintar begitu?

  44. getdesk Says:

    “salam buat dukut nugroho”

  45. dukut nugroho Says:

    ………….” SaNdAl JePiT iStRiKu”……………..

    Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

    “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

    “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

    “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

    Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

    *******

    Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

    “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

    Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

    “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

    Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

    ********

    Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
    “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
    “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
    “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

    “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

    *******

    Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.

    Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

    “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

    “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

    Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

    “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

    “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
    “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

    ******

    Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

    Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

    (Oleh : Yulia Abdullah)

    Keterangan
    (*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad
    (**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu
    (***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu

  46. vedskdesdkfDSf.ds.fdslf;dslf;sldfsdfsdmfwer8w9ejfsjfewr8ewjcksdfdiasjdas89ed0sakda;skdewqdiakfa;sdfas;f45f89af23das4fd8sfds7fd8s7fs4fas7f8s7fs54fds7fds4f ksjfiewjfkdsj4234320klkdsad dsaldkaslkdlksa dakdkl;askdwq0kelakdo-wq edapweowpqekpowqie0-394k32492094 Says:

    untuk dukut nugroho , biarkanlah orang yang membuat situs ini menerima ganjarannya

  47. ARILLAS Says:

    Salut buat dukut nugroho yang mau terus mengomentasi situs nggak bermutu ini

    wassalam

    sampai bertemu disurganya ALLOH (insya alloh) amin

  48. ketty Says:

    sudah-sudah dukut nugroho, hentikan komentar yg tidak penting,
    dan untuk pembuat situs ini kalau ingin murtad sendiri aja, ngapain ngajak-ngajak orang, coba ajak orang tua anda bersediakah mereka, dikutuk bisa

  49. dukut nugroho Says:

    Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku
    Dan sedikitnya kemampuanku
    Dan kehinaanku dihadapan manusia
    Wahai Yang Maha Penyayang
    Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah
    Tuhanku
    Kepada siapa engkau serahkan aku
    Kepada orang yang jauh yang menggangguku
    Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku
    Asal Kau tak marah padaku maka semua itu bukanlah masalah
    bagiku
    Selain dari Keafiatan-Mu yang lebih luas dari yang ada padaku
    Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi
    seluruh kegelapan
    Dan akan memberikan kebaikan pada seluruh urusan dunia dan
    akhirat
    Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu
    Atau menghilangkan Murka-Mu dariku
    Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu
    Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu

  50. dukut nugroho Says:

    Semoga Hidayah Islam Segera Menyentuhmu, Wall

    Apa yang dilakukan Spencer Wall, seorang perempuan AS berusia 20 tahun asal West Texas, tergolong unik dan tidak lazim di tengah masyarakat yang mayoritas non-Muslim. Wall sendiri beragama Kristen, tapi sejak akhir April kemarin ia memutuskan untuk mengenakan busana muslimah lengkap dengan jilbabnya selama satu tahun ini.

    Apa sebenarnya tujuan Wall melakukan itu semua? Wall mengatakan bahwa ia tidak sedang berkesperimen tapi ia belajar dari pengalaman. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian kelompok minoritas-seperti komunitas Muslim- yang kehadirannya selalu dipandang sebelah mata dan dicurigai. Meski Wall sendiri mengklaim tidak sedang mewakili komunitas Muslim.

    “Saya bukan ingin mewakili para muslimah atau komunitas Muslim. Saya ingin tahu seperti apa rasanya menjadi seperti mereka, sebentar saja …” ujar Wall.

    Perubahan penampilan Wall tentu saja mengundang tanya teman-teman dan orang-orang di lingkungan Wall. Dan Wall memang mengalami hal-hal yang tidak diharapkannya sejak mengenakan jilbab dan busana muslimah. Orang kerap memandang Wall dengan curiga, tidak mau berbicara dengannya dan ia sering menerima cemoohan. Bahkan pernah ada pengunjung di restoran tempatnya bekerja, menolak dilayani Wall. Tapi seperti kebanyakan muslimah di AS yang kerap menerima perlakuan tersebut, Wall tidak ambil peduli dan tetap melangkah.

    Pertanyaan yang paling sering diterima Wall adalah pertanyaan darimana ia berasal. Pertanyaan tipikal orang-orang Amerika yang masih melihat warga Muslim sebagai imigran. Awalnya, Wall menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan soal “keinginannya belajar dari pengalaman”. Tapi lama-lama, Wall bosan juga dan menjawab pertanyaan itu dengan kalimat pendek,”Saya bukan Muslim, tapi saya mengenakan jilbab karena saya menginginkannya.”

    Meski demikian, Wall mengakui pernyataannya itu tidak sepenuhnya benar, karena jauh di dalam hatinya ia merasa tidak bisa keluar rumah tanpa mengenakan busana muslimah. “Saya pernah mencoba tidak mengenakan jilbab sehari saja. Ternyata saya tidak mampu melakukannya,” aku Wall.

    Bukan hanya dalam berbusana, Wall juga mengikuti kebiasaan sebagaimana layaknya muslimah. Ia menolak kontak fisik terutama dengan laki-laki. Di toko pakaian, Wall pernah meminta pelayan toko untuk menutup celah yang agak terbuka di tempat ganti pakaian, karena kakinya akan terlihat saat mencoba pakaian.

    Wall mengatakan, pengalamannya “menjadi seorang muslimah” mengajarkannya untuk menghargai dan menghormati hal-hal yang sifatnya privasi bagi dirinya sendiri. Wall bahkan mengatakan, suatu hari nanti ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjalankan salat lima waktu setiap hari.

    “Seperti Anda tahu, kami hidup di tengah masyarakat yang tidak peduli dengan aktivitas peribadahan. Dengan pengalaman saya sekarang, saya merasakan diri saya lebih dekat dengan Tuhan,” ungkap Wall.

    “Pengalaman ini mengajarkan saya untuk menghormati perempuan yang memutuskan untuk di rumah saja menjaga dan mendidik anak-anaknya, menghormati mereka yang mengenakan jilbab dan beraktivitas di luar atau ingin menjadi seorang CEO,” sambung Wall.

    Meski sudah berbusana muslimah dan menyatakan ingin mencoba salat lima waktu, untuk saat ini cahaya Islam mungkin belum menyentuh Wall. Semoga di suatu saat Allah SWT memberikan hidayah Islam padanya. (ln/dailytexan)

  51. dukut nugroho Says:

    sebagai bahan renungan untuk Dukut Nugroho

    RENUNGAN UNTUK SUAMI DAN ISTRI

    Pernikahan akan menyingkap tabir rahasia kalian berdua..

    Untuk suami, renungkanlah..
    Istri yang kami nikahi tidaklah semulia Khadijah..
    Tidaklah setaqwa Aisyah..pun setabah Siti Hajar.
    Istrimu hanya wanita akhir zaman yang bercita menjadi solehah..

    Istri menjadi tanah..kamu langit penaungnya..
    Istri adalah murid..kamu mursidnya..
    Istri bagaikan anak kecil.. kamu tempat bermanjanya..

    Seketika istri menjadi racun..kamulah penawar bisanya..
    Seandainya istri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya..

    Untuk Istri Renungkanlah..
    Suami yang kamu nikahi tidaklah semulia Muhammad SAW..
    Tidaklah sekaya Sulaiman, apalagi setampan Yusuf
    Suamimu hanya pria akhir zaman yang bercita keluarga sakinah..

    Suami pelindung..kamulah penghuninya..
    Suami adalah nahkoda kapal..kamu navigatornya..
    Suami bagai balita yang nakal.. kamu penuntun kenakalannya..

    Seketika suami menjadi bisa ..kamu penawar obatnya..
    Seandainya suami masinis yang lancang..sabarlah memperingatinya..

    Duhai suami istri…
    Pernikahan menginsyafkan kalian untuk meniti sabar dan ridha ALLAH SWT
    Karena ketidaksempurnaannya justru kalian akan tersentak dari alpa..
    Kamu bukanlah Rasullulah dan bukanlah Khadijah..
    Cuma insan akhir zaman yang berusaha menjadi manusia taqwa.

  52. Dukut Nugroho Says:

    sandal jepit istriku
    Sandal Jepit Isteriku

    Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.

    “Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.

    “Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.

    “Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.

    Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.

    *******

    Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.

    “Ummi… Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”

    Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis,” batinku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.

    “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

    Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…

    ********

    Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku.
    “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku.
    “Lho, kok bilang gitu…?” selaku.
    “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi.

    “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.

    *******

    Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.

    Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.

    “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku.

    “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.

    Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

    Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!

    “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.

    “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.
    “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

    ******

    Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,” ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.

    Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan ‘iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?

  53. getdesk Says:

    salam buat dukut nugroho, minal aidzin walfaidzin, sudah dukut nugroho jangan buang waktumu untuk membuka blog tidak bermutu ini

  54. anti Says:

    siapa sih kamu sebenarnya getdesk !, hingga membuat dukut nugroho mengirim email beratus-ratus

  55. billy Says:

    udahlah temen temen, biarin aja dia murtad, kita gk rugi, Allah gk rugi, justru dia sendiri yg rugi

    dia akan masuk neraka selama lamanya, di bakar, di kulitti, di pukul dengan besi panas, hanya derita yg akan dia rasakan,

    mas bro, selamat yaa sudah murtad
    selamat juga untuk mendapat azab Allah yg pedih

    wakwkwkwkwkwkwkwkwkwkkwkw

  56. jen Says:

    sebaiknya semua yang ada berjalan sesuai dengan keyakinan,nya

  57. dukut Says:

    Hiduplah sesukamu,tetapi ingat,kelak kamu akan mati.Cintailah siapa saja yg kamu suka,tetapi ingat,kamu akan terpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu,tetapi ingat,kamu akan memperoleh balasan setimpal dg perbuatanmu itu

  58. R Says:

    alhamdulillah ada yang murtad

  59. Yogi Marsahala Says:

    Sungguh luar biasa berani mengemukakan perbedaan pendapat, komentar balik ya ke blog saya myfamilylifestyle.blogspot.com

  60. http://www.urutanbatin.com Says:

    I’m really enjoying the design and layout of your blog. It’s a
    very easy on the eyes which makes it much more enjoyable for me to come here and visit
    more often. Did you hire out a designer to create your theme?
    Superb work!

  61. Mr.Nunusaku Says:

    Lebih indah jadi kafir dari pada ikut Muhammad manusia sinting yang sekarang dia berada di Neraka jahanam ?

    MUHAMMAD SPEAKS FROM HELL….LIHAT DI YOU TUBE

  62. rahmatanlilalamin Says:

    semoga ALLOH MENGAMPUNI DOSA-DOSA DUKUT NUGROHO

  63. shellybriggs42379 Says:

    No nos pegues estos sustos! jejenEl modo estudio es un clu00e1sico. En mi caso y el de muchos amigos significa salir muy poquito de casa y no af Click https://zhoutest.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: