email dari seseorang

dibawah ini email dari seseorang yang bagus sekali isinya menurut gue…..

\—————————————-\

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2
muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak segan2
mempertanyakan keimanan dan aturan2 dalam agama. Kalau kurikulum
pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu mengaddress
masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

1) anak2 muda ini menjadi ragu terhadap agama dan bila keragu2an ini
lambat laun menumpuk, mereka tidak segan2 mendeclarekan diri keluar
dari agama atau bahkan mencela agama,

2) mereka akan mencari sumber2 informasi dari luar sekolah yang dapat
menjawab pertanyaan2 mereka. Informasi dari luar ini mungkin bisa
memuaskan keingintahuan dalam pemahaman terhadap agama. Bisa jadi ini
mengantarkan mereka kepada pemahaman agama yang benar, atau pemahaman
agama yang salah yang dapat melahirkan sikap ekstrimisme dalam
beragama, atau sebaliknya mungkin malah membuat mereka tambah ragu dan
keluar dari agama.

Berdasarkan pengalaman saya sejak SD sampai SMA di tanah air dahulu,
pelajaran2 agama di sekolah lebih bersifat kepada doktrin dan sangat
sedikit (kalau bisa dibilang ada) yang membahas kerangka berpikir
dalam menyikapi pertanyaan2 terhadap masalah keimanan dan aturan2
agama. Baru semasa kuliah S1 dulu, ketika saya tinggal dengan beberapa
roomates non-Muslims, saya dihadapkan kepada banyak pertanyaan2 yang
sebelumnya tidak pernah saya dapatkan dari pelajaran agama di sekolah
di Indonesia. Kebetulan roomates saya dulu ada yang Kristen, ada yang
atheist dan ada yang agnostic. Saya dihadapkan kepada pertanyaan
mengenai masalah keimanan, baik dari si atheist (“Why do you believe
in God that cannot be seen?”, “Why do you believe in such God that
creates evil in the world?”, etc.), dari agnostic (“Why are you so
sure that God sent down His revelation to us on this earth?”, “Isn’t
possible God of all religions is infact an alien -UFO- that has more
advanced technology than us who wants to control over us?”, etc.),
maupun dari Kristen (“Why are you not sure that you are going to
heaven like us who accept Jesus died for our sin?”, “Why do you
believe in the Arabian Prophet who came 600 years later after Jesus?”,
etc). Ada pula pertanyaan mengenai masalah tata cara ibadah yang
diamati mereka (“Why do you have to wash 3-3 times?”, “Why do you have
to pray 5 times a day?”, “Why do you have to face that way?”, “Why do
you have to say your prayer in Arabic?”, “Why do you have to suffer
not eating or drinking for many hours?”, etc.). Belum lagi kalau ada
peristiwa2 yang terjadi di Middle East yang diberitakan di media
massa. “Look, Muslims are killing innocent people again!”, “Are
Muslims not allowed to live peacefully with people of other faith?”,
“Aren’t you somewhat embarrassed to profess this faith that has
spilled so much blood in its history?”, etc.

Mungkin pertanyaan2 atau komentar2 seperti di atas tidak pernah
terdengar di tanah air yang mayoritas penduduknya Muslims, sehingga
tidak ada atau masih sedikit usaha dari pihak pengajar agama untuk
meng-address-nya. Mungkin menurut banyak da’i di Indonesia, buat apa
buang2 waktu menjawab pertanyaan2 yang aneh2 macam itu, masih banyak
urusan umat yang real, yang harus diperbaiki. Para da’i seharusnya
siap menghadapi pertanyaan2 yang mungkin sebelumnya tidak pernah
keluar (atau tidak berani) ditanyakan oleh generasi2 zaman mereka.
Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap
“kafir” oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak2
yang sejak kecil (terutama yang dibesarkan di negara2 barat) yang
kritis dan tidak mau menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan
yang masuk akal mereka. Dan saya rasa pertanyaan2 macam ini cepat atau
lambat akan keluar juga dari para generasi muda akibat era globalisasi
di mana pertukaran informasi di bumi sudah terjadi dan tidak bisa
dihindarkan lagi. Dan bila tidak ada yang care terhadap masalah ini,
tidak mustahil tidak sedikit generasi muda yang bingung dan
berpandangan liberal yang menghalalkan segala2nya, atau berpandangan
extrim yang mudah termakan emosi dan membuat konflik di masyarakat,
atau bisa pula menjadi ragu dan keluar dari agama. Ini semua muncul
akibat pemahaman agama yang salah.

Berdasarkan pengamatan saya, perasaan sensitif anak2 muda terhadap
agama ini bisa dipengaruhi pula oleh pandangan mereka terhadap tingkah
laku orang2 tua (terutama para ulama atau ustadz) yang mereka anggap
merupakan contoh “ideal” dari orang2 yang ahli agama. Ketika ada orang
tua atau ulama yang melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, image
agama orang tsb turut menjadi buruk dalam pandangan mereka. Kekaguman
mereka terhadap seorang ustadz misalnya berubah menjadi kebencian
(bukan hanya terhadap sang ustadz tapi juga terhadap agamanya) setelah
mengetahui “kekurangan” dari ustadz tsb. Karena itu tidak aneh kalau
ada anak muda yang KTPnya Islam berkomentar “Ah agama apaan tuh,
ngajarinnya cuma kawin melulu!” atau “Ah, nggak usah capek2 belajar
Islam, tuh lihat orang ahli Islam aja tingkah lakunya seperti itu!” –
akibat kecewa melihat “kemunafikan” orang2 yang sebelumnya diidolakan.
Mereka menilai suatu agama dari perbuatan pemeluk2nya, serupa dengan
banyak orang di banyak negara yang menilai Islam sebagai agama yang
buruk akibat melihat perbuatan buruk pemeluknya.

Atau bisa pula kekecewaan mereka timbul akibat melihat pertikaian yang
tidak kunjung habis antara intern pemeluk agama sendiri, baik yang
berbeda pandangan atau pun akibat banyaknya sekte2 di dalam Islam.
Bagi banyak orang mungkin banyaknya paham2 dalam Islam ini membuat
mereka bingung sehingga feel frustrated dalam memahami perbedaan2 yang
ada ini. “Islam yang mana?” menjadi pertanyaan yang tidak asing lagi
di telinga kita. Tiap2 pandangan yang berbeda sama2 berusaha
mendasarkan pandangannya dengan Qur’an maupun hadits Nabi. “Islam
warna-warni”, “Islam multi-interpretasi”, “jangan mengklaim kebenaran
sendiri”, dll, juga sering terlontar secara apriori tanpa ada usaha
melihat dan menganalisa setiap pandangan yang berbeda ini.

Ada baiknya kerangka dasar dalam berpikir atau berargumentasi yang
benar dipahami oleh setiap Muslim terutama para generasi mudanya
sehingga mereka dapat meresponse dengan baik argument2 yang banyak
ditemui dalam pergolakan pemikiran (ghazwul fikr) baik dari kalangan
internal (paham liberalism, extremism, sectarians, dll) dan kalangan
external (atheism, orientalism, missionaries, Islamophobic, dll).
Sebenarnya para ulama sejak dulu dalam membahas masalah2 agama, baik
itu dalam hal ushul fiqh, ibadah, aqidah, maupun muamalah, selalu
menggunakan metode2 maupun kerangka berpikir yang bisa dijumpai dalam
kitab2 mereka. Sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini
sering hilang dalam argument2 orang Islam ketika meresponse pendapat
yang berbeda, yang sering kali lebih terasa nada emosionalnya daripada
bobot argumentnya.

Kerangka berpikir sebenarnya dibuat untuk menghindari kesalahan2 dalam
berargumentasi (fallacy). Beberapa contoh fallacy ini antara lain:

1. “Inconsistent”: Contohnya si A bilang “Sirah dan hadits tidak bisa
dipercaya karena banyak isinya yang tidak masuk akal”. Tapi ketika A
ditanya dari mana ia tahu adanya seorang Nabi yang bernama Muhammad,
atau dari mana ia tahu Qur’an yang ia percayai terjaga kemurniaannya
sejak zaman Nabi sampai sekarang, bila si A menjawab dengan basis
sirah dan hadith, ini namanya inkonsistensi. Kalau tidak percaya sirah
dan hadits, mengapa masih dipakai untuk dasar keimanannya?

Contoh lainnya adalah sikap misionaris yang ketika menghujat Nabi SAW
dengan leluasa menggunakan cuplikan2 hadits dan sirah sesukanya (Nabi
berpoligami, kisah2 dalam peperangan beliau, dlsb). Tapi ketika
ditunjukkan hadits dan sirah dari sumber yang sama, yang menunjukkan
tanda2 kenabian Nabi seperti mu’jizat2 beliau, mereka berkomentar
bahwa hadits dan sirah tidak bisa dipercaya karena dibukukan jauh
sesudah Nabi wafat. Kalau tidak bisa dipercaya, mengapa tadi masih
dipakai untuk menghujat Nabi?

Contoh lainnya adalah sikap yang membenarkan semua pendapat yang pada
kenyataannya jelas2 berbeda. Kalau ada orang yang bilang “Semua
interpretasi atau tafsiran agama adalah sah2 saja dan benar adanya
karena kebenaran itu relatif sifatnya”, maka ia harus bisa konsisten
untuk tidak menyalahkan pendapat yang menghalalkan terorisme membunuh
orang2 tak berdosa, atau pendapat2 yang menghalalkan sex bebas,
incest, dlsb, dengan alasan selama suka sama suka dan tidak merugikan
orang tidak ada salahnya. Apakah dua pendapat yang berbeda, yang satu
bilang halal, yang lain bilang haram, benar kedua2nya? Kalau kita mau
jujur, kita akan mengakui bahwa “logical circuit” dalam otak kita
jelas menolaknya.

2. “Incomprehensive”: Si A bilang “Orang Islam diajarkan Qur’an ayat
5:51 untuk membenci dan dilarang berteman dengan orang2 non-Muslim.”
Selain harus memiliki pengetahuan akan makna kata2, context maupun
historical perspectives, si A sebelum mengeluarkan penafsirannya akan
ayat tsb seharusnya tahu ada ayat2 Al Qur’an lain yang menjelaskan
lebih jauh mengenai hal serupa, misalnya 60:8. Pengetahuan yang
partial terhadap hal2 ini akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil
kesimpulan.

3. “Out-of-context”: Si A bilang “Dalam Al Qur’an ayat 9:5, orang
Islam diperintahkan membunuh orang2 musyrik di mana saja mereka
jumpai”. Si A seharusnya tahu konteks diturunkannya ayat tsb sebelum
mengambil kesimpulan demikian (yaitu peperangan Nabi dengan orang2
kafir Quraisy serta sekutu2 mereka yang memerangi umat Islam saat itu).

4. “Generalization”: Ini serupa dengan pepatah “Karena nila setitik
rusak susu sebelanga”. Si A menuduh Islam sebagai agama teroris karena
di antara pemeluk2nya tidak sedikit melakukan aksi terorisme dengan
dalih agama. Si A seharusnya tahu bahwa kalau dilihat persentasinya,
mayoritas umat Islam adalah umat yang cinta damai dan tetap berpegang
teguh pada prinsip2 agama yang jelas2 melarang aksi terorisme. Apakah
orang2 Kristen di barat rela kalau agamanya dituduh sebagai agama
penjajah “gold-glory-gospel” karena perlakuan sebagian kelompok mereka
terhadap bangsa2 di dunia?

5. “Double-standard”: Si A yang beragama Kristen bilang “Islam adalah
agama palsu karena Nabinya berpoligami”. Seharusnya si A tahu bahwa
Nabi2 yang diakui dalam agamanya sendiri berpoligami. Atau si B yang
mengutuk pembunuhan orang2 tak bersalah sebagai perbuatan terorisme,
tapi di lain waktu si B tidak mengutuk pembunuhan serupa malah
melabelnya sebagai “collateral damage”. Dengan menggunakan standard
yang sama, pembunuhan orang2 tak bersalah akan selalu dikutuk sebagai
tindakan terorisme, tidak peduli siapa korban dan siapa pelakunya.

6. “Straw-man” : menyerang argument yang sudah diubah bentuknya
(biasanya dicampur “half-truth” atau “twisted-truth”). Misalnya si A
menuduh “Al Qur’an merendahkan status wanita di bawah status laki2”.
Meskipun dalam Qur’an disebutkan “Laki2 adalah pelindung /pemimpin
kaum wanita” ini tidak berarti di dalam Islam status wanita itu lebih
rendah dari status laki2 karena masing2 memiliki role yang berbeda
dalam pandangan Allah SWT.

7. “Red-herring” : mengalihkan subject sehingga bukan membahas
argument yang tengah didiskusikan, tapi argument lainnya. Misalnya,
ketika si A ditanya tentang kontradiksi di dalam Bible, bukannya
menjawab pertanyaan tsb, si A malah membawa tuduhan banyaknya
kontradiksi di dalam Qur’an.

8. “Appeal to authority”: Si A bilang ke si B “Argument anda pasti
salah karena berlawanan dengan pendapat seorang professor yang ahli
dalam bidang ini”. Si A sudah men-shut-off the discussion hanya dengan
merefer ke authority yang dipercayainya, tanpa menjelaskan argument si
professor yang disebutnya tadi.

9. “Ad-hominem” (argument to the man): bukan argumentnya yang dibahas,
tapi yang diserang adalah pribadi lawan debat yang tidak berhubungan
dengan argument yang didebatkan. Misalnya, “Pendapat si A itu sudah
pasti salah karena si A itu tidak pernah sekolah di pesantren”, atau
“Ah, pendapat si B yang playboy kayak gitu kok dibahas!”. Padahal
logis tidaknya suatu argument tidak bisa ditentukan dari pribadi orang
yang berargument. Dalam beargumentasi, yang harus dilihat adalah
argumentnya, jangan diserang orangnya.

etc.

Kerangka berpikir hanyalah “tool” (framework) yang bisa digunakan
dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan
masalah2 agama, tapi juga masalah2 dalam hidup lainnya. Karena hanya
general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa
saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang2
non-Muslim orang2 Islam tidak memahami framework ini. Mungkin dengan
mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini,
metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama
dapat dimengerti, sehingga diskusi2 maupun debat2 dalam memahami agama
dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing2 pihak
yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan
perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari.

Wallahu’alam.

Mudah2an ada manfaatnya.


Wassalam,
Ridha

\—————————————————————-\

Too late Ridha….too late…gue  udah jadi orang murtad dan kafir..karena  nggak ada yang bisa diajak diskusi dengan logis ke gue.

MANUSIA-MANUSIA YANG HIDUP DI MASA KINI ADALAH KORBAN AMBISI POLITIK DAN HASIL MANIPULASI ORANG-ORANG DIMASA LALU !!. SEGALA SESUATUNYA YANG TIDAK RELEVAN TERUS MENERUS DIPAKSAKAN SEHINGGA TIMBUL KONFLIK ANTARA DOGMA AJARAN MASA LALU DAN KEINGINAN KAUM PEMIKIR BERDASARKAN LOGIKA DAN BUKTI EMPIRIS

42 Tanggapan to “email dari seseorang”

  1. Dukut Says:

    Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
    “Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.

    “Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.

    “Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)

    Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan.

  2. Axioma Says:

    Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma

    bahwasanya dia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu ia menyebut nama Allah ta’aala ketika masuk dan ketika menghadapi makanannya,

    maka syaitan akan berkata kepada teman-temannya: ‘Tidak ada tempat bermalam maupun makan malam untuk kalian di sini.’

    Tetapi sebaliknya, apabila ia masuk ke dalam rumahnya tanpa menyebut nama Allah pada waktu masuknya, maka syaitanpun akan berkata:

    ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam’. Dan bila ia tidak menyebut nama Allah ta’aala ketika menghadapi makanannya,

    maka syaitanpun berkata: ’Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam sekaligus’.”(HR Muslim 10/293)

  3. Dukut Nugroho Says:

    Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

    Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya

  4. Dukut Nugroho Says:

    Surat Untuk Calon Anakku

    oleh Malik Zahri

    Teruntuk calon anakku
    Yang masih tinggal di antara tulang sulbi dan tulang dadaku

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga Ananda sehat wal afiat di alam sana.

    Ayahanda sengaja menulis surat ini khusus untukmu.
    Meski Ayahanda tahu, kau belum bisa membaca dan membalas surat ini
    Karena di sana memang tidak ada sekolah.
    Namun, Ayahanda yakin kau memahaminya
    Karena kita satu jiwa
    Karena kau masih menyatu dalam tubuhku
    Dan terutama,
    Karena kau pasti cerdas seperti Ayahanda ….🙂

    Nak !
    Ayahanda sangat bergembira mendengar sabda Sang Baginda Rasul,
    Tentang doa anak shaleh yang pahalanya tak terputus, bahkan sesudah orang tuanya wafat
    Ayahanda tiba-tiba tersadar, sabda tersebut menuntut Ayahanda melakukan dua hal:
    Menjadi anak shaleh dan menjadikan Ananda sebagai anak yang shaleh pula

    Nak!
    Ayahanda sedang berusaha menjadi anak shaleh untuk kakek dan nenekmu
    Sulit memang, karena tiada amal ayahanda yang menandingi jasa mereka
    Tapi Ayahanda akan terus berusaha
    Tunaikan titah Baginda

    Ayahanda pun berharap
    Kau seperti itu untuk ayahbundamu kelak
    Mencintai, menaati dan menghormati
    Ibundamu ….. Ibundamu…… Ibundamu
    juga Ayahandamu ini
    Itulah mimpi Ayahanda
    Sebagaimana mimpi menjadikan rumah kita nanti bagaikan syurga
    Supaya syurga benar-benar menjadi rumah kita

    Tapi, Ayahanda merasa malu
    Ketika mendengar Khalifah kedua menyatakan
    Bahwa hak seorang anak dari ayahnya setidaknya tiga hal:
    Dipilihkan ibunda yang baik, Diberi nama yang baik serta diajarkan Al Qur’an.
    Malu …..
    Karena belum mempersiapkan diri
    Untuk menunaikan hakmu

    Nak!
    Kini Ayahanda sedang belajar memperdalam Al Qur’an
    Agar kelak bisa mengajarimu A… Ba… Tsa
    Agar kaupun menjadi Qur’an berjalan
    Yang menerangi mayapada

    O ya!
    Ayahanda juga sengaja membeli buku tentang nama-nama mulia
    Dengannya, Ayahanda sudah menyiapkan selaksa nama indah untukmu
    Agar kau tumbuh perkasa
    Dinaungi nama mulia
    Yang ia adalah doa

    Yang membuat Ayahanda bingung,
    Bagaiamana menunaikan hak pertama
    yang harus ditunaikan ketika Ananda belum melihat dunia
    Karena Ayahanda tidak tahu
    Apa kriteriamu tentang seorang ibu yang baik?
    Ayahanda juga tidak tahu
    Apakah kita memiliki selera yang sama …. :-)?

    Tapi, Ayahanda yakin kau sepakat dengan satu kriteria
    Bahwa calon ibumu nanti tidak boleh seorang yang shaleh
    Melainkan harus seorang Shalehah

    Karena jika kau memiliki Ibu yang Shaleh,
    Sepertimu, Ayahandapun tak kan kuat menahan tawa
    Melihat jenggot ibumu
    Yang gagah jelita ……🙂

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    Yang mencintaimu karena-Nya

    Calon Ayahandamu

  5. Dukut Nugroho Says:

    KISAH NYATA : HAKEKAT JILBAB

    Kisah ini saya dapat dari sahabatku yang bekerja di salah satu perusahaan asing, di Kaltim: Disini saya kutibkan kisah nyata seorang gadis yang menginjak remaja atau kerennya jaman sekarang (ABG) yang sebelumnya tidak karuan tingkah lakunya, namun setelah sadar akan kekeliruannya dan sudah mengerti “HIKMAH MEMAKAI JILBAB” Allah memanggilnya.

    Kisah nyata ini dari kawan saya bekerja.
    Kisah nyata ini semoga berguna bagi yang membacanya, terutama kaum Hawa, juga bagi yang punya istri, yang punya anak perempuan, adik perempuan, saudara perempuan, kakak perempuan, yang masih punya Ibu, yang punya keponakan perempuan… …..

    Sahabatku menceritakan:
    Ini cerita tentang adikku Nur Annisa , gadis yang baru beranjak dewasa namun rada Bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku , banyak teman cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang guru ngaji.

    Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh , tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita kita , malah teman teman Ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om , sering jalan jalan , masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan ” , bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat ibuku menangis , lirih terdengar doanya: “Ya Allah , kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “.

    Pada satu hari didekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang masih kecil kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri ,(bukan Effendy Khoiri lhoo)(entah nama aslinya siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid.

    Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah , hingga dijuluki si buta , bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku , dan dia bertanya sama aku: “Kak , memang yang baru pindah itu istrinya buta , bisu dan tuli ? “..hus aku jawab sambil lalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung kerumahnya”.

    Eehhh tuuh, anak benar benar datang kerumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku , kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi….eentah apa yang terjadi.?

    Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab ..yang panjang, lagi..rok panjang, lengan panjang…aku sendiri jadi bingung….aku tambah bingung ng campur syukur kepada Allah SWT karena kulihat perubahan yang ajaib..yah kubilang ajaib karena dia berubah total..tidak banyak lagi anak cowok yang datang kerumah atau teman teman wanitanya untuk sekedar bicara yang nggak karuan…kulihat dia banyak merenung, banyak baca baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah anak muda kaya gadis atau femina ganti jadi majalah majalah islam , dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku …tak ketiinggalan tahajudnya, baca Qur’annya, sholat sunat nya…dan yang lebihh menakjubkan lagi….bila teman ku datang dia menundukkan pandangan…Segala puji bagi Engkau ya Allah SWT jerit hatiku..

    Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan asing (PMA). Dua bulan aku bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga ibuku memanggil ku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun). Di pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah SWT agar Adikku di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha, ketika aku tiba di rumah, didepan pintu sudah banyak orang, tak dapat kutahan aku lari masuk kedalam rumah, kulihat ibuku menangis, aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku, sambil tersendat sendat ibuku bilang sama aku: “Dhi, adikkmu bisa ucapkan dua kalimat Syahadah diakhir hidupnya “..Tak dapat kutahan air mata ini…

    Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya..diary yang selalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur kala kulihat sewaktu almarhumah adikku masih hidup, kemudian kubuka selembar demi selembar…hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku..perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu Khoiri…disitu kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggakku, isinya seperti ini :

    Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas tetesan airmata ):

    Annisa : Aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari), ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik.

    Istri tetanggaku : Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati.

    Annisa : Tapi ibu kan udah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik.

    Istri tetanggaku : Subhanallah, sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT dan bila Allah SWT berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya.

    Annisa : Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam macam dan kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku nggak pernah mau untuk pakai jilbab, menurut ibu bagaimana?

    Istri tetanggaku : Duhai Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT diakhirat nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita.

    Annisa : Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan.

    Istri Tetanggaku : Jilbab hanyalah kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami.

    Annisa : Apa itu hakekat jilbab ?

    Istri Tetanggaku : Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (ghosib) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat.

    Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab.

    Annisa : Ibu aku jadi jelas sekarang dari arti jilbab, mudah mudahan aku bisa pakai jilbab, namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya.

    Istri tetanggaku : Duhai Anisa bila kamu memakai jilbab itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rahmat, yang Maha Penyayang, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan amalan jilbab hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT.

    Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh roh manusia seperti anai anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan.

    Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada dialam ini.

    Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah SWT murka, belum pernah Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah SWT dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab.

    Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal dihari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah SWT. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!!

    Sampai disini aku baca diarynya karena kulihat, berhenti dan banyak tetesan airmata yang jatuh dari pelupuk matanya, Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan, kemudian kulihat tulisan kecil di bawahnya: buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT, wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, ghosib dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia tak tahan airmata ini pun jatuh membasahi diary.

    Itulah yang dapat saya baca dari diarynya, semoga Allah SWT menerima Adikku di sisinya, Amin , Subhanallah.

    Bapak-Bapak, Ibu-ibu, Saudara-Saudaraku, adik-adikku dan Anak-anakku yang dimuliakan oleh Allah SWT. Khususnya kaum hawa. Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita , bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap dihati yang membacanya dan semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk, memberi Rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya.

    Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman kita untuk menjalankan (memenuhi) segala perintah-Nya dan menjauhi segala apa-apa yang dilarang-Nya, dan mendapat derajat takwa yang tinggi, selamat didunia sampai di akhirat nanti, mendapat pertolongan dan syafa’at di hari yaumul hisab dan mendapat surga yang tinggi, amien. Wallaahu a’lam bish shawab, billaahi taufik wal hidayah. Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    Bila anda mau beramal saleh, kertas ini setelah dibaca jangan disobek, berikan kepada orang lain agar dibaca, supaya menambah iman dan taqwa mereka, insya Allah.

  6. dukut nugroho Says:

    hasbunallah wani’mal wakil ni’mail maula wani’mal wani’man nasyir

  7. Dukut Nugroho Says:

    renungan untuk suami dan istri
    fdsfsd
    fsdfsd
    fsdfdsf
    fsdfsdfds

    Pernikahan akan menyingkap tabir rahasia kalian berdua..

    Untuk suami, renungkanlah..
    Istri yang kami nikahi tidaklah semulia Khadijah..
    Tidaklah setaqwa Aisyah..pun setabah Siti Hajar.
    Istrimu hanya wanita akhir zaman yang bercita menjadi solehah..

    Istri menjadi tanah..kamu langit penaungnya..
    Istri adalah murid..kamu mursidnya..
    Istri bagaikan anak kecil.. kamu tempat bermanjanya..

    Seketika istri menjadi racun..kamulah penawar bisanya..
    Seandainya istri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya..

    Untuk Istri Renungkanlah..
    Suami yang kamu nikahi tidaklah semulia Muhammad SAW..
    Tidaklah sekaya Sulaiman, apalagi setampan Yusuf
    Suamimu hanya pria akhir zaman yang bercita keluarga sakinah..

    Suami pelindung..kamulah penghuninya..
    Suami adalah nahkoda kapal..kamu navigatornya..
    Suami bagai balita yang nakal.. kamu penuntun kenakalannya..

    Seketika suami menjadi bisa ..kamu penawar obatnya..
    Seandainya suami masinis yang lancang..sabarlah memperingatinya..

    Duhai suami istri…
    Pernikahan menginsyafkan kalian untuk meniti sabar dan ridha ALLAH SWT
    Karena ketidaksempurnaannya justru kalian akan tersentak dari alpa..
    Kamu bukanlah Rasullulah dan bukanlah Khadijah..
    Cuma insan akhir zaman yang berusaha menjadi manusia taqwa.

  8. dukutnugroho Says:

    ” !!!!!!!!!!!! dukut nugroho 3278423423hdjahdauda

    Waspada Minyak Goreng Campur Oli Bekas
    Indonesia pernah tercatat sebagai salah satu negara pemalsu terbesar. Meski sedih tapi apa mau dibilang kalau kenyataan memang demikian.
    Mulai dari avtur palsu (dicampur air), baso palsu (berformalin, berdaging tikus), beras palsu (pakai pemutih), daging ayam palsu (tiren), daging sapi palsu (glonggongan, direndam darah, berformalin, dioplos dengan daging celeng), gorengan crispy palsu (sedotan, kemasan plastik ikut dilelehkan dalam minyak goreng panas), semangka manis palsu (disuntik pemanis buatan), susu murni palsu (dioplos santan dan air kaporit), telur asin palsu (dicat dan disuntik air garam), terasi palsu (campur nasi aking atau dedak), ikan palsu (berformalin) , jamu tradisional palsu (campur obat keras jenis G penyebab gagal jantung/ginjal/ hati), permen coklat palsu (diisi narkoba), susu Formula ‘palsu’ (mengandung bakteri enterobacteri sakazaki). Dan, masih banyak palsu-palsu yang lain yang sangat mendukung predikat tidak terpuji.
    Bahkan berita terbaru yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta tentang terulangnya praktek kecurangan terhadap minyak goreng yang dioplos dengan oli bekas kendaraan bermotor. Padahal peristiwa yang sama sempat marak di bulan Mei lalu. Pertanyaannya kenapa hal serupa menjadi marak lagi sekarang?
    Apakah Balai POM dan pihak Kepolisian sudah tuntas mengusut pelakunya. Rasanya setiap detik hidup kita terkepung dalam bahaya terselubung. Konsumen selalu terbebani keresahan dan kekhawatiran akan produk yang akan dibeli. Apalagi di saat-saat seperti ini semua bahan kebutuhan pokok sudah merangkak naik. Maka ibaratkan makan buah simalakama. Ingin berhemat dengan membeli minyak goreng curah yang per kilo 8-9 ribuan tapi dengan risiko terjebak minyak goreng oplosan. Atau membeli minyak yang bermerek yang notabene lebih sehat yang sudah berada di kisaran Rp 12.000/liter sedangkan kebutuhan lain juga turut mendesak.
    Walhasil lagi-lagi konsumen tidak ada pilihan dan tetap membeli minyak goreng curah karena harga yang terjangkau. Padahal kerap kali minyak goreng itu selain dikonsumsi sendiri juga digunakan sebagai modal usaha bagi pedagang makanan gorengan, warung-warung tepi jalan, dan penjual aneka penganan di pasar-pasar, stasiun kereta api, terminal bus, dan fasilitas umum yang lain.
    Berikut ini informasi yang didapat langsung dari lapangan dan oknum pelaku kecurangan yang bisa kita simak sebagai pengetahuan agar kita lebih waspada dan tidak terjebak sebagai korban pemalsuan minyak goreng lagi..
    Teknik Pengoplosan
    Pelaku mengumpulkan minyak jelantah (minyak bekas menggoreng) dari para penjual makanan gorengan dengan harga Rp 1000 – 2000/kg. Oli bekas kendaraan bermotor didapat dari bengkel mobil dan sepeda motor secara gratis.
    Jelantah dan oli bekas dipanaskan di tempat yang berbeda sampai terpisah antara endapan dan cairan beningnya kemudian masing-masing disaring. Minyak jelantah yang sudah terpisah disaring dan kemudian ditambahkan tepung terigu dan mentega dengan takaran suka-suka dan dimaksudkan supaya warna dan tampilannya mendekati minyak goreng murni.
    saat dicampur oli dan minyak
    Terakhir oli bekas yang juga sudah disaring ditambahkan ke dalam minyak goreng tadi dengan maksud menambah jumlah volume sehingga semakin banyak hasil yang diperoleh. Bahkan, tidak tanggung-tanggung pelaku juga menambahkan zat kimia semacam Hidrogen beroksida. Dan, semua itu membutuhkan modal hanya Rp 6000/liternya dan mereka menjual kembali kepada penjual di pasar mendekati harga normalnya Rp 10.000 sampai dengan 11.000/liter. Dan dijual dalam kemasan plastik 1 kiloan atau per jerigen.
    hasil produksi
    Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bisa mereka dapat dengan penjualan minyak racikan berbahaya ini. Semisal (50 kilo/hari x Rp 4000) 30 hari = Rp 6.000.000/bulan. Bisa dibayangkan berapa ratus orang yang akan dirugikan dan terancam penyakit mematikan. Kanker, ginjal, hati dengan 50 kilo minyak goreng berbahaya itu.
    Hasil Penelitian Bapak Mohamad Bachir selaku kepala Associate Laboratories menyatakan bahwa hasil uji lab terhadap minyak goreng oplosan mengandung senyawa berbahaya (baca: racun) lebih tinggi dibanding minyak jelantah biasa. Kadar Senyawa itu memicu sel kanker menjadi ganas.
    Cara Mengenali
    Mengenali minyak goreng oplosan di pasaran memang tidaklah mudah. Tapi, tetap kita bisa membedakannya apabila kita mau jeli. Berikut ini tips mudah untuk mengenalinya:
    – Berbau tengik.
    – Berwarna lebih gelap dari minyak goreng asli.
    – Terdapat endapan didasar minyak (berasal dari tepung terigu).
    – Timbul buih dan berasap saat dipanaskan.
    Keanehan di atas tidak ditemukan pada minyak goreng asli yang sehat.
    berbekal pengetahuan di atas semoga konsumen bisa lebih jeli terhadap produk-produk palsu yang merugikan dan membahayakan kesehatan keluarga dan saudara-saudara kita. Dan sudah seharusnya pemerintah segera mengatur tata niaga tentang pembuatan dan izin edar minyak goreng karena sampai saat ini minyak goreng masih termasuk niaga bebas dan pengawasannya memang tidak ketat.
    Sedang untuk produk-produk palsu lain segeralah pemerintah bertindak tegas dan tidak setengah-setengah karena korbannya anak bangsa sendiri… Semua instansi terkait hendaknya bergerak cepat dan jangan menunggu sampai terulang kasus serupa. Dan masyarakat juga berperan aktif memberikan informasi apabila ditemukan pemalsuan di sektor mana pun.”
    Semoga info di atas dapat bermanfaat bagi teman2 dan saya juga ingin sampaikan bahwa saya memiliki solusi untuk “memagari” tubuh kita ini dari berbagai ancaman toxic/ racun yang dapat masuk melalui udara dan makanan serta minuman yang kita konsumsi sehari-hari, yaitu melalui terapi oksigen, dengan cara mengkonsumsi air sehat yang menyehatkan (bahkan 0% kandungan mineral) yang mengandung oksigen tinggi yang merupakan produk nasional sejak tahun 5 tahun yang lalu.

  9. dukut nugroho Says:

    Subject: Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban.

    Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Sya’ban, kemudian akan segera menyongsong bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, semoga kita bisa lebih meningkatkan ibadah baik yang wajib maupun sunnah.

    Keutamaan bulan Sya’ban berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Bulan Sya’ban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal oleh Tuhan. Aku menginginkan saat diangkat amalku aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Nasa’I dari Usamah)

    Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi Muhammad sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Di antara rahasia kenapa Nabi Muhammad saw banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana sholat rawatib adalah sholat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi sholat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan.

    Hikmah di balik puasa Sya’ban adalah:

    1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkala manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”
    2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban. Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.
    3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut. “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari).
    Wallahu a’lam.

  10. dukutnugroho Says:

    > KEBENARAN YANG TERUJI
    > Today at 7:22am
    > Ini adalah kisah nyata dari Faradhita dan sahabatnya seorang pengusaha
    > hiburan, pendukung dan donatur abadi Rumah Yatim Indonesia seorang
    > Helmy Yahya…
    >
    > Saat itu bulan ramadhan . Aku berada di Palembang bersama mitraku,
    > Helmy yahya. Kami sedang melakukan perjalanan untuk bertemu dengan
    > maestro pujaanku, untuk sebuah pekerjaan idealis. Kami akan bertemu
    > dengan pengarang lagu anak legendaris , AT Mahmud.
    >
    > Terdengar bunyi telpon yang langsung diangkat helmy dengan speaker
    > mode..”boz, kita belum dapat talent buat acara naik haji
    > gratis..”suara di seberang telpon terdengar galau. “Kok bisa?, “helmy
    > berkata dengan nada tinggi, “sudah 3 hari shooting kok bisa gak
    > nemu?”. Setelah itu helmy diam mendengarkan argumen dari teamnya yang
    > panjang. Wajahnya memerah. Bibirnya merapat dan jari tangannya
    > didekatkan dan di gigit. Itu kebiasaanya kalau panik.
    >
    > “Untung lagi di palembang, saya gak tau kalau ada anak triwarsana
    > disini. Kita ke tempat shooting dulu”, demikian sebuah kata terucap
    > dari mulutnya dan setelah itu diam. Setiba di lokasi, sebuah rumah
    > yang disewa sebagai tempat tersembunyi dari hidden kamera yang sedang
    > menguji kelayakan seorang talent untuk berangkat di hajikan gratis
    > sesuai thema acara tersebut.
    >
    > Helmy memiliki standard yang ketat. Seseorang tersebut bukan “layak”
    > bukan karena rekomendasi dari orang lain saja tapi dia harus lulus
    > test. Ini memang memakan biaya, memang memakan waktu. Tapi inilah
    > kesempurnaan yang menjadi cirinya.
    >
    > “Mana data shooting talent hidden kamera”, kemarin kemarin katanya
    > lagi. Dalam sekejap kami menyaksikan video rekaman para talent
    > tersebut di test berbagai cara. Dengan hidden kamera kita
    > memperhatikan. Ustad ini, bapak anu, ujung2nya tidak ada yang layak.
    > Lalu..saya disuruh menilai. “Faradhita..kamu lihat tuh yang ditest pas
    > sebelum jumatan..dua ustad..,”helmy keluar dengan muka merah. Aku
    > menurut perintahnya dan menyaksikan.
    >
    > Biasa kami menggunakan penguji si rini, specialis penguji. Cantik,
    > dewasa, anggun. Lengkap dengan jilbab dan kerendahan hatinya. Dia
    > melakukan aksi ujiannya. Di depan ustad yang dimaksud dia datang jam
    > 11.30, lalu berkata,” saya ada masalah dengan perkawinan, suami
    > saya..” dan seterusnya dia bercerita sangat meyakinkan.
    >
    > Sang ustad talent mulai berdalih, mulai mewejang, dan menyaksikan
    > adegan tersebut… aku sebagai wanita tahu sekali mimik wajah dan
    > gerak mata seseorang yang ber”minat”. Darahku naik..”kok begini
    > sih?”..ini orang yang terpandang didaerahnya yang direkomendasi banyak
    > orang. Menggeser duduknya dekat-dekat si rini. Hidden kamera menangkap
    > seluruh adegan dengan jelas. Dan yang mengherankan…dia abaikan
    > sholat jumat. Huh..hilang sudah rasa di hati, dasar buaya”, aku
    > berkata dalam hati.
    >
    >
    > Di video satunya. Setali tiga uang sama saja, malah pake pegang-pegang
    > pundak si rini. Setiap berapa kalimat menyentuh apalah bagian tubuh si
    > rini, tangan, seperti menepis kotoran dari jilbab, yang rasanya gak
    > ada apa-apanya. Darah emosiku memuncak. “Gile nih..sama aja..dasar
    > bandot semua”.,Aku mendadak sangat marah. Aku wanita, tahu banget niat
    > laki-laki macam itu,emosi banget.
    >
    > Aku keluar ruang. Helmy nafasnya turun naik dengan cepat. “Gila
    > nih..besok harus naik tayang jam 4 sore belum ada talent. Dimana
    > rini?”.
    >
    > “Lagi ada talent, deket sini pak,” seorang staf triwarsana menjawab.
    >
    > “Nih, lagi kita test. Live tuh di ruang belakang”. bergegas kami
    > melihat. Seluruh krew berharap harap cemas. Muka semuanya tegang.
    > “Jauh ga k dari sini”, tanyaku. “Engak mbak, paling 500 meter”, Jawab
    > manajer helmy, ibrahim. “Siapa dia”,tanyaku lagi..”dia guru bahasa
    > indonesia, kalo sore ngajar ngaji”. “Oh..”,jawabku singkat.
    >
    > Dalam monitor.Terlihat seorang bapak sedang duduk, kelelahan. Habis
    > mengajar ngaji dia. Di masjid. Masuk si rini. Dengan gaya nya yang
    > meyakinkan dia berkata,” pak, saya ada anak angkat usianya 8 tahun
    > kelas 2 SD. Saya sudah tidak kuat merawatnya”. Dipotongnya kalimat
    > ditambah emosinya..”nakal banget pak. Saya mau buang, saya mau kasih
    > bapak saja.” Si rini menyelesaikan kalimatnya dengan muka memerah. Dan
    > membetulkan jilbabnya. Sehingga seluruh lekuk tuhnya sengaja terbentuk
    > kesan seksi.
    >
    > Sang bapak membuang muka, kemudian menunduk sambil menjawab, “aku
    > terima “..”maksud bapak?”, Kata rini lagi.
    > “Ya , sini anak itu, aku rawat dia, ini pasti kehendak Allah. Aku
    > ikhlas”, Dia menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya.
    > Muka rini yang terlihat gugup, “boleh saya beri anak itu hari ini?
    > Rumah kami jauh di tujuh ulu”, rini menambahkan bobot ceritanya.
    > Sang bapak memiringkan pantatnya, di rogoh sakunya, ada uang ribuan
    > berlembar-lembar..kira-kira 15 lembah dia berkata,” uangku hanya
    > segini”.diberikan ke rini semua..”kamu ambil angkot bawa anak itu
    > kemari..”,tuturnya dengan santun.
    > Setiap adegan itu kami saksikan dengan tegang, bahkan penduduk sekitar
    > mulai menggerombol ditempat kami. Sesak udara ruangan monitor. “Ayo
    > kita kesana, full kamera”, kata helmy memecah ketegangan.
    >
    > Bergegas kami berangkat. Penduduk sekitar mengikuti gerak krew
    > sebanyak 15 orang 3 kamera, 2 sound boom. Sangat menarik perhatian
    > warga kampung sekitar. Setiba kami di lokasi masjid. Kamera langsung
    > keluar dari segala penjuru. Sang bapak terkejut. Wajahnya bingung.
    > Kemudian helmy yahya muncul dengan mengatakan,” alhamdulillah bapak
    > dapat hadiah naik haji gratis!”
    >
    > Sang bapak terkejut bukan main..wajahnya tergetar..giginya
    > bergemerutuk..tak bisa berkata-kata. Bersujud disajadah berkali-kali.
    > Dan selang beberapa menit hadir penduk sekita kira-kira 5000an warga
    > kampung sekitar tersebut tanpa komando mengumandangkan, “Labaik
    > allauhumma labaik..” 5000 orang lebih meneriakkan kata-kata tersebut
    > berulang..bergetar kami semua.
    >
    > Airmataku turun tanpa sebab..aku bertanya pada seorang ibu berdiri
    > sambil menangis..”siapa dia bu? “,Tanyaku.
    >
    > .”oh dia pak Rahmat. Dia guru bahasa indoneia di SD sini. Setiap bulan
    > dia memberikan setengah dari gajihnya untuk membayar anak-anak dengan
    > permen dengan apapun supaya mereka mau mengaji”, jawab sang ibu sambil
    > menggendok anaknya yang sudah agak besar.
    >
    > “Setengah? “,Aku terperanjat
    >
    > “Iya mbak”, lanjut ibu tadi, “Dan itu dia sudah lakukan 25 tahun
    > kira-kira, saya adalah muridnya pertama-tama, karena sangat miskin
    > kami tak sanggup belajar tapi dia membimbing kami. Sekarangpun anak ku
    > belajar ngaji sama pak rahmat. Dan masih diberi bonus hadiah supaya
    > rajin mengaji”.
    >
    > Aku tersentak. Aku menyaksikan seorang bapak, yang lagi dipakaikan
    > kain ihrom. Di kumandangkan talbiah, labaik Allamulabaik oleh separuh
    > warga kampung yang mencintainya..di arak beramai-ramai dari masjid
    > kerumahnya.
    >
    > Tempat kediamannya berjarak 200 meter dari masjid. Untuk dipamitkan
    > dan mohon izin ke sang istri. Setiba dirumah yang masih beralas
    > tanah..sepasang suami istri renta berpelukan..aku masih mendengar sang
    > bapak berkata,” Allah mengabulkan doa kita bu..aku berhaji..aku yang
    > miskin ini berhaji…suaranya lirih..mohon izin ya …”
    >
    >
    > Tersungkur di tanah aku sambil mendengar kata-katanya..”Terima kasih
    > Tuhan..terima kasih..masih ada orang seperti pak Rahmat engkau sisakan
    > untuk kami….” tak henti-henti aku bersyukur.
    >
    >
    >
    > Catatan : sekarang pak Ustad Rahmat mengelola RYI di Kupang NTT , Jl
    > Tablolong KM 11 kel. Batake, kupang barat
    >
    >
    > kiriman Hariadi Tjahjono
    >
    > Dicopy dari Kisah Kisah Inspiratif

  11. dukut Nugroho Says:

    GOLONGAN PENGHUNI AL JANNAH TANPA HISAB DAN TANPA ADZAB

    Diantara rukun iman yang wajib untuk diimani oleh kaum mukminin adalah beriman kepada hari akhir. Bahwa segala yang ada di dunia ini adalah fana dan tiada yang kekal, tapi bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tapi menuju ke alam berikutnya yaitu hari akhir, suatu kehidupan yang kekal tiada berakhir.emua jiwa pasti akan kembali kepada pemilik dan penciptanya yaitu Allah ?. Setelah ditiup sangkakala yang kedua seluruh manusia dibangkitkan dari kuburan- kuburan mereka dalam keadaan tidak membawa apa pun, tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan juga tidak berkhitan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah, bahwa baginda Rasulullah ? bersabda:

    يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقَيَامَةِ
    حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً

    “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan tidak berkhitan.”
    Kemudian Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah seluruh para wanita dan laki-laki seperti itu, sehingga saling melihat diantara mereka? Beliau ? menjawab:

    يَا عَائِِشَةُ ! الأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ

    “Wahai Aisyah! Kondisi waktu itu amat ngeri dari pada sekedar melihat antara satu dengan lainnya.” (H.R. Al Bukhari no 6527 dan Muslim no.
    2859)
    Setelah itu manusia dikumpulkan di padang mahsyar menanti penghisaban
    (perhitungan) semua amal perbuatannya selama hidup di dunia. Allah ?
    berfirman (artinya): “Sesungguhnya kepada Kami-lah mereka akan kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (Al Ghasyiyah: 25-26) Tahap penghisaban amal perbuatan manusia dipadang mahsyar merupakan bagian adzab dari Allah ? terhadap siapa yang dihisap pada hari itu.
    Rasulullah ? besabda:

    مَنْ حُوْسِبَ يَومَ الْقِيَامَةِ
    عُذِّبَ

    “Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat bararti dia telah marasakan adzab.”
    Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah ? bukankah Allah ? telah berfirman
    (artinya): “(Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanan)
    maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.”(Al Insyiqaq:
    Rasulullah ? menjawab:

    إِنَّمَا ذَالك الْعَرْضُ مَنْ
    نُوْقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَ
    الْقِيَامَةِ عُذَِّبَ

    “Sesungguhnya itu adalah sekedar memperlihatkan amalannya, tetapi barangsiapa yang diperiksa penghisabannya pada hari kiamat berarti dia telah merasakan adzab.” (H.R. Muslim no. 2876) Pada hari penghisaban saja sangat mengerikan dan tersiksa. Bagaimana lagi dengan bentuk adzab dari Allah ? di neraka jahannam nanti.
    Rasulullah ? telah menggambarkan tingkatan neraka yang paling ringan, sebagaimana dalam hadits yang shahih:

    إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ النَّارِ
    عَذَابًا يَنْتَعِلُ بِنَعْلَيْهِ مِنْ
    نَارٍ يَغْلِي دِمَاغُهُ مِنْ
    حَرَارَةِ نَعْلَيْهِ

    “Sesungguhnya adzab yang paling ringan bagi penghuni neraka adalah seseorang yang bersandalkan dengan api neraka, maka mendidihlah otaknya disebabkan dari panas kedua sandalnya.” (H.R. Muslim no. 211) Namun Allah ? Al Ghaffur (Yang Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Yang Maha
    Pengasih) telah membentangkan rahmat-Nya yang amat luas. Diantara rahmat Allah ? telah memberikan petunjuk kepada manusia tentang jalan yang dapat mengantarkan ke dalam al janah tanpa hisab dan adzab. Jalan tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah ? dalam haditsnya:

    يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي
    سَبْعُوْنَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ
    وَلاَ عَذَابٍ (وَفِي رِوَايَةٍ :
    تُضِيْءُ وُجُوْهُهُمْ إِضَاءَةَ
    الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ)

    “Akan masuk al jannah dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab dan adzab (dalam riwayat lain; wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama.”
    Kemudian Rasulullah ? berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para shahabat Rasulullah ? menduga-duga siapakah golongan mereka itu.
    Diantara para shahabat ada yang menduga; “Semoga mereka adalah orang- orang yang menjadi shahabatnya”. Yang lainnya mengira; “Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan perkiraan-perkiraan yang lainnya.
    Kemudian Rasulullah ? keluar dari rumahnya dan mengkhabarkan sifat golongan yang bakal menjadi penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab.
    Beliau ? bersabda:

    هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَكْتَوُوْنَ
    وَلاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَ لاَ
    يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ
    يَتَوَكَّلُوْنَ

    “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit), tidak meminta ruqyah, dan tidak pula berfirasat sial (dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka.”
    Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata: “(Wahai
    Rasulullah) berdo’alah kepada Allah supaya aku termasuk golongan mereka. Rasulullah ? bersabda: “Engkau termasuk dalam golongan tersebut. (H.R. Al Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 374) Dalam riwayat Al Imam Ahmad 2/359 dan lainnya, Rasulullah ? bersabda:

    فَاسْتَزَدْتُ رَبِّي فَزَادَنِي مَعَ
    كُلِّ أَلْفٍ سَبْعِيْنَ أَلْفًا

    “Maka aku meminta tambahan dari Rabb-ku, sehingga Allah menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang.” (Lihat Ash Shahihah no. 1486) Dalam riwayat di atas menunjukkan luasnya rahmat Allah ?. Karena Allah ? telah menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang. Demikian pula Allah tidak mengkhususkan yang berhak meraih keutamaan tersebut hanya bagi para shahabat Rasulullah ? atau orang yang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan sebagaimana yang dikira para shahabat Rasulullah ?. Namun Allah ? membuka lebar-lebar pintu rahmat kepada siapa yang berupaya menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut dia lah yang berhak meraih al jannah tanpa hisab dan tanpa adzab. Semoga Allah ?
    menjadikan kita termasuk golongan mereka.

    Ciri Ciri Golongan Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab Dan Adzab 1. Tidak Meminta Kay Kay adalah praktek pengobatan dengan cara menempelkan besi atau semisalnya yang telah dipanaskan pada bagian tubuh yang sakit. Telah datang beberapa riwayat dari Rasulullah ? dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah ? sendiri pernah melakukan praktek pengobatan dengan mengkay shahabat As’ad bin Zurarah ? (dalam riwayat At Tirmidzi no.
    2050). Tetapi Rasulullah ? juga bersabda:

    الشِفَاءُ فِي ثَلاَثٍ : شُرْبَةِ
    عَسَلٍ وَشَرْطةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ
    نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَي
    (وَ فِي لَفْظٍ : وَمَا أُحِبُّ أَنْ
    أَكْتَوِي)

    “Penyembuhan itu dengan tiga hal: minum madu, berbekam, dan kay, tetapi aku melarang umatku dari pengobatan kay. Dalam riwayat lain; Dan aku tidak mencintai pengobatan dengan kay. ” (H.R. Al Bukhari no.
    5680)
    Hadits-hadits di atas menunjukkan hukum pengobatan dengan kay adalah boleh tapi makruh (dibenci), sehingga yang lebih utama adalah ditinggalkan. Karena Rasulullah ? mencintai umatnya untuk meniggalkan pengobatan dengan cara kay. Terlebih lagi berobat dengan kay bisa menjadi penghalang untuk masuk ke dalam al jannah tanpa hisab dan adzab.
    2. Tidak Meminta Ruqyah
    Ruqyah adalah praktek pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an atau nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada si penderita. Karena seluruh ayat-ayat Al Qur’an itu sebagai obat hati dan jasmani.
    Allah ? berfirman (artinya): “Dan Kami menurunkan Al Qur’an itu sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al Isra’:
    82)
    Namun yang menjadi penghalang untuk masuk bagian dari golongan penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab ini khusus bagi orang yang meminta ruqyah bukan yang meruqyah dirinya sendiri ataupun orang lain yang meruqyahnya tanpa ada unsur permintaan darinya. Adapun kalau dia sendiri meruqyah itu memang perkara yang lebih utama, karena dia telah bertawakkal penuh kepada Allah ? dan menjauhkan dirinya dari bergantung kepada selain Allah ?. Demikian pula orang lain yang meruqyah tanpa unsur permintaan dari si penderita itu pun tidak mengapa. Karena konteks hadits itu adalah وَلاَ يَسْتَرْقُوْنَ yang bermakna tidak meminta ruqyah.
    Sesungguhnya malaikat Jibril pernah datang kepada Rasulullah ? lalu
    berkata: “Wahai Muhammad, apakah engkau lagi sakit? Rasulullah ?
    menjawab: “Ya. Kemudian malaikat Jibril meruqyahnya tanpa permintaan dari nabi ?. (H.R. Muslim no. 2186) Rasulullah ? juga pernah ditanya tentang meruqyah, maka beliau ?
    bersabda:

    مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ
    يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

    “Barangsiapa diantara kalian yang dapat memberikan manfaat bagi saudaranya, maka lakukanlah.” (H.R. Muslim no. 2199) 3. Tidak Bertathayyur Tathayyur adalah sikap berprasangka sial yang disandarkan kepada sesuatu yang dilihat atau pun yang didengar. Misalnya, kebiasaan orang Arab terdahulu bila hendak safar (berpergian) melihat arah terbangnya burung. Bila terbang ke arah kanan maka safar akan dilakukan, sebaliknya bila terbang ke arah kiri menujukkan kesialan maka safar dibatalkan. Begitu pula ada sebagian orang yang menganggap sial atau pertanda akan ada musibah bila mendengar suara burung gagak di malam hari atau bila melihat cecak jatuh. Diantara waktu-waktu, hari-hari, atau bulan-bulan pun ada yang dianggap sial untuk diselengarakan acara- acara tertentu. Dan sebagainya dari tanda-tanda yang dianggap sial yang tersebar dimasyarakat kita.
    Tathayyur ini merupakan perbuatan terlarang. Karena telah menyandarkan kesialan kepada sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis dan sebab musababnya. Termasuk aqidah kaum muslimin beriman kepada taqdir Allah ?. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tarjadi atas kehendak Allah ? semata. Bila Allah ? menghendaki sesuatu pasti akan terjadi, dan sebaliknya bila Allah ? tidak menghendaki sesuatu pasti tidak akan terjadi. Sehingga orang yang bertathayyur itu telah mengurangi nilai tawakkalnya kepada Allah ?
    karena ia menyangka bahwa ada selain Allah ? yang bisa mendatangkan kesialan. Padahal Allah ? berfirman (artinya): “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu merupakan taqdir Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (Al A’raf: 131) 4. Bertawakal Kepada Allah ?
    Bahwa sifat yang kempat ini merupakan buah dari tiga sifat sebelumnya.
    Maksudnya, dengan meninggalkan pengobatan kay, meninggalkan untuk meminta ruqyah dan meninggalkan tathayyur menunjukkan kemurnian tawakkal dia kepada Allah ?. Karena dia telah melepas dari segala ikatan-ikatan ketergantungan kepada sesuatu selain Allah dan menyandarkan nasib dan hasilnya itu hanya kepada Allah ?. Sehingga barangsiapa yang benar-benar bertawakkal kepada Allah ?, niscaya Allah ? sebagai pencukupnya di dunia dan di akhirat kelak nanti akan digolongkan sebagai pewaris al jannah tanpa hisab dan tanpa adzab.
    Allah ? berfirman (artinya):
    “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia sebagai pencukup baginya.” (Ath Thalaq: 3) Para pembaca, bukan berarti Islam melarang untuk berobat. Sesungguhnya sifat penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab itu karena mereka meninggalkan pengobatan yang dibenci (makruh) disaat sangat membutuhkannya dengan mencukupkan dirinya untuk bertawakkal hanya kepada Allah ?. Adapun berobat dengan sesuatu yang tidak dilarang maka tidak mengurangi tawakkal dia kepada Alah ?.
    Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah ?: “Wahai Rasulullah ?
    bolehkah aku berobat? Rasulullah ? seraya menjawab:

    نَعَم، يَا عِبَادَ اللهِ تَدَاوُوا !
    فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وُضِعَ لَهُ شِفَاءٌ غَيْرُ دَاءٌ وَاحِدٌ

    “Tentu, wahai hamba Allah berobatlah kalian. Karena Allah ? tidak menciptakan penyakit melainkan pasti diciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit.”
    Kemudian para shahabat bertanya: “Apa itu (Wahai Rasulullah)?
    Rasulullah ? menjawab: “Penyakit pikun (karena ketuaan).” (H.R.
    Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram hal. 147)

    Sent via OS 3.0

  12. dukut Nugroho Says:

    12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan

    Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.

    Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:

    الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء

    “Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.”(Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)

    Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.

    Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau.

    Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.

    Hadits 1

    صوموا تصحوا

    “Berpuasalah, kalian akan sehat.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).

    Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).

    Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

    Hadits 2

    نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

    “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).

    Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).

    Terdapat juga riwayat yang lain:

    الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه

    “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).

    Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.

    Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.

    Hadits 3

    يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

    “Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115)

    Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib(2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah(871) bahwa hadits ini Munkar.

    Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

    من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه

    “Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)

    Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja.

    Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar, sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan.

    Hadits 4

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم

    “Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab(4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)

    Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.

    Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:

    اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين

    “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

    Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.”

    Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallamterdapat dalam hadits:

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

    “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:

    ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

    /Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/

    (’Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.

    Hadits 5

    من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله

    “Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni diSunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).

    Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami diMajma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.

    Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)

    Hadits 6

    لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان

    “Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310).

    Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768).

    Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’.

    Hadits 7

    أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر

    “Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”

    Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).

    Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.

    Hadits 8

    رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي

    “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).

    Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334), dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi diTartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).

    Hadits 9

    من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر

    “Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”

    Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman(3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib(1/152)

    Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah(495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)

    Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:

    من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

    “Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

    Hadits 10

    رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب

    “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”

    Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalamAz Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.

    Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa(11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.

    Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.

    Hadits 11

    قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك

    “Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)

    Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalamDzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).

    Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:

    كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك

    Artinya:
    “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”

    Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalamTamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

    Hadits 12

    خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة

    “Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”

    Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at(1131)

    Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).

    Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits:

    من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه

    “Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057)

    Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna Jalla Sya’nuhu.

    وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

    ***

    Disusun oleh: Yulian Purnama
    Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar
    Artikel http://www.muslim.or.id

  13. Dukut Nugroho Says:

    Pisang Manis DiPinggir Kali,
    Dibuat Lepat Enak Rasanya,
    Qur’an dan Hadist Pusaka Nabi,
    Sebelum Wafat Rasul Bersabda”

    Dengan Nama ALLAH yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

    Bayangkan kejadian ini terjadi pada anda.. Suatu hari pada waktu Sholat Jum’at yang di hadiri oleh lebih kurang 1,000 jemaah… Tiba-tiba masuk dua orang lelaki yang menutupi seluruh tubuhnya dgn pakaian hitam.. semuanya tertutup yg nampak hanya kedua matanya dan membawa Senapan Mesin… lalu salah seorang lelaki tu berteriak dan memberi perintah:
    ” ….Barang Siapa Yang Sanggup MATI karena ALLAH silahkan berdiri di tempat”

    Setelah mendengar perintah lelaki itu maka segeralah berhamburan lari para jemaah Sholat Jum’at itu utk menyelamatkan diri.. dari jumlah yang 1,000 tadi tu hanya tinggal lebih kurang 20 orang saja yang masih berdiri di tempat
    masing-masing termasuk Pak Iman…
    Lelaki yang memberi perintah tadi segera membuka tutup mukanya, lalu melihat ke arah Pak Imam sambil berkata:
    “Ok Pak Iman, saya sudah mengusir SEMUA yang munafik, sekarang boleh Pak Iman memulai Sholat Jumaat”….
    Lalu kedua lelaki tersebut berpaling dan meninggalkan jemaah….

    Bagaimana…., apa yg anda rasakan dg membaca cerita diatas?

    ” Lucu….., dari 1,000 org yg mengaku dia Islam hanya 20 yg betul-betul beriman… ”

    “Lucu…. berapa banyak manusia yang mudah lupakan ALLAH bila menghadapi bahaya…
    kedua lelaki hanya membawa Senapan Mesin….
    dia tidak mengatakan ingin membunuh jemaah.. tapi generasi skrang.. amat lemah..
    baru kena gertak terus lari tunggang langgang. lupa pd sholat jum’atnya…”

    “Lucu…., ada juga yang agamanya cuma seminggu sekali.itu pun bila waktu sholat jum’at.. stor muka biar di bilang Islam kata org kampung… adalagi yg setahun 2x. (Idul fitri & Idul Adha)…”

    “Lucu, rame2 percaya gossip & apa yg diberitakan tv & surat kabar dari pada percaya Alqur’an & hadits

    “Lucu…., berapa banyak yg percaya dunia hanya sementara, akhirat adalah tempat yang kekal,…. tapi berlomba-lomba
    mengejar dunia dengan segala cara…Halal.. Haram…Hantam saja”

    “Lucu…, kita bersenang-senang dgn Istri,suami, Anak, atau Pacar berjam-jam….,tapi untuk menghadap ALLAh…tak ada waktu…”

    Dan lebih lucu lagi, bila kita selalu mengirim banyak ungkapan atau emai yang berunsur cerita lucu dan jenaka kesemua
    tempat, tapi merasa berat untuk bersama-sama mengirim artikel2 yang berunsur agama.

    Lucu…. ???/ tapi itu adalah Kenyataan yang terjadi di sekitar kita…

    “Yang Manis Jangan Cepat diTelan,
    Yang Pahit Mungkin Jadi Obat,
    Qur’an dan Hadist Jadikan Pegangan,
    Agar Selamat Dunia Akhirat”
    wallahuaalla bis sawab……….

    Saduran dari saudara ATIQ TAIB dengan sedikit Perubahan
    Wasallam.

  14. Dukut Nugroho Says:

    Hanya Ingin Mengingatkan ..
    Kubur Setiap Hari Menyeru Manusia Sebanyak Lima (5) Kali …

    1. Aku rumah yang terpencil,maka kamu akan senang dengan selalu membaca Al-Quran.
    2. Aku rumah yang gelap,maka terangilah aku dengan selalu solat malam.
    3. Aku rumah penuh dengan tanah dan debu,bawalah amal soleh yang menjadi hamparan.
    4. Aku rumah ular berbisa,maka bawalah amalan Bismillah sebagai penawar.
    5. Aku rumah pertanyaan Munkar dan Nakir,maka banyaklah bacaan
    “Laa ilahaillallah, Muhammadar Rasulullah”, supaya kamu dapat jawaban kepadanya.
    Lima Jenis Racun dan Lima Penawarnya …..

    1. Dunia itu racun,zuhud itu obatnya.
    2. Harta itu racun,zakat itu obatnya.
    3. Perkataan yang sia-sia itu racun,zikir itu obatnya.
    4. Seluruh umur itu racun, taat itu obatnya.
    5. Seluruh tahun itu racun,Ramadhan itu obatnya.

    (Kirimkan Untuk Rekan-Rekan Muslim Anda Yang Lain Sebagai Tanda Sahabatnya Sedang Mengingatinya …)
    Nabi Muhammad S.A.W bersabda:

    Ada 4 di pandang sebagai ibu “, yaitu :

    1. Ibu dari segala OBAT adalah SEDIKIT MAKAN.
    2. Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERBICARA.
    3. Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BUAT DOSA.
    4. Ibu dari segala CITA CITA adalah SABAR.

    Berpesan-pesanlah kepada kebenaran dan kesabaran.
    Beberapa kata renungan dari Al-Qur’an :
    Orang Yang Tidak Melakukan Sholat:

    Subuh : Dijauhkan cahaya muka yang bersinar
    Zuhur : Tidak diberikan berkah dalam rezekinya
    Ashar : Dijauhkan dari kesehatan/kekuatan
    Maghrib : Tidak diberi santunan oleh anak-anaknya.
    Isya : Dijauhkan kedamaian dalam tidurnya

    Sekarang anda mempunyai 2 pilihan:

    1

  15. Dukut Nugroho Says:

    Sholat Id dilapangan

    Ada suatu pemandangan yang terkadang menarik perhatian, yaitu adanya dua kubu kaum muslimin yang mengadakan sholat ied. Kubu yang pertama melaksanakan sholat ied di lapangan, dan kubu yang kedua sholat ied di masjid. Terkadang kaum muslimin pusing tujuh keliling melihat fenomena perpecahan seperti ini. Tragisnya lagi, jika yang berselisih dalam hal ini adalah dua organisasi besar di Indonesia Raya. Nah, manakah yang benar sikapnya dalam perkara ini sehingga harus didukung. Ikuti pembahasannya berikut ini:

    Jika kita adakan riset ilmiah berdasarkan Al-Kitab dan Sunnah, maka kita akan menemukan bahwa hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendukung kubu yang melaksanakan sholat ied di lapangan.

    Pembaca yang budiman, hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
    sallam- menunjukkan bahwa Sholat ied: idul fitri, maupun iedul adha, semuanya beliau kerjakan di lapangan.

    Dalil Pertama
    Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ
    الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى
    الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ
    بِهِ الصَّلَاةَ ثُمَّ يَنْصَرِفُ
    فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ
    وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى
    صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ
    وُيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ
    كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا
    قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْءٍ
    أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

    “Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar di hari raya idul fitri dan idul adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai adalah shalat ied, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia, sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan nasihat dan wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka. Jika beliau ingin mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau jika beliau memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu beliau pun pulang”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(913) dan Mulim dalam Shohih-nya (889)]

    Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Hadits ini dijadikan dalil untuk menunjukkan dianjurkannya keluar menuju padang luas
    (lapangan) untuk mengerjakan shalat ied, dan bahwasanya hal itu lebih utama dibandingkan shalat ied di masjid, karena kontunyunya nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- atas hal itu, padahal masjid beliau memiliki keutamaan.[Lihat Fathul Bari (2/450)]

    Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata, “Telah sampai berita kepada kami bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar di dua hari raya menuju lapangan yang terdapat di kota Madinah. Demikian pula generasi setelahnya, dan seluruh penduduk negeri, kecuali penduduk Mekah, maka sesungguhnya belum sampai berita kepada kami bahwa seorang diantara salaf shalat ied memimpin mereka, kecuali di masjid mereka. [Lihat Al-Umm (1/389)]

    Adapun penduduk Mekkah, mereka dikecualikan dalam hal ini, karena sempitnya lokasi yang ada di negeri itu. Mekkah adalah lembah yang dikelilingi oleh pegunungan, tidak mungkin bagi penduduk untuk melaksanakan sholat ied kecuali di lembah itu. Sedang di lembah itulah terdapat Baitullah. Jadi, mau tidak mau, ya mereka harus sholat di Masjidil Haram.

    Orang yang berpendapat bolehnya sholat di masjid, jika masjidnya luas, sudah dibantah oleh Asy-syaukaniy-rahimahullah- ketika berkata dalam Nailul Authar (3/359), “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa alasan sempit, dan luasnya masjid sekedar sangkaan belaka tidak cocok untuk dijadikan udzur dari mencontoh Nabi -Shollallahu ‘alaihi
    wasallam- untuk keluar menuju lapangan setelah mengakui kesinambungan Beliau terhadap hal tersebut. Adapun berdalil bahwa hal itu merupakan alasan untuk melakukan shalat ied di masjid mekkah (masjidil haram), maka dijawab bahwasanya tidak keluarnya mereka menuju lapangan, karena sempitnya lokasi Mekkah, bukan karena luasnya masjidil haram”.

    Dalil Kedua
    Ibnu umar -radhiyallahu ‘anhuma- berkata,

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْدُوْ
    إِلَى الْمُصَلَّى فِيْ يَوْمِ
    الْعِيْدِ وَالْعَنَزَةُ تُحْمَلُ
    بَيْنَ يَدَيْهِ فَإِذَا بَلَغَ
    الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ
    فَيُصَلِّي إِلَيْهَا وَذَلِكَ أَنَّ
    الْمُصَلَّى كَانَ فَضَاءً لَيْسَ
    فِيْهِ شَيْءٌ يُسْتَتَرُ بِهِ

    “Rasulullah-Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar pagi-pagi menuju lapangan di hari ied, sedangkan tombak kecil di depan beliu. Jika telah tiba di lapangan, maka tombak kecil itu ditancapkan di depan beliau. Lalu beliau pun shalat menghadap tombak tersebut. Demikianlah, karena lapangan itu adalah padang, di dalamnya tak ada sesuatu yang bisa dijadikan “sutroh” (pembatas di depan imam)” [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (930), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1304)]

    Dalil Ketiga
    Al-Baraa’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

    خَرَجَ النَّبِِيُّ صَلَّى اللهُ
    عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَضْحَى
    إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى
    رَكَعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا
    بِوَجْهِهِ وَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ
    نُسُكِنَا فِيْ يَوْمِنَا هَذَا أَنْ
    نَبْدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ نَرْجِعَ
    فَنَنْحَرَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ
    فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا وَمَنْ
    ذَبَحَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ
    شَيْءٌ عَجَّلَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ
    مِنِ النُّسُكِ فِيْ شَيْءٍ

    “Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar pada hari idul adha menuju Baqi’. Lalu beliau shalat ied dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda, “Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah kita.
    Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia
    (sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan hewan kurban sedikitpun”. [HR.Al-Bukhariy (933)]

    Baqi’ yang dimaksudkan disini adalah lapangan, yaitu padang yang luas waktu itu, berada sekitar 100 meter sebelah timur Masjid Nabawi. Namun sekarang tempat itu dijadikan lokasi kuburan. Jadi, Baqi’ dahulu adalah tanah lapang yang luas dan kosong, namun sekarang diisi dengan kuburan yang sebelumnya tak ada.

    Dalil Keempat
    Abdur Rahman bin Abis berkata,

    سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قِيْلَ لَهُ
    أَشَهِدْتَ الْعِيْدَ مَعَ النَّبِيِّ
    صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟
    قَالَ نَعَمْ وَلَوْلَا مَكَانِيْ مِنَ
    الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ حَتَّى أَتَى
    الْعَلَمَ الَّذِيْ عِنْدَ دَارِ
    كَثِيْرِ بْنِ الصَّلْتِ فَصَلَّى
    ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ
    وَمَعَهُ بِلَالٌ فَوَعَظَهُنَّ
    وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ
    بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ
    يَهْوِيْنَ بِأَيْدَيْهِنَّ
    يَقْذِفْنَهُ فِيْ ثَوْبِ بِلَالٍ
    ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَبِلَالٌ إِلَى
    بَيْتِهِ

    “Aku pernah mendengarkan Ibnu Abbas sedang ditanya, apakah engkau pernah menghadiri shalat ied bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi
    wasallam- ? Ibnu Abbas menjawab, ya pernah. Andaikan aku tidak kecil, maka aku tidak akan menyaksikannya, sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi
    wasallam- mendatangi tanda (yang terdapat di lapangan), di dekat rumah Katsir Ibnu Ash-Shalt. Kemudian beliau shalat dan berkhutbah serta mendatangi para wanita sedang beliau bersama Bilal. Maka nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- menasihati mereka, mengingatkan, dan memerintahkan mereka untuk bersedaqah. Lalu aku pun melihat mereka mengulurkan (sedeqah) dengan tangan mereka sambil melemparkannya ke baju Bilal. Kemudian nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan Bilal berangkat menuju ke rumahnya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(934)].

    Al-Hafizh-rahimahullah- berkata, “Ibnu Sa’ad berkata, “Rumah Katsir bin Ash-Sholt merupakan kiblat bagi lapangan di dua hari raya. Rumah itu menurun ke perut lembah Bathhan, suatu lembah di tengah kota Madinah”. Selesai ucapan Ibnu Sa’ad”.[Lihat Fathul Bari (2/449), cet.
    Darul Ma’rifah]

    Dalil-dalil ini dan lainnya menunjukkan bahwa sholat ied di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilaksanakan di lapangan yang berada pada sebelah timur Masjid Nabawi. Dari hadits-hadits inilah para ulama mengambil kesimpulan bahwa sholat ied, petunjuknya dilaksanakan di lapangan, bukan di masjid !!! Inilah petunjuknya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , Sedang sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .

    Ibnu Hazm Azh-Zhohiriy-rahimahullah- berkata dalam Al-Muhalla (5/81), “Sunnahnya sholat ied, penduduk setiap kampung, dan kota keluar menuju lapangan yang luas, di dekat tempat tinggal mereka di waktu pagi setelah memutihnya matahari, dan ketika awal bolehnya sholat sunnah”.

    Imam Al-AiniyAl-Hanafiy -rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat anjuran keluar menuju lapangan, dan tidak melaksanakan shalat ied di masjid, kecuali karena darurat”. [Lihat Umdah Al-Qoriy (6/280)].

    Imam Malikbin Anas-rahimahullah- berkata dalam Al-Mudawwanah Al-Kubra (1/245), “Seorang tidak boleh shalat ied di dua hari raya pada dua tempat; mereka juga tidak boleh shalat di masjid mereka, tapi mereka harus keluar (ke lapangan) sebagaimana Nabi -Shollallahu ‘alaihi
    wasallam- dulu keluar (menuju lapangan)”.

    Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata dalam Al-Mughniy (2/229), “Sunnahnya seorang shalat ied di lapangan. Ali -radhiyallahu ‘anhu- telah memerintahkan hal tersebut dan dianggap suatu pendapat yang baik oleh Al-Auza’iy dan ahli ra’yi. Ini adalah pendapat Ibnul Mundzir… Kami (Ibnu Qudamah) memiliki dalil bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar menuju lapangan, dan meninggalkan masjidnya, demikian pula para khulafaurrasyidin setelahnya. Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidaklah meninggalkan perkara yang lebih afdhol (sholat ied di masjidnya), padahal ia dekat, lalu beliau memaksakan diri melakukan perkara yang kurang (yaitu shalat di lapangan), padahal ia lebih jauh. Jadi nabi -Shollallahu ‘alaihi
    wasallam- tidaklah mensyariatkan umatnya untuk meninggalkan perkara- perkara yang afdhol. Kita juga diperintahkan untuk mengikuti Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan berteladan kepadanya. Maka tidak mungkin suatu yang diperintahkan adalah kekurangan, dan sesuatu yang dilarang merupakan sesuatu yang sempurna. Tidak dinukil dari Nabi – Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau shalat ied di masjidnya, kecuali karena udzur. Ini juga merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, karena manusia pada setiap zaman dan tempat, mereka keluar menuju lapangan untuk melaksanakan shalat ied di dalamnya, padahal masjid luas dan sempit. Dulu nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- laksanakan shalat ied di lapangan, padahal masjidnya mulia, dan juga shalat sunnah di rumah lebih utama dibandingkan shalat sunnah di masjid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal ia lebih utama”.

    Inilah beberapa dalil dan komentar para ulama kita yang menghilangkan dahaga bagi orang yang haus ilmu; mengangkat syubhat, dan keraguan dari hati. Semoga dengan risalah ringkas ini kaum muslimin bisa menyatukan langkah dalam melaksanakan sholat ied sehingga persatuan dan kebersamaan diantara mereka semakin kuat, membuat orang-orang kafir gentar dan segan.

  16. Dukut Nugroho Says:

    Jangan takut jadi orang aneh
    “Dunia memang aneh”, Gumam Pak Ustadz
    “Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini..
    “Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

    “Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakaisorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

    Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian dan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.

    Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya”
    “Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?” Tanya ibu muda itu.
    Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yang lain rasanya…
    “Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang semestinya seperti itu dibilang “tumben”?
    Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengah jalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?
    Kenapa orang ke masjid dianggap aneh? Orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton reality show “SUPERSOULMATE” .
    Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.
    Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor karena kehujanan.

    Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum, “Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain di sekitarmu,” kata Pak Ustadz.
    “Keanehan-keanehan” di sekitar kita?
    Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak “aneh” di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan mengobrol.
    Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh di tengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.
    Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh di tengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya nyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang di tempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang di tempat shalat. Aneh, bukan?
    Cobalah hari ini shalat Jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelang selesai.
    Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, test saja.
    Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau ayat al Qur’an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.
    Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.
    Jangan takut dibilang “tumben” ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian rapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur’an (Al A’raf:31)
    Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di kantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.
    Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

    “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Annisaa:103)

    Jangan takut untuk shalat Jum’at/shalat berjama’ah berada di shaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu’alaihi wassalam para sahabat bisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.

    “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli [1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Al Jumu’ah:9)

    Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

    “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

    Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekali kita kirim artikel, lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, lenyap donk ladang amal kita….

    Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?

    Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat” (potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar).

    Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja. Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

    Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.
    Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber ‘you can see’.
    Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.
    Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelamatkan kita?

    Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar…

    NB: Silahkan menyebarkan email ini. Tidak ada embel-embel apapun melainkan

    “DAKWAH” mengharap Ridho Allah.

    Fuad Baradja

  17. Dukut Nugroho Says:
    FIQIH RAMADHAN Kajian Fiqih Ikhtilaf Seputar Ramadhan 5 Judul Fiqih Ramadhan Kajian fiqih ikhtilaf seputar Ramadhan Penulis Ahmad Sarwat, Lc Tata Letak Abu Fatih Desain Cover N. Dewantara Penerbit Kampussyariah Jl. Pedurenan Masjid Raya no 52 Kuningan Jakarta 12940 telp . 021-999.80-000 0813.999.80-000 Cetakan Pertama, Juli 2008 Daftar Isi MENJELANG RAMADHAN 4 Menyambut Bulan Suci Ramadhan 4 Ramadhan Awalnya Rahmat : Hadits Dhaif? 4 Tradisi Bermaafan Sebelum Puasa 4 Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan 4 Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda 4 Amalan Sunnah dan Anjuran di Bulan Ramadhan 4 Allahumma Laka Shumtu Bukan Hadits Shahih? 4 Syaithan Dibelenggu, Apa Maksudnya? 4 Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan 4 SEPUTAR NIAT 4 Niat Harus Tiap Malam? 4 Niat Puasa Dobel Bisakah? 4 Bukankah Makan Sahur Sudah Berarti Niat? 4 Cara Niat Puasa 4 BATALKAH PUASA SAYA? 4 Apa yang Dimaksud dengan Imsak? 4 Suntik dan Obat Tetes Mata 4 Muntah dan Sengaja Muntah 4 Berkumur, Mungkinkah Air Tidak Tertelan? 4 Masih Ada Sisa Makanan di Mulut 4 Minum Karena Lupa 4 Masih Makan Waktu Imsak 4 Mimpi Basah Saat Ramadhan 4 Onani Saat Puasa 4 Bercampur di Siang Ramadhan, Zina, dan Kaffarat 4 Mencumbu Isteri Siang Hari Ramadhan 4 Membatalkan Puasa untuk Berjima’ 4 Hukum Bersetubuh di Waktu Sahur 4 HARI HARAM ATAU MAKRUH PUASA 4 Puasa Hari Jumat 4 Puasa yang Diharamkan 4 Hari-Hari Haram Berpuasa Sunnah 4 Bolehkah Puasa 4 Hari 4 Malam Tanpa Makan? 4 Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah 4 LEBARAN 4 Puasa Syawwal atau Bayar Qadha’ Dulu? 4 Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut? 4 Lebaran Ikut Pemerintah? 4 Arti Ucapan Selamat Lebaran 4 PUASA SUNNAH 4 Shaum Sunat 13, 14 dan 15 4 Hukumnya Shaum Tasyu`a dan ‘Asyura 4 Puasa Jumat Dalam Puasa Dawud 4 Puasa Hari Kelahiran 4 MENGGANTI PUASA 4 Haruskah Membayar Hutang Puasa Ramadhan? 4 Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan 4 Mengganti Puasa 4 Cara Bayar Fidyah 4 Mengganti Bagi yang Tidak Sanggup Puasa 4 Bisakah Dibayar Ramadhan Berikutnya? 4 PUASA DALAM BERBAGAI KONDISI 4 Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui 4 Berpuasa dalam Musim Dingin? 4 Orang Eskimo dan Hukum Puasa 4 Hal-Hal yang Membolehkan Tidak Puasa 4 Puasa dan Produktifitas 4 Puasa 18 Jam di Pesawat 4 Nenek Ingin Puasa 4 Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa? 4 Kapan Batas Berhenti Makan dan Minum? 4 Puasa Pada Saat Ada yang Berlebaran Duluan 4 TARAWIH & I’TIKAF 4 Imam Tarawih tanpa Baca Shalawat, Sahkah? 4 Dalil Shalat Tarawih Berjamaah Kuatkah? 4 Shalat Tarawih: 11 atau 23 Rakaat? 4 Qiyamullail Setelah Tarawih 4 Doa Qunut Dalam Witir Dipertengahan Ramadhan 4 Apa Saja yang Dilakukan Saat I’tikaf? 4 I’tikaf Terkendala Oleh Jam Kerja 4 PENUTUP 4 Pendahuluan Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam. Shalawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, beserta para shahabatnya, keluarganya, dan juga para pengikutnya. Ramadhan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam. Ciri khas bulan yang berada pada urutan kesembilan dalam hitungan bulan qamariyah ini adalah penuh dengan berbagai semangat dari umat Islam untuk belajar agama Islam. Setiap tahunnya kami selalu diminta untuk menyampaikan kajian terkait dengan hukum-hukum seputar Ramadhan, bahkan juga untuk membuat tulisan dalam bentuk buku seperti ini. Buku ini bukan buku yang pertama kali kami tulis tentang Ramadhan. Ini buku ketiga yang kami luncurkan, namun setiap terbit selalu berisi hal-hal yang berbeda. Buku ini berisi hal-hal yang lain dari naskah-naskah sebelumnya. Sengaja kami susun ulang dengan disesuaikan pada berbagai permasalahan yang terus berkembang. Salah satu titik perbedaan buku ini dengan buku sebelumnya adalah banyaknya masalah khilafiyah yang kami angkat. Mengingat memang umat sangat membutuhkan kajian yang bersifat komparatif, namun tidak terkesan menggurui atau mau menang sendiri. Adalah sudah menjadi tekad kami sejak awal, untuk tidak terjebak dengan berbagai perbedaan yang pada hakikatnya hanya seputar urusan furu’iyah (cabang) saja. Beberapa pendapat yang sekiranya memang dibutuhkan, sengaja kami tampilkan. Tentu saja kami tetap berupaya sedapat mungkin untuk juga mencantumkan dalil yang digunakan oleh masing-masing ulama, baik berupa ayat Quran atau pun hadits, bahkan termasuk juga latar belakang yang mengarahkan kepada pendapat itu. Banyak dari pendapat itu lahir karena perbedaan dalam memahami arti kata. Tinggal pada pembaca yang kami persilahkan untuk memilih, mana yang sekiranya lebih cenderung untuk memilihnya. Itu harapan kami. Buku ini kami susun dengan pola tanya jawab, untuk lebih memudahkan pencarian atas sub-sub bahasannya. Berarti buku ini tidak harus dibaca dari awal ke bagian akhir, tapi bisa saja langsung dibaca pada sub-judul yang sekiranya memang dibutuhkan. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu mewujudkan terbitnya buku ini, semoga Allah SWT membalas dengan balasan yang berlipat ganda. Dan semoga kehadiran buku kecil ini dapat menjadi bagian dari usaha kita dalam memahami agama Allah, serta menjadi salah satu di antara penerang jalan untuk mencapai ridha-Nya, Amien. Jakarta, Juli 2008 Ahmad Sarwat, Lc http://www.ustsarwat.com BAB I MENJELANG RAMADHAN Menyambut Bulan Suci Ramadhan Assalamualaikum wr. wb. Beberapa tahun belakangan ini kok penyambutan Ramadhan semakin sepi ya? Maksud saya, kok seperti menghadapi bulan-bulan lain saja, tidak ada kesan mendalamnya. Tidak seperti waktu saya kecil, setiap mau puasa, keluarga dan lingkungan sekitar pasti heboh kalau mau menyambut puasa. Tidak hanya secara fisik tapi secara batin juga. Atau ini perasaan saya saja, karena semakin bertambah umur saya semakin banyak kegiatan dan masalah yang mesti saya hadapi sehari-hari?! Sebenarnya yang harus atau yang sebaiknya kita lakukan dalam menyambut bulam Ramadhan itu apa saja ya pak Ustadz? Satu pertanyaan lagi, benarkah kalau ingin membayar hutang puasa harus dilakukan sebelum nisfu sa’ban? Setelah itu membayar hutang puasa sudah tidak boleh kecuali mengerjakan puasa sunah? Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Menyambut bulan suci Ramadhan memang tidak harus ramai-ramai bikin acara ini dan itu. Karena esensi Ramadhan memang bukan keramaian, melainkan kebahagiaan karena ada bulan dimana kita bisa banyak melakukan amal kebaikan yang lebih. Jadi esensi menyambut bulan Ramadhan adalah bersiap-siap untuk bertempur mendapatkan kesempatan mencari pahala sebesar-besarnya. Dan waktu yang lebih tepat untuk beramal sebaik-baiknya memang Ramadhan, lantaran beberapa alasan, antara lain: 1. Setan dibelenggu di bulan Ramadhan, Sehingga kita punya lahan yang lebih luas untuk mengisinya dengan berbagai amal kebajikan. Untuk selama sebulan, setan akan tidak kebagian lapak. Tentu kita gembira dengan datangnya Ramadhan, karena musuh kita berkurang jumlahnya dan kita bisa puas-puaskan untuk beramal shalih, berdakwah, mencari ilmu dan mengajarkannya. Kesempatan setan ‘cuti’ sebulan penuh ini hanya terjadi di bulan Ramadhan, bagaimana kita tidak bergembira? 2. Amal-amal digandakan di bulan Ramadhan Sehingga amal yang sama kita kerjakan di bulan lain akan diganjar dengan lebih besar bila dilakukan di bulan Ramadhan. Dalam salah satu hadits disebutkan: عَنْ سَلْمَان الفَارِسِيdمَرْفُوعاً : مَنْ تَطَوَّعَ فيِ شَهْرِ رَمَضَان بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الخَيْرِكَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاُه، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan secara marfu’, “Siapa yang mengerjakan amal sunnah meski kecil, sama seperti orang yang mengerjakan amal fardhu. Siapa yang mengerjakan amal fardhu, seperti mengerjakan 70 amal fardhu.”(HR. Al-Baihaqi) عَنْ أَنَسٍ  مَرْفُوعاً: أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فيِ رَمَضَان Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan secara marfu’, “Sedekah yang paling afdhal adalah yang diberikan di bulan Ramadhan.” (HR Tirmizy) Kesempatan beramal kecil tapi diganjar dengan pahala yang besar jarang-jarang terjadi. Bulan Ramadhan ini ibarat bulan diskon gede-gedean atau cuci gudang. Bagaimana kita tidak bergembira? 3. Ramadhan adalah bulan yang punya nilai historis tinggi. Di antaranya bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran pertama kali ke muka bumi. Dimana ibadah di malam qadar dinilai lebih baik dari seribu bulan. Selain itu di bulan Ramadhan juga terjadi banyak peristiwa historis yang tidak kalah pentingnya. Buat umat Islam di Indonesia, sejarah kemerdekaan tahun 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sedangkan di dunia Islam secara keseluruhan, di bulan Ramadhan terjadi banyak peristiwa besar, antara lain • Perang Badar Al-Kubra (17 Ramadhan 2 H – 13 Maret 623 M) • Pembebasan kota Makkah/Fathu Makkah (21 Ramadhan 8 H – 11 Januari 630 M) • Bebasnya Mesir dan masuknya dakwah Islam di bawah pimpinan Amru bin Al-Ash (1 Ramadhan tahun 2 H – 26 Pebruari 624 M) • Perang Tabuk (8 Ramadhan 9 H – 18 Desember 630 M) • Bebasnya Baitul Maqdis dan diserahkan kuncinya kepada Khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu (13 Ramadhan 15 H – 18 Oktober 636M) • Kemenangan umat Islam atas dinasti Sasanid, penguasa Persia setelah berhasil membunuh Kaisar Yazdajar III dan berakhirnya kemaharajan Persia (23 Ramadhan 31 H – 625 M) • Peristiwa tahkim dimana Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma berdamai (3 Ramadhan 37 H – 11 Pebruari 658 M) • Bebasnya negeri Sind dari pasukan India di bawah pimpinan Muhammad bin Al-Qashim (6 Ramadhan 63 H – 14 Mei 682 M) • Awal bebasnya negeri Andalusia di bawah pimpinan Tarif bin Malik Al-Barbari (1 Ramadhan 91 H – 710 M) • Berdirinya Daulah Abbasiyah, khilafah kedua setelah Daulah Umayah (2 Ramadhan 132 H – 13 April 750 M) • Bebasnya Byzantium dalam perang Amoria di bawah pimpinan langsung khalifah Al-Mu’tashim billah, setelah mendengar wanita yang ber-istighatsah karena mengalami pelecehan seksual (6 Ramadhan 223 H – 31 Juli 838 M) • Berdirinya Daulah Abbasiyah II di Spanyol (12 Ramadhan 331 H – 9 Mei 943 M) • Peletakan Batu Pertama Universitas Al-Azhar Mesir sebagai masjid dan universitas (14 Ramadhan 359 H – 20 Juli 970 M) 19 Ramadhan 1375 M 4. Ramadhan bulan surga Umat Islam benar-benar digiring untuk masuk surga di bulan Ramadhan. Sebab mereka diwajibkan berpuasa dan untuk orang yang puasa sudah disediakan pintu khusus di surga yaitu bab Ar-Rayyan. Demikian juga puasa itu menganjurkan kita untuk bersabar, dan ganjaran untuk orang yang sabar adalah surga. 5. Ramadhan bulan yang menjauhkan dari neraka Mungkin ada sebagian orang yang berkomentar bahwa sebagai muslim, kita memang pasti masuk surga. Tetapi tetap saja kalau lebih banyak dosa harus mampir dulu ke neraka. Nah, di dalam bulan Ramadhan ini, Allah SWT menjanjikan amal-amal yang bisa membuat orang akan terhindar dari api neraka. Amal itu adala memberi ifthar kepada orang yang puasa. Mereka yang melakukannya dijanjikan akan selamat dari api neraka. 6. Semangat Kebersamaan Dalam Taat Ada semangat kebersamaan dan ephoria untuk beribadah ritual yang lebih besar dibandingkan di luar Ramadhan. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ramadhan Awalnya Rahmat : Hadits Dhaif? Ada seorang ustadz yang mengatakan bahwa hadits tentang pembagian Ramadhan menjadi tiga itu dhaif. Padahal hadits itu sangat populer disampaikan di bulan Ramadhan. Kalau tidak salah bunyinya seperti ini: Ramadhan itu awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah (ampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Benarkah klaim ustadz tersebut? Dan kalau benar, apa status hadits itu? Demikian terima kasih banyak ustadz Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Hadits yang anda tanyakan kedudukannya itu memang sangat populer di tengah masyarakat, khususnya selama bulan Ramadhan. Dengan hadits itu, para penceramah banyak mengajak orang-orang agar memanfaatkan bulan Ramadhan untuk khusyu’ beribadah, agar mendapatkan tiga hal tersebut. Yaitu rahmah dari Allah, ampunan-Nya serta pembebasan dari neraka. Namun menarik sekali apa yang disampaikan oleh ustadz yang antum ceritakan bahwa ternyata menurut beliau hadits itu bermasalah dari sanad dan kekuatannya jalur periwayatannya. Betulkah? Kami berupaya membolak balik beberapa literatur serta tulisan dari para ulama ahli hadits terkait dengan haditsi ini. Kami menemukan uraian yang menarik dari seorang ustadz ahli hadits di Indonesia, yaitu Al-Ustadz Prof. Ali Mustafa Ya’qub, MA. Menurut beliau, hadits itu memang bermasalah dari segi periwayatannya. Sebenarnya hadits ini diriwayatkan tidak hanya lewat satu jalur saja, namun ada dua jalur. Sayangnya, menurut beliau, kedua jalur itu tetap saja bermasalah. Jalur Pertama Salah satu jalur periwayatan haditsi ini versinya demikian: أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَان رَحْمَة وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَة وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّار Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-‘Uqaili dalam kitab khusus tentang hadits dha’if yang berjudul Adh-Dhu’afa’. Juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikh Baghdad. Serta diriwayatkan juga oleh Ibnu Adiy, Ad-Dailami, dan Ibnu Asakir. Mereka Yang Mendhaifkan Adapun di antara para muhadditsin (ahli hadits) yang mempermasalahkan riwayat ini antara lain: 1. Imam As-Suyuthi Beliau mengatakan bahwa hadits ini dhaif (lemah periwayatannya). 2. Syeikh Al-Albani Beliau mengatakan bahwa riwayat ini statusnya munkar. Jadi sebenarnya antara keduanya tidak terjadi pertentangan. Hadits munkar sebenarnya termasuk ke dalam jajaran hadits dhaif juga. Sebagai hadits munkar, dia menempati urutan ketiga setelah hadits matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu). Sementara sanadnya adalah: 1. Sallam bin Sawwar 2. dari Maslamah bin Shalt 3. dari Az-Zuhri 4. dari Abu Salamah 5. dari Abu Hurairah 6. dari nabi SAW Dari rangkaian para perawi di atas, perawi yang pertama dan kedua bermasalah. Yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin Shalt. Sallam bin Sawwar disebut oleh Ibnu Ady, seorang kritikus hadits, sebagai munkarul hadits. Sedangkan oleh Imam Ibnu Hibban, dikatakan bahwa haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah (pegangan), kecuali bila ada rawi lain yang meriwayatkan haditsnya. Perkataan Ibnu Hibban ini bisa kita periksa dalam kitab Al-Majruhin. Sedangkan Maslamah bin Shalt adalah seorang yang matruk, sebagaimana komentar Abu Hatim. Secara etimologis, matruk berarti ditinggalkan. Sedangkan menurut terminologi hadits, hadits matruk adalah hadits yangdalam sanadnya ada rawi yang pendusta. Dan hadits matruk adalah ‘adik’ dari hadits maudhu’ (palsu). Bedanya, kalau hadits maudhu’ itu perawinya adalah seorang pendusta, sedangkan hadits matruk itu perawinya sehari-hari sering berdusta. Kira-kira hadits matruk itu boleh dibilang semi maudhu’. Kesimpulannnya, hadits ini punya dua gelar. Pertama, gelarnya adalah hadits munkar karena adanya Sallam bin Sawwar. Gelar kedua adalah hadits matruk karena adanya Maslamah bin Shalt. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tradisi Bermaafan Sebelum Puasa Assalamu ‘alaikum wr wb, Apakah bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan Ramadhan sejalan dengan hadis Rasulullah SAW? Bila ya, bisa Ustadz tolong jelaskan dengan hadisnya. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sepanjang apa yang kami ketahui, sampai saat ini -wallahu a’lam- kami masih belum menemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya pada saat menjelang masuknya bulan Ramadhan. Entahlah barangkali ada Ustadz atau ulama hadits yang menemukan dalilnya. Tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun perlu untuk melakukannya. Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengan masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta maaf dan memberi maaf. Salah satunya adalah firman Allah SWT berikut ini: فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS. Al-Baqarah: 109) Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adalah sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adalah juga agar kita menjadi orang yang bertaqwa. وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Ali Imran: 132-133) Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kepada sifat taqwa. Dan taqwa adalah tujuan dari kita berpuasa. وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Baqarah: 237) Memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah ibadah yang mulia. Dan sebagai muslim, Allah SWT telah mewajibkan kita untuk memberi maaf kepada orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adalah fardhu ‘ain, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A’raf: 199) Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yang telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah SWT dengan ampunan atas dosa-dosa kita kepada Allah. وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ Dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nuur: 22) Meskipun seorang yang dizhalimi dibenarkan untuk membalas, namun memaafkan jauh lebih baik, dimana Allah akan memberi ganjaran dan pahala tersendiri. وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.(QS. Asy-Syura: 40) Momentum untuk Saling Memaafkan Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu momentum Ramadhan atau ‘Idul Fithr. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana. Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu. عن أَبي هُرَيرَة أنَّ رسول الله  قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – متفقٌ عَلَيْهِ Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim) Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia? Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya. Maka meski tidak ada dalil khusus yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermaafan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja. Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan, seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia. Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit. Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit? Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid’ah dan calon penghuni neraka? Kenapa jadi mudah sekali membuat vonis masuk neraka? Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa terjadi di masa nabi? Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non-formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama. Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yang gigih mempertahankan umat dari ancaman dan bahaya bid’ah. Insya Allah niat mereka baik dan luhur. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz, diantara kebiasaan kita menjelang bulan Ramadhan adalah berziarah kubur, sehingga beberapa pekuburan umum di Jakarta ini cenderung ramai dan jalannya macet. Pertanyaan saya adalah ada hadits-hadits pendukung tentang hal ini, juga pendapat masing-masing Imam Mazhab. Billahi sabililhaq Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sayang sekali ternyata kami tidak menemukan dalil yang menganjurkan waktu yang paling baik untuk berziarah kubur. Apalagi jika dikaitkan dengan kedatangan bulan Ramadhan. Yang ada hanyalah anjuran untuk berziarah kubur, karena mengingatkan kita kepada kematian. Tapi waktunya tidak pernah ditentukan. Jadi boleh kapan saja, tidak harus menjelang masuknya bulan Ramadhan. Adapun kebiasaan yang sering kita saksikan di tengah masyarakat untuk berziarah kubur menjelang datangnya Ramadhan, kami yakin bahwa mereka melakukannya tanpa punya dalil yang eksplisit dari nabi SAW. Dalil yang mereka gunakan hanyalah dalil umum tentang anjuran berziarah kubur. Sedangkan dalil yang mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan, paling tinggi hanya sekedar ijtihad. Itu pun masih sangat mungkin disanggah. Beliau SAW tidak pernah menganjurkan secara tegas bahwa bila Ramadhan menjelang, silahkan kalian berziarah ke kuburan-kuburan. Atau kalau ke kuburan jangan lupa pakai pakaian hitam-hitam, dan juga jangan lupa bawa kembang buat ditaburkan. Sama sekali tidak ada nash-nya, baik di Al-Quran maupun di sunnah nabi-Nya. Dan memang semua fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada ulama yang memberian arahan dan penjelasan. Padahal masyarakat kita ini terkenal sangat agamis dan punya semangat besar untuk menjalankan agama. Sayangnya, mereka tidak punya akses untuk bertanya kepada para ulama syariah yang ahli di bidangnya. Yang tersedia hanya para penceramah, da’i, atau ahli pidato yang digelembungkan namanya lewat media massa dan menjadi sangat tenar bahkan masuk ke wilayah selebriti, tetapi sayangnya mereka kurang punya perhatian dalam masalah hukum Islam, apalagi sampai kepada kritik sanad hadits-hadits nabawi. Ini perlu dipikirkan agar jangan sampai kejahilan di tengah umat ini terus-menerus terjadi, bahkan menjadi tradisi. Sudah waktunya bila umat ini punya akses kuat kepada para ulama ahli syariat, untuk meluruskan kembali kehidupan mereka sesuai dengan syariat Islam yang lurus. Jauh dari pola ikut-ikutan tanpa manhaj yang benar. Namun sekedar mencaci dan mengumpat atau menuduh bahwa mereka itu ahli bid’ah, jahiliyah, atau tidak sejalan dengan manhaj ahli sunnah, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan dalam banyak kasus, malah akan menimbulkan masalah. Kita berharap proses pencerahan umat untuk mengenal syariah ini tidak terkotori dengan adab yang buruk, atau dengan sikap arogan, yang hanya akan membuat objek dakwah kita semakin menjauh. Yang dibutuhkan adalah pemberian pemahaman secara simpatik, cerdas, dan tetap menghargai serta tidak mempermalukan. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda Assalamu alaikum wr. wb, Pak Ustadz, saya sebagai orang awam binggung karena di sekitar tempat tinggal saya mayoritas orang Muhammadiyah. Otomatis lebaran tahun ini beda lagi, kita masih puasa tetangga sebelah sudah berlebaran. Bagaimana menurut pak Ustadz ? Kalau bisa tahu, tahun kemarin pak Ustadz ikut yang mana? Terimah kasih atas jawabanya mohon maaf jika ada kata yang tidak memuaskan. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabrakatuh Perbedaan dalam menetapkan hari jatuhnya lebaran memang sudah bisa diprediksi. Kejadian itu sudah berlangsung sejak lama dan akan selalu terus berulang setiap tahun. Penyebab Perbedaan Penyebab perbedaan penetapan karena ada beberapa dalil yang berbeda, atau satu dalil namun ditafsirkan secara berbeda. Sehingga umat mengenal setidaknya dua sistem, yaitu rukyatul-hilal dan hisab. Kedua metode ini seringkali melahirkan hasil yang berbeda dalam penetapan tanggal. Tapi yang lebih menarik, bahkan meski sama-sama menggunakan rukyatul-hilal, hasilnya belum tentu sama. Demikian juga, meski sama-sama pakai hisab, hasil seringkali juga berbeda. Perbedaan Antar Negara Sudah sering terjadi bahwa umat Islam yang hidup di bawah berbagai macam pemerintahan, seringkali berbeda dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawwal. Kewajaran itu lantaran masing-masing pemerintahan punya hak untuk menetapkannya, karena mereka memang berdiri sendiri dan tidak saling terikat. Sehingga amat wajar independensi otoritas penetapan jadwal puasa pun dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing pemerintahan. Maka wajar bila Mesir dan Saudi Arabia saling berbeda dalam menetapkan jadwal puasa dan lebaran. Tetapi di dalam negeri masing-masing, umat Islam umumnya kompak. Sesama rakyat Mesir tidak pernah terjadi perbedaan. Demikian juga, sesama rakyat Saudi tidak pernah terjadi perbedaan. Khusus Cuma di Indonesia Tetapi khusus untuk rakyat Indonesia, rupanya masing-masing elemen umat teramat kreatif. Cerita orang lebaran berbeda-beda tanggalnya memang hanya terjadi di dalam masyarakat kita saja. Entah apa sebabnya, mungkin karena kebanyakan jumlah rakyatnya, atau kebanyakan ormasnya, atau mungkin juga kelebihan pe-de nya. Yang jelas, kita selalu menyaksikan masing-masing ormas seolah merasa punya hak otoritas menetapkan tanggal 1 Ramadhan dan tanggal 1 Syawal. Setidaknya untuk konstituen mereka sendiri. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di berbagai negeri Islam lainnya. Di sana, urusan penetapan seperti itu 100% diserahkan pemerintah. Masing-masing ormas tidak pernah merasa berhak untuk menetapkan sendiri. Jadi cerita seperti ini memang lebih khas Indonesia. Dan lebih lucu lagi, bukan hanya ormas yang sering tidak kompak dengan pemerintah, tetapi di dalam satu ormas pun terkadang sering terjadi tidak kompak juga. Misalnya, ketika DPP ormas tertentu mengatakan A, belum tentu DPW atau DPD dan DPC-nya bilang A. Masing-masing sturktur ke bawah kadang-kadang masih merasa lebih pintar untuk menetapkan sendiri jadwal puasa. Selain itu, juga ada ormas yang selalu menginduk ke jadwal puasa di Saudi Arabia. Mau lebaran hari apa pun, pokoknya ikut Saudi. Bahkan mungkin karena saking semangat untuk ijtihad, ada ormas yang sampai menasehati pemerintah untuk tidak usah mencampuri masalah ini. Semua pemandangan ini hanya terjadi di Indonesia, ya, sangat khas Indonesia. Dan ceritanya dari zaman nenek moyang sampai abad internet sekarang ini masih yang itu-itu juga. Pokoknya, Indonesia banget deh. Jadi Kita Ikut Siapa? Sebenarnya apa pun yang dikatakan baik oleh NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya, semua tidak lepas dari ijtihad. Karena tidak ada nash baik Quran maupun hadits yang menyebutkan bahwa lebaran tahun 1428 hijriyah jatuh tanggal sekian. Dan sebagai muslim, kita wajib menghormati berbagai ijtihad yang dilakukan oleh para ahlinya. Lepas dari apakah kita setuju dengan hasil ijtihad itu atau tidak. Dan karena kita bukan ahli ru’yat, juga bukan ahli hisab, kita juga tidak punya ilmu apa-apa tentang masalah seperti itu, maka yang bisa kita lakukan adalah bertaqlid atau setidaknya ber-ittiba’ kepada ahlinya. Kalau para ahlinya berbeda pendapat, 100% kita punya hak untuk memilih. Tidak ada satu pun ulama yang berhak untuk memaksakan kehendaknya, apalagi menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan hasil ijtihadnya. Toh kalau ijtihad itu benar, ulama itu akan dapat pahala. Sebaliknya kalau salah, beliau tidak berdosa, bahkan tetap dapat satu pahala. Berpuasa Bersama Umat Islam Salah satu hadits menyebutkan sebagai berikut: الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban. Hadits ini rasanya agak cocok buat keadaan kita yang bukan ulama, bukan ahli ru’yat dan juga bukan ahli hisab. Kita adalah para muqaalid dan muttabi’. Maka jadwal puasa kita mengikuti umat Islam umumnya di suatu negeri. Kalau di Indonesia umumnya atau mayoritasnya lebaran hari Sabtu, ya kita tidak salah kalau ikut lebaran hari Sabtu, meski tetap menghormati mereka yang lebaran hari Jumat. Sebab lebaran di hari dimana umumnya umat Islam lebaran adalah hal paling mudah dan juga ada dalilnya serta tidak membebani. Tapi kalau ternyata 50% ulama mengatakan lebaran jatuh hari Jumat dan 50% lagi mengatakan hari Sabtu, lalu mana yang kita pilih? Jawabnya bahwa dalam hal ini syariah Islam memberikan kewenangan dan hak untuk menengahi perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagaimana pemerintah berhak untuk menjadi wali atas wanita yang tidak punya wali untuk menikah. Mulai Berpuasa Bersama Pemerintah Jadi pemerintah resmi yang berkuasa diberikan wewenang dan otoritas untuk menetapkan jatuhnya puasa dan lebaran, di tengah perbedaan pendapat dari para ahli ilmu, ahli hisab dan ahli falak. Kewenangan seperti ini bukan tanpa dalil, justru kita menemukan begitu banyak dalil yang menegaskan hal itu. Bahkan para ulama sejak dulu telah menyatakan bahwa urusan seperti ini serahkan saja kepada pemerintah yang sah. Kalau pun pemerintah itu salah secara sengaja dan berbohong misalnya, maka dosanya kan mereka yang tanggung. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata mengutip hadits nabi SAW: “Tangan Allah SAW bersama Al-Jama’ah.” Apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diamini oleh para ulama hingga sekarang ini. Salah satunya adalah arahan dan petunjuk dari Al-‘Allamah Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau berkata, “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing.” Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Amalan Sunnah dan Anjuran di Bulan Ramadhan Assalamu ‘alaikum wr wb. Ramadhan sudah menjelang, mohon nasehat dari Ustadz terutama dengan amal-amal ibadah sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan Ramadhan ini. Semoga bisa menjadi bekal bagi saya sekeluarga dalam meraih keutamaan yang banyak di bulan suci ini. Terima kasih Ustadz, semoga selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabrakatuh, Di antara bentuk ibadah atau pekerjaan yang disunnahkan dalam berpuasa sebagaimana petunjuk dari dari Rasulullah SAW yang dapat kami sampaikan di halaman maya adalah sebagai berikut: 1. Makan sahur dengan mengakhirkannya Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa. Meski demikian, tanpa sahur pun puasa tetap boleh. تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فيِ السَّحُورِ بَرَكَة Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Makan sahurlah, karena pada sahur itu ada barakah”. (HR Bukhari 1923 dan Muslim 1095). Dasarnya lainnya adalah hadits berikut ini dengan sanad jayyid. Dari al-Miqdam bin Ma‘dikarb dari Nabi SAW bersabda, ”Hendaklah kamu makan sahur karena sahur itu makanan yang diberkati.(HR An-Nasa‘i: 4/146). Makan sahur itu menjadi barakah karena salah satunya berfungsi untuk mempersiapkan tubuh yang tidak akan menerima makan dan minum sehari penuh. Selain itu, meski secara langsung tidak berkaitan dengan penguatan tubuh, tetapi sahur itu tetap sunnah dan mengandung keberkahan. Misalnya buat mereka yang terlambat bangun hingga mendekati waktu subuh. Tidak tersisa waktu kecuali beberapa menit saja. Maka tetap disunahkan sahur meski hanya dengan segelas air putih saja. Karena dalam sahur itu ada barakah. السَّحُورُ بَرَكَة فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةَ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلىَ المتُسَحِّرِين Dari Abi Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,“Sahur itu barakah maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. (HR Ahmad: 3:12) Disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu shubuh. لاَ تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ وَأَخَّرُوا السَّحُور Dari Abu Zar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu dengan riwayat marfu`, ”Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur.”(HR Ahmad: 1/547) 2. Berbuka dengan menyegerakannya Disunnahkan dalam berbuka puasa untuk men-ta‘jil atau menyegerakan berbuka sebelum shalat Maghrib. Meski hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma. لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطْرَ حَسَا حَسَوات مِنْ مَاءٍ Dari Sahl bin Saad bahwa Nabi SAW bersabda, ”Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan berbuka.”(HR Bukhari 1957 dan Muslim 1058) كَانَ رَسُولُ اللهِ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَات قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فتَمَرَات، فَإِنْ لمَ تَكُنْ تَمَرَات فماء Dari Anas radhiyallahu ‘anhu Berkata bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat. Bila tidak ada maka dengan kurma. Bila tidak ada maka dengan minum air. (HR Abu Daud, Hakim dan Tirmizy) 3. Berdoa ketika berbuka Disunnahkan membaca do‘a yang ma‘tsur dari Rasulullah SAW ketika berbuka puasa. Karena do‘a orang yang puasa dan berbuka termasuk doa yang tidak tertolak. لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لاَ تُرَدُّ Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka ada doa yang tak akan ditolak.. (HR Tirmidzy) Sedangkan teks doa yang diajarkan Rasulullah SAW antara lain اللَّهُمَّ إِنيِّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ آمَنْتُ Ya Allah, kepada Engkaulah aku berpuasa dan dengan rizki dari-Mu aku berbuka”. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ َوثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله تعالى “Telah hilang haus dan telah basah tenggorakan dan telah pasti balasan Insya Allah.” 4. Memberi makan orang berbuka Memberi makan saat berbuka bagi orang yang berpuasa sangat dianjurkan karena balasannya sangat besar sebesar pahala orang yang diberi makan itu tanpa dikurangi. Bahkan meski hanya mampu memberi sebutir kurma atau seteguk air putih saja. Tapi lebih utama bila dapat memberi makanan yang cuup dan bisa mengenyangkan perutnya. Sabda Rasulullah SAW: مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُنْقَص مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْء Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang puasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. (HR At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaemah). 5. Mandi Disunnahkan untuk mandi baik dari janabah, haidh atau nifas sebelum masuk waktu fajar. Agar berada dalam kondisi suci saat melakukan puasa dan terlepas dari khilaf Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang yang berhadats besar tidak syah puasanya. مَنْ أَصْبَحَ جُنُباً فَلاَ صَوْمَ لَهُ Orang yang masuk waktu shubuh dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah (HR Bukhari) Meski demikian, menurut jumhur ulama apabila seseorang sedang mengalami junub dan belum sempat mandi, padahal waktu subuh sudah masuk, maka puasanya syah. Namun hadits ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan junub adalah seseorang meneruskan jima’ setelah masuk waktu shubuh. كَانَ النَّبِيُ يُصْبِحُ جُنُباً مِنْ جِمَاعٍ غَيْر احْتِلاَمٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ Adalah Rasulullah SAW pernah masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena jima‘ bukan karena mimpi, kemudian beliau mandi dan berpuasa.(HR Muttafaq ‘alaihi) 6. Menjaga lidah dan anggota tubuh Disunnahkan untuk meninggalkan semua perkataan kotor dan keji serta perkataan yang membawa kepada kefasikan dan kejahatan. Termasuk di dalamnya adalah ghibah (bergunjing), namimah (mengadu domba), dusta dan kebohongan. Meski tidak sampai membatalkan puasanya, namun pahalanya hilang di sisi Allah SWT. Sedangkan perbuatan itu sendiri hukumnya haram baik dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan. مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فيِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابهُ Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia untuk meninggalkan makan minumnya (puasanya). (HR Bukhari, Abu Daud, At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah) Apabila kamu berpuasa, maka jangan berkata keji dan kotor. Bila ada orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, ”Sungguh aku sedang puasa.” إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْم أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُث وَلاَ يَصْخَب فَإِنَّ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنيِّ صَائِمٌ Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu melakukan rafats dan khashb pada saat berpuasa. Bila orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, “Aku sedang puasa.” (HR Bukhari dan Muslim) Namun menurut para ulama, mengatakan aku sedang puasa lebih tepat bila dilakukan bila saat itu sedang puasa Ramadhan yang hukumya wajib. Tetapi bila saat itu sedang puasa sunnah, maka tidak perlu mengatakan sedang puasa agar tidak menjadi riya‘. Karena itu cukup dia menahan diri dan mengatakannya dalam hati. 7. Meninggalkan nafsu dan syahwat Ada nafsu dan syahawat tertentu yang tidak sampai membatalkan puasa, seperti menikmati wewangian, melihat sesuatu yang menyenangkan dan halal, mendengarkan dan meraba. Meski pada dasarnya tidak membatalkan puasa selama dalam koridor syar‘i, namun disunnahkan untuk meninggalkannya. Seperti bercumbu antara suami isteri selama tidak keluar mani atau tidak melakukan hubungan seksual, sesungguhnya tidak membatalkan puasa. Tetapi sebaiknya hal itu ditinggalkan untuk mendapatkan keutamaan puasa. 8. Memperbanyak shadaqah Termasuk di antaranya adalah memberi keluasan belanja pada keluarga, berbuat ihsan kepada famili dan kerabat serta memperbanyak shadaqah. Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus dalam kebajikan. Dan menjadi paling baik saat bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril ‘asahissalam. mendatanginya. أَنَّهُكَانَ أَجْوَدُ النَّاسِ بِالخَيْر وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْن فيِ رَمَضَان حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيل Adalah Rasulullah SAW orang yang sangat murah dengan sumbangan. Dan saat beliau paling bermurah adalah di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. (HR Bukhari dan Muslim) Adapun hikmah yang bisa di dapat dari perbuatan ini adalah membesarkan hati kaum muslimin serta memberikan kegembiraan pada mereka sebagai dorongan untuk beribadah kepada Allah SWT. 9. Menyibukkan diri dengan ilmu dan tilawah Disunnahkan untuk memperbanyak mendalami ilmu serta membaca Al-Quran, shalawat pada Nabi dan zikir-zikir baik pada siang hari atau malam hari puasa, tergantung luangnya waktu untuk melakukannya. Dasarnya adalah hadits shahih berikut ini: كَانَ جِبْرِيل يَلْقى النَّبِيَّ فيِ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَان فَيُدَارِسُهُ القُرْآن Jibril as. mendatangi Rasulullah SAW pada tiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur’an.(HR Bukhari dan Muslim) 10. Beri‘tikaf Disunnahkan untuk beri‘tikaf terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Salah satunya untuk mendapatkan pahala lailatul qadar yang menurut Rasulullah SAW ada pada malam-malam 10 terakhir bulan Ramadhan. قَالَتْ عَائِشَةُ  كَانَ النَّبِيُّ  إِذَا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِر أَحْيَا الليَّلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الِمْئَزر Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ”Bila telah memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan, Nabi SAW menghidupkan malam, membangunkan keluarganya (isterinya) dan meninggalkan isterinya (tidak berhubungan suami isteri).(HR Bukhari dan Muslim) Juga disunnahkan untuk membaca pada lailatul qadar doa berikut: Ya Allah, Sungguh Engkau mencintai maaf maka maafkanlah aku. 11. Shalat Tarawih, Tahajjud dan Witir Selain ibadah di atas, tentunya yang sangat penting dan jangan sampai terlewat adalah shalat tarawih, tahajjud, witir dan lainnya. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Allahumma Laka Shumtu Bukan Hadits Shahih? Assalamu’alaikum wr. wb. Setahu saya doa berbuka yang diawali dengan allahumma lakasumtu… dst tidak shahih tapi saya melihat masih banyak yang menggunakan doa itu bahkan ustadz yang saya percaya pun menggunakan doa itu. Bagaimana ustadz? Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabrakatuh, Lafadz doa buka puasa yang memang sangat populer itu bila kita teliti secara riwayat, memang banyak yang mengatakan kelemahannya. Bunyinya adalah: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki dari-Mu aku berbuka Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Thabarani dan Ad-Daaruquthuny dengan sanad yang lemah, bahkan satu dengan lainnya tidak bisa saling menguatkan, bahkan lafadznya pun berbeda-beda. Menurut versi riwayat Abu Daud dan lainnya seperti Ibnul Mubarak dalam Al-Zuhd, atau seperti Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah lewat jalur Mu’az bin Zahrah adalah: Apabila nabi SAW berbuka puasa, beliau mengucakan: اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizkika afthartu.” Dalam hadits ini ada ‘illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz. Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tidak maka hadits ini lemah sanadnya dan mursal. Hadits mursal menurut pendapat yang rajih dari mazhab As-Syafi’i dan Ahmad tidak bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dengan metodologi Imam Malik yang sebaliknya dalam masalah hadits mursal. Hadits ini juga tidak punya shawahid yang mengangkatnya mencapai derajat hasan. Imam At-Thabarani meriwayatkannya di dalam kitab Ash-Shaghir dan Awsath, lewat jalur Daud bin Az-Zabarqan dengan lafadz: Apabila nabi SAW berbuka puasa, beliau mengucakan: بسم الله اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت Bismillahi allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizkika afthartu.” Imam Al-Hafidz mengomentari Daud sebagai orang yang matruk (riwayatnya ditinggalkan). Abu Daud juga memvonisnya sebagai matruk. Ad-Daruquthuny, Ibnussunni dan At-Tahabari meriyawatkan juga lewat jalur Abdul Malik bin Harun. Namun Az-Zahab mengomentari Abdul Malik sebagai orang yang ditinggalkan riwayatnya. Lafadznya: اللهم لك صمنا وعلى رزقك أفطرنا اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم Allahumma laka shumna, wa ‘ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim. Syeikh ‘allamah Al-Albani di dalam Al-Irwa’ jilid 4 halaman 36 telah menetapkan kedhaifannya Berdoa dengan Hadits yang Tidak Shahih Meski kita bisa menerima bahwa secara jalur sanad bahwa lafadz hadits doa ini lemah, namun yang jadi pertanyaan adalah: Apakah tiap berdoa diharuskan hanya dengan menggunakan lafaz dari nash quran dan hadits saja? Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan. Sebagian mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa dengan lafadz dari riwayat yang kurang dari shahih. Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Apalagi ada zhan bahwa lafadz itu diucapkan oleh Rasulullah SAW. Namun memang demikian adanya, di mana saja kapan saja, para ulama sangat mungkin terjebak dengan perbedaan sudut pandang. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Syaithan Dibelenggu, Apa Maksudnya? Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah malam Lailatur Qadar itu sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan Atau sepanjang malam bulan Ramadhan? Apakah maknanya bahwa Syetan pada bulan Ramadhan diikat atau dibelenggu? Apa maknanya secara haqiqi atau kias? Memang secara otomatis orang yang berpuasa lebih cenderung untuk tidak melakukan perbuatan yang berdosa karena merasa terikat dengan keadaan mereka yang sedang berpuasa? Walaupun tidak dipungkiri tetap ada yang melakukannya, walhasil yang tanpa disadari fasilitas-fasilitas syetan untuk menggoda manusia yang berpuasa itu menjadi berkurang. Maaf kalau pendapat saya ini salah. Apa sebenarnya maknanya, Pak Ustadz? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya, Pak Ustadz. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu alaikum wr. wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Hadis-hadis yang menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pada bulan Ramadhan adalah hadis shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah dan lain-lain. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari No. 1898 dan Muslim 1079) Sedangkan mengenai maknanya, ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah SAW bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pada bulan suci Ramadhan: a. Tidak Bisa Leluasa Mengganggu Satu pendapat menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan terbelenggunya syetan adalah bahwa syetan tidak bisa leluasa untuk mengganggu dan mencelakakan manusia tidak seperti biasanya. Mengapa? Karena di bulan Ramadha umumnya orang-orang sibuk dengan shaum, membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Dan kegiatan mereka ini membuat syetan menjadi terbelenggu untuk leluasa menggoda dan mencelakakan manusia. Ruang gerak mereka menjadi lebih terbatas, dibandingkan dengan hari-hari di luar bulan Ramadhan. b. Hanya Syetan yang Membangkang Sedangkan pendapat lain lagi mengatakan bahwa yang dibelenggu bukan semua syetan, melainkan hanya sebagiannya saja. Mereka adalah syetan-syetan yang membangkang, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah SAW bersabda, “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yang membangkang.” c. Ketidakmampuan Syetan Menggoda Yang dimaksud dengan “dibelenggu” merupakan suatu ungkapan akan ketidak-mampuan syetan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika ada pertanyaan, mengapa masih banyak terjadi kemaksiatan pada bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yang biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dengan empat jawaban: Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yang melakukan ibadah shaum dengan penuh keikhlasan. Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yang membangkang sebagaimana dijelaskan di atas. Yang dimaksud adalah berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dapat kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tidak sebanyak di bulan-bulan lainnya. Tidak mesti dengan dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jadi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yang rusak, lingkungan masyarakat yang sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia. d. Terhalangi dari Mencuri Dengar Berita dari Langit Sedangkan pendapat lainnya lagi seperti apa yang dikatakan oleh Al-Hulaimi, dimana beliauberpendapat bahwa yang dimaksud dengan syetan-syetan disini adalah syetan-syetan yang suka mencuri berita dari langit. Malam bulan Ramadhan adalah malam turunnya Al-Quran, mereka pun terhalangi untuk melakukan dengan adanya “belenggu” tersebut. Maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tidak mampu melakukannya lagi). Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz, bolehkah puasa sebelum masuk waktu Ramadhan, misalnya 1 atau 2 minggu sebelumnya? Saya pernah mendengar ada yang mengatakan tidak boleh dengan alasan memperpanjang puasa Ramadhan. Terima kasih atas jawabannya. Wassalamu’alaikum wr. wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Benar sekali adanya larangan untuk sengaja berpuasa sunnah bila kita memasuki atau menjelang setengah bulan masuknya Ramadhan. Yaitu berpuasa mulai tanggal 16 Sya‘ban hingga akhir bulan Sya‘ban. Meski pun masalah ini juga bukan merupakan pendapat jumhur ulama. Yang berpedapat demikian adalah sebagian ulama Asy-Syafi’iyah dan sebagian dari ulama dari kalangan Al-Hanabilah.Dalilnya adalah hadits berikut ini: عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ  عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ: إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا حَتىَّ رَمَضَان ” صححه الترمذي و غيره Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi SAW beliau bersabda, “Apabila bulan Sya’ban sudah setengahnya, maka janganlah berpuasa hingga Ramadhan.” (HR Tirmizy). Imam At-Tirmizy menshahihkan hadits ini, demikian juga dengan At-Tahawi, Al-Hakim, IBnu Hibban dan Ibnu Abdil Barr. لاَ صَوْمَ بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَان حَتَّى رَمَضَان Tidak boleh berpuasa setelah nisfu Sya’ban hingga Ramadhan. (HR At-Tahawi) Sedangkan ulama lainnya tidak sampai mengharamkan, hanya memakruhkan saja. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak menyinggungnya sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka berpendapat bahwa hadits Abu Hurairah adalah hadits mungkar. Yang mengatakan demikian adalah Imam Ahmad, Abu Zar’ah Ar-Razi, Al-Atsram dan Ar-Rahman bin Al-Mahdi Selain itu mereka mengatakan justru Rasulullah SAW banyak sekali melakukan puasa di bulan Sya’ban, bahkan beliau menyambungkannya dengan puasa bulan Ramadhan. كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلىَ رَسُولِ اللّهِ  أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَان بَلْ كَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَان Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW untuk berpuasa adalah bulan sya’ban. Bahkan beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” عَنْ عَائِشَةَ  قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللّهِ  أَكْثَرَ صِيَاماً مِنْهُ فيِ شَعْبَان Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW lebih berpuasa dari pada di bulan Sya’ban.” Dengan demikian, kedudukan larangan berpuasa sunnah setelah setengah bulan Sya’ban adalah khilaf di kalangan ulama. Sebagian menyatakan adanya larangan tersebut, sebagian lagi tidak mengakuinya. Namun yang disepakati oleh semua ulama adalah puasa qadha‘ (pengganti) puasa Ramadhan. Hukumnya wajib dilakukan bila memang hanya tersisa hari-hari itu saja. Sebab ada alasan yang sangat kuat bagi mereka yang belum menunaikan kewiban membayar puasa ramadhan tahun lalu untuk membayarkannya sekarang, meski bulan ramadhan tinggal dua minggu lagi. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh * * * BAB II SEPUTAR NIAT Niat Harus Tiap Malam? Assalamu ‘aikum wr. wb. Apakah niat puasa harus dilakukan setiap malam? Atau bisa dilakukan di awal Ramadhan saja? Adakah pendapat yang berbeda dalam masalah ini? Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Niat puasa harus dilakukan pada malam hari sebelum masuk waktu shubuh. Istilah yang sering digunakan adalah tabyitunniyah, atau memabitkan niat. Maksudnya, di malam hari seseorang sudah harus berniat bahwa besoknya dirinya akan melaksanakan puasa. Namun yang perlu diketahui, ketentuan tabyitunniyyah ini hanya berlaku pada puasa wajib saja, seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa qadha’ dan puasa kaffarah saja. Sedangkan puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis, puasa ayyamul biiydh, puasa 6 hari bulan Syawwal dan seterusnya, tidak membutuhkan tabyitunniyah. Sehingga asalkan seseorang belum sempat makan dan minum sejak pagi, lalu tiba-tiba terbetik keinginnan untuk berpuasa, dia bisa langsung berpuasa. Tinggal masalahnya, apakah niat puasa di bulan Ramadhan itu harus dilakukan tiap malam, ataukah bisa dilakukan hanya di malam pertama Ramadhan saja. Untuk menjawab masalah ini, rupanya para ulama berbeda pendapat. 1. Jumhur Ulama : Harus Setiap Malam Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pada setiap malam yang besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Tidak bisa digabungkan untuk satu bulan. Logikanya, karena masing-masing hari itu adalah ibadah yang terpisah-pisah dan tidak satu paket yang menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat untuk puasa di suatu hari dan bisa berniat tidak puasa di hari lainnya. Oleh karena itu, jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat meski tidak perlu dilafazkan pada setiap malam hari bulan ramadhan. Tanpa niat tiap malam, maka puasa menjadi tidak sah untuk dilakukan, lantaran seseorang tidak berniat puasa. 2. Al-Malikiyah: Boleh Niat Untuk Satu Bulan Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tidak ada dalil nash yang mewajibkan untuk tiap malam melakukan niat yang terpisah. Bahkan bila mengacu kepada ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah untuk berniat puasa satu bulan secara langsung dan tidak diniatkan secara hari per hari. Ayat yang dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah: Siapa yang menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa…(QS. Al-Baqarah: 185) Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adalah ism untuk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yang menyatu, tidak terpisah-pisah. Dalam hal ini mereka membandingkannya dengan ibadah haji yang membutuhkan masa pengerjaan yang berhari-hari. Dalam haji tidak perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja, seseorang berniat untuk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu. Demikian perbedaan pendapat di antara para ulama. Maka buat kita, rasanya tidak ada salahnya bila kita melakukan ikhtiyat (kehati-hatian), dengan cara kita berniat di awal Ramadhan untuk berpuasa sebulan, sebagaimana pendapat para ulama mazhab Malikiyah. Namun jangan lupa setiap malam untuk berniat lagi, demi memenuhi ijtihad jumhur ulama. Kalau seandainya terlupa, setidaknya sudah berniat di awal Ramadhan. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Niat Puasa Dobel Bisakah? Pada tiap bulan kita disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah 3 hari pada tengah bulan. Suatu waktu, kebetulan waktu puasa itu jatuh pada hari senin atau kamis. Yang saya mau tanyakan bisakah ketika kita melakukan puasa sunah itu kita niatkan dobel: ya puasa bulan.Ya puasa senin-kamis Atau jika jatuh pada bulan ramadan, puasa kita ini diniatkan ya puasa romadon sekaligus puasa senin-kamis. Syukron Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa dengan niat ganda, ada yang boleh hukumnya dan ada yang tidak boleh. Termasuk yang tidak boleh adalah puasa yang diniatkan untuk beberapa puasa yang hukumnya wajib. Misalnya, seseorang berpuasa satu hari dengan niat untuk membayar qadha’ puasa Ramadhan 30 hari. Jelas cara niat seperti ini tidak bisa dibenarkan. Karena puasa satu hari hanyalah untuk membayar puasa satu yang ditinggalkan. Demikian juga ketika seseorang bernadzar untuk puasa 1 minggu, lalu ketika keinginannya terkabul, dia hanya puasa 1 hari saja namun niatnya untuk puasa 7 hari. Cara seperti ini juga cara akal-akalan yang tidak dibenarkan syariah. Yang bisa dibenarkan adalah melakukan puasa wajib yang dijatuhkan harinya di hari-hari yang utama untuk berpuasa, misalnya dijatuhkan pada hari Senin atau hari Kamis. Kedua hari itu adalah hari yang punya keutamaan tersendiri untuk berpuasa, kalau ada puasa wajib, maka kita puasa wajib, sedangkan bila tidak ada kewajiban, maka kita puasa sunnah. Yang penting, kita bisa memafaatkan hari Senin atau Kamis untuk berpuasa, baik statusnya wajib atau sunnah. Mengapa hari Senin dan Kamis punya keutamaan untuk kita berpuasa di dalamnya? Karena Rasulullah SAW memang menyebutkan keutamaan puasa pada hari itu dan beliau juga menyebutkan sebab musababnya, yaitu karena hari kelahiran beliau atau karena Senin dan Kamis adalah hari pelaporan amal-amal umat manusia. Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu hari kelahiranku dan diturunkan wahyu.” (HR Muslim dan Ahmad). “Sesungguhnya amal manusia itu diperlihatkan (dilaporkan) setiap hari Senin dan Kamis. Lalu Allah mengampuni setiap muslim atau setiap mukimin, kecuali mutajahirin. Beliau berkata, “Akhir dari keduanya.” (HR Ahmad dengan sanad shahih). Maka boleh hukumnya berpuasa wajib, misalnya puasa qadha’ atau nadzar, yang kita jatuhkan di hari Senin atau Kamis, karena di kedua hari itu ada keutamaan tersendiri yang berbeda nilainya kalau kita puasa wajib di hari lain. Dan boleh pula kita berpuasa sunnah yang kita jatuhkan di hari Senin atau hari Kamis. Misalnya puasa 6 hari bulan Syawwal yang hukumnya sunnah, akan menjadi lebih utama kalau dijatuhkan pada hari Senin atau hari Kamis. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bukankah Makan Sahur Sudah Berarti Niat? Assalamu’alaikum wr. Wb Ketika seseorang bangun dimalam hari untuk makan sahur, bukankah dalam hatinya secara nyata dia berniat untuk melaksanakan puasa di esok harinya? Adanya perbedaan penafsiran di antara muslim bahwa niat harus diucapkan dan muslim yang lain berpendapat bahwa niat itu dari dalam hati kita masing-masing dan tidak perlu diucapkan. Wassalamu’alaikum wr. Wb Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebenarnya secara syarat, ketika seseorang bangun untuk makan sahur, pastilah di dalam hatinya sudah terbersit niat puasa. Jadi anda sudah benar. Coba saja tanyakan kepada
  18. Dukut Nugroho Says:

    mereka yang sedang makan sahur, mau apa kok bangun dan makan di pagi buta begini?
    Pasti jawabannya seragam, “Kan kita mau puasa besok.”
    Tuh kan, jawabannya jelas, mereka mau puasa. Dan itu saja sebenarnya sudah cukup untuk menegaskan bahwa di dalam hati mereka sudah ada niat untuk puasa.
    Bahkan sebenarnya, jangankan bangun sahur, sekedar terbersit di dalam hati untuk berpuasa, sebenarnya sudah merupakan niat. Karena sebagaimana perkataan semua ulama bahwa niat itu memang adanya di dalam hati, bukan di lisan.
    Dan tidak ada satu pun ulama baik dari kalangan mazhab Asy-Syafi’i maupun dari mazhab manapun yang mengatalakan bahwa niat itu di lidah. Semua ulama dari ujung barat Maroko sampai ujung timur Maraoke, sepakat bulat-bulat bahwa niat itu bukan di lidah tetapi di dalam hati.
    Lalu bagaimana dengan lafadz niat puasa yang sangat terkenal itu? Apakah wajib dilafadzkan? Apakah puasa kita sah bila kita tidak melafadzkan niat?
    Lafadz niat yang sering kita dengar atau banyak dibaca di masjid-masjid terutama selesai shalat tarawih sebenarnya bukan syarat sah puasa. Lafadz itu sendiri pun tidak ada dasarnya dari Rasululllah SAW. Kita tidak pernah menemukan ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melafadzkan niat puasa di malam hari selesai shalat tarawih.
    Jangankan melafadzkan niat, shalat tarawih pun tidak pernah beliau lakukan seumur hidupnya, kecuali hanya 2 kali saja.
    Maka puasa kita sah selama kita sudah berniat sejak malamnya sebelum masuknya waktu shubuh, meski tanpa melafadzkan niat itu di lidah kita.
    Lalu sekarang pertanyaan di balik, apakah melafadzkan niat itu lantas menjadi bid’ah, haram dan mendatangkan dosa?
    Di sini para ulama berbeda pendapat seperti biasanya. Sebagian dari mereka yang sangat sensitif dan hati-hati dengan urusan perbid’ahan, umumnya memang langsung to the point mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya bid’ah, haram dan berdosa.
    Alasannya, karena tidak ada ajarannya dari Rasulullah SAW. Padahal urusan puasa itu merupakan ibadah mahdhah, sehingga haram hukumnya bila ditambah-tambahi sendiri sesuai selera.
    Atas fatwa yang seperti ini, ada yang kurang sabar kemudian memvonis bahwa praktek melafadzkan niat yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di masjid-masijd itu haram dan berdosa. Bahkan sebagian dari mereka mengharamkan hadir di masjid itu lantaran menganggap masjid itu masjid ahlul bid’ah.
    Mau dibilang apa lagi, memang begitu tipologi sebagian umat kita. Mudah sekali menjatuhkan vonis kepada sesuatu yang dirasa sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauannya.
    Lalu apa hujjah dari mereka yang tetap melafadzkan niat puasa? Adakah dasar argumentasi yang bisa diterima secara syar’i sehingga membebaskan mereka dari tuduhan sebagai ahli bid’ah tadi?
    Jawabnya ada tentu saja. Logikanya, kalau pun melafadzkan niat itu memang mutlak kebid’ahannya, pasti tidak ada lagi orang yang mau melakukannya. Sebagaimana tidak ada orang yang mau shalat shubuh 8 rakaat, karena memang tidak ada ajarannya.
    Bagi kalangan ini, melafadzkan niat puasa itu meski tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukannya, berguna besar untuk menguatkan niat. Rupanya di masa lalu, ada orang yang hatinya mudah was-was, selalu ragu dan kurang percaya diri.
    Di dalam hatinya selalu ada gejolak, apakah saya sudah siap melakukan ibadhah ini atau belum ya? Nah, kepada kalangan yang seperti ini, muncullah fatwa untuk melafadzkan niat. Dengan dilafadzkan, maka rasa was-was di dalam hati akan sirna berganti dengan keyakinan.
    Kira-kira mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang yang sudah lama diincar, tetapi ada rasa ragu, takut, malu, was-was untuk menyatakan rasa cinta itu dalam bentuk kata-kata. Maka sejuta perasaan ragu tidak karuan itu akan pecah begitu dinyatakan rasa cinta itu dengan kata-kata.
    Maka menurut ulama yang mendukung pelafadzan niat, kalau ragu-ragu, ucapkan saja niat itu. biar plong dan selesai masalahnya.
    Sekarang mari kita lihat apa yang dikatakan para ulama salaf tentang melafadzkan niat, sesuai literatur ilmu syariah yang kita miliki:
    1. Mazhab Al-Hanafiyah
    Kita mulai dari mazhab Abu Hanifah. Para ulama di kalangan mazhab ini terpecah pendapatnya ketika menghukumi pelafalan niat. Sebagian dari mereka mengatakan hukumnya bid’ah, namun sebagian lain mengatakan hukumnya jaiz atau boleh. Tidak merupakan bid’ah yang merusak shalat.
    Bahkan sebagian dari mereka itu menyunnahkan pelafadzan niat terutama bagi mereka yang di dalam hatinya ada was-was. Dengan melafadzkan niat, maka was-was itu akan hilang. Sehingga pelafadzan niat itu justru membantu menguatkan niat.
    2. Mazhab Al-Malikiyah
    Mazhab ini menyatakan bawa melafadzkan niat menyalahi yang utama, kecuali bagi mereka yang was-was. Maka melafadzkan niat bagi mereka yang was-was justru hukumnya mandub (semacam sunnah) agar rasa was-was itu menjadi hilang.
    3. Mazhab As-Syafi’i
    Umumnya para ulama di dalam mazhab ini menyunnahkan kita untuk melafadzkan niat. Setidaknya mengatakan tidak mengapa bila kita melafadzkannya. Lantaran hal itu membantu hati.
    Namun mereka pun sepakat bahwa melafazkan niat itu bukan niat itu sendiri. Jadi seandainya seseorang beribadah tanpa melafadzkan niat, maka ibadahnya tetap sah dan diterima Allah SWT secara hukum.
    Niat untuk bertaharah, wudhu’ mandi, shalat, puasa dan lainnya sama sekali tidak membutuhkan pelafazhan niat. Itu merupakan kesepakatan para imam mazhab. Karena tempat niat itu hati, bukan lisan.
    Seandainya seseorang melafazkan suatu lafadz niat yang ternyata berbeda dengan apa yang terbersit di dalam hati, maka yang berlaku sah adalah yang ada di dalam hati, bukan yang diucapkan di lisan. Tidak ada seorang ulama pun yang mengingkari hal ini.
    Namun memang ada sebagian ulama dari kalangan mazhab As-syafi’i di masa-masa berikutnya yang berijtihad untuk melafadzkan niat. Namun sepertinya mereka agak rancu dalam memahami nash dari Imam mereka, Asy-Syafi’i.
    Pendapat Imam Ibnu Taimiyah
    Imam Ibnu Taimiyah kemudian mengatakan bahwa urusan melafadzkan niat itu para ulama terpecah dua. Menurut sebagain ulama dari mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Al-Imam ASy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya mustahab (lebih disukai), lantaran menguatkan niat di dalam hati.
    Sementara sebagian lainnya dari ulama kalangan mazhab Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya mengatakan bahwa melafazhkan niat itu tidak mustahab, bahkan hukumnya bid’ah. Lantaran tidak ada contoh dari nabi Muhammad SAW, para shahabat dan tabi’in.
    Kerancuan Sebagian Ulama Asy-Syafi’i?
    Ibnu Al-Qayyim mengatakan bahwa sebagian ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab Asy-Syafi’i telah rancu dalam memahami nash dari imam mereka sendiri tentang melafadzkan niat.
    Di dalam nash, As-Syafi’i memang menyebutkan bahwa seseorang tidak sah memulai shalat kecuali dengan zikir. Itulah nash dari Al-Imam As-Syafi’i yang asli.
    Namun nash ini dipahami menjadi tidak sah shalat itu kecuali dengan melafadzkan niat. Mereka memahami bahwa zikir yang dimaksud oleh Al-Imam As-Syafi’i adalah lafazh ushalli. Padahal menurut Ibnul Qayyim, yang dimaksud dengan dzikir oleh Asy-Syafi’i adalah takbiratul ihram, bukan melafadzkan niat.
    Dalam hal ini kelihatan bahwa Ibnu Qayyim membela dan tidak menyalahkan Al-Imam ASy-Syafi’i, namun beranggapan bahwa para ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab ini yang salah dalam memahami nash dari imam mereka.
    Kesimpulan
    Masalah melafazkan niat adalah masalah khilafiyah di kalangan ulama. Sebagian membid’ahkannya, sebagian membolehkannya, sebagian lain bahkan menganggapnya mustahab, terutama bagi yang merasa was-was. Bahkan para ulama dalam satu mazhab pun punya pendapat yang berbeda-beda dalam masalah ini.
    Maka sikap saling menyalahkan, apalagi sampai harus bermusuhan dengan sesama muslim untuk urusan seperti ini justru merupakan sikap yang kurang dewasa. Kita sebaiknya tidak terjebak kepada permusuhan, apalagi sampai saling mengejek, saling melecehkan atau saling memboikot saudara kita sendiri.
    Serahkan urusan ini kepada ulama yang ahli di bidangnya. Kalau ternyata mereka pun berbeda pendapat, memang demikian itulah keterbatasan kita. Sebagai muqallid (orang yang bertaqlid) kepada para ulama, maka kita tetap harus bersikap santun, hormat, dan menghargai berbagai perbedaan pendapat di kalangan mereka.
    Toh nanti di alam kubur, kita tidak akan pernah ditanyai urusan seperti ini, bukan?
    Dan yang pasti, tidak ada satu pun ulama yang sampai mewajibkannya, apalagi sampai mengatakan puasa itu tidak sah kalau tidak melafadzkan niat. Tidak ada seorang pun yang mengatakan itu.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Cara Niat Puasa
    Assalamualaikum wr. wb.
    Pak Ustadz, langsung saja, saya mau tanya bagaimana cara berniat puasa yang benar? Apakah harus kita lafazkan atau dengan kita sengaja berpuasa secara otomatis kita telah berniat untuk puasa? Saya pernah dengar niat itu artinya sengaja jadi kalau kita sengaja melakukan puasa berarti sudah berniat tanpa harus dilafazkan. Mohon dijelaskan.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat maka semua jenis ibadah tidak sah dilakukan.
    Misalnya seorang yang melakukan puasa di bulan Ramadhan, tapi dia tidak meniatkannya sejak malam (tabyiitunniyah), maka dia tetap haram makan dan minum di siang hari, namun puasanya tidak sah. Di hari lain, dia wajib mengganti puasanya yang tidak dilandasi niat sebelumnya.
    Namun niat melakukan ibadah berbeda dengan melafadzkan niat. Lafadz seperti nawaitu shauma ghadin… bukanlah niat itu sendiri, melainkan hanya merupakan lafadz dari niat. Niat itu sendiri adanya di dalam hati.
    Ketika seseorang berpuasa dan menyengaja di dalam hatinya bahwa dirinya akan melakukan puasa, itu namanya niat. Sebaliknya, seorang yang melafazkan lafadz niat, belum tentu di dalam hatinya berniat melakukan puasa.
    Misalnya, seorang guru TK sedangkan mengajarkan lafadz itu di depan murid-muridnya, meski dia mengulang-ulang lafadz itu belasan kali, tetapi kita tidak mengatakan bahwa ibu guru TK itu sedang berniat untuk puasa esok harinya. Dia hanya melafadzkannya kalimat itu saja, tanpa meniatkannya di dalam hati.
    Demikian juga seorang dubber (pengisi suara) yang sedang rekaman. Meski dia merekam suara yang melafazkan niat puasa, belum tentu di dalam hatinya dia berniat untuk puasa esok harinya.
    Sebaliknya, seseorang mungkin saja berniat untuk puasa esok harinya, meski lidahnya tidak melafadzkan apapun. Sebab tempat niat itu memang bukan di lidah, melainkan apa yang terbersit di hati.
    Sebagian ulama yang terlalu berhati-hati dengan masalah niat ini, sehingga saking tingginya kehati-hatian yang dilakukanya, sampai-sampai mereka menganjurkan untuk melafadzkan saja niat itu dengan lisan. Mungkin maksudnya, bisa lebih pasti dan lebih mantap, paling tidak bisa menjamin bahwa dirinya sudah berniat. Meski mereka tidak mewajibkannya, namun mereka menganjurkannya.
    Sebagian kalangan lainnya mengatakan bahwa melafadzkan niat itu tidak menjadi kewajiban, syarat atau apapun. Bahkan kalau sampai ke tingkat keyakinan bahwa melafazkan niat itu suatu keharusan, sudah termasuk mengada-adakan perkara baru di dalam agama, padahal tidak diperintahkan dan tidak juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
    Tentu saja masalah ini sangat panjang diperdebatkan oleh para ulama, mulai dari yang menganjurkan sampai kepada yang membid’ahkannya. Semua tentu berangkat dari ingin mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah SWT. Bahwa di tengah jalan mereka berbeda pandangan, hal itu sangat wajar dan manusia, bahkan sejarah khilaf fiqih sudah dimulai sejak nabi masih hidup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama kita tetap saling santun kepada sesama.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    BAB
    III
    BATALKAH PUASA SAYA?

    Apa yang Dimaksud dengan Imsak?
    Assalammu’alaikum,
    Tahun ini saya puasa di Amerika untuk pertama kalinya. Saya agak bingung karena setelah meminta jadwal puasa di Masjid, tidak ada jadwal Imsak.
    Ketika saya tanya untuk jadwal Imsak, staff yang ada di Masjid malah nanya balik ke saya untuk apa jadwal Imsak. Saya lalu menjelaskan supaya ada jarak antara berhenti sahur dan Shubuh.
    Tapi terus, saya malah diberitahu kalau hanya untuk jarak antara berhenti sahur dan shubuh, tidak perlu jadwal Imsak, tapi bisa juga dikira-dikira 10 menit sebelum Shubuh. Logis sih, tapi terus kenapa selama ini ada jadwal Imsak di Indonesia ? Apa jadwal Imsak itu sangat penting ?
    Wassalammu’alaikum
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Istilah ‘imsak’ yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan ‘bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi’.
    Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak penting-penting amat, setidaknya buat sebagian orang. Dan penting untuk diketahui bahwa waktu ‘imsak’ bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.
    Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ‘imsak’, melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.
    Kalau anda bertanya kenapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara dimana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini.
    Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksudnya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ‘imsak’ yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu.
    Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.
    Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.
    Halal bi Halal
    Salah satu istilah yang ‘super aneh’ di telinga dunia Islam tapi sangat akrab di telinga kita adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti dahinya berkerut sepuluh lipatan kalau mendengar istilah ini.
    Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun yang pernah ditulis di muka bumi ini.
    Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini. Ini khas Indonesia, sangat Indonesia sekali…
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Suntik dan Obat Tetes Mata
    Assalamualaikum wr. Wb.,
    Pak Ustadz Yth, melalui rubrik ini saya hendak mengajukan pertanyaan yaitu bahwa bolehkan kita melakukan suntik atau memasukkan obat tetes pada mata kita, karena saya pernah diskusi dengan teman bahwa kedua perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa dan boleh dilakukan, namun di sisi lain saya bingung dengan makna hal-hal yang membatalkan puasa antara lain memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga tubuh.
    Apakah suntik dan obat tetes dimasukkan ke dalam tubuh termasuk di dalam persyaratan tersebut? Mohon penjelasannya dan terima kasih.
    Wassalamualaikum wr. wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Yang dimaksud dengan rongga tubuh sebenarnya adalah bagian dalam tubuh, seperti perut dan tenggorokan. Sedangkan mulut dan isinya, bila kemasukan atau dimasukkan ke dalamnya sesuatu, belum termasuk kategori membatalkan puasa.
    Suntik Obat
    Para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa suntikan obat yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang yang sedang berpuasa tidak membatalkan puasa. Selama suntikan itu berupa obat, tidak berupa makanan.
    Lain halnya bila yang disuntikkan merupakan glukosa, atau yang sering kita kenal dengan infus. Para ulama mengatakan bahwa infus makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang sedang sakit akan membatalkan puasanya.
    Alasan lain karena suntikan obat itu memang tidak masuk ke dalam rongga perut, hanya masuk bercampur dengan darah untuk membutuh penyakit yang ada di dalam tubuh.
    Obat Tetes Mata
    Para ulama sepakat bahwa obat tetes mata dan sejenisnya, yang digunakan oleh seseorang yang sedang berpuasa, bukan termasuk hal yang membatalkan puasa.
    Karena meski masuk ke dalam mata, cairan itu sebenarnya tidak sampai masuk ke dalam rongga tubuh yang dimaksud, sebagaimana ketika kita berkumur, meski kelihatannya ada air masuk ke dalam mulut, tetap saja belum bisa dibilang membatalkan.
    Lalu apa landasan dari pernyataan ini?
    Para ulama mengatakan bahwa sama kasusnya dengan orang yang berwudhu atau mencuci muka, pastilah ada tetes air yang mengenai mata. Tetapi tidak pernah ada yang mengatakan bahwa mencuci muka termasuk membatalkan puasa.
    Hal yang sama juga terjadi manakala seseorang kemasukan air di dalam kupingnya, misalnya karena mandi atau berenang, semua itu oleh para ulama belum dimasukkan ke dalam kategori yang membatalkan puasa.
    Selain itu para ulama mengatakan bahwa masuknya obat tetes tersebut ke dalam perut bukan melalui saluran normal atau biasa. Padahal biasanya melalui mulut. Apalagi benda yang masuk bukan berupa makanan dan minuman.
    Dan setelah benda itu dimasukkan, ternyata benda itu tidak membuat yang bersangkutan merasa segar atau kenyang. Jadi akhirnya, para ulama mengatakan bahwa memakai obat tetes mata jauh dari kategori makan atau hal yang membatalkan puasa.
    Celak Mata
    Memang ada hadits yang yang mengatakan bahwa memakai celak membatalkan puasa, sehingga sebagian orang mengaitkan obat tetes mata sebagai pembatal puasa. Namun menurut para ahli hadis, ternyata hadits-hadits itu adalah hadis mungkar.
    Di antara para ulama yang mengatakan bahwa hal-hal di atas tidak membatalkan puasa adalah Dr. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Ibnu Taimiyyah, dan Ibn Hazam.
    Ibn Hazam bahkan berpendapat, ”Yang dilarang Allah saat kita berpuasa adalah makan, minum, dan bersetubuh, muntah dengan sengaja dan berbuat maksiat. Allah tidak mengajar kita makan dan minum dari dubur, saluran kencing, mata, telinga, hidung, atau dari pembedahan bagian perut dan kepala.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Muntah dan Sengaja Muntah
    Assalamualaikum wr. wb.
    Pak Ustadz, jika muntah tidak disengaja ketika sedang berpuasa itu membatalkan puasa atau tidak? Ini berhubungan dengan sisa makanan atau minuman yang tertelan kembali setelah berkumur-kumur. Terima kasih.
    Wassalamualaikum wr. wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Umumnya para ulama sepakat bahwa muntah yang di luar kesengajaan itu tidak membatalkan puasa. Yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaja.
    Misalnya seseorang memasukkan jarinya saat berpuasa, sehingga mengakibatkan dirinya muntah, maka barulah hal itu membatalkan puasanya.
    Sedangkan bila karena suatu hal yang tidak bisa dihindari, kemudian muntah, tentu tidak batal puasanya. Misalnya karena sakit, mual, pusing atau karena naik kendaraan lalu mabuk dan muntah, maka muntah yang seperti itu tidak termasuk kategori yang membatalkan puasa.
    Dalil atas hal ini adalah beberapa riwayat dari Rasulullah SAW:
    وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ -رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib mengqadha’ puasanya. Sedangkan siapa yang sengaja muntah, maka wajib mengqadha’ puasanya.” (HR Khamsah)
    Perbedaan Pendapat
    Namun ternyata ada juga pihak yang berbeda pendapat. Mereka mengatakan bahwa semua bentuk muntah justru tidak membatalkan puasa.
    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Imam Malik, Rabi’ah dan Al-Hadi, bahwa mereka berpendapat bahwa muntah itu tidak membatalkan puasa secara mutlak. Baik disengaja maupun tidak disengaja.
    Hujjah mereka adalah riwayat berikut ini:
    Tiga perkara yang tidak membatalkan puasa: [1] muntah, [2] hijamah (bekam) dan [3] ihtilam (mimpi basah). (HR Tirmizy dan Al-Baihaqi)
    Namun hadits ini selain dhaif juga masih terlalu umum. Kalau hadits ini menyebutkan bahwa muntah itu tidak menyebabkan batalnya puasa, memang benar. Akan tetapi muntah itu ada dua macam, yang tidak disengaja dan yang disengaja.
    Kalau yang dimaksud oleh hadits ini tentang muntah adalah muntah yang tidak disengaja, maka esensi hadits ini sudah benar. Akan tetapi kalau segala macam muntah tidak membatalkan puasa, maka hal itu tidak benar, sebab ada hadits yang lebih shahih yang menegaskan bahwa muntah yang disengaja itu membatalkan puasa.
    Hadits ini lebih umum sedangkan hadits sebelumnnya lebih khusus, maka yang lebih khusus dikedepankan dari pada yang bersifat umum.
    Sehingga dalam hal ini yang lebih tepat adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa muntah yang disengaja membatalkan puasa, sedangkan yang tidak disengaja tidak membatalkan puasa.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Berkumur, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?
    Assalamu’alaikum w.w.
    Ketika kita berkumur saat berwudhu saat dalam keadaan berpuasa, mungkinkah air tidak tertelan? Kalau menurut saya, pasti air kumur waktu wudhu’ itu bercampur dengan air liur, dan akhirnya tertelan juga. Apakah membatalkan puasa? Apalagi kalau sikat gigi, dengan pasta gigi. Lalu apa solusinya ? Mohon penjelasannya.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Mungkin saja sebagian kecil dari air yang dikumur-kumurkan itu tercampur dengan ludah, lalu ketika seseorang menelan ludah, air itu terminum.
    Namun apakah dengan demikian, puasa jadi batal? Mungkin secara logika boleh saja kita berpendapat demikian, namun sebelum kita bicara dengan logika, tidak ada salahnya buat kita untuk merujuk kepada fatwa dan petunjuk nabi Muhammad SAW. Kita perlu mendapat keterangan pasti, benarkah menurut beliau SAW kumur itu membatalkan puasa?
    Kalau kita teliti hadits-hadits nabi, kita akan menemukan beberapa riwayat yang justru membolehkan seseorang berkumur, asalkan tidak berlebihan sehingga benar-benar ada yang masuk ke dalam rongga tubuh.
    Riwayatkan bahwa Raslullah SAW bersabda:
    عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّاب  قَالَ: هَشَشْتُ يَوماً فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ  فَقُلْتُ: صَنَعْتُ اليَومَ أَمْراً عَظِيماً فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم: أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِم؟ قُلْتُ: لاَ بَأْسَ بِذَلِك، فَقَالَ رَسُولُ الله  َفِيْمَ
    Dari Umar bin Al-Khatab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi nabi SAW dan bertanya, “Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa.” Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?” Aku menjawab, “Tidak membatalkan puasa.” Rasulullah SAW menjawab, “Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa.” (HR Ahmad dan Abu Daud)
    Selain itu juga ada hadits lain yang juga seringkali ditetapkan oleh para ulama sebagai dalil kebolehan berkumur pada saat berpuasa.
    وَعَنْ لَقِيطِ بْنُ صَبْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  أَسْبِغْ اَلْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اَلأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي اَلاسْتِنْشَاقِ, إِلا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا- أَخْرَجَهُ اَلأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة
    Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sempurnakanlah wudhu’, dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa.” (HR Arba’ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).
    Meski hadits ini tentang istinsyaq (memasukkan air ke hidung), namun para ulama menyamakan hukumnya dengan berkumur. Intinya, yang dilarang hanya apabila dilakukan dengan berlebihan, sehingga dikhawatirkan akan terminum. Sedangkan bila ber-istinsyaq atau berkumur biasa saja sebagaimana umumnya, maka hukumnya tidak akan membatalkan puasa.
    Maka dengan adanya dua dalil ini, logika kita untuk mengatakan bahwa berkumur itu membatalkan puasa menjadi gugur dengan sendirinya. Sebab yang menetapkan batal atau tidaknya puasa bukan semata-mata logika kita saja, melainkan logika pun tetap harus mengacu kepada dalil-dalil syar’i yang ada. Bila tidak ada dalil yang secara sharih dan shaih, barulah analogi atau qiyas yang berdasarkan logika bisa dimainkan.
    Bahkan beberapa hadits lain membolehkan hal yang lebih parah dari sekedar berkumur, yaitu kebolehan seorang yang berpuasa untuk mencicipi masakan.
    Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu “Tidak mengapa seorang yang berpuasa untuk mencicipi cuka atau masakan lain, selama tidak masuk ke kerongkongan.” (HR Bukhari secara muallaq dengan sanad yang hasan 3/47)
    Menggosok Gigi Dengan Pasta Gigi
    Tidak merusak puasa bila seseorang bersiwak atau menggosok gigi. Meski tanpa pasta gigi, tetap saja zat-zat yang ada di dalam batang kayu siwak itu bercampur dengan air liur yang tentunya secara logika termasuk ke dalam kategori makan dan minum.
    Namun karena ada hadits yang secara tegas menyatakan ketidak-batalannya, maka tentu saja kita ikuti apa yang dikatakan hadits tersebut.
    Dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau memandang tidak mengapa seorang yang puasa bersiwak. (HR Abu Syaibah dengan sanad yang shahih 3/35)
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Masih Ada Sisa Makanan di Mulut
    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Pak Ustadz yang dirahmati Allah SWT
    Saya ingin menanyakan perihal puasa. Kita sudah sikat gigi sebelum adzan subuh, kemudian pada pagi hari atau siang hari ternyata masih ada sisa makanan di mulut atau di sela-sela gigi. Ini bagaimana Pak Ustadz? Batalkah puasa saya, padahal saya sudah yakin mulut dan gigi saya sudah bersih dengan sikat gigi sebelum subuh tadi.
    Wassalammualaikum Warahmatullohi Wabarokatuh
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Seandainya makanan itu tidak ditelan, maka pada dasarnya tidak termasuk kategori makan. Sebab batasan ‘makan’ adalah tenggorokan, bukan mulut.
    Buktinya, kalau seseorang berkumur dengan air untuk berwudhu’, selama air tidak tertelan, maka puasanya tidak batal. Begitu juga dengan kasus menyikat gigi, tidak membatalkan gigi.
    Maka bila masih ada sisa makanan yang menempel di sela-sela gigi di siang hari bulan Ramadhan, tidak membatalkan puasa. Selama -tentunya- tidak ditelan.
    Termasuk ke dalam kategori yang tidak membatalkan puasa adalah mencicipi makanan. Indra pengecap kita yaitu lidah bisa berfungsi dengan baik untuk merasakan suatu masakan, tanpa harus menelan makanan itu.
    Hal ini tentu menguntungkan para ibu yang memasak untuk berbuka puasa. Mereka boleh mencicipi rasa makanan itu, tanpa harus batal puasanya. Tentu saja syaratnya adalah makanan itujangan ditelan. Kalau ditelan, tentu batal puasanya.
    Kesimpulannya, yang disebut dengan memakan adalah adalah menelan, bukan memasukkan makanan ke dalam mulut.
    Menelan Makanan Karena Lupa
    Kasus anda itu bisa berkembang bila anda lupa sedang berpuasa, lalu menelan makanan itu. Bagaimana hukumnya?
    Sebenarnya, selama seseorang yang karena lupa lalu makan dan minum pada saat puasa, maka hal itu tidak membatalkan puasanya. Dalilnya adalah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
    “Telah diangkat pena dari umat atas apa yang mereka lupa, anak anak dan orang yang dipaksa.”
    Pada kali yang lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
    Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Siapa yang berpuasa lalu makan dan minum karena lupa, maka teruskan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR Bukhari: 1923 dan Muslim: 1155).
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Minum Karena Lupa
    Assalamu’alakum wr. wb.
    Langsung saja Ustadz, apakah batal puasanya kalau kita lupa makan/minum pada waktu puasa syawal/sunnah ? Terima kasih atas tanggapannya.
    Wassalam,
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Meski puasa 6 hari bulan Syawwal termasuk puasa sunnah, namun beberapa aturannya tetap sama dengan dengan puasa Ramadhan yang wajib.
    Termasuk masalah lupa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, hukumnya tetap berlaku. Misalnya anda makan atau minum pada saat puasa sunnah, maka sebagaimana di dalam puasa wajib, puasa anda tidak batal. Sebab lupa itu adalah karunia yang harus disyukuri, bahkan rezeki dari Allah.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ  مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ- مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang lupadalam keadaanpuasa lalu makan dan minum, maka hendaklah dia meneruskan puasanya. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR Muttafaq ‘alaihi)
    وَلِلْحَاكِمِ: مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلا قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلا كَفَّارَةَ وَهُوَ صَحِيحٌ
    Dan menurut riwayat Al-Hakim: Siapa yang ifthar di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada kewajiban menqadha’ dan membayar kaffarah.
    Memang ada beberapa bagian aturan yang berbeda, misalnya tentang keharusan berniat di malam hari untuk puasa wajib. Puasa sunnah seperti puasa Syawwal tidak mengharuskan tabyitun-niyah. Sehingga boleh dilakukan dengan ‘mendadak’, meski sebelum sama sekali tidak terbersit untuk berpuasa. Bahkan sudah sangat ingin makan dan minum, tetapi berhubung tidak ada yang bisa dimakan, bolehkan saat itu berniat puasa. Asalkan memang sama sekali belum makan dan minum.
    عَنْ حَفْصَةَ أُمِّ اَلْمُؤْمِنِينَ  عَنِ اَلنَّبِيِّ  قَالَ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ اَلصِّيَامَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ
    Dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anhu dari nabi SAW berkata, “Orang yang tidak berniat puasa sejak malamnya hingga sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR Khamsah)
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Masih Makan Waktu Imsak
    Assalamu’alaikum. wr. wb.
    Pak Ustadz, batalkah puasa kita jika pada saat masuk waktu imsak kita masih makan atau minum? Mohon penjelasannya serta dalil yang berkaitan dengan hal tersebut. Wassalam.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Penggunaan istilah ‘imsak’ yang kita kenal sekarang ini sebenarnya kurang tepat, sebab makna imsak sesungguhnya adalah menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa. Bukan persiapan untuk memulai puasa beberapa menit menjelang masuknya waktu shubuh.
    Imsak itu adalah puasa, bukan bersiap-siap untuk puasa. Tetapi ada beda antara puasa dan imsak. Misalnya, seorang yang secara sengaja membatalkan puasa tanpa alasan atau udzur syar’i, meski puasanya sudah batal, dia tetap wajib imsak. Maksudnya, dia tetap wajib menahan diri dari makan dan minum layaknya orang puasa. Puasanya tidak sah, tetapi tetap wajib imsak. Itulah beda antara puasa dan imsak.
    Sedangkan istilah ‘imsak’ dalam pengertian yang sering kita dapati sekarang ini, justru pengertiannya yang kurang tepat. Sebab tidak ada ketetapannya dari nabi SAW untuk berhenti dari makan dan minum beberapa menit (biasanya 10 menit) sebelum masuknya waktu shubuh.
    Bahkan Al-Quran dengan tegas menyebutkan batas waktu mulai puasa itu memang sejak terbitnya fajar. Sebagaimana firman Allah SWT:
    وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
    Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)
    Asalkan belum masuk waktu shubuh, kita masih boleh makan, minum dan melakukan hal-hal lainnya. Tidak ada ketentuan kita sudah harus imsak sebelum masuknya waktu shubuh. Sebab batas mulai puasa itu bukan sejak ‘imsak’, melainkan sejak masuknya waktu shubuh.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Mimpi Basah Saat Ramadhan
    Assalamualaikum
    Pada saat tidur siang saya mengalami mimpi basah padahal sedang puasa Ramadhan. Apakah puasa saya batal atau tidak sah atau tidak berpahala? Apa yang harus saya lakukan?
    Terima kasih….
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Para ulama sepakat bahwa keluar mani di saat sedang puasa tidak membatalkan, asalkan keluarnya bukan disengaja, baik oleh diri sendiri atau pun oleh orang lain.
    Dan sebaliknya, seandainya keluar mani terjadi dengan sengaja, entah dengan masturbasi atau pun lewat jima’ dengan isteri, maka hukumnya membatalkan puasa.
    Para ulama menyebutkan bahwa termasuk ke dalam kategori keluar mani tanpa sengaja adalah tidur dan bermimpi ‘basah’.
    Selain itu, juga ketika seseorang sekedar membayangkan hal-hal yang dapat membuatnya keluar mani, tanpa melakukan gerakan atau gesekan pada kemaluannnya, maka hal itu tidak termasuk yang membatalkan secara hukum. Tetapi secara adab tentu tidak bisa dibenarkan. Bahkan hal itu mengurangi pahala puasa.
    Namun seandainya mimpi itu tidak berangkat dari menuruti hawa nafsu, tetapi terjadi begitu saja pada saat seseorang sedang tertidur di siang hari bulan Ramadhan, insya Allah tidak mengurangi pahala. Karena kondisi itu bukan keinginan yang disengaja, juga bukan termasuk memperturutkan hawa nafsu, melainkan semata-mata karena dorongan tubuh secara biologis, terutama bagi laki-laki.
    Maka kita tidak bisa mempersalahkan dorongan yang bersifat normal biologis seseorang, sebagaimana kita tidak bisa menyalahkan orang yang ingin buang air kecil atau buang air besar.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Onani Saat Puasa
    Assalamualaikum wr wb
    Ustadz, ketika saya masih di SMP saya pernah melakukan dosa besar. Ketika puasa di bulan Ramadhan saya pernah melakukan onani. Saya ingin membayarnya tetapi saya tidak ingat berapa kali saya melakukannya. Mohon nasehatnya Ustadz.
    Wassalamualiakum wr wb
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Apabila saat masih di SMP itu anda belum baligh, maka tidak ada kewajiban anda untuk mengganti puasa yang pernah anda tinggalkan. Tetapi kalau saat itu sudah baligh, maka yang perlu anda lakukan adalah bagaimana mengganti puasa yang rusak akibat onani.
    Jumlahnya tentu sebagai hari yang rusak puasanya karena onani. Tapi bila dilakukan beberapa kali dalam satu hari yang sama, yang diganti hanya satu hari saja, tidak dihitung per jumlah onani yang dilakukan.
    Bila sudah lupa jumlahnya, anda bisa mengira-ngira sendiri. Dan ada baiknya diperbanyak untuk berjaga-jaga agar tidak kurang dari jumlah yang seharusnya. Kalau lebih, maka juga tidak akan sia-sia, karena akan menjadi amal tambahan buat diri kita sendiri.
    Yang dimaksud dengan onani ini adalah melakukan berbagai aktifitas sensual yang mengakibatkan keluarnya sperma, baik dengan tangan atau dengan media lainnya. Namun bila tidak sampai keluar sperma, meski tetap tidak boleh dilakukan, puasanya belum batal. Bila sampai meneluarkan sperma barulah membatalkan puasa.
    Namun perlu juga diketahui bahwa onani yang sampai mengeluarkan sperma dan membatalkan puasa, tidak mewajibkan kaffarat sebagaimana hubungan seksual sungguhan dengan lain jenis. Bila benar-benar melakukan hubungan seksual meski tidak sampai keluar sperma, hukumannya sangat berat.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Bercampur di Siang Ramadhan, Zina, dan Kaffarat
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Apakah membayar kaffarat dengan membayar 60 orang miskin atau hanya dengan berpuasa 2 bulan berturut-turut? Boleh kita memilih salah satu atau ada ketentuan lain?
    Orang yang berzina di siang hari bulan Ramadhan, bagaimana dosanya dan cara ia bertobat karena yang saya tahu ini merupakan dosa besar. Apakah dosanya dapat diampuni oleh Allah SWT? Apakah orang tersebut juga harus membayar kaffarat? Apa bentuk kafaratnya?
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ketiga jenis kaffarat itu bukan pilihan, melainkan alternatif keringanan yang Allah berikan khusus buat mereka yang nyata-nyata tidak mampu.
    Maka yang sebenarnya harus dilakukan adalah membebaskan budak, bukan puasa 2 bulan atau memberi makan 60 fakir miskin. Kaffarat baru bisa diganti dengan berpuasa 2 bulan berturut-turut, manakala secara akal sehat dinyatakan orang tersebut tidak mampu mengerjakannya. Misalnya, karena harga budak yang tinggi sekali, atau malah karena di masa sekarang ini memang tidak ada lagi budak.
    Maka barulah kaffarat itu boleh diganti dengan puasa 2 bulan berturut-turut. Dan tidak boleh diganti begitu saja dengan memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang, kecuali bila seseorang dinyatakan oleh dokter tidak mampu berpuasa, lantaran kesehatannya tidak mengizinkan. Atau orang itu adalah seorang tua bangka yang ringkih, kurus kering, kurang gizi dan tidak sanggup berpuasa.
    Adapun bila seseorang sehat wal afiat dan segar bugar bahkan kaya, haram hukumnya mengganti kaffarat begitu saja menjadi memberi makan 60 orang fakir miskin.
    Apalah arti memberi makan 60 fakir miskin? Betapa murahnya harga nominal kaffarat itu. Coba kita hitung-hitung, anggaplah sekali makan sampai kenyang hanya Rp 10.000 x 60 orang, kan baru Rp 600.000. Sangat tidak ada artinya buat orang yang bergaji besar pegawai kelas menengah. Kalau memang demikian, sekalian saja tidak usah puasa selama 30 hari, kan baru 600.000 x 30= 18 juta. Buat seorang pejabat, pengusaha, wakil rakyat dan orang-orang sekelasnya, murah sekali bukan?
    Karena itu kalau bukan karena vonis original dokter yang menyatakan pasiennya tidak mungkin berpuasa, maka tidak ada kebolehan mengganti kaffarat puasa 2 bulan berturut-turut menjadi memberi makan 60 fakir miskin.
    Berzina di Bulan Ramadhan
    Orang yang berzina di bulan Ramadhan, berdosa berkali lipat.
    Pertama, dosanya adalah dosa membatalkan puasa, untuk itu dia harus mengqadha’nya di hari lain.
    Dosa yang kedua, dia berdosa telah melakukan hubungan seksual di bulan Ramadhan dan merusak kesuciannya, maka dia wajib membayar kaffarat dalam bentuk membebaskan budak. Bila tidak dimungkinkan secara teknis, maka harus berpuasa 2 bulan berturut-turut.
    Dan dosa yang ketiga, dia berdosa karena berzina, hukumannya adalah cambuk 100 kali dan dibuang (diasingkan) selama 1 tahun. Tapi kalau dia sudah beristri, hukumannya beda, yaitu dihukum rajam (dilempari dengan batu di hadapan umum) hingga nyawanya lepas.
    Tetapi Allah SWT adalah Tuhan Maha Pengampun, sebesar apapun dosa seorang hamba, maka ampunan Allah lebih besar lagi. Asalkan di hamba itu serius mau bertobat dan minta ampun.
    Tapi ada 3 syarat dasar yang secara mutlaktidak boleh luput:
    1. Berhenti total dulu dari perbuatan maksiatnya itu
    2. Menyesali dengan sungguh hati atas apa yang terlanjur dilakukannya
    3. Bertekat bulan tidak akan pernah lagi terbersit untuk melakukannya kembali
    Setelah dasar syarat ini terpenuhi, maka syarat intinya adalah dia wajib menunaikan hukuman atau kaffarah, yaitu mengqadha` hari yang dirusaknya, ditambah puasa 2 bulan berturut-turut, lalu menjalani hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan setahun, atau bila sudah pernah beristri maka harus siap untuk dirajam.
    Khusus masalah cambuk dan rajam ini, yang bertanggung-jawab atas pelaksanaannya bukan dirinya, melainkan penguasa yang sedang memerintah. Sedangkan peran dirinya adalah merelakan dirinya dan menyerahkan diri untuk dirajam atau dicambuk.
    Kalau ternyata penguasa yang sedang memerintah tidak mau menjalanan hukum syariat pencambukan atau perajaman, bukanlah dosa di pelaku zina. Selama dia sudah siap dan menyerahkan diri, maka di sisi Allah dia sudah dianggap menjalankan hukumannya.
    Dosa tidak terlaksananya hukum cambuk dan rajam sepenuhnya ada di pundak para penguasa, yang tidak mau menjalankan syariat Islam. Kemudian ditambah menjadi dosa rakyat yang tidak mau menerapkan syariah karena memilih penguasa yang sekuler dan anti syariah.
    Biarlah nanti para penguasa dan rakyat dari kalangan anti syariah itu yang akan berhadapan dengan Allah SWT langsung dan memikul azab pedih di jahannam, nauzu billahi min zalik.
    Membatalkan Puasa dengan Sengaja Wajib Imsak
    Menurut sebagian ulama, seorang yang membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur syar’i, maka wajib untuk tetap imsak. Maksudnya dia tidak boleh makan dan minum hingga maghrib.
    Namun tidak dianggap sebagai puasa yang mendatangkan pahala. Imsak itu hanya hukuman dari Allah, lantaran merusak kesucian bulan puasa.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Mencumbu Isteri Siang Hari Ramadhan
    Assalamualaikum wr. wb.
    Ustadz, langsung saja. Apa hukumnya seorang suami yang bercumbu rayu dengan isteri di siang hari bulan Ramadhan ? Mohon penjelasan Ustadz. Jazakallah.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Kalau dilihat dari sudut pandang baku tentang hal-hal yang membatalkan puasa, sebenarnya bercumbu dengan isteri tidak membatalkan puasa, selama tidak sampai inzal (keluar mani). Begitu juga bila seorang suami mencium isterinya atau memeluknya tidak membatalkan puasa.
    Yang membatalkan puasa adalah percumbuan yang sampai terjadi inzal atau sampai betul-betul terjadi hubungan seksual suami isteri. Bahkan selain membayar qadha` juga diwajibkan membayar kaffarah. Karena hubungan seksual di siang hari bulan Ramadhan termasuk perbuatan yang merusak kesucian Ramadhan itu.
    Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bernafsu maka aku mencium (isteriku) sedangkan aku dalam keadaan puasa, maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, hari ini telah melakukan hal yang besar karena aku telah mencium isteriku dalam keadaan puasa..” Rasulullah SAW menjawab, “Bagaimana pendapatmu bila kamu berkumur-kumur sedangkan kamu dalam keadaan puasa?” Aku menjawab, “Ya tidak mengapa.” Rasulullah SAW menjawab lagi, “Ya begitulah hukumnya.” (HR Abu Daud- shahih)
    Kumur adalah memasukkan air ke dalam mulut untuk dibuang kembali dan hal itu boleh dilakukan saat puasa meski bukan untuk keperluan berwudhu`. Namun harus dijaga jangan sampai tertelan atau masuk ke dalam tubuh, karena akan membatalkan puasa.
    Bersetubuh tapi tidak sampai jima’
    Percumbuan dengan isteri namun tidak sampai terjadi inzal atau hubungan kelamin memang tidak membatalkan puasa. Namun kita juga mendapatkan riwayat hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melarang seseorang yang sedang puasa untuk mencumbui isterinya. Dan pada waktu lainnya, beliau juga pernah membolehkan yang lain untuk melakukannya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
    Ternyata ketika melarang seseorang untuk mencumbui isterinya, pertimbangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah karena orang itu tidak mampu menahan dirinya dari dorongan syahwat, sehingga ditakutkan bahwa percumbuannya itu akan membawanya kepada hal yang lebih jauh seperti hubungan kelamin.
    Dan ketika beliau membolehkan orang lain untuk bercumbui isterinya, maka pertimbangannya adalah karena orang tersebut mampu menahan dorongan syahwat dan bisa menguasai diri saat bercumbu.
    Lebih jelasnya, mari kita baca hadits tersebut:
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang mencumbui wanita bagi orang yang puasa. Rasulullah SAW llau memberikan rukhshah (keringanan) bagi orang itu. Kemudian datang lagi yang lainnya tapi nabi melarangnya. Ternyata yang diberi keringanan adalah orang yang sudah tua sedangkan yang dilarang adalah yang masih muda. (HR Abu Daud – shahih)
    Bahkan ada atsar yang lebih jelas dari hadits di atas:
    Dari Said bin Jubair bahwa seorang bertanya kepada Ibnu Abbas, “Aku baru saja menikah dengan anak pamanku yang sangat cantik dan kami berbulan madu di bulan Ramadhan. Bolehkah aku menciumnya?” Ibnu Abbas menjawab, “Bisakah kau kuasai dirimu?” Dia menjawab, “Ya.” Ibnu Abbas berkata, “Ciumlah isterimu.” Dia bertanya lagi, “Bolehkah aku mencumbuinya?” Ibnu Abbas menjawab, “Bisakah kau kuasai dirimu?” Dia menjawab, “Ya.” Ibnu Abbas berkata, “Cumbuilah isterimu.” Dia bertanya lagi, “Bolehkah aku memegang kemaluannya?” Ibnu Abbas menjawab, “Bisakah kau kuasai dirimu?” Dia menjawab, “Ya.” Ibnu Abbas berkata, “Peganglah.”
    Ibnu Hazm berkata bahwa riwayat ini shahih dari Ibnu Abbas dengan syarat dari Bukhari.
    Namun bila dalam percumbuan itu sampai terjadi keluarnya mani (inzal) maka para ulama mengatakan bahwa hal itu membatalkan puasa. Karena salah satu hal yang membatalkan puasa adalah keluarnya mani bila dilakukan dengan sengaja, baik dengan cara istimna’ (onani) ataupun dengan percumbuan dengan isteri. Itulah yang disebutkan oleh Ustadz Assayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah jilid 1 halaman 466.
    Namun ada juga yang mengatakan bahwa bila percumbuan itu sampai keluar mani (inzal) maka tidaklah membatalkan puasa.
    Di antara yang berpendapat demikian adalah Syeikh Al-Albani dalam kitab beliau Tamamul Minnah. Al-Imam Asy-Syaukani termasuk yang juga condong kepada pendapat tersebut. Begitu juga dengan Ibnu Hazm, tokoh dari kalangan mazhab Az-Zhahiri.
    Sedangkan keluarnya mazi menurut umumnya pendapat ulama, bukanlah hal yang membatalkan puasa.
    Namun secara umum, kita diperintahkan pada saat-saat itu untuk menahan segala nafsu dan dorongan syahwat dengan tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan hal-hal yang keji dan mungkar. Termasuk hal-hal yang bisa membawa seseorang terjerumus dan membatalkan puasanya.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Membatalkan Puasa untuk Berjima’
    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    Apakah seorang suami bisa dianggap udzur karena perjalanan jauh jika dia mengunjungi isterinya yang kebetulan berada di lain pulau dan memakan perjalan udara kurang lebih 2,5 jam?”
    Jazakaumullah khairan katsira atas jawabannya. Wassalaamu’alaikum Wr Wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Salah satu tindakan yang sangat tidak disukai adalah merusak kehormatan bulan Ramadhan dengan cara membatalkan puasa dengan sengaja. Dimana pembatalan itu dilakukan tanpa latar belakang udzur yang dibenarkan secara syar’i dan seseorang secara sadar dan sengaja membatalkan puasanya.
    Tindakan itu termasuk dosa besar di sisi Allah SWT dan karena itu dikenakan sanksi, selain mengqadha juga membayar fidyah menurut sebagian ulama. Bahkan dikatakan bahwa menyengaja berbuka puasa di siang hari tanpa udzur syar’i, tidak akan terbayar dosanya meski dengan berpuasa sepanjang masa.
    Siapa yang membatalkan puasa satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhshah (keringanan) atau sakit, tidak akan tergantikan walaupun dengan puasa selamanya, meski dia berpuasa. (HR Tirmizy, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasai)
    Dan akan lebih parah lagi apabila pembatalan puasa itu dilakukan dengan cara berjima’. Dan kaffaratnya adalah dengan membebaskan budak, atau berpuasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 miskin.
    Sebelum Jima’ Membatalkan Puasa Terlebih Dahulu
    Permasalah ini memang didekati dengan 2 pendekatan yang berbeda oleh para ulama. Boleh kita bilang, setidaknya ada 2 versi pendapat.
    1. Pendapat Jumhur
    Jumhur ulama, dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah, selain Asy-Syafi’iyah sepakat mengatakan bahwa membatalkan puasa terlebih dahulu untuk tujuan berjima’ di siang hari bulan Ramadhan tetap terkena kaffarah ghalizhah.
    Kaffarah Ghalizhah adalah kaffarah yang kita kenal, yaitu memerdekakan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 fakir miskin.
    Bagi mereka, pokoknya berjima’ di bulan Ramadhan itu haram dan mendatangkan kaffarah, baik dilakukan dalam keadaan berpuasa atau pun tidak. Keduanya sama saja. Tidak ada perbedaan.
    Selain itu, membatalkan puasa tanpa udzur syar’i juga merupakan dosa yang teramat besar, sebagaimana hadits di atas.
    2. Pendapat Asy-Syafi’iyah
    Yang sedikit berbeda dalam hal ini adalah mazhab Asy-Syafi’iyah. Dalam mazhab ini, agar seseorang terkena kaffrat ghalizhah, diperlukan 14 syarat:
    1. Sudah sejak malam berniat puasa.
    Maka bila sejak malam tidak berniat puasa, lalu siangnya melakukan jima’, tidak ada kewajiban kaffarah ghalizhah.
    2. Sengaja melakukan jima’.
    Seandainya dilakukan karena lupa, dan itu bisa saja terjadi, walaupun terasuk kasus yang langka. Tapi kalau memang sampai terjadi juga, dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’i, tidak ada kewajiban kaffrah ghalizhah.
    3. Tidak terpaksa atau dipaksa.
    Seorang yang dipaksa untuk melakukannya tidak diwajibkan kaffarah ghalizhah. Hal ini bisa terjadi pada seorang istri yang dipaksa oleh suaminya untuk melayaninya. Maka tidak ada kewajiban bagi istri untuk membayar kaffarah ghalizhah, karena keadaannya terpaksa.
    Termasuk dalam hal ini adalah wanita yang diperkosa dengan paksa.

  19. Dukut Nugroho Says:

    4. Tahu keharaman jima’ di siang hari Ramadhan
    Seorang yang baru masuk Islam dan belum tahu apa-apa ketentuan ini lalu melakukan jima’ di siang hari Ramadhan, terlapas dari kaffarah ghalizhah.
    Ini adalah salah satu bentuk keringanan yang diberikan agama Islam kepada para pemeluknya yang baru saja masuk Islam.
    5. Jima’ dilakukan pada saat puasa di bulan Ramadhan.
    Seadainya dilakukan pada saat puasa selain Ramadhan, maka tidak ada kaffarah ghalizhah. Walau pun puasa itu adalah puasa wajib yang diniatkan untuk mengqadha’ puasa Ramadhan.
    Tapi karena dilakukan bukan pada bulan Ramadhan, maka seandainya puasa qadha’ itu dibatalkan lewat berjima’, tidak mewajibkan kaffarah ghalizhah.
    6. Puasanya dirusak secara langsung oleh jima’
    Apabila ada pasangan suami istri berjima’ di siang hari bulan Ramadhan, namun sebelum berjima’, mereka sama-sama makan dan minum untuk membatalkan puasa, maka dalam mazhab ini keduanya tidak diwajibkan membayar kaffarah ghalizhah.
    Walaupun membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur tetap berdosa besar.
    7. Keadaannya berdosa dengan jima’ tersebut
    Maka anak kecil yang berpuasa lalu berjima’, dia disebut tidak berdosa karena belum baligh, maka tidak ada kaffarah ghalizhah atas dirinya.
    Demikian juga tidak berlaku untuk orang yang musafir dan tidak ada kewajiban atas dirinya untuk berpuasa, lalu dia melakukan jima’.
    Maka pengantin baru yang banyak akal dan sedikit punya pemahaman dalam masalah fiqih, melakukan trik dengan cara bepergian di bulan Ramadhan, lalu setelah mendapat keringanan untuk tidak puasa, mereka pun melakukan jima’.
    Dalam pandangan mazhab Asy-Syafi’i, hal ini tidak mewajibkan kaffarah ghalizhah.
    8. Dirinya yakin bahwa puasanya itu sah sebelum berjima’
    Orang yang ragu-ragu apakah puasanya sah atau tidak, llau dia melakukan jima’ dengan istrinya, maka jima’nya itu tidak mewajibkan kaffarah ghalizhah.
    9. Tidak dalam keadaan salah
    Misalnya berjima’ dengan menyangka masih malam, ternyata sudah masuk waktu shubuh. Dalam kasus itu, jima’ yang dilakukan tidak mewajibkan kaffarah.
    Sebaliknya, bila ada pasangan suami istri berjima’ dengan menyangka bahwa waktu berbuka sudah tiba, tapi ternyata belum tiba, maka wajiblah mereka membayar kaffarah ghalizhah.
    10. Tidak menjadi gila atau meninggal setelah jima’
    Ketika seseorang mengalami kegilaan setelah dia berjima’, maka tidak ada kewajiban kaffarah ghalizhah. Demikian juga bila setelah itu dia meninggal dunia.
    11. Jima’ yang dilakukannya datang dari dirinya sendiri.
    Seandainya ada wanita memaksa berjima’ tanpa keinginan apapun dari dirinya, maka tidak termasuk diwajibkan membayar kaffarah.
    12. Jima’ itu terjadi dengan masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan
    Bila tidak sampai masuk, maka tidak termasuk jima’ yang mewajibkan kaffarah ghalizhah.
    13. Jima’ itu dilakukan pada faraj wanita
    Bila bukan pada faraj wanita dan dubur, seperti tangan dan anggota tubuh lainnya, tidak termasuk jima’. Termasuk jima’ meski yang disetuuhui mayat wanita atau hewan. Dan termasuk jima’ adalah liwath, yaitu seks ala para homoseksual dan lesbian.
    14. Yang diwajibkan membayar kaffrah hanya yang laki-laki
    Ini khas pendapat mazhab Asy-Syafi’i, yaitu mereka mengatakan bahwa perempun apabila melakukan jima’ dengan suaminya, maka yang wajib membayar kafarah ghalizhah hanya suaminya saja. Sedangkan istrinya tidak diwajibkan untuk melaksanakan kaffarah.
    Alasannya, karena di dalam hadits tentang kaffarah yang dilakukan oleh shahabat itu, sama sekali tidak disebut-sebut bahwa istrinya harus mengerjakannya.

    Demikian sedikit penjelasan tentang perbedaan ulama dalam masalah ini. Yang pasti, semua sepakat bahwa membatalkan puasa secara sengaja tanpa alasan udzur syar’i adalah perbuatan dosa besar.
    Semua sepakat hal itu. Mereka hanya berbeda pendapat, apakah ada kewajiban kaffarah atau tidak dalam kasus ini.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Hukum Bersetubuh di Waktu Sahur
    Pak Ustadz, kalau suami-isteri bersetubuh sebelum sahur dan melakukan mandi janabahnya setelah memasuki shalat subuh, apakah dibolehkan?
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Hubungan seksual diharamkan pada saat kita sedang dalam keadaan berpuasa. Bila hal itu dilakukan di dalam puasa Ramadhan, selain membatalkan puasa, juga pelakunya terkena kaffarat.
    Makna kaffarat adalah denda karena pelanggaran kesucian bulan Ramadhan. Bentuknya ada tiga level. Pertama, diwajibkan untuk membebaskan budak. Kedua, diwajibkan untuk berpuasa 2 bulan berturut-turut. Ketiga, diwajibkan untuk memberi makan fakir miskin sejumlah 60 orang.
    Namun bila hubungan suami-isteri itu dilakukan di luar jam-jam kewajiban puasa, walau beberapa menit menjelang waktu shubuh, atau beberapa menit setelah masuknya waktu Maghrib, hukumnya halal.
    Karena batas waktu puasa sejak mulai masuknya waktu Shubuh, bukan imsak, hingga masuknya waktu Maghrib. Sedangkan di luar kedua waktu itu, tidak wajib puasa. Sehingga boleh saja bila melakukan hal-hal yang diharamkan saat berpuasa.
    Dalilnya adalah firman Allah SWT:
    أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
    Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS Al-Baqarah: 187)
    Masalah mandi janabah yang anda tanyakan, sebenarnya tidak menjadi masalah. Sebab syarat puasa itu berbeda dengan syarat shalat. Kalau shalat membutuhkan syarat berupa kesucian dari hadats kecil dan hadats besar, maka ibadah puasa justru tidak mensyaratkan keduanya.
    Sehingga boleh-boleh saja seorang yang sedang dalam keadaan berhadats besar (janabah) untuk berpuasa, dengan melewati waktu shubuh dalam keadaannya seperti itu. Dalam kata lain, seseoran yang belum mandi janabah lalu melewati waktu shubuh dalam keadaan itu, hukum puasanya tetap sah.
    Tinggal yang harus dikerjakan adalah bahwa dia tetap wajib melakukan shalat shubuh. Dan shalat shubuhnya mensyaratkan kesucian dari hadats besar dan hadats kecil sekaligus. Sebelum waktu shubuhnya selesai, dia harus sudah mandi janabah dan selesai mengerjakan shalat shubuh.
    Kebolehan masih melakkukan hubungan suami-isteri di saat sahur ini juga harus dilakukan dengan hati-hati, serta dengan sangat memperhatikan masuknya waktu shubuh. Sebab bila keasyikan dan lupa waktu, lalu masih melakukannya padahal shubuh sudah masuk waktunya. maka akibatnya bukan hanya puasanya yang batal, tapi juga terkena denda (kaffarat) yang lumayan berat. Karena itu pesan kami, boleh dilakukan tapi hati-hati dan ingat waktu.
    Ingat bahwa anda melakukannya pada waktu injury time, jadi watch out!
    Wallahu a’lam bishsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    BAB
    IV
    HARI HARAM
    ATAU MAKRUH PUASA
    Puasa Hari Jumat
    Assalamualaikum,
    Apakah benar kalau hari jumat kita tidak boleh puasa? Kalo puasa kita untuk bayar utang puasa blm ramadhan bagaimana? Mungkin yang tidak boleh puasa sunat atau bagaimana, saya kan mau membayar puasa yang wajib dulu, mohon penjelasannya.
    Wassalam,
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sebenarnya yang dilarang itu bukan berpuasa di hari Jumat. Akan tetapi yang dilarang adalah mengkhususkan setiap hari Jumat untuk berpuasa sunnah, tanpa dideretkan dengan sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.
    Berpuasa di hari jumat, kalau judulnya untuk membayar hutang puasa yang memang sudah tidak ada lagi waktunya, tentu saja tidak dilarang. Demikian juga bila pada hari Kamis sehari sebelumnya juga diiringi dengan puasa, maka tidak ada larangan. Atau diteruskan pada hari Sabtu sehari sesudahnya untuk berpuasa, juga tidak ada larangan.
    Haram atau Makruh?
    Sebenarnya apa yang kita sebut sebagai larangan, pada dasarnya tidak bersifat mutlak haram. Istilah yang digunakan oleh para ulama juga bukan istilah haram, melainkan makruh.
    Di dalam kitab As-Shahih, Imam Muslim menuliskan hadit terkait berpuasa hari Jumat dalam sebuah bagian yang diberi judul Kitabus Shiam Bab Karahiatu Shiyam Yaumul Jum’ah Munfaridan.
    Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dengan berpuasa, dan tidaklah pula malamnya untuk ditegakkan (shalat)”. (HR Muslim).
    Namun dari hadits yang lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan isterinya untuk berbuka puasa, ketika isterinya itu berpuasa di hari Jumat.
    Dari Ummul Mu’minin Juwairiyah, “Rasulullah masuk kepadanya ketika sedang puasa pada hari Jum’at, lalu Rasulullah, “Apakah engkau puasa kemarin?” Ummul Mu’minin menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah bertanya kembali, Apakah besok engkau ingin berpuasa kembali?” “Tidak”, jawabnya. Lalu Rasulullah bersabda, “Berbukalah!” (HR Bukhari).
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah salah satu dari kalian puasa di hari Jum’at kecuali bila berpuasa sebelum atau sesudahnya” (H.R. Bukhari dan Muslim).
    Kalau ditanya mengapa pada hari Jumat dilarang berpuasa?
    Sebagian ulama mengatakan bhawa karena hari Jumat termasuk Hari Raya pekanan. Sebagaimana kita tahu bahwa umat Islam memang diharamkan untuk berpuasa di hari Raya. Kalau selama ini kita kenal dua Hari Raya, yaitu ‘Ied Al-Fithr dan ‘Ied Al-Adha, maka hari Raya yang ketiga adalah setiap hari Jumat.
    Wallahu a’lam bihshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Puasa yang Diharamkan
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Pak Ustadz, saya mau bertanya. Saya punya teman anak kiai dia juga sudah lulus dari pesantren dan sekarang sedang kuliah di IAIN. Waktu malam acara Agustusan saya ngobrol dengan dia tentang puasa tiga hari tiga malam tidak haram. Argumen dia kalau kita menderita dengan puasa tersebut doanya cepat terkabul. Terus tentang wapak/isim/rajah katanya tidak syirik (haram) asal yang buatnya dilihat dari keturunan/silsilahnya contohnya habib gitu. Juga tentang pengisian ilmu tenaga dalam seperti gerak sendiri, auman macan, silat katanya itu semua sudah dibeli dengan cara puasa jadi itu tidak syirik (haram) katanya.
    Bapaknya juga sering kedatangan banyak tamu yang bermobil mewah. Setahu saya banyak yang minta biar naik pangkat, usahanya lancar, dan lain-lain. Juga dia suka ngasih isim, air putih dan wiridan (amalan) dari ayat suci yang harus diwirid sewaktu puasa. Menurut pak Ustadz apakah kiai itu benar/kiai dukun.
    Mohon penjelasan dari pak Ustadz biar akidah saya jadi bertambah dan kuat.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatuhhali wabarakatuh
    a. Haramnya Puasa Tiga Hari Tiga Malam
    Rasulullah SAW telah melarang umatnya berpuasa wishal, yaitu puasa yang bersambung tanpa berbuka pada waktunya harus berbuka. Seharusnya, begitu masuk waktu maghrib, wajib hukumnya untuk berbuka dan membatalkan puasa.
    Kalau sampai berpuasa tiga hari berturut-turut, maka hukumnya haram, karena melanggar aturan syariat yang telah ditetapkan oleh beliau SAW.
    Dalilnya adalah hadits berikut ini:
    وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ: نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ  عَنِ اَلْوِصَالِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ قَالَ وَأَيُّكُمْ مِثْلِي إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي.”مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW telah melarang puasa wishal (bersambung). Maka seseorang dari umat Islam bertanya, “Namun Anda sendiri puasa wishal, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kalian tidak sama dengan saya, sebab saya diberi makan dn minum oleh tuhan saya.” (HR Bukhari Muslim)
    Masalah haramnya puasa wishal ini tidak ditetapkan oleh anak kiyai atau oleh lulusan IAIN, tetapi ditetapkan langsung oleh baginda nabi sendiri. Karena itu jangan silau dengan siapa yang mengatakannya, tetapi kembalikan semua kepada penjelasan dan keterangan dari nabi SAW.
    b. Tentang wafak, isim, rajah dan sejenisnya
    Letak keharamannya pada ketergantugan kita kepada selain Allah SWT, tetapi malah kepada benda-benda itu.
    Wafak, isim, rajah dan benda-benda sejenisnya, sekilas memang menyiratkan hal-hal yang berbau agama. Kadang bertuliskan huruf-huruf arab, atau bahkan malah potongan ayat-ayat Al-Quran.
    Lepas dari masalah perbedaan pendapat tentang hukum menuliskannya, tetapi manakala benda-benda itu dipercaya akan membawa keberuntungan, keajaiban, energi tertentu, kekuatan batin, atau hal-hal ghaib lainnya, ketahuilah bahwa pada saat itu pelakunya telah menduakan Allah SWT.
    Karena telah mempercayai dan menggantungkan diri kepada selain Allah SWT.
    Di sisi lain, terkadang kepercayaan itu memang terbukti. Orang yang membawa benda-benda itu seringkali mendapatkan apa yang mereka yakini. Seperti tidak mempan dibacok, bisa makan beling, kebal, punya energi berbeda dan seterusnya. Lantas dari mana semua keajaiban itu?
    Meski Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan berkuasa untuk memberikan kelebihan pada hamba-Nya, tetapi pemberian-Nya secara umum terbagi dua.
    Ada pemberian yang diiringi dengan keridhaan, tapi ada juga yang justru diiringi dengan murka. Yang diiringi dengan keridhaan misalna mukjizat para nabi atau karamah para wali. Sedangkan yang diiringi dengan murka adalah sihir, ramal, teluh, jampi-jampi, serta hal-hal yang sejenisnya.
    Yang membedakan antara keduanya bukan pada bentuknya yang bertuliskan huruf arab, atau ada potongan ayat tertentu, tetapi yang membedakan adalah orangnya.
    Kalau seorang nabi atau wali Allah, sudah jelas mereka adalah orang yang beriman secara murni kepada Allah, taat menjalankan hukum dan aturan dari-Nya, setia kepada syariat-Nya. Ciri lainnya adalah bahwa para nabi dan wali itu sama sekali tidak punya kuasa atas semua keajaiban itu, sebab datangnya tiba-tiba begitu saja tanpa diminta. Sehingga tidak pernah seorang nabi berpraktek secara khusus menawarkan kemukjizatan, demikian pula dengan para wali-Nya.
    Sedangkan yang berupa sihir dengan segala variannya, diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang kufur dan ingkar. Misalnya iblis, syetan dan jin. Atau bahkan manusia yang telah kufur karena mempelajari ilmu sihir. Kekuatan itu sebenarnya dari Allah SWT juga, tetapi didapat dengan jalan sesat dan mungkar.
    Ciri utamanya, para pelakunya seolah memang punya kekuasaan untuk mengkatifkan kekuatannya. Seolah dia punya remote control yang bisa dipijit kapan saja di mana saja. Sehingga mereka pun sampai berani buka praktek melayani permintaan manusia, tetapi dengan imbalan jatuh ke lembah hitam.
    Karena istilah sihir sudah sangat terkenal dengan keharamannya, banyak orang yang tidak mau mendekatinya. Akhirnya syetan putar otak, bagaimana caranya agar kalangan muslim yang agamis bisa tetap terjebak dengan sihir tanpa mereka sadari. Maka dikemaslah sihir dengan kemasan-kemasan yang akrab di mata awam sebagai simbol-simbol berbau agama.
    Misalnya rajah, wafak, isim dan sejenisnya. Secara penampilan, sangat mempesona lantaran berbentuk huruf arab, bahkan terkadang potongan ayat Al-Quran. Orang awam tentu akan menyangka kalau benda-benda ini berbau Islam, minimal ada potongan ayat quran. Padahal benda-benda itu tidak lain media sihir yang nyata serta bernilai syirik di sisi Allah SWT.
    Sebagai muslim, kita wajib menghindarkan diri dari penggunaan benda-benda yang hanya akan membaca kita ke jurang kemusyrikan. Dan tidak ada bedanya antara keturunan habib atau bukan, karena di mata Allah, setiap manusia sama rata seperti gerigi pada sisir.
    Bahkan seharusnya para keturunan habib itu malu kalau mengajarkan hal-hal yang bersifat syirik. Karena secara ‘anak keturunan’ nabi SAW sesuai pengakuan mereka, seharusnya mereka berada pada garis terdepan dalam rangka menghancurkan kepercayaan seperti itu, bukannya malah mencoreng kehormatan keluarga nabi.
    Bukankah nabi SAW datang untuk menghancurkan 360 berhala yang disembah di sekeliling ka’bah ? Mengapa sekarang justru ‘anak keturunannya’ malah mengajarkan kembali paham jahiliyah abad ketujuh itu? Sungguh memalukan…
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatuhhali wabarakatuh,
    Hari-Hari Haram Berpuasa Sunnah
    Assalaamu’alaikum,
    Ustadz langsung saja ke pertanyaan, pada tanggal kapan sajakah kita dilarang untuk berpuasa sunnah ? Mohon disebutkan selengkapnya.
    Terima kasih
    Wassalamualaikum
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ada beberapa bentuk ibadah puasa pada waktu tertentu yang hukumnya haram dilakukan, atau setidaknya dimakruhkan hukumnya, baik karena waktunya atau karena kondisi pelakunya.
    1. Hari Raya Idul Fithri
    Tanggal 1 Syawwal telah ditetapkan sebagai hari raya sakral umat Islam. Hari itu adalah hari kemenangan yang harus dirayakan dengan bergembira. Karena itu syariat telah mengatur bahwa di hari itu tidak diperkenankan seseorang untuk berpuasa sampai pada tingkat haram. Meski tidak ada yang bisa dimakan, paling tidak harus membatalkan puasanya atau tidak berniat untuk puasa.
    نَهَى رَسُولُ اللهِ  عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمَ الفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى – متفق عليه
    Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari: hari Fithr dan hari Adha. (HR Muttafaq ‘alaihi)
    2. Hari Raya Idul Adha
    Hal yang sama juga pada tanggal 10 Zulhijjah sebagai Hari Raya kedua bagi umat Islam. Hari itu diharamkan untuk berpuasa dan umat Islam disunnahkan untuk menyembelih hewan Qurban dan membagikannya kepada fakir msikin dan kerabat serta keluarga. Agar semuanya bisa ikut merasakan kegembiraan dengan menyantap hewan qurban itu dan merayakan hari besar.
    3. Hari Tasyrik
    Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah. Pada tiga hari itu umat Islam masih dalam suasana perayaan hari Raya Idul Adha sehingga masih diharamkan untuk berpuasa.
    Namun sebagian pendapat mengatakan bahwa hukumnya makruh, bukan haram. Apalagi mengingat masih ada kemungkinan orang yang tidak mampu membayar dam haji untuk puasa 3 hari selama dalam ibadah haji.
    إِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْب وَذِكْرِ اللهِ تَعَالى – رواه مسلم
    Sesunggunya hari itu (tsyarik) adalah hari makan, minum dan zikrullah (HR Muslim)
    4. Puasa sehari saja pada hari Jumat
    Puasa ini haram hukumnya bila tanpa didahului dengan hari sebelum atau sesudahnya. Kecuali ada kaitannya dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa sunah nabi Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak.
    Maka bila jatuh hari Jumat giliran untuk puasa, boleh berpuasa. Sebagian ulama tidak sampai mengharamkannya secara mutlak, namun hanya sampai makruh saja.
    5. Puasa sunnah pada paruh kedua bulan Sya‘ban
    Puasa ini mulai tanggal 15 Sya‘ban hingga akhir bulan Sya‘ban. Namun bila puasa bulan Sya‘ban sebulan penuh, justru merupakan sunnah.
    Sedangkan puasa wajib seperti qadha‘ puasa Ramadhan wajib dilakukan bila memang hanya tersisa hari-hari itu saja. Sebagian ulama tidak mengharamkan melainkan hanya memakruhkan saja.
    6. Puasa pada hari Syak
    Hari syah adalah tanggal 30 Sya‘ban bila orang-orang ragu tentang awal bulan Ramadhan karena hilal (bulan) tidak terlihat. Saat itu tidak ada kejelasan apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum. Ketidak-jelasan ini disebut syak. Dan secara syar‘i umat Islam dilarang berpuasa pada hari itu. Namun ada juga yang berpendapat tidak mengharamkan tapi hanya memakruhkannya saja.
    7. Puasa Selamanya
    Diharamkan bagi seseorang untuk berpuasa terus setiap hari. Meski dia sanggup untuk mengerjakannya karena memang tubuhnya kuat. Tetapi secara syar‘i puasa seperti itu dilarang oleh Islam. Bagi mereka yang ingin banyak puasa, Rasulullah SAW menyarankan untuk berpuasa seperti puasa Nabi Daud as yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.
    8. Wanita haidh atau nifas
    Wanita yang sedang mengalami haidh atau nifas diharamkan mengerjakan puasa. Karena kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan tidak suci dari hadats besar.
    Apabila tetap melakukan puasa, maka berdosa hukumnya. Bukan berarti mereka boleh bebas makan dan minum sepuasnya. Tetapi harus menjaga kehormatan bulan Ramadhan dan kewajiban menggantinya di hari lain.
    9. Puasa sunnah bagi wanita tanpa izin suaminya
    Seorang isteri bila akan mengerjakan puasa sunnah, maka harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Bila mendapatkan izin, maka boleh lah dia berpuasa. Sedangkan bila tidak diizinkan tetapi tetap puasa, maka puasanya haram secara syar‘i.
    Dalam kondisi itu suami berhak untuk memaksanya berbuka puasa. Kecuali bila telah mengetahui bahwa suaminya dalam kondisi tidak membutuhkannya. Misalnya ketika suami bepergian atau dalam keadaan ihram haji atau umrah atau sedang beri‘tikaf.
    Karena hak suami itu wajib ditunaikan dan merupakan fardhu bagi isteri, sedangkan puasa itu hukumnya sunnah. Kewajiban tidak boleh ditinggalkan untuk mengejar yang sunnah.
    Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Bolehkah Puasa 4 Hari 4 Malam Tanpa Makan?
    Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
    Ustadz, apakah benar kita boleh berpuasa 4 hari 4 malam tanpa makan? Tolong jelaskan.
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Puasa adalah salah satu jenis ibadah mahdhah yang teknik pelaksanaannya telah ditetapkan secara baku di dalam syariat Islam. Teknik dan aturan puasa yang berlaku untuk umat nabi Muhammad SAW berbeda dengan teknik puasa yang disyariatkan kepada umat-umat sebelumnya. Meski sama-sama dinamakan dengan puasa.
    Isyarat adanya perintah puasa buat orang terdahulu, memang kita dapat di dalam ayat yang amat masyhur berikut ini:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah: 183)
    Namun demikian, di ayat-ayat selanjutnya Allah SWT menetapkan teknis puasa, yaitu hingga masuk malam atau terbenamnya matahari.
    وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ
    Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam… (QS Al-Baqarah: 187)
    Ada perintah untuk makan dan minum di malam hari dan tidak melakukannnya di siang hari. Namun batas waktunya hanya sampai datangnya malam. Makna datangnya malam tidak lain adalah terbenamnya matahari atau masuknya waktu Maghrib.
    Dari ayat di atas jelas sekali bisa disimpulkan secara hukum, bahwa telah diraramkan bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tidak makan atau minum pada saat datangnya malam. Hukum makan dan minum (berbuka puasa) dalam hal ini menjadi wajib hukumnya, meski membatalkan puasanya hanya dengan seteguk air.
    Sedangkan ajaran puasa dengan tidak makan 4 hari 4 malam, jelas bertentangan dengan Al-Quran Al-Kariem. Sehingga haram dilakukan oleh seorang yang mengaku beriman kepada kitabullah.
    Secara lebih khusus, Rasulullah SAW sendiri juga melarang puasa yang tidak berbuka pada saat maghrib. Beliau menyebut puasa yang demikian dengan sebutan puasa ‘wishal’.
    Asal katanya dari washala-yashilu yang artinya bersambung. Memang puasa itu bersambung dari siang ke malam, lalu diteruskan ke siangnya, terus lagi sampai malamnya dan begitulah hingga beberapa hari.
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ  عَنِ اَلْوِصَالِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّكَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ تُوَاصِلُ قَالَوَأَيُّكُمْ مِثْلِي إِنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي.”
    Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah SAW telah melarang puasa wishal.” Seorang bertanya, “Namun Anda wahai Rasulullah, juga melakukan wishal?” Beliau menjawab, “Siapa kalian yang seperti diriku? Karena akusaat malam tuhanku memberiku makan dan minum.” (HR. Muttafaq alaihi)
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah
    Saya pernah mendengar orang berkata bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu, benarkah hal itu ? Kalau memang benar, apakah itu merupakan hadits nabi atau bukan ? Dan kalau memang hadits nabi, riwayatnya serta statusnya bagaimana ?
    Terima kasih atas jawabannya Ustadz
    Jawaban
    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.
    Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:
    نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَة وَصَمْتُهُ تَسْبِيح وَعَمَلُه مُضَاعَف وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَاب وَذَنْبُهُ مَغْفُور
    Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.
    Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.
    Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu’ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).
    Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif tetapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu).
    Hadits Palsu
    Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi. Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits. Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, dimana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.
    Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.
    Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah “manusia paling pendusta di muka bumi ini!”
    Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Beliau mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.
    Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Amr.
    Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, “Sulaiman bin Amr An-Nakha’i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits”. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu’afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I’tidal.
    Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.
    Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.
    Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.
    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  20. Dukut Nugroho Says:
    BAB V LEBARAN Puasa Syawwal atau Bayar Qadha’ Dulu? Assalamualaikum wr. wb, Afwan Ustadz, saya ingin bertanya tentang puasa Syawal, apakah pelaksanaannya harus setelah kita melaksanakan semua jumlah puasa qadha’ Ramadhan? Bolehkah melaksanakan puasa Syawal yang hukumnya sunnah, lalu membayar yang wajib setelahnya? Syukran. Wassalam, Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Jawaban atas semua pertanyaan anda itu pada hakikatnya adalah benar semua. Anda diperbolehkan untuk melakukan dengan cara yang mana pun. Anda boleh melakukan puasa sunnah bulan Syawwal dahulu, baru kemudian melakukan puasa qadha’ pengganti dari puasa yang anda tinggalkan karena uzdur di bulan Ramadhan kemarin. Dan anda juga boleh berpuasa qadha’ terlebih dahulu, baru kemudian melakukan puasa sunnah di bulan Syawwal. Tentu saja asalkan bulan Syawwal masih ada. Bahkan anda boleh berpuasa qadha’ dan sekaligus meniatkannya untuk berpuasa di bulan Syawwal. Seolah keduanya dilakukan di waktu yang bersamaan. Atau dua niat untuk satu puasa yang sama. Para ulama membolehkan semuanya, sesuai dengan logika dan ijtihad mereka masing-masing. Dan tentu satu sama lain tidak saling mengejek atau saling menyalahkan. Meski tetap berhak atas pilihannya masing-masing, selama mereka merasa pendapat mereka yang paling kuat. Mereka yang memandang lebih baik puasa sunnah Syawwal terlebih dahulu baru kemudian puasa qadha’, tidak bisa disalahkan. Sebab logika mereka memang masuk akal. Puasa sunnah bulan Syawwal itu waktu terbatas, yaitu hanya selama sebulan saja. Sedangkan waktu yang disediakan untuk mengqadha’ puasa Ramadhan terbentang luas sampai datangnya Ramadhan tahun depan. Dengan adanya bentang waktu yang berbeda ini, tidak ada salahnya mendahulukan yang sunnah dari yang wajib, karena pertimbangan waktu dan kesempatannya. Sebaliknya, mereka yang mendahulukan puasa Qadha’ terlebih dahulu kemudian baru puasa Sunnah bulan Syawwal, punya logika yang berbeda. Bagi mereka, lebih afdhal bila mengerjakan terlebih dahulu puasa yang hukumnya wajib, setelah ‘hutang’ itu terpenuhi, barulah wajar bila mengejar yang hukumnya sunnah. Rasanya, logika seperti ini juga masuk akal. Hanya sedikit masalahnya adalah bila jumlah puasa Qadha’ yang harus dibayarkan cukup banyak, maka waktu untuk puasa sunnah Syawwal menjadi lebih sedikit, atau malah sama sekali tidak cukup. Misalnya pada kasus wanita yang nifas di bulan Ramadhan, boleh jadi sebulan penuh Ramadhan memang tidak puasa. Maka kesempatan puasa sunnah Syawwal menjadi hilang dengan sendirinya. Ada juga pendapat yang lain lagi. Mereka berangkat dari pemahaman bahwa yang dimaksud dengan puasa 6 hari bulan Syawwal itu lebih kepada waktunya saja, bukan sebuah ibadah khusus yang spesifik. Maksudnya, diupayakan bahwa dalam 6 hari bulan Syawwal itu seseorang melakukan puasa, apapun motif dan niatnya. Kalau punya hutang puasa, maka minimal selama 6 hari di bulan Syawwal itu dia menebusnya dengan puasa Qadha’. Tapi kalau tidak punya ‘hutang’ puasa, maka niatnya adalah puasa sunnah biasa. Yang penting, di bulan Syawwal itu ada 6 hari yang dilaluinya dengan berpuasa. Pendapat ini rasanya lebih ringan, karena seseorang bisa dapat dua kebajibakn sekaligus. Pertama, kebajikan dari membayar hutang puasa. Kedua, kebajikan dari mengisi 6 hari bulan Syawwal dengan puasa. Sehingga meski niatnya puasa Qadha’, tapi fadhilah puasa 6 hari bulan Syawwal pun tetap didapatnya. Toh, dalilnya tidak mengharuskan bahwa niatnya hanya puasa sunnah, yang penting selama 6 hari itu dilalui dengan berpuasa. Mana pun pendapat yang anda pilih, semuanya punya dalil dan argumen yang bisa diterima. Dan tentu kita tidak perlu menjelekkan sesama saudara muslim, hanya lantaran kita berbeda sudut pandang yang bersifat ijtihadi. Kalau ijtihad kita benar, kita akan dapat 2 pahala. Tapi kalau ternyata salah, maka kita tidak dosa bahkan masih tetap dapat 1 pahala. Ketiga bentuk puasa di atas, tidak satu pun yang melanggar batas halal haram atau wilayah aqidah. Bahkan ketiganya hanyalah hasil nalar dan ijtihad manusiawi belaka atas dalil-dalil yang shahih dan sharih. Meski bentuknya saling berbeda, tapi insya Allah tidak sampai membuat kemungkaran. Yang mungkar adalah yang tidak membayar puasa Qadha’-nya hingga masuk Ramadhan tahun depan. Ada pun puasa 6 hari di bulan Syawwal, hukumnya sunnah. Boleh ditinggalkan tapi berpahala bila dikerjakan. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa Syawal Haruskah Berturut-Turut? Assalamu’alaikum Pak Ustadz. Mengenai puasa sunnah syawal, adakah aturan yang baku. Apakah harus 6 hari di awal syawal dan haruskan 6 hari berturut-turut, Tolong sertakan dalilnya pak Ustadz? Jazakallah. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Haruskah puasa Syawwal dilakukan berturut-turut atau tidak, para fuqaha berbeda pendapat. Mengapa berbeda pendapat? Tidak adakah aturan dari nabi SAW tentang tata cara puasa Syawwal? Jawabnya memang tidak ada aturannya. Dan oleh karena itulah makanya para ulama berbeda pendapat. Seandainya ada hadits shahih yang menjelaskan bahwa puasa Syawwal itu harus berturut-turut sejak tanggal-tanggal Syawwal, maka pastilah semua ulama bersatu dalam pendapat. Namun karena tidak ada satu pun dalil qath’i yang sharih dan shahih tentang aturan itu, amat wajar bila hal itu masuk ke wilayah ijtihad. Kalau yang berijtihad hanya orang awam seperti kita, mungkin bisa kita abaikan. Akan tetapi kita merujuk kepada orang yang paling tinggi levelnya dalam berijtihad. Mereka adalah para imam mazhab dan pendirinya langsung. Berikuti ini adalah pendapat mereka: a. Asy-Syafi’iyah dan sebagian Al-Hanabilah Al-Imam Asy-Syafi’i dan sebagian fuqaha Al-Hanabilah mengatakan bahwa afdhalnya puasa 6 hari Syawwal itu dilakukan secarar berturut-turut selepas hari raya ‘Iedul fithri. Sehingga afdhalnya menurut mazhab ini puasa Syawwal dilakukan sejak tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawwal. Dengan alasan agar jangan sampai timbul halangan bila ditunda-tunda. Nampaknya pendapat ini didukung oleh beberapa kalangan umat Islam di negeri ini. Misalnya di daerah Pekalongan Jawa Tengah. Sebagian masyarakat muslim di sana punya kebiasaan puasa Syawwal 6 hari berturut-turut sejak tanggal 2 syawwal. Sehingga ada lebarang lagi nanti pada tanggal 8 Syawwal. b. Mazhab Al-Hanabilah Tetapi kalangan resmi mazhab Al-Hanabilah tidak membedakan apakah harus berturut-turut atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh dari segi keutamaan. Sehingga dilakukan kapan saja asal masih di bulan Syawwal, silahkan saja. Tidak ada keharusan untuk berturut-turut, juga tidak ada ketentuan harus sejak tanggal 2 Syawwal. Mereka juga mengatakan bahwa puasa 6 hari syawwal ini hukumnya tidak mustahab bila yang melakukannya adalah orang yang tidak puasa bulan Ramadhan. c. Mazhab Al-Hanafiyah Sedangkan kalangan Al-Hanafiyah yang mendukung kesunnahan puasa 6 hari syawwal mengatakan sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa lebih utama bila dilakukan dengan tidak berturut-turut. Mereka menyarankan agar dikerjakan 2 hari dalam satu minggu. d. Mazhab Al-Malikiyah Adapun kalangan fuqaha Al-Malikiyah lebih ekstrim lagi. Mereka malah mengatakan bahwa puasa itu menjadi makruh bila dikerjakan bergandengan langsung dengan bulan Ramadhan. Hukumnya makruh bila dikerjakan mulai tanggal 2 Syawwal selepas hari ‘Iedul fithri. Bahkan mereka mengatakan bahwa puasa 6 hari itu juga disunnahkan di luar bulan Syawwal, seperti 6 hari pada bulan Zulhijjah. Demikianlah perbedaan pendapat di kalangan 4 mazhab, semua terjadi karena tidak ada satu pun nash yang menetapkan puasa Syawwal harus dikerjakan dengan begini atau begitu. Dan ketiadaan nash ini memberikan peluang untuk berijtihad di kalangan fuqaha. Kita boleh menggunakan pendapat yang mana saja, karena semua merupakan hasil ijtihad para fuqaha kawakan, tentunya mereka sangat mengerti dalil dan hujjah yang mendukung pendapat mereka. Dan rasanya aneh kalau kita yang awam ini malah saling menyalahkan antara sesama yang awam juga. Sebab hak untuk saling menyalahkan tidak pernah ada di tangan kita. Jangankan kita, para ulama besar itu pun tidak pernah saling menyalahkan. Meski mereka saling berbeda pendapat, namun hubungan pribadi di antara mereka sangat erat, mesra dan akrab. Kita tidak pernah mendengar mereka saling mencaci, memaki, atau melecehkan. Padahal mereka jauh lebih berhak untuk membela pendapat mereka. Namun sama sekali kita tidak pernah mendengar perbuatan yang tercela seperti itu. Hanya orang-orang kurang ilmu saja yang pada hari ini merasa dirinya pusat kebenaran, lalu menganggap bahwa semua orang harus selalu salah. Naudzubillah, Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Lebaran Ikut Pemerintah? Assalamu’alaikum wr.wb. Saya tertarik dengan jawaban Ustadz tentang penekanan mengikuti lebaran bersama pemerintah. Pemerintah yang mana menurut kriteria Islam yang harus diikuti keputusannya khususnya dalam masalah agama? Karena menurut hemat saya pemerintah kita kurang dipercaya dalam berbagai masalah saat ini (krisis kepercayaan). Mohon maaf kalau pandangan saya ini keliru. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pemerintah kita sekarang ini adalah pemerintah yang sah, dipilih lewat jalur pemilihan yang sah juga. Maka secara de facto dan de jure, pemerintah itu adalah pemerintah yang sah. Kalau ada oknum di dalam kabinet, atau di dalam suatu departemen tertentu, yang kurang kita sukai, baik pribadinya maupun kebijakannya, tentu tidak menggugurkan sah atau tidak sah suatu pemerintahan. Pemerintah yang tidak perlu ditaati, bahkan wajib hukumnya dilawan, adalah pemerintah yang memusuhi agama Allah secara terang-terangan, langsung pada bagian-bagian yang paling vital. Misalnya, pemerintah itu secara tegas melarang shalat, puasa, zakat, haji atau wanita menutup aurat. dimana sikap itu memang sikap resmi dari pemerintah. Sebagai contoh dari pemerintahan yang haram ditaati adalah pemerintahan Hindia Belanda di zaman penjajahan dulu. Bagi kita bangsa Indonesia, mereka jelas bukan pemerintah. Sebab mereka datang ke sini untuk menjajah negeri, merusak agama Islam dan merampas kekayaan alam kita. Maka sebagai muslim, dahulu kakek kita mengangkat senjata sesuai dengan perintah Allah SWT. Sampai akhirnya penjajah itu pergi. Lalu umat Islam saat itu, sebagai mayoritas rakyat bangsa ini, membentuk pemerintahan, dimana Islam merupakan unsur terpenting di dalam pemerintahan itu. Piagam Jakarta adalah salah satu jaminan bahwa pendirian Republik ini adalah investasi umat Islam sampai kapan pun. Walau pun di kemudian hari Piagam Jakarta itu telah dikhianati para penguasa. Namun kita harus akui bahwa dalam perjalanannya, perjuangan umat Islam di dalam pemerintahan sering mengalami rintangan. Ada saja pihak-pihak sekuler yang ingin merebut dan mengambil alih tongkat kepemimpinan di Indonesia. Dan merupakan sunnatullah bahwa perjuangan mengalami masa pasang surut. Walau demikian, pemerintahan kita ini telah mendirikan Departemen Agama sebagai badan resmi pemerintah untuk mengatur kehidupan antar umat beragama di negeri ini dimana kita ketahui walau Islam merupakan agama mayoritas namun banyak pula penduduk negeri ini yang non-Muslim. Di dalam Departemen Agama yang salah satunya bertugas menangani masalah-masalah keumatan kaum Muslimin, maka posisi itu diisi oleh orang-orang yang sedikit banyak memahami hukum-hukum Islam. Bahkan dalam masalah perkawinan misalnya, jika ada wanita yang sudah tidak punya wali, maka Ketua KUA di Departemen Agama yang jadi wali. Sampai dengan belum berdirinya pemerintahan Islam yang kaffah dan syamilah, maka Departemen Agama memiliki otoritas dalam hal-hal tertentu untuk mengatur kehidupan beragama rakyat Indonesia. Dalam hal penentuan awal Ramadhan dan Syawal misalnya, apa yang dilakukan Menteri agama Maftuh Basyuni dengan memanggil para pakar hisab dan rukyat sudah benar. Dan apa pun yang dihasilkan mereka, kita tentu bisa menerimanya sebagai salah satu hasil ijtihadiyah. Ini sudah benar dan memang hanya Departemen Agama saja yang punya otorias dan kewenangan untuk masalah ini. Sehingga kita bisa hemat tenaga untuk masalah satu ini. Serahkan ahlinya dan ikuti komandonya. Kalau pun seandainya mereka berbohong, atau memutuskan sesuatu dalam urtusan agama berdasarkan hawa nafsunya sendiri atau untuk memuaskan satu kelompok, bukan semata-mata untuk meninggikan kalimah Allah, maka yang berdosa adalah mereka sendiri, bukan kita. Namun mudah-mudahan hal ini tidak sampai terjadi. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Arti Ucapan Selamat Lebaran Assalamualaikum… Selamat lebaran Pak Ustadz. Saya langsung saja ke pertanyaan pak Ustadz. Setiap menyambut hari raya idul fitri, kebanyakan kaum muslim mengirimkan ucapan selamat Lebaran berbunyi ” Taqabalallahu Minna waminkum, shiyamana washiya-makum. Minal aidin wal faidzin.” Saya sebagai orang awam yang tidak tahu dengan bahasa Arab, bingung dengan arti kata-kata di atas. Mohon kepada Pak Ustadz menjelaskan arti kalimat di atas. Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Taqabbalallahu itu artinya semoga Allah mengabulkan. Minaa wa minkum berarti dari kami dan dari anda. Shiyamana wa shiyamakum berarti puasa kami dan puasa anda. Sedangkan lafadz minal a’idin wal faidzin merupakan doayang terpotong, arti secara harfiyahnya adalah: termasuk orang yang kembali dan menang. Lafadz ini sebenarnya terpotong, seharusnya ada lafadz tambahan di depannya meski sudah lazim lafadz tambahan itu memang tidak diucapkan. Lengkapnya ja’alanallahu minal a’idin wal faidzin, yang bermakna : Semoga Allah menjadi kita termasuk orang yang kembali dan orang yang menang. Namun sering kali orang salah paham, dikiranya lafadz itu merupakan bahasa arab dari ungkapan mohon maaf lahir dan batin. Padahal bukan dan merupakan dua hal yang jauh berbeda. Lafadz taqabbalallahu minna wa minkum merupakan lafadz doa yang intinya kita saling berdoa agar semua amal kita diterima Allah SWT. Lafadz doa ini adalah lafadz yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika kita selesai melewati Ramadhan. Jadi yang diajarkan sebenarnya bukan bermaaf-maafan seperti yang selama ini dilakukan oleh kebanyakan bangsa Indonesia. Tetapi yang lebih ditekankan adalah tahni’ah yaitu ucapan selamat serta doa agar amal dikabulkan. Meski tidak diajarkan atau diperintahkan secara khusus, namun bermaaf-maafan dan silaturrahim di hari Idul Fithri juga tidak terlarang, boleh-boleh saja dan merupakan ‘urf (kebiasaan) yang baik. Di luar Indonesia, belum tentu ada budaya seperti ini, dimana semua orang sibuk untuk saling mendatangi sekedar bisa berziarah dan silaturrahim, lalu masing-masing saling meminta maaf. Sungguh sebuah tradisi yang baik dan sejalan dengan syariah Islam. Meski terkadang ada juga bentuk-bentuk yang kurang sejalan dengan Islam, misalnya membakar petasan di lingkungan pemukiman. Tentunya sangat mengganggu dan beresiko musibah kebakaran. Termasuk juga yang tidak sejalan dengan tuntunan agama adalah bertakbir keliling kota naik truk sambil mengganggu ketertiban berlalu-lintas, apalagi sambil melempar mercon, campur baur laki dan perempuan dan tidak mengindahkan adab dan etika Islam. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, BAB VI PUASA SUNNAH Shaum Sunat 13, 14 dan 15 Assalamu’alaikum wr.wb. Ustadz, apakah pelaksanaan shaum sunat pertengahan bulan harus dilaksanakan secara lengkap yaitu pada tanggal 13,14 dan 15 di setiap bulan hijriah? Jika sedang berhalangan bolehkah shaum pertengahan bulan hanya di salah satu dari 3 hari tersebut? Misalnya hanya di tanggal 13 saja, tanggal 14 saja, tanggal 15 saja, tanggal 13 dan 14 saja, tanggal 13 dan 15 saja atau tanggal 14 dan 15 saja? Terima kasih, Ustadz. Jazakallahu khairan katsiron. Jawaban Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa tiga hari tiap bulan pada tanggal 13, 14 dan 15 adalah puasa sunnah. Latar belakang pensyariatannya adalah dua hadits Rasulullah SAW berikut ini. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  يَا أَبَا ذَرٍّ إذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلاثَةً فَصُمْ ثَلاثَ عَشَرَةَ وَأَرْبَعَ عَشَرَةَ وَخَمْسَ عَشَرَةَ- رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ Dari Abu Zar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Aba Zarr, bila kamu puasa tiga hari dalam sebulan, maka puasalah pada tanggal 13, 14 dan 15. (HR An-Nasai, At-Tirmizy dan Ibnu Hibban) عَنْ أَبِي قَتَادَةَ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَمَضَانُ إلَى رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ- رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُد Dari Qatadah bin Milhan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk puasa pada hari-hari putih (ayyamul biidh), yaitu tanggal 13, 14 dan 15. Puasa di hari-hari itu seperti puasa selamanya. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud) Meski puasa itu 3 hari, namun pendapat kami mengatakan bahwa tiga hari itu bukan merupakan satu kesatuan yang saling membatalkan bila tidak dilaksanakan salah satunya. Kita boleh berpuasa untuk tiga hari itu, atau boleh juga hanya dua hari atau hanya satu hari saja. Apalagi mengingat puasa ini hanyalah puasa sunnah, bukan puasa wajib. Tidak ada ketetapan yang mengharuskan untuk melakukannya tiga hari berturut-turut, dimana bila salah satunya ditinggalkan, maka semua harus ditinggalkan. Puasa sunnnah tiga hari ini tidak mensyaratkan mutatabi’ah (dilakukan dengan berturut-turut), sebagaimana puasa kaffarat (denda) saat seseorang melakukan hubungan seksual siang hari di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, silahkan saja untuk berpuasa di salah satu hari dari ketiga hari itu. Dan bila tiba-tiba anda mendapat haidh, maka berhentilah puasa. Demikian juga bila haidh anda berhenti pada tanggal 14, anda boleh berpuasa sunnah pada tanggal 15 keesokan harinya. Bagaimana dengan pahalanya ? Tentu saja pahala orang yang berpuasa 3 hari, berbeda dengan pahala orng yang berpuasa hanya 2 hari atau 1 hari saja. Tetapi dari pada tidak dapat pahala sama sekali, lebih baik mendapat sebagiannya. Sesuai kaidah: Maa laa yudraku kullhu laa yutraku julluhu. Sesuatu yang tidak bisa didapat seluruhnya, tidak harus ditinggalkan semuanya. Wallahu a’lam bishshawab wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Hukumnya Shaum Tasyu`a dan ‘Asyura Assalamu’alaikum wr.wb. Ustadz, bagaimana hukumnya melakukan shaum tasyu`a dan Asyura? Jawaban Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Puasa Asyura maksudnya adalah puasa sunnah pada tanggal 10 bulan Muharram. Tahun ini insya Allah akan jatuh pada hari Kamis tanggal 9 Pebruari 2006. Hukum asalnya wajib, namun kemudian kewajibannya di-nasakh (dibatalkan) dengan kewajiban shaum Ramadhan, maka shaum tersebut berubah hukumnya menjadi sunnah. Rasulullah SAW menganjurkan kepada umat Islam untuk melaksanakan shaum ‘Assyuraa (shaum hari kesepuluh) dari bulan Muharram ditambah dengan shaum sehari sebelumnya atau sesudahnya. Puasa sehari sebelumnya dinamakan tasu’a, berasal dari kata tis’ah yang artinya sembilan. Karena puasa itu dilakukan pada tanggal 9 bulan Muharram. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat, antara lain: Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ini hari Assyura, dan Allah SWT tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka hendaklah ia berbuka.” (HR Bukhari 2003) Hadits lainnya adalah hadits berikut ini: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa, beliau pun bertanya? Mereka menjawab, “Ini hari baik, hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari itu.” Maka Rasulullah SAW menjawab, “Aku lebih berhak terhadap Musa dari kalian”, maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk melaksanakan shaum tersebut. (HR Bukhari 2004) Juga ada hadits lainnya yang terkait dengan apa yang Anda tanyakan: Dari Ibnu Abbas berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shaum Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka berkata, “Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan shaum pada hari kesembilannya”. Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW meninggal sebelum sampai tahun berikutnya” (HR Muslim 1134) Rasulullah SAW bersabda, “Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR Ath-Thahawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095) Adapun keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819) Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya. Wallahu a‘lam bishshowab. Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Puasa Jumat Dalam Puasa Dawud Assalamu’alaikum wr wb Ustadz yth Saya saat ini menjalankan puasa sunnah dawud. Lantas bagaimana kalau pas hari Jumatnya? Sedangkan katanya puasa hari jumat makruh hukumnya? Untuk shalat tahajud itu kalau rakaatnya dua-dua, kalau untuk sebelas rakaat apa shalat dua rakaat kali lima kmd satu rakaat untuk witir Ustadz. makhlum Ustadz saya masih dangkal sekali ilmu Islamnya. Jzk atas jwbnya Wassalamu’alaikum wr wb Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebenarnya para ulama tidak mengatakan bahwa pengkhususan puasa sunnah di hari Jumat sebagai puasa yang haram. Para ulama lebih tepatnya mengatakan makruh, bukan haram. Yang dimakruhkan dalam puasa di hari Jumat adalah pengkhususan hari itu untuk puasa sunnah. Dan itupun bila tanpa dibarengi atau diiringi dengan rangkaian puasa lainnya. Tapi kalau ada barengannya, misalnya hari Kamis atau hari Sabtu, juga dilakukan puasa sunnah, maka tidak dikatakan bahwa hari Jumat itu ‘sendirian’. Karena ada barengannya. Dan menurut hemat kami, ketika seseorang menjalani puasa sunnah sebagaimana puasa Nabi Daud ‘alaihissalam, maka ketika puasa itu jatuh di hari Jumat, juga tidak bisa dikatakan puasa sunnah di hari Jumat sendirian. Dan demikian juga ketika seseorang bernadzar untuk puasa satu hari keesokan harinya apabila pada hari itu mendapatkan apa yang dicita-citakan. Misalnya seseorang bernadzar begini, “Kalau suatu hari saya diterima jadi pegawai, maka keesokan harinya saya akan puasa sunnah satu hari.” Kalau kebetulan pengumuman kelulusannya di hari Kamis, mau tidak mau keesokan harinya harus puasa sehari, meski pun jatuhnya hari Jumat. Kok boleh? Boleh, karena niatnya bukan semata-mata mau mengkhususkan hari jumat untuk puasa sunnah. Sebenarnya larangan atau kemakruhan puasa khusus pada hari Jumat adalah bila seseorang secara sengaja berniat untuk mengkhususkan hari Jumat sebagai hari puasa sunnah. Dalil atas makruh atau haramnya puasa khusus di hari Jumat adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini: Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dengan berpuasa, dan tidaklah pula malamnya untuk ditegakkan (shalat)”. (HR Muslim, Kitabus Shiam Bab Makruhnya Puasa Khusus di Hari Jum’at 1144). Kalau kita baca fatwa Syeikh Al-‘Utsaimin, di antara hikmah kenapa ada larangan pengkhususan hari Jum’at untuk berpuasa, ada beberapa hal: Pertama, hari Jum’at merupakan salah satu hari raya dari tiga hari raya yang disyari’atkan. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam Islam terdapat tiga hari raya: Hari raya Idul Fitri setelah Ramadhan, Hari Raya Idul Adhha, dan hari raya mingguan yaitu hari Jum’at. Kedua: Selain itu hari Jum’at adalah hari dimana sudah sepantasnya bagi seorang laki-laki mengedepankan shalat Jum’at pada hari itu, menyibukkan diri dengan doa, dan berdzikir karena hari Jum’at ini serupa dengan hari Arafah yang tidak disyaratkan bagi jama’ah haji untuk berpuasa pada hari Arafah itu. Hal ini karena dia sibuk dengan doa dan dzikir. Shalat Malam Dua Rakaat Dua Rakaat Yang paling afdhal dalam melaksanakan shalat malam, berapapun jumlah rakaatnya, hendaknya dilakukan dengan dua rakaat lalu salam. Kemudian mulai lagi shalat yang baru, tentu dengan dua rakaat dan salam. Begitulah seterusnya sampai berapa pun jumlah bilangan rakaatnya. Terakhir baru ditutup dengan shalat witir, baik satu rakaat atau pun tiga rakat menurut sebagian ulama. Hal itu berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang menjawab pertanyaan seseorang yang bertanya tentang tata cara shalat malam. Dari Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu, “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang salat malam. Beliau menjawab, “Salat malam itu dua rakaat dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu salat Subuh, maka hendaklah ia salat witir satu rakaat untuk mengganjilkan salat sebelumnya. (HR Muslim) Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa Hari Kelahiran Assalamualaikum Wr, Wb Pak Ustadz, saya pernah mendengar bahwa puasa pada hari kelahiran itu bagus, apalagi yang lahir pada hari Jum’at yang katanya agak berat tentang peruntungannya misalnya karir, jodoh dll. Apakah itu benarPak Ustadz? Apakah ada di dalam ajaran Islam? Jika benar lalu bagaimana jika dia hari Jum’at? Sedangkan yang saya tahu Puasa Sunah 1 hari pada hari Jum’at tidak boleh, apakah harus dibarengi dengan puasa hari kamis/sabtu? Mohon penyelasannya. Terima kasih, mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan. Wassalamualaikum Wr. Wb Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Memang benar kalau Rasulullah SAW sering berpuasa sunnah di hari Senin. Dan salah satu alasannya adalah karena hari itu adalah hari dimana beliau dilahirkan ke muka bumi. Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu hari kelahiranku dan diturunkan wahyu.” (HR Muslim dan Ahmad) Namun apakah hal yang sama juga berlaku buat umatnya, yakni disunnahkan berpuasa di hari kelahiran, tentu menjadi perdebatan panjang para ulama. Mengingat Rasulullah SAW adalah pembawa risalah resmi dari Allah SWT. Ketika beliau melakukan ritual ibadah, alasan yang beliau kemukakan tentu sangat terkait dengan diri beliau sendiri. Artinya, kalau beliau SAW sering berpuasa di hari Senin karena beliau lahir di hari itu, lantas puasa sunnah disyariatkan untuk dilakukan pada hari itu, maka kesimpulan hukumnya adalah kita disyariatkan untuk berpuasa di hari kelahiran beliau, bukan di hari kelahiran kita sendiri. Sebab yang lahir di hari Senin itu bukan seorang Muhammad sebagai seorang anak dari manusia, melainkan yang lahir adalah seorang utusan Allah. Maka kita berpuasa di hari kelahiran seorang utusan Allah, bukan di hari kelahiran diri kita sendiri. Apalagi hadits di atas masih diteruskan bahwa di hari Senin itu turun wahyu. Berarti topik hadits itu adalah keutamaan hari Senin, bukan keutamaan hari kelahiran tiap manusia. Apa urusannya kita berpuasa di hari kelahiran kita sendiri? Apa istimewanya diri kita sehingga ada syariat dimana kita disunnahkan untuk berpuasa di hari kelahiran diri sendiri? Dan kalau kita menengok praktek para shahabat nabi yang mulia, kita tidak menemukan bahwa mereka masing-masing sibuk berpuasa di hari kelahiran mereka. Yang mereka lakukan adalah berpuasa di hari kelahiran nabi Muhammad SAW, yaitu hari Senin. Di sinilah fungsi para shahabat, yaitu untuk dijadikan perbandingan dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Kita memang diharuskan mengikuti sunnah RAsulullah SAW, namun terkadang kita sering kali salah duga dan salah kira. Maka praktek para shahabat nabi SAW bisa dijadikan guide pembanding, seperti apakah seharusnya ibadah yang kita lakukan dalam rangka mengikuti nabi Muhammad SAW? Maka kita lihat praktek para shahabat nabi SAW. Karena itu, beliau SAW pun tidak lupa untuk memerintahkan kita untuk selain mengikuti praktek nabi, juga mengikuti praktek ibadah dari para shahabatnya itu. Puasa di Hari Jumat Puasa sunnah hanya pada hari jumat haram hukumnya, yaitubila tanpa didahului dengan hari sebelum atau sesudahnya. Kecuali ada kaitannya dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa sunah nabi Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak. Maka bila jatuh hari Jumat giliran untuk puasa, boleh berpuasa. Sebagian ulama tidak sampai mengharamkannya secara mutlak, namun hanya sampai makruh saja. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, BAB VII MENGGANTI PUASA Haruskah Membayar Hutang Puasa Ramadhan? Assalamualaikum wr. wb. Jika ada orang yang baru masuk muslim (misal usianya ketika itu 20 tahun), apakah dia harus membayar hutang puasanya selama 20 tahun tersebut atau bagaimana? Mohon penjelasannya. Wassalamualaikum wr. wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kewajiban menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan itu secara hukum fiqihnya membutuhkan syarat, baik syarat wajib maupun syarat sah. Dan di antara syarat itu adalah pelakunya seorang muslim. Bila seseorang tidak memeluk agama Islam, maka tidak ada kewajiban untuk melakukan puasa. Meski tetap berdosa di sisi Allah SWT. Kasusnya nyaris mirip meski tidak persis benar dengan syarat sahnya shalat, yaitu berwudhu’ (suci dari hadats). Seorang yang dalam keadaan tidak punya wudhu’, tentu tidak sah bila melakukan shalat, namun dia tetap wajib untuk melakukannya. Bila tidak melakukannya, maka dia berdosa. Adapun orang kafir, secara hukum memang tidak diwajibkan untuk puasa Ramadhan, namun di akhirat dia akan disiksa lantaran tidak puasa. Dan untuk bisa sah puasanya, dia harus masuk Islam dulu. Sehingga secara hukum, bila ada seorang kafir masuk Islam, maka dia barulah diwajibkan puasa atasnya. Adapun sebelum masuk Islam, tidak ada kewajiban atasnya untuk puasa, karena saat itu dia bukan seorang muslim. Dan tidak ada kewajban untuk mengganti puasanya, karena yang namanya mengganti itu adalah bila seorang sudah dibebani kewajiban, lalu karena satu dan lain hal, dia tidak mampu melakukannya. Misalnya karena sakit atau karena perjalanan. Begitu sehat atau sudah tidak dalam perjalanan, dia harus menggantinya. Sedangkan orang yang pada hakikatnya tidak diwajibkan puasa, maka tidak diwajibkan menggantinya secara konteks fiqih. Lagi pula dengan masuknya seseorang ke dalam agama Islam, maka segala dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukannya dengan sendirinya akan terhapus. Skornya masih 0:0 seperti seorang bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Sebagaimana hadits Amr bin Al-Ash berikut ini: ‏أَنَّ‏ ‏عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏لَمَّا أَلْقَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِي الإِسْلامَ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ ‏  ‏لِيُبَايِعَنِي فَبَسَطَ يَدَهُ إِلَيَّ فَقُلْتُ لا أُبَايِعُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَتَّى تَغْفِرَ لِي مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِي قَالَ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏يَا ‏ ‏عَمْرُو ‏ ‏أَمَا عَلِمْتَ ‏ ‏أَنَّ الْهِجْرَةَ تَجُبُّ مَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ يَا ‏عَمْرُو‏ ‏أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ مِنْ الذُّنُوبِ ‏ Dari Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Allah azza wa jalla memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku mendatangi Rasulullah SAW untuk memba’iatku. Beliau SAW menjulurkan tangannya kepadaku. Namun aku berkata, “Aku tidak akan berbai’at dengan Anda, ya Rasulallah hingga Anda mintakan aku ampunan atas dosaku.” Rasulullah SAW menjawab, “Ya Amr, tidakkah kamu tahu bahwa hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya? Ya Amr, tidakkah kamu tahu bahwa masuk Islam itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?” (HR Ahmad) Berbeda dengan orang yang sudah muslim sejak aqil baligh, maka hitungan amal baik dan buruk sudah dimulai sejak pertama kali baligh. Maka boleh jadi setelah sekian tahun semenjak baligh itu, justru catatan amal buruknya yang lebih dominan. Sedangkan orang yang baru saja masuk Islam, di antara keuntungannya adalah catatan amal buruknya diputihkan, sehingga saat itu juga dia tidak punya beban apapun kepada Allah. Namun semua itu dengan pengecualian dosa kepada manusia. Dosa kepada manusia, seperti pernah membunuh, menzalimi, memukul, merugikan, mempermalukan dan sejenisnya, tentu tidak hilang begitu saja. Masih dibutuhkan kerelaan dan keikhlasan dari manusia yang disakitinya itu. Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz, ana mau tanya. Bagaimanakah cara membayar hutang puasa Ramadhan yang batal karena hubungan suami isteri? Pada bulan Ramadhan saya khilaf, saya dan suami bercumbu di siang hari tapi tidak melakukan hubungan suami isteri. Apakah cara bayarnya sama dengan ketika hutang puasa Ramadhan karena ada udzur (haid) atau bagaimana? Terus terang saya binggung. Saya sudah membayar puasa tersebut dengan puasa yang sama dengan seperti saya bayar untuk hutang puasa karena udzur. Apakah cara bayarnya sama seperti itu atau ada yang lain ? Jazakallah khairon katsiro Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kewajiban seorang yang sedang berpuasa Ramadahan adalah menjaga diri dari makan, minum dan berhubungan suami isteri di siang hari. Makan dan minum secara sengaja, tentu membatalkan puasa, berdosa dan untuk itu ada kewajiban untuk menggantinya dengan puasa di hari lain. Sedangkan bila melakukan hubungan suami isteri, selain membatalkan puasa dan berdosa, kaffarat (tebusan)-nya adalah membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin. Sesuai sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku, ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ “Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak.“ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?” ”Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin? ” ”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata,”Ambilah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671) Batas Pelanggaran Namun batalnya puasa itu hanya terjadi manakala memang benar-benar terjadi persetubuhan. Sedangkan sekedar bercumbu sampai mencium, meski sampai terangsang namun tidak terjadi jima’, tidak membatalkan puasa, juga tidak mewajibkan kaffarat. Bila yang terjadi hanya sekedar percumbuan, tidak sampai jima’, maka hukumnya hanya makruh saja. Tetapi tidak ada kewajiban membayar tebusan (kaffarah), bahkan tidak membatalkan puasa. Kecuali bila percumbuan itu sampai mengeluarkan mani, maka puasanya batal, tapi tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Cukup mengganti puasanya yang batal itu saja. Tentang kemakruhan untuk mencumbu isteri saat puasa, karena dikhawatirkan akan kelewatan yang beresiko lebih buruk. Sedangkan bila seseorang mampu menjaga diri dan menahan gejolak syahwatnya, tidak mengapa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW: عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ  يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لإِرْبِهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah SAW menciumnya dalam keadaan sedang berpuasa. Dan beliau mencumbunya ketika sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling mampu menahan hawa nafsunya. (HR Bukhari Muslim) Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mengganti Puasa Assalamu ‘Alaikum wr. wb. Mohon penjelasan pak Ustadz. Pada bulan Ramadhan kemarin isteri saya tidak berpuasa karena sedang hamil. Bagaimana caranya untuk membayar hutang puasa isteri saya, berapa besarnya dan sampai kapan batas waktunya. Terima kasih. Wassalamu ‘Alaikum wr. wb. Jawaban Assalamu `alaikum Wr. Wb. Hutang puasa karena hamil itu bisa diganti dengan cara qadha’, bayar fidyah atau keduanya. Pilihannya memang berbeda antara satu ulama dengan ulama lain. Ada yang mengatakan cukup diganti dengan puasa saja. Juga ada yang mengatakan cukup diganti dengan membayar fidyah. Bahkan ada juga yang mengatakan harus diganti dengan qadha’ puasa dan bayar fidyah sekaligus. Mereka yang mengatakan bahwa penggantiannya cukup dengan puasa qadha’, berangkat dari kesimpulan bahwa seorang wanita hamil itu sama kasusnya dengan orang sakit. Sebagaimana kita tahu, bahwa seorang yang sakit boleh tidak puasa. Dan sebagai gantinya, harus berpuasa qadha’ sebanyak jumlah hari yang ditinggalkannya itu. Sebagaimana firman Allah SWT: Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah, memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 184) Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa wanita yang hamil itu lebih dekat seperti keadaan orang yang sudah tua dan tidak mampu puasa. Dalam kasus ini, orang tersebut tidak perlu mengganti dengan puasa qadha’, melainkan cukup hanya dengan membayar fidyah. Yaitu memberi makan fakir miskin. Maka wanita hamil boleh tidak puasa dan cukup membayar dengan fidyah saja. Ukurannya sebesar satu atau dua mud sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Bila dikira-kira, ukurannya sebanyak 3,5 liter beras atau 2,5 kg dan diberikan kepada fakir miskin. Satu hari tidak puasa dibayar dengan satu/dua mud fidyah. Sedangkan As-Syafi‘i berpendapat bahwa wanita hamil yang tidak puasa harus membayar dengan qadha‘ puasa sekaligus juga dengan membayar fidyah. Pendapat Asy-Syafi‘i ini barangkali berat, namun lebih nampaknya beliau mencari titik aman, karena sebaiknya tidak berspekulasi dalam ibadah. Wallahu a‘lam bis-shawab. Cara Bayar Fidyah Assalamu’alikum wr. wb. Pak Ustadz, isteri saya lagi hamil 9 bulan, bagaimana caranya kita membayar fidyah ? Setiap hari atau bisa sekaligus ? Berapa yang kita bayarkan, seharga makan sehari atau makan sekali ? Terima kasih atas bantuannya. Wasalammu alaikum wr. wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin. Sedangkan teknis pelaksanaannya, apakah mau perhari atau mau sekaligus sebulan, kembali kepada keluasan masing-masing orang. Kalau seseorang nyaman memberi fidyah tiap hari, silahkan dilakukan. Sebaliknya, bila lebih nyaman untuk diberikan sekaligus untuk puasa satu bulan, silah saja. Yang penting jumlah takarannya tidak kurang dari yang telah ditetapkan. Berapakah Besar Fidyah? Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa. Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung. Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin. Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter. Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter. Siapa Saja yang Harus Bayar Fidyah? Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa. Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu. Mereka itu wajib membayar fidyah saja menurut sebagian ulama, namun menurut Al-Imam Asy-Syafi‘i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha’ puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha‘. Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mengganti Bagi yang Tidak Sanggup Puasa Assalaamu’alaikum wr. Wb. Saya memiliki saudara laki-laki yang tidak sanggup berpuasa padahal umurnya baru 25 tahun. Setiap kali mencoba untuk berpuasa maka dia akan langsung terlihat pucat, berkeringat dingin, dan tampak lemah sekali sehingga kami menyuruhnya untuk berbuka saja. Tetapi dia tidak mengidap suatu penyakit apapun. Lalu bagaimana dia harus mengganti puasanya itu? Wassalamualaikum wr. Wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yang pasti, saudara anda itu harus diperiksakan ke dokter. Biar kita dengar keterangan dari dokter tentang apa yang sesungguhnya dialami. Mengingat usianya baru 25 tahun, masih muda dan seharusnya kuat berpuasa. Bukankah anak-anak kita yang masih SD sekalipun, sejak kecil sudah kuat untuk berpuasa? Lalu ada apa gerangan kok orang dewasa usia 25 tahun tidak kuat puasa? Pasti ada yang tidak beres. Kita harus dapat keterangan dulu, sejak kapan dia mengalami hal itu. Apakah sejak kecil atau tiba-tiba saja. Apakah selama kecilnya tidak pernah berlatih puasa? Semua itu perlu diteliti secara seksama. Kalau seandainya dokter sudah turun tangan, dan memberikan keterangan pasti tentang penyebabnya, dan ternyata dia mengalami suatu kelainan tertentu, bukan karena keinginan dirinya untuk tidak puasa, maka barulah kita bisa mengambil tindakan hukum. Mungkin nanti para ulama bisa mengqiyaskan kasusnya sama dengan orang tua bangka yang tidak mampu puasa. Dan hukumnya sudah ada, yaitu boleh tidak puasa dan tidak perlu mengganti dengan puasa. Menggantinya cukup dengan membayar fidyah atas hari-hari yang ditinggalkannya. Sesuai dengan firman Allah SWT: Dan bagi orang-orang yang tidak mampu berpuasa, hendaklah mereka membayar fidyah memberi makan orang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184) Sebagian dari para ulama juga telah memasukkan wanita hamil dan menyusui ke dalam kelompok ini juga. Sehingga buat sebagai ulama, cukup dengan membayar fidyah saja untuk mengganti puasa. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bisakah Dibayar Ramadhan Berikutnya? Assalamu’alaikum, Ustadz, saya punya adik yang masih punya hutang puasa pada Ramadhan 2 yang lalu. Apakah masih bisa dibayar pada tahun ini? Jaza kallah khairan katsir. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Prinsipnya, setiap hutang itu wajib dibayarkan. Bahkan meski seseorang telah wafat dan masih punya tanggungan hutang puasa, maka para ahli warisnya berkewajiban untuk membayarkannya. Apalagi bila masih hidup, meski sudah terlewat beberapa Ramadhan, tetap saja hutang puasa itu wajib dibayarkan. Bila masih ada sisa waktu tahun ini hingga masuk Ramadhan, maka segera saja bayarkan puasa itu, sebelum masuk bulan Ramadhan. Tetapi seandainya tidak cukup waktunya, kerjakan saja yang bisa dikerjakan. Sedangkan yang masih tersisa, bisa dikerjakan nanti setelah selesai Ramadhan. Yang penting, semua hutang bisa segera terbayar, sebelum maut menjemput. Sebab puasa bagian rukun Islam, wajib hukumnya untuk dilaksanakan pada waktunya. Sedangkan bila terlewat dari waktunya, kewajiban untuk berpuasa tidak serta merta gugur. Sebagai hutang, puasa itu tetap wajib dilunasi. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. BAB VIII PUASA DALAM BERBAGAI KONDISI Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui Assalamu alaikum wr. wb. Ustadz, Ramadhan tahun ini, insya Allah umur anak kami sudah 1 tahun 1 bulan. Selama ini, anak kami dikasih ASI dan MPASI (Makanan Pendamping ASI sejak umur 6 bulan). Masalahnya, anak kami jika sudah makan, tetap akan meminta ASI. Yang menjadi permasalahannya, apa diperbolehkan isteri saya tidak melakukan puasa dan cukup dengan membayar fidhyah atau bagaimana sebaiknya? Dia khawatir jika puasa, ASI-nya hanya sedikit yang keluar. Terima kasih Ustadz. Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ada keringanan bagi wanita yang sedang menyusui anak untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Dan ini merupakan bagian dari sifat syariah Islam yang pada dasarnya sangat manusiawi, mudah dan bersifat meringankan. Keringanan ini juga berlaku buat wanita yang sedang hamil, baik karena mengkhawatirkan bayinya atau mengkhawatirkan dirinya sendiri. Para ulama memasukkan kedua jenis keadaan ini ke dalam kelompok orang-orang yang dibolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana orang yang sedang sakit atau sedang dalam perjalanan. Dengan dasar dalil umum yaitu firman Allah SWT dalam Al-Quran: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (QS. Al-Baqarah: 184) Namun para ulama sebagian dengan yang lainnya berbeda pendapat tentang bagaimana bentuk ‘pembayarannya’. Sebagian mengatakan dengan berpuasa qadha’ di hari lain, namun sebagian lainnya mengatakan dengan membayar fidyah. Dasar Perbedaan Yang melatar-belakangi perbedaan itu adalah cara pengelompokannya. Sebagian mengatakan bahwa wanita yang sedang menyusui dan sedang hamil itu lebih dekat dikategorikan sebagai orang sakit. Sehingga cara pembayarannya adalah dengan berpuasa qadha’ di hari lain. Sebagaimana ayat di atas. Namun sebagian lagi memandang bahwa keduanya lebih tepat untuk dimasukkan ke dalam kelompok orang yang tidak mampu puasa, bukan kelompok orang yang sakit. Sehingga pembayarannya dengan memberi makan orang miskin (fidyah). Dan sebagian ulama lainnya mengembalikan kepada motivasi dari wanita itu, apakah dia mengkhawatirkan dirinya atau mengkhawatirkan bayinya. Kalau dia mengkhawatirkan dirinya lalu tidak puasa, maka dia termasuk orang sakit, yang membayar dengan puasa qadha’. Sedangkan bila mengkhawatirkan bayinya, maka dia termasuk orang yang tidak mampu, yang membayar dengan fidyah saja. Bahkan ada pendapat yang hati-hati dengan mewajibkan puasa qadha’ sekaligus dengan bayar fidyah. Dan ada juga yang membedakan antara keduanya dalam masalah pembayaran. Kalau kita ringkas secara umum pandangan mazhab-mazhab ulama, kita dapati bahwa:  Mazhab Al-Hafiyah termasuk yang menetapkan cara pembayaran dengan qadha’ buat mereka.  Mazhab Asy-Syafi’iyah dan juga mazhab Al-Hanabilah mewajibkan qadha’ sekaligus fidyah, bila mengkhawatirkan bayinya.  Mazhab Al-Malikiyah mengharuskan puasa qadha’ dan bayar fidyah hanya pada wanita yang menyusui saja, tidak berlaku pada wanita hamil. Kesimpulannya, masalah ini adalah masalah ijtihadiyah yang sangat mungkin terjadi beda pendapat. Khususnya dalam teknis pembayarannya. Sebab ayat Al-Quran di ayat masih terlalu umum dan justru tidak menyinggung masalah wanita hamil dan menyusui. Para ulama hanya mengqiyaskannya saja dengan ayat tersebut, maka terjadilah silang pendapat dalam pengkategoriannya. Sedangkan masalah kebolehan untuk tidak berpuasa, semua ulama sepakat atas itu. Dikuatkan lagi dengan hadits berikut ini: Dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah SWT tidak mewajibkan puasa atas musafir dan mengurangi jumlah bilangan rakaat shalat. Dan Allah tidak mewajibkan puasa atas wanita hamil dan menyusui.” (HR. Ahmad dan Ashabussunan) Dr. Wahbah Az-Zuhaili penulis Al-Fiqhul Islami menuliskan bahwa kebolehan wanita yang menyusui untuk tidak berpuasa tidak terbatas pada anak sendiri. Bahkan karena menyusui anak orang lain pun tetap terhitung sebagai kebolehan untuk tidak berpuasa. Seperti para wanita murdhi’ahyang bekerja untuk mendapatkan uang atas jasa menyusui bayi orang lain. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Berpuasa dalam Musim Dingin? Assalamualaikum Pak Ustadz, Saya sekarang sedang berada di AS, pak Ustadz. Ini pertama kalinya saya akan menghadapi bulan suci Ramadhan di luar Indonesia. Untuk saat ini saya bekerja dimana ritme kerjanya menurut saya bisa untuk berpuasa dengan lancar (karena kerjanya indoor/dalam ruangan). Tetapi menurut rencana saya akan pindah kerja di luar ruangan dimana menurut estimasi puasa di sini akan dilalui dalam musim dingin. Dan saya berniat sekali untuk bisa berpuasa sebulan penuh nantinya. Yang jadi pertanyaan saya: 1. Bagaimana jika nantinya dalam menjalankan ibadah puasa di tengah jalan saya tidak kuat, mengingat kerjanya tidak ada libur dan dalam musim dingin/salju, apakah saya harus membayar dam/denda atau cukup mengganti saja di lain hari setelah habis masa Ramadhan? 2. Apakah shalat saya bisa saya gabung nantinya contohnya: Zhuhur dengan Azhar.Mengingat kerjanya cukup berat dan susah untuk mengatur waktu shalat. Terimakasih atas jawabannya Pak Ustadz Wa’alaikumsalam wr. wb. Jawaban Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Seseorang yang karena kondisi tertentu tidak mampu berpuasa, dibolehkan untuk berbuka. Sebab pada hakikatnya agama Islam itu tidak memberatkan umatnya. Namun untuk itu diperlukan syarat mutlak, yaitu ketidak-mampuannya itu memang sudah sampai titik perjuangan terakhir. Sehingga bila diteruskan puasanya, akan mengakibatkan masalah yang fatal atau bersifat madharrat. Adapun bila masih sanggup untuk diteruskan, tentu saja hukumnya haram bila membatalkan secara sengaja. Dengan demikian, anda wajib berniat sejak malam hari untuk berpuasa dan melakukan puasa terlebih dahulu. Kalau di dalam hari itu ternyata tidak kuat lagi meneruskan puasa, maka barulah pada saat itu saja anda boleh berbuka. Anda tidak boleh sejak awal sudah berniat tidak puasa. Hal yang sama juga berlaku buat mereka yang kerja kasar, entah kuli angkut di pelabuhan atau penarik becak dan sejenisnya. Boleh berbuka bila memang pada akhirnya tidak mampu, namun syaratnya sejak semula harus berniat puasa dan menjalankannya terlebih dahulu. Pengganti Puasa Bila seseorang tidak mampu meneruskan puasa karena kondisi yang payah, maka sebagai penggantinya adalah dengan berpuasa di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya. Bukan dengan membayar fidyah. Sebab pengganti dalam bentuk fidyah hanya berlaku buat orang yang sudah sama sekali tidak akan mampu berpuasa seumur hidupnya. Seperti orang yang sudah lanjut usia atau jompo. Sementara orang sakit yang masih bisa diharapkan kesembuhannya, maka dia harus mengganti dengan puasa di lain hari. Sebagaimana firman Allah SWT: فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 184) Syarat Menjama’ Shalat Kita memang mengetahui adanya syariat untuk menjama’ shalat, yaitu mengerjakan dua shalat wajib yang berbeda di dalam satu waktu. Namun untuk itu harus ada syarat tertentu agar ‘fasilitas’ ini bisa digunakan. Di antaranya adalah bila seseorang dalam keadaan safar, atau ketika turun hujan. Sedangkan menjama’ shalat karena kesibukan, apalagi terjadi setiap hari, tentu saja tidak boleh dilakukan begitu saja. Sebab setiap orang pasti sibuk setiap hari, bukan hanya di Amerika saja. Di mana pun kalau mau dituruti selalu ada kesibukan. Kalau begitu maka shalat pun pasti akan dijama’ semuanya. Maka kami berpandangan bahwa menjama’ shalat tidak boleh dilakukan hanya karena alasan sibuk. Kecuali bila memang sekali waktu seseorang karena kondisi yang di luar perkiraannya dipaksa oleh keadaan untuk tidak bisa shalat. Maka bolehlah saat itu dia menjama’nya. Itu pun tidak boleh tiap hari. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Orang Eskimo dan Hukum Puasa Assalaamualaikum pak Ustadz, Yang ingin saya tanyakan tentang hukum universal puasa terhadap semua umat di bumi Allah, bagaimana dengan orang eskimo, di sana musim datang dengan gejala alam yang lain, seperti ada terang terus sepanjang musim panas dan gelap terus sepanjang musim dingin, padahal hukum puasa aturanya berdasarkan terbit dan tenggelamnya matahari. Karena Islam tidak hanya untuk penduduk yang ada di sekitar kathulistiwa dengan musim yang hampir sama sepanjang tahun, tapi Islam untuk semua umat di dunia ini. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Buat orang yang tinggal di kutub utara atau selatan, secara geografis mereka akan mengalami beberapa ‘keajaiban’ alam. Terutama terkait dengan waktu terbit dan terbenam matahari. Padahal, waktu-waktu shalat sangat ditentukan dengan terbit dan terbenamnya matahari. 1. Kemungkinan Pertama Ada wilayah yang pada bulan-bulan tertentu mengalami siang selama 24 jam dalam sehari. Dan sebaliknya, pada bulan-bulan tertentu akan mengalami sebaliknya, yaitu mengalami malam selama 24 jam dalam sehari. Dalam kondisi ini, masalah jadwal puasa -dan juga shalat- disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya dimana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya. 2. Kemungkinan Kedua Ada wilayah yang pada bulan teretntu tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh. Dalam kondisi ini, maka yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat `isya`nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilannya mega merah maghrib. Begitu juga waktu untuk imsak puasa (mulai start puasa), disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu. 3. Kemungkinan Ketiga Ada wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya. Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid (QS. Al-Baqarah: 187). Sedangkan bila berdasarkan pengalaman berpuasa selama lebih dari 19 jam itu menimbulkan madharat, kelemahan dan membawa kepada penyakit dimana hal itu dikuatkan juga dengan keterangan dokter yang amanah, maka dibolehkan untuk tidak puasa. Namun dengan kewajiban menggantinya di hari lain. Dalam hal ini berlaku hukum orang yang tidak mampu atau orang yang sakit, dimana Allah memberikan rukhshah atau keringan kepada mereka. “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Penjelasan seperti ini bisa kita dapat dari fatwa Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami pada jalsah ketiga hari Kamis 10 Rabiul Akhir 1402 H betepatan dengan tanggal 4 Pebruari 1982 M. Selain itu kita juga bisa merujuk kepada ketetapan dari Hai`atu Kibaril Ulama di Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia nomor 61 pada tanggal 12 Rabiul Akhir 1398 H. Namun ada juga pendapat yang tidak setuju dengan apa yang telah ditetapkan oleh dua lembaga fiqih dunia itu. Di antaranya apa yang dikemukakan oleh Syeikh Dr. Mushthafa Az-Zarqa’ rahimahullah. Alasannya, apabila perbedaan siang dan malam itu sangat mencolok dimana malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, dimana siang hanya terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan? Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit? Karena itu pendapat yang lain mengatakan bahwa di wilayah yang mengalami pergantian siang malan yang ekstrim seperti ini, maka pendapat lain mengatakan: a. Mengikuti Waktu Hijaz Jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Makkah, Madinah dan sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yang paling lama di wilayah itu untuk dijadikan patokan mereka yang ada di qutub utara dan selatan. b. Mengikuti Waktu Negara Islam terdekat Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa dan shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yang terdekat. dimana di negeri ini bertahta Sultan/ Khalifah muslim. Namun kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Karena keduanya adalah hasil ijtihad para ulama. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Hal-Hal yang Membolehkan Tidak Puasa Assalamu ‘alaikum wr. Wb. Mohon pak Ustadz jelaskan tentang hal-hal apa saja yang menurut syariah seseorang dianggap boleh untuk tidak berpuasa Ramadhan. Terima kasih, wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Dalam keadaan tertentu, syariah membolehkan seseorang tidak berpuasa. Hal ini adalah bentuk keringanan yang Allah berikan kepada umat Muhammad SAW. Bila salah satu dari keadaan tertentu itu terjadi, maka bolehlah seseorang meninggalkan kewajiban puasa. 1. Safar (perjalanan) Seorang yang sedang dalam perjalanan, dibolehkan untuk tidak berpuasa. Keringanan ini didasari oleh Firman Allah SWT: Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah: 85) Sedangkan batasan jarak minimal untuk safar yang dibolehkan berbuka adalah jarak dibolehkannya qashar dalam shalat, yaitu 47 mil atau 89 km. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa perjalanan itu telah dimulai sebelum mulai berpuasa (waktu shubuh). Jadi bila melakukan perjalanan mulai lepas Maghrib hingga keesokan harinya, bolehlah dia tidak puasa pada esok harinya itu.
  21. Dukut Nugroho Says:
    Namun ketentuan ini tidak secara ijma’ disepakati, karena ada sebagian pendapat lainnya yang tidak mensyaratkan jarak sejauh itu untuk membolehkan berbuka. Misalnya Abu Hanifah yang mengatakan bahwa jaraknya selama perjalanan tiga hari tiga malam. Sebagian mengatakan jarak perjhalan dua hari. Bahkan ada yang juga mengatakan tidak perlu jarak minimal seperti apa yang dikatakan Ibnul Qayyim. Meski berbuka dibolehkan, tetapi harus dilihat kondisi berat ringannya. Bila perjalanan itu tidak memberatkan, maka meneruskan puasa lebih utama. Dan sebaliknya, bila perjalanan itu memang sangat berat, maka berbuka lebih utama. Demikian pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi`i dan Malik. Sedangkan Ahmad mengatakan bahwa berbuka dalam perjalanan lebih utama. Berbeda dengan keringanan dalam menjama‘ atau mengqashar shalat dimana menjama‘ dan mengqashar lebih utama, maka dalam puasa harus dilihat kondisinya. Meski dibolehkan berbuka, sesungguhnya seseorang tetap wajib menggantinya di hari lain. Jadi bila tidak terlalu terpaksa, sebaiknya tidak berbuka. Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW: Dari Abi Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu Berkata, ”Dulu kami beperang bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang tetap berpuasa dan ada yang berbuka. …Mereka memandang bahwa siapa yang kuat untuk tetap berpuasa, maka lebih baik.” (HR Muslim: 1117, Ahmad: 3/12 dan Tirmizy: 713) 2. Sakit Orang yang sakit dan khawatir bila berpuasa akan menyebabkan bertambah sakit atau kesembuhannya akan terhambat, maka dibolehkan berbuka puasa. Bagi orang yang sakit dan masih punya harapan sembuh dan sehat, maka puasa yang hilang harus diganti setelah sembuhnya nanti. Sedangkan orang yang sakit tapi tidak sembuh-sembuh atau kecil kemungkinannya untuk sembuh, maka cukup dengan membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya. 3. Hamil dan Menyusui Wanita yang hamil atau menyusui di bulan Ramadhan boleh tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di hari lain. Ada beberapa pendapat berkaitan dengan hukum wanita yang haidh dan menyusui dalam kewajiban mengganti puasa yang ditnggalkan. Pertama, mereka digolongkan kepada orang sakit. Sehingga boleh tidak puasa dengan kewajiban menggadha‘ (mengganti) di hari lain. Kedua, mereka digolongkan kepada orang yang tidak kuat/mampu. Sehingga mereka dibolehkan tidak puasa dengan kewajiban membayar fidyah. Ketiga, mereka digolongkan kepada keduanya sekaligus yaitu sebagai orang sakit dan orang yang tidak mampu, karena itu selain wajib mengqadha‘, mereka wajib membayar fidyah. Pendapat terahir ini didukung oleh Imam As-Syafi‘i rahimahullah. Namun ada juga para ulama yang memilah sesuai dengan motivasi berbukanya. Bila motivasi tidak puasanya karena khawatir akan kesehatan/ kekuatan dirinya sendiri, bukan bayinya, maka cukup mengganti dengan puasa saja. Tetapi bila kekhawatirannya juga berkait dengan anak yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya, maka selain mengganti dengan puasa, juga membayar fidyah. 4. Lanjut Usia Orang yang sudah lanjut usia dan tidak kuat lagi untuk berpuasa, maka tidak wajib lagi berpuasa. Hanya saja dia wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya itu. Firman Allah SWT “Dan bagi orang yang tidak kuat/mampu, wajib bagi mereka membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin.” (QS Al-Baqarah) 5. Lapar dan Haus yang sangat Islam memberikan keringanan bagi mereka yang ditimpa kondisi yang mengharuskan makan atau minum untuk tidak berpuasa. Namun kondisi ini memang secara nyata membahayakan keselamatan jiwa sehingga makan dan minum menjadi wajib. Seperti dalam kemarau yang sangat terik dan paceklik berkepanjangan, kekeringan dan hal lainnya yang mewajibkan seseorang untuk makan atau minum. Namun kondisi ini sangat situasional dan tidak bisa digeneralisir secara umum. Karena keringanan itu diberikan sesuai dengan tingkat kesulitan. Semakin besar kesulitan maka semakin besar pula keringanan yang diberikan. Sebaliknya, semakin ringan tingkat kesulitan, maka semakin kecil pula keringanan yang diberikan. Allah SWT telah berfirman: Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 173). Ini mengacu pada kaidah fiqih yang berbunyi: Bila tingkat kesulitan suatu masalah itu luas (ringan), maka hukumnya menjadi sempit (lebih berat). Dan bila tingkat kesulitan suatu masalah itu sempit (sulit), maka hukumnya menjadi luas (ringan). Kedaruratan itu harus diukur sesuai dengan kadarnya (ukuran berat ringannya) 6. Dipaksa atau Terpaksa Orang yang mengerjakan perbuatan karena dipaksa dimana dia tidak mampu untuk menolaknya, maka tidak akan dikenakan sanksi oleh Allah. Karena semua itu diluar niat dan keinginannya sendiri. Termasuk di dalamnya adalah orang puasa yang dipaksa makan atau minum atau hal lain yang membuat puasanya batal. Sedangkan pemaksaan itu beresiko pada hal-hal yang mencelakakannya seperti akan dibunuh atau disiksa dan sejenisnya. Ada juga kondisi dimana seseorang terpaksa berbuka puasa, misalnya dalam kondisi darurat seperti menolong ketika ada kebakaran, wabah, kebanjiran, atau menolong orang yang tenggelam. Dalam upaya seperti itu, dia terpaksa harus membatalkan puasa, maka hal itu dibolehkan selama tingkat kesulitan puasa itu sampai pada batas yang membolehkan berbuka. Namun tetap ada kewajiban untuk mengganti puasa di hari lain. 7. Pekerja Berat Orang yang karena keadaan harus menjalani profesi sebagai pekerja berat yang membutuhkan tenaga ekstra terkadang tidak sanggup bila harus menahan lapar dalam waktu yang lama. Seperti para kuli angkut di pelabuhan, pandai besi, pembuat roti dan pekerja kasar lainnya. Tetapi mereka harus berniat dahulu untuk puasa serta makan sahur seperti biasanya. Pada siang hari bila ternyata masih kuat untuk meneruskan puasa, wajib untuk meneruskan puasa. Sedangkan bila tidak kuat dalam arti yang sesungguhnya, maka boleh berbuka. Namun wajib menngganti di hari lain serta tetap menjaga kehormatan bulan puasa dengan tidak makan di tempat umum. Selain itu yang bersangkutan harus mengupayakan untuk menyiapkan diri agar bisa berpuasa Ramadhan sejak setahun sebelumnya. Misalnya dengan menabung sedikit demi sedikit agar terkumpul uang demi nafkahnya selama bulan Ramadhan dimana dia tidak bekerja. Sehingga dia bisa ikut berpuasa bersama-sama dengan umat Islam di bulan Ramadhan dengan libur bekerja dan hidup dari uang yang ditabungnya. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa dan Produktifitas Assalamu ‘alaikum pak Ustadz, Begitu sering kita dapati sebagian umat Islam yang banyak tidur di siang hari bulan Ramadhan, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kerja dan merusak disiplin yang telah ditetapkan perusahaan. Mohon dijelaskan pak Ustadz, apakah memang demikian ketentuannya dari segi syariah, yaitu bahwa di bulan Ramadhan memang waktunya untuk banyak tidur dan mengurangi kerja serta produkfitas. Adakah hal itu memang dibenarkan syariah? Hal ini penting karena yang saya dapati dari kebanyakan teman-teman memang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan dengan alasan malamnya tarawih, tahajud, bangun sahur dan seterusnya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban Ustadz Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Memang benar apa yang anda sampaikan bahwa salah satu cara penyikapan yang perlu dikoreksi dari kebanyakan umat Islam adalah masalah banyak tidur di kala puasa. Seolah-olah datangnya bulan Ramadhan menjadi legitimasi untuk memperbanyak jam tidur siang. Walau pun hal itu terjadi pada jam-jam kerja sehingga menjadikan jam kerja di bulan Ramadhan menjadi kurang produktif. Hal seperti itu bisa kita lihat dari pemandangan yang kita lihat di masa sekarang ini, di siang hari bulan Ramadhan, dimana masjid-masijd dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelim-pangan untuk tidur di jam-jam produktif. Sayangnya melakukan hal itu dengan alasan karena malamnya melakukan shalat malam atau karena bangun sahur. Namun benarkah syariat Islam mendisain seperti itu? Mari kita lakukan sedikit kajian. Jadwal Shalat Malam Sebenarnya kalau kita teliti lebih jauh, shalat malam tidak hanya dianjurkan di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi di luar Ramadhan pun sama juga dianjurkan. Rasulullah SAW dan para shahabat terbiasa bangun di tengah malam dan melakukan qiyamullail, bukan hanya di bulan Ramadhan saja tetapi juga di luar bulan Ramadhan. Namun kita juga tahu bahwa pada siang hari, Rasulullah SAW dan para shahabat tetap bekerja di siang hari dan tetap produktif dalam kerjanya.Hal itu dibuktikan dengan begitu banyaknya prestasi dan kemenangan yang mereka raih selama bulan Ramadhan. Lalu apa rahasianya? Ada banyak hal yang menyebabkannya. Tetapi ada salah satu bahan pemikiran yang barangkali berguna untuk kita renungkan. Begini, kalau kita teliti nash-nash tentang jadwal siklus kehidupan yang dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat, ternyata memang ada sedikit perbedaan cara puasa dan ibadah antara kita. Ternyata Rasulullah SAW tidak tidur sebelum shalat ‘Isya namun tidak suka berbicara (begadang) setelah shalat ‘Isya’. Dan itu banyak dijelaskan dalam banyak riwayat. Lalu apa yang bisa kita tarik kesimpulan dari hal ini? Seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat di atas, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya’ jam 19.00 atau jam 20.00 malam, kita langsung tidur, tidak nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain. Maka kalau kita hitung-hitung, ternyata kita akan tidur lebih awal dari biasanya. Dengan tidur di waktu sesiang itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 malam kita bangun untuk tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 7 jam lamanya. Dan tidak ada lagi alasan untuk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari. Sayangnya, justru yang sering kita lakukan justru sebaliknya. Kita terbiasa tidur larut malam. Setelah shalat ‘Isya’ kita sering masih keluyuran kesana kemari, atau bahkan malah belum tiba di rumah. Lalu anggaplah kita tidur jam 23.00 atau jam 24.00 malam, lalu kita ingin bangun shalat tahajjud atau bangun sahur, secara matematis ternyata kitabaru tidur selama 2 atau 3 jam saja. Secara perhitungan manusiawi normal umumnya, sangat logis kalau tubuh kita minta tambahan jam tidur di siang hari, entah ba’da shubuh atau pun ba’da shalat Dzhuhur. Padahal kalau kita bisa atur jadwal seperti di atas, insya Allah tidak akan ada masalah dengan jadwal tidur dan istirahat. Jadwal Sahur Yang Tepat Sebagian dari kita ada yang menjadikan bangun malam untuk makan sahur sebagai penyebab untuk dimakluminya tidur di siang hari. Padahal kalau mau ikut sunnah Rasulullah SAW, seharusnya bangun sahur tidak perlu dijadikan alasan untuk mengantuk di siang hari. Sebab yang disunnahkan ketika makan sahur itu adalah yang semakin dekat dengan waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sebelum masuk waktu shubuh sampai setengah jam. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yang terambil untuk sahur, paling banyak hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tidak ada yang berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja. Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 2 malam untuk sahur dan kemudian setelah itu tidak tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk. Sebab secara perhitungan manusiawi, tubuh kita masih kekurangan jam tidur. Masalah Cara Pandang Tetapi yang paling serius menyebabkan kebanyakan umat Islam tidur di siang hari bulan Ramadhan dan menjadi tidak produktif adalah masalah cara pandang yang keliru. Selama ini, seolah semua pihak menjadi maklum kalau siang hari bulan Ramadhan itu tidak produktif. Mereka maklum karena malam hari digunakan untuk ibadah dan juga makan sahur. Padahal cara pandang seperti ini tidak sepenuhnya benar. Buktinya, segudang prestasi umat di masa lalu terjadi di bulan Ramadhan. Kalau mereka kerjanya hanya ‘molor’ dan bermalas-malasan di siang hari, mustahil prestasi dan kemenangan demi kemenangan bisa diraih. Tetapi sekali lagi, masalahnya memang ada pada cara pandang yang keliru. Selama cara pandang keliru itu masih bersemayam di otak kita, maka selama itu pula kita aka kehilangan jam-jam produktif di siang hari selama bulan Ramadhan. Dan sebenarnya banyak berbagai prestasi umat Islam yang tercatat dengan tinta emas sejarah, dimana semua terjadi justru di dalam bulan Ramadhan. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa 18 Jam di Pesawat Assalaamu’alaikum wr. wb. Pada Ramadhan kali ini, saya mendapat tugas dari kantor untuk training selama 2 minggu ke sebuah negara Eropa. Menurut jadwal yang ada keberangkatan saya (menggunakan pesawat terbang) pada hari Senin, pukul 20:00 WIB (GMT+7) dan sampai di Eropa hari Selasa pukul 06:00 waktu setempat (GMT+1). Kepulangan saya berangkat dari Eropa hari Kamis pukul 22:00 waktu setempat (GMT+1) dan sampai di Jakarta hari Jum’at pukul 19:30 WIB(GMT+7). Walaupun ada keringanan untuk tidak berpuasa selama dalam perjalanan, tapi saya berniat untuk tetap berpuasa. Yang ingin saya tanyakan adalah: 1. Dalam keberangkatan ke Eropa, apakah ketika sampai di sana saya bisa meneruskan berpuasa dengan sebelumnya sahur di pesawat dengan mengikuti waktu Eropa (GMT+1)? 2. Apakah dalam kepulangan dari Eropa, saya sahur dahulu sebelum berangkat, kemudian selama di pesawat saya berpuasa dan ketika sampai di Jakarta (GMT+7) saya berbuka bisa dianggap sebagai puasa pada hari Jum’at di Jakarta? 3. Perlukah saya mengganti puasa di bulan Syawwal untuk pertanyaan no. 1 dan no. 2 walaupun saya sudah berusaha berpuasa (khawatir dengan kesempurnaan)? Atau cukupkah dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawwal bisa menyempurnakan puasa saya selama perjalanan pergi dan pulang tersebut? Jazakumullah Khairon Katsiron Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Yang dijadikan acuan dalam menentukan jadwal berpuasa adalah keadaan alam yang disaksikan oleh pelaku. Maksudnya, waktu Shubuh dan waktu Maghrib yang berlaku pada diri seseorang adalah yang secara real dialaminya. Bukan berdasarkan jadwal puasa pada tempat asal atau tempat tujuan, sementara dirinya tidak ada di tempat itu. Anda boleh makan sahur selama anda belum mengalami masuknya waktu shubuh. Boleh anda perkirakan atau malah sebaiknya anda tanyakan kepada awak pesawat, di mana dan kapan kira-kira anda akan memasuki waktu shubuh. Maka patokannya bukan jadwal shubuh di negeri tujuan, juga bukan negeri asal, tetapi negeri di mana pada saat itu anda berada. Boleh jadi anda masih ada di atas Laut Merah atau Laut Mediterania, pada saat masuk waktu shalat shubuh. Begitu anda sampai di negara tujuan, berbuka puasalah sesuai dengan jadwal puasa negeri setempat. Sangat dimungkin dengan adanya perjalanan ini, masa berpuasa anda akan semakin singkat atau semakin panjang. Meski pun lamanya terbang anda relatif sama, antara pergi dan pulangnya. Tetapi karena jadwal puasa di tiap negara berbeda-beda, maka masa puasa anda sendiri otomatis ikut berbeda. Tetapi yang selalu harus anda perhatikan, mulailah berpuasa sesuai dengan jadwal puasa di mana anda berada dan berbukalah sesuai dengan jadwal buka puasa di mana anda berada. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh Nenek Ingin Puasa Assalamualaikum….. Pak Ustadz, saya punya nenek yang sudah berumur 90 tahun lebih dan sudah jompo. Di bulan Ramadhan ini beliau ingin sekali berpuasa tetapi saya melarangnya. Soalnya di Ramadhan kemarin beliau juga ikut berpuasa tetapi kadang lupa, sering makan dan minum di siang hari bahkan diam-diam merokok, sehingga kita seringkali mengingatkannya. Untuk fisik mungkin beliau masih mampu dan kuat untuk berpuasa. Yan ingin saya tanyakan, Apakah boleh dengan sengaja melarang nenek berpuasa, saya berdosa atau tidak? Bagaimana hukumnya jika nenek saya tetap melakukan puasa dan sering lupa? Terimakasih banyak sebelumnya…Wassalam Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sebenarnya orang yang sudah tua dibolehkan tidak berpuasa, seandainya memang sudah tidak kuat lagi untuk berpuasa. Hal itu memang sudah merupakan ketentuan dari Allah SWT di dalam Al-Quran. وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ Dan bagi orang-orang yang tidak kuat, (boleh berbuka) dengan membayar fidyah kepada orang-orang miskin (QS. Al-Baqarah: 184) Beliau tidak perlu mengganti dengan puasa di hari lain seandainya memang sama sekali sudah tidak mampu berpuasa. Cukup mengganti dengan membayar fidyah kepada orang orang-orang miskin. Namun kalau membaca tulisan anda, rasanya agak berbeda kasusnya. Anta katakan bahwa nenek anda itu meski sudah berusia 90 tahun, justru masih kuat puasa, meski sering lupa. Sehingga anda harus selalu mengingatkan beliau. Kalau menilik kenyataan seperti ini, sebenarnya kami ingin katakan bahwa beliau belum mendapat rukhshah (keringanan) untuk tidak berpuasa. Meski pun usia beliau telah mencapai 90 tahun. Sebabnya, karena beliau masih kuat untuk berpuasa. Sedangkan batasan rukhshah itu sendiri adalah apakah seorang tua itu masih mampu atau tidak untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan. Bukan batasan usia yang digunakan. Jadi meski berusia lanjut, kalau beliau masih sehat dan kuat untuk berpuasa, maka beliau tetap wajib berpuasa. Karena memang masih kuat berpuasa. Adapun beliau sering lupa, lalu makan dan minum, itu adalah rezeki dari Allah SWT. Sebagaimana hadits yang sudah kita sering dengar tentang orang yang lupa makan atau minum saat puasa. Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa? Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh. Ustadz, ada yang mengatakan bahwa wanita haid tetap melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dengan alasan hadist dari ‘Aisyah: nahnu nukmaru bi qadhais shaum wala nukmaru biqadhais shalah. Kata qadha diartikan dengan “melaksanakan” berdasarkan pengartian kalimat qadha pada firman Allah dalam surah al-jum’ah: fa idza qudhiyatis shalah fantasyiru fil ard. Lalu apakah pengertian itu benar adanya? Jawaban Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh, Haramnya wanita yang sedang haidh berpuasa telah menjadi ijma’ para ulama sejak 14 abad yang lalu. Padahal ijma’ itu sedikit sekali jumlahnya. Sehingga kalau para ulama sampai pada titik ijma’, berarti nilai kebenarannya sudah nyaris mutlak. Ijma’ ulama sampai kepada hukum dosa bagi wanita yang secara sengaja melakukan puasa dengan niat ibadah pada hari-hari haidhnya. Artinya, berpuasa saat haidh bagi wanita bukan hanya terlarang, bahkan sampai melahirkan dosa. Sehingga penafsiran seperti yang anda sebutkan itu dengan sendirinya telah batal. Sebab yang dimaksud dengan “qadhais shaum” di dalam hadits itu bukanlah mengerjakan puasa saat haid, melainkan mengqadha’ (membayar hutang) puasa di hari lain, sementara di hari itu haram untuk dilakukan. Dan keharaman puasa wanita yang haidh itu bukan hanya dilandaskan pada ijma’ semata, melainkan juga berlandasan kepada hadits Rasulllah SAW, selain dari hadits yang anda sampaikan itu. Bahkan hadits ini lebih tegas mengharamkan wanita yang haidh untuk shalat dan juga puasa. Tidak bisa dimain-mainkan makna dan pengertiannya sebagaimnana hadits sebelumnya. Hadits ini juga menujukkan bahwa para wanita shahabiyah di masa Rasulllah SAW sudah mengerti dan tahu pasti bahwa wanita yang sedang haidh itu diharamkan shalat dan berpuasa. Semua tercermin dalam dialog mereka dengan Rasulullah SAW berikut ini. عَنْ أَبيِ سَعِيد الخُضْرِي  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِلنِّسَاءِ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ المَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُل ؟ قُلْنَ بَلَى. قَالَ فَذَلِكُنَّ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا. أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ فَذَلِكُنَّ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا – رواه البخاري Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW bersabda kepada para wanita,..”. Bukankah para wanita bila mendapat haidh tidak boleh shalat dan puasa?” Para wanita itu menjawab,”Benar.” “Itulah yang dimaksud dengan kurangnya (pelaksanaan) agama mereka(HR. Bukhari) Dan haramnya wanita berpuasa saat mendapat haidh juga dikuatkan lagi dalam hadits riwayat imam Muslim. عَنْ بْنِ عُمَرَ  تمَكْثُ اللَّيَاليِ مَا تُصَليِّ وَتُفْطِر فيِ شَهْرِ رَمَضَان ، فَهَذَا نُقْصَانُ دِيْنِهَا – رواه مسلم Dari Ibnu Umar ra: Para wanita melewati malam-malam tanpa boleh shalat dan mereka harus berbuka pada bulan Ramadhan. Itulah maksud kurangnya (pelaksanaan) agama mereka. (HR. Muslim) Maka bila seorang wanita mendapat haidh, dia diharamkan untuk tetap berpuasa, dengan landasan dari hadts-hadits yang shahih dan juga dari ijma; para ulama. Tidak ada yang menyelengkan pengertian ini kecuali dia harus datang dengan dalil yang bisa lebih kuat. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kapan Batas Berhenti Makan dan Minum? Assalammualaikum, Ustadz. Langsung saja pada pertanyaannya. Saya kadang bingung kapan batas waktu kita untuk berhenti makan dan minum saat akan berpuasa. Ada yang mengatakan saat adzan subuh berkumandang, ada yang bilang untuk kehati-hatian saat waktu imsak. Tapi, ada juga teman yang bilang batas berhentinya yaitu saat rukuk pertama shalat subuh? Mohon penjelasannya. Lalu, jika saya masih beraktivitas minum (biasanya setelah menyikat gigi), bertepatan dengan adzan masjid kampung sebelah, sedangkan masjid yang dekat rumah belum adzan, bagaimana shaum saya, apakah batal? Mohon penjelasan dengan dalilnya, Ustadz. Terima kasih. Wassalam, Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Batas mulai puasa bukan masuknya waktu imsak, tetapi yang benar masuknya waktu shubuh. Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran: Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187) Yang disebut dengan fajar di dalam ayat ini bukan terbitnya matahari. Fajar adalah al-fajrus-shadiq, yaitu cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib. Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh. Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu untuk shalat shubuh sekaligus pertanda dimulainya puasa. Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini: “Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat dan menghalalkan makan.” (HR Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim). Sedangkan berpatokan dengan mendengarkan azan shubuh di masjid, tidak terjamin keakuratannya. Bisa jadi jam di masjid tidak cocok, mungkin lambat atau malah lebih cepat. Selain itu bisa jadi muzadzdzinnya salah lihat jadwal shalat. Yang benar adalah berpatokan dengan jadwa shalat, sebab jadwal itu hasil perhitungan para ahli ilmu falak dan hisab. Keakuratannya sangat tinggi. Masalahnya tinggal jam di rumah kita. Apakah tetap atau lebih ambat atau lebih cepat. Tidak ada salahnya bila anda mengacu ke TV, sebab biasanya jam di TV lebih ditangani secara serius oleh para profesional. Sedangkan berpatokan pada ruku’ pertama shalat shubuh, juga tidak bisa diterima. Sebab waktunya sangat nisbi. Bagaimana bila jamaah shalat shubuhnya agak telat ? Hingga shalat sudah di akhir waktu ? Bila anda sedang minum lalu masuk waktu shubuh, maka minuman itu harus dikeluarkan kembali. Kalau anda teruskan minum, maka puasa anda batal dengan sendirinya. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puasa Pada Saat Ada yang Berlebaran Duluan Assalamualaikum wr wb Saya mau tanya semoga Pak Ustadz berkenan menjawab pertanyaan yang mengganjal pikiran saya selama ini: Benarkah haram hukumnya kalau kita tetap berpuasa ramadhan pada hari dimana ada satu kaum atau suatu negara telah menjalankan shalat ied duluan, seperti Muhammadiyah lebih awal dibanding pemerintah? Terima kasih sebelumnyanya pak Ustadz, wassalamualaikum wr wb Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh, Bagi yang bertaqlid kepada mujtahid bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka dia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawwal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa. Namun bagi yang bertaqlid kepada mujtahid bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka dia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan. Dan haram bagi untuk tidak puasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya. Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taqlid dengan hasil ijtihad yang mana? Tanpa harus menyalahkan hasil ijtihadnya kelompok yang menyatakan 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Jum’at, 12 Oktober 2007, bila seseorang mau bertaqlid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka dia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan. Dan bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya selain dosa besar juga belum tentu diterima Allah SWT ketika mengqadha’nya. Sebagimana hadits berikut ini: Siapa yang membatalkan puasa 1 hari di bulan Ramadhan tanpa rukhshah (keringanan) atau sakit, tidak akan tergantikan walaupun dengan puasa selamanya, meski dia berpuasa. (HR Tirmizy, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasai) Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Juamt telah bertaqlid kepada ulama mereka. Sedangkan yang berlebaran di hari Sabtu, bertaqlid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silahkan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya. Adapun dalil “Berpuasalah kamu bersama orang yang puasa dan berbukalah kamu bersama orang yang berbuka”, tidak menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu. Mengapa? Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya. Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu sudah ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya. Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebalinya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas. Tetapi sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat 2 pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Yah, lumayan dari pada tidak sama sekali. Sedangkan mereka yang bertaqlid karena memang bukan ahli ijtihad, tapi berakhlaq kurang terpuji, misalnya memaki-maki sambil mencela dan berkata kasar kepada saudaranya yang mungkin kebetulan tidak sama pilihan taqlidnya, itulah yang berdosa. Semoga Allah SWT menjaga hati dan lisan kita dari bahaya saling melecehkan sesama hamba-Nya, Amien. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh BAB IX TARAWIH & I’TIKAF Imam Tarawih tanpa Baca Shalawat, Sahkah? Assalamu’alaikum w. w. Pak Ustadz, mudah-mudahan selalu dalam keadaan sehat. Saya mau tanya: 1. Sahkah jika imam tarawih, pada tahiyat (rakaat akhir) tidak membaca shalawat? (Imam hanya membaca sampai..Wa asyhadu anna Muhammadarrasululah Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluh). Soalnya orang-orang di lingkungan saya pinginnya tidak lama-lama. 2. Bolehkah, jika imam membaca sholawat, hanya sampai “Allahumma solli ‘ala Muhammad Wa’ala ali Muhammad. Sampai itu saja. Tidak sampai dengan selesai (In-naka hamidummajid). 3. Adakah kekhususan membaca surat untuk yang 20 rokaat, dimana diawali dengan surat At-takasur, sehingga urut sampai akhir. Bolehkah bebas suratnya, tidak urut? Mohon pencerahannya, karena saya ditunjuk jadi imam. Syukron. Wassalamu’alaikum w. w. Jawaban Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Membaca shalawat atas nabi SAW merupakan rukun shalat. Sehingga bila tidak dibaca, shalat itu tidak sah lantaran salah satu rukunnya terlewatkan. Mazhab Malikiyah, mazhab Asy-syafi’iyah dan mazhab Al-Hanabilah semua sependapat bahwa membaca shalawat atas nabi SAW merupakan rukun shalat. Kecuali hanya satu mazhab yang berpendapat berbeda, yaitu mazhab Al-Hanafiyah. Mazhab ini tidak memandangnya sebagai rukun shalat. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa rukun itu adalah bagian mutlak dari suatu bangunan ibadah. Sebuah ibadah akan rusak dan tidak sah manakala kekuarangan salah satu rukunnya. Namun kita juga mengetahui bahwa para ulama mazhab yang paling masyhur berbeda-beda pendapatnya ketika menetapkan mana yang menjadi bagian dari rukun shalat. Kalangan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlah rukun shalat hanya ada 6 saja. Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun shalat ada 14 perkara. As-Syafi`iyah menyebutkan 13 rukun shalat dan Al-Hanabilah menyebutkan 14 rukun. Penetapan Ayat yang Dibaca dalam Tarawih Kebiasaan membaca surat tertentu dalam tarawih sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW. Tetapi tidak lantas menjadi bid’ah. Biasanya orang-orang mengurutkan dari surat At-Takatsur sekedar biar gampang menghitungnya. Sebab surat itu adalah 10 surat terakhir sebelum tiga surat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas). Ketiga surat itu dibaca untuk shalat witir, sedangkan 10 surat itu dibaca di 20 rakaat. Tiap rakaat pertama, dibaca surat-surat itu, sedangkan tiap rakaat kedua akan dibaca surat Al-Ikhlas (qulhuwallahu ahad). Tetapi sekali lagi, semua itu tidaklah bersumber dari petunjuk nabi, melainkan kreatifitas orang-orang. Tidak menggunakan urutan seperti itu pun tidak mengapa. Yang penting membaca ayat-ayat Al-Quran dengan fashih, tartil dan baik. Dan penting juga untuk diperhatikan bahwa shalat tarawih bukanlah jenis shalat untuk berbalapan, sampai-sampai shalawat nabi pun mau ditinggalkan. Sayang sekali kalau kita melakukannnya dengan cara demikian, sebab seharusnya shalat itu dinikmati dan diresapi, bukan sekedar dijalankan. Terburu-buru dan tergesa-gesa dalam menjalankan shalat tarawih tentu akan mengurangi kekhusyuan, padahal kekhusyuan justru tujuan utama shalat. Sebagaimana firman Allah: Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha: 14) Dan shalat khusyu’ merupakan ciri orang yang beriman, sebagaimana firman Allah SWT: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Dalil Shalat Tarawih Berjamaah Kuatkah? Pak Ustadz yang dirahmati Allah, Beberapa hari belakangan ini milis kami yang beranggotakan para pekerja di Qatar tengah mendiskusikan masalah shalat tarawih berjamaah. Sebatas yang kami ketahui, shalat tarawih berjamaah hanya dilakukan Rasulullah selama 3 hari dan akhirnya dihentikan oleh beliau dengan alasan kuatir dijadikannya shalat tersebut menjadi fardhu. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, shalat tarawih ini didirikan lagi oleh beliau. Dan beliau mengatakan, “Inilah sebaik-baiknya bid’ah…” Yang ingin saya tanyakan adalah: 1. Berapa lama kurun waktu mulai dari dihentikannya shalat tarawih berjamaah oleh Rasulullah hingga “dihidupkannya” lagi oleh Umar r.a.? 2. Apakah dalam kurun waktu tersebut, para sahabat mengerjakan shalat tarawih di rumah masing-masing? 3. Mulai kapan shalat tarawih berjamaah dilakukan oleh para pengikut Rasulullah. Maksud saya, yang saya ketahui, Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu berinisiatif membangun lagi “tradisi” sebelumnya didasarkan pada pengamatan beliau yang melihat banyaknya jamaah-jamaah kecil dalam bertarawih. 4. Apakah para pengikut Nabi Muhammad SAW yang mendirikan kembali shalat tarawih berjamaah dalam kelompok kecil (sebelum dimaklumatkan oleh Umar r.a) tersebut bisa dikategorikan sebagai pembangkangan atas sunnah Nabi? Karena saya yakin, Rasulullah lebih tahu banyak akan hal itu dibanding para sahabat dan pengikut-pengikutnya. Kalau memang itu baik di mata Nabi, pasti Nabi akan melakukannya. Dan hingga sampai akhir hayatnya, berlanjut pada masa pemerintahan Khalifa Abu Bakar r.a (yang paling dekat dengan Nabi), shalat tarawih tidak dilakukan secara berjamaah. Mohon maaf Ustadz terlalu panjang dan banyak pertanyaannya. Afwan wa syukron, Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Memang seringkali kita mendapatkan orang-orang berbeda pendapat tentang hukum shalat tarawih, baik dalam masalah pelaksanaannya yang berjamaah atau sendirian, juga termasuk masalah jumlah bilangan rakaatnya. Namun barangkali apa yang dikemukakan oleh jumhur ulama lebih dekat kepada kebenaran, meski bukan berarti harus pasti benarnya. Umumnya para fuqaha fiqih berpendapat bahwa shalat tarawih itu disunnahkan untuk dilakukan dengan berjamaah. Dasarnya adalah karena dahulu memang dilakukan dengan berjamaah di masa nabi SAW. Dan bahkan salah satu penyebab mengapa kemudian nabi SAW tidak berjamaah lagi di masjid, justru karena peserta shalat tarawih di masa nabi membeludak. Maka kesimpulan yang pertama, bahwa shalat tarawih di masa nabi pernah dilakukan dengan berjamaah. Kemudian nabi SAW tidak lagi melakukan shalat tarawih berjamaah, dengan alasan takut kalau-kalau nantinya diwajibkan. Setelah itu sampai akhir hayatnya, Rasulullah SAW tidak tarawih berjamaah bersama dengan kaum muslimin. Kesimpulan yang kedua, ketidak-berjamaahan nabi SAW di masa lalu ada sebabnya, yaitu karena takut akan diwajibkan oleh Allah SWT. Seadainya ketakutan itu sudah tidak ada lagi, maka tentu shalat tarawih berjamaah berlangsung kembali. Kemudian, ketika beliau SAW wafat, kaum muslim memang tidak langsung mengadakan shalat tarawih berjamaah. Tarawih berjamaah baru berlangsug kembali di masa khilafah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu Analisanya adalah bahwa masa khilafah Abu Bakar tidak berlangsung lama. Praktis hanya 2 tahun saja beliau memerintah. Sementara kaum muslimin saat itu sedang mengalami berbagai fitnah dan cobaan. Misalnya kasus murtadnya berbagai dari suku-suku arab. Sementara itu kaum muslimin saat itu sedang menghadapi peperangan besar melawan Romawi. Tentu mereka sibuk mempersiapkan peperangan besar. Namun bukan berarti tidak ada pembenahan internal di masa itu. Paling tidak, sejarah mencatat bahwa di masa khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mushaf Al-Quran berhasil dijilid jadi satu. Setelah selama ini berserakan di berbagai media, meski masih dihafal oleh ribuan shahabat. Dua tahun berselang, tibalah masa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintah. Masa beliau memerintah cukup panjang, ada banyak waktu untuk menaklukkan para pembangkang, bahkan tiga imperium besar berhasil ditaklukkan. Maka ada banyak kesempatan bagi khalifah untuk melakukan beberapa pembenahan. Termasuk menghidupkan kembali sunnah nabi SAW dalam melakukan shalat tarawih dengan berjamaah, setelah beberapa tahun sempat tidak berjalan karena berbagai alasan. Di masa nabi, tidak berlangsungnya shalat tarawih berjmaaah karena alasan takut diwajibkan. Di masa Abu Bakar, alasannya karena ada banyak pe-er mendesak dan itupun hanya 2 tahun saja. Maka kesempatan yang agak luas baru didapat di masa khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Di masa itulah khalifah menghidupkan kembali sunnah Rasulullah SAW, yaitu shalat tarawih berjamaah di masjid dengan satu orang imam. Ubay bin Ka’ab ditunjuk oleh khalifah karena bacaan beliau sangat baik. Apa yang dilakukan oleh khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu 100% disetujui oleh semua shahabat. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa ada satu shahabat yang menentang diserukannya kembali shalat tarawih berjamaah sebagaimana dahulu pernah dilakukan oleh nabi SAW. Maka boleh dibilang bahwa shalat tarawih dengan berjamaah merupakan ijma’ para shahabat. Dan ijma’ merupakan salah satu sumber syariah yang disepakati. Dan sejak hari itu hingga 15 abad kemudian, shalat tarawih berjamaah terus berlangsung tiap malam Ramadhan di masjid Nabawi Madinah, dan juga di semua masjid yang ada di muka bumi. Seluruh ulama baik salaf maupun khalaf sepakat atas masyru’iyah shalat tarawih berjamaah di belakang satu imam, karena seperti itulah yang awal mula dikerjakan oleh nabi SAW. Tidak berlangsungnya shalat tarawih berjamaah karena ada alasan yang bersifat temporal. Begitu alasannya sudah tidak ada lagi, maka sunnahnya dikembalikan lagi sebagaimana aslinya. Tidak ada kaitannya tentang berapa lama jamaah tarawih tidak berlangsung. Dalam hal ini, tidak berjamaahnya nabi SAW dalam shalat tarawih bukan bersifat menasakh hukum kesunnahan tarawih berjamaah. Tetapi memberi dasar hukum kebolehan shalat tarawih dilakukan tidak berjamaah karena adanya alasan tertentu. Ketika alasan (udzur) itu sudah tidak ada lagi, maka kesunnahannya dikembalikan kepada asalnya. Demikian kira-kita argumentasi jumhur ulama dan fuqaha di bidang ilmu fiqih. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalat Tarawih: 11 atau 23 Rakaat? Assalamualaikum. Wr. Wb Bulan Ramadhan hampir tiba, yang menjadi pertanyaan saya adalah mengenai shalat tarawih, mana yang lebih abdol 11 rakaat atau 23 rakaat karena masalahnya menjadi polemit di tempat tinggal saya ada yang melakukan 11 rakaat dan juga ada yang melakukan 23 rakaat. Yang saya dengar apakah benar Rasulloh mengerjakan shalat tarawih 11 rakaat, kalau memang Rasulloh mengerjakan shalat tarawih 11 rakaat mengapa ada oarang -oarang yang melakukan shalat tarawih 23 rakaat? Bukankah itu bid’ah menambah-nambah yang tidak pernah Rasulloh lakukan? Wass. Km Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tidak ada satu pun hadits yang shahih dan sharih (eksplisit) yang menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasululullah SAW. Kalau pun ada yang mengatakan 11 rakaat, 13 rakaat, 20 atau 23 rakaat, semua tidak didasarkan pada hadits yang tegas. Semua angka-angka itu hanyalah tafsir semata. Tidak ada hadits yang secara tegas menyebutkan angka rakaatnya secara pasti. Hadits Rakaat Tarawih 11 atau 20: Hadits Palsu Al-Ustadz Ali Mustafa Ya’qub, MA, muhaddits besar Indonesia di bidang ilmu hadits, menerangkan bahwa tidak ada satu pun hadits yang derajatnya mencapai shahih tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kalau pun ada yang shahih derajatnya, namun dari segi istidlalnya tidak menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih. Di antarahadits palsu tentang jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah hadits berikut ini: Dari Ibn Abbas, ia berkata, “Nabi SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir”. (Hadits Palsu) Hadis ini diriwayatkan Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu‘jam al-Kabir. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman yang menurut Imam al-Tirmidzi, hadits-haditsnya adalah munkar. Imam al-Nasa‘i mengatakan hadis-hadis Abu Syaibah adalah matruk. Imam Syu‘bah mengatakan Ibrahim bin Utsman adalah pendusta. Oleh karenanya hadis shalat tarawih dua puluh rakaat ini nilainya maudhu’ (palsu) atau minimal matruk (semi palsu). Demikian juga hadits yang menyebutkan bahwa jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW adalah 8 rakaat. Hadits itu juga palsu dan dusta. “Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir”. (Hadits Matruk) Hadis ini diriwayatkan Ja‘far bin Humaid sebagaimana dikutip kembali lengkap dengan sanadnya oleh al-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I‘tidal dan Imam Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dari Jabir bin Abdullah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Isa bin Jariyah yang menurut Imam Ibnu Ma‘in, adalah munkar al-Hadis (Hadis-hadisnya munkar). Sedangkan menurut Imam al-Nasa‘i, ‘Isa bin Jariyah adalah matruk (pendusta). Karenanya, hadis shalat tarawih delapan rakaat adalah hadis matruk (semi palsu) lantaran rawinya pendusta. Jadi bila disandarkan pada kedua hadits di atas, keduanya bukan dalil yang bisa dijadikan pegangan bahwa nabi SAW shalat tarawi 8 rakaat atau 20 rakaat dalam shalat tarawih. Hadits Rakaat Shalat Malam atau Rakaat Shalat Tarawih? Sedangkan hadits yang derajatnya sampai kepada keshahihan, hanyalah hadits tentang shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dimana Aisyah meriwayatkan secara shahih bahwa shalat malam yang dilakukan oleh beliau SAW hanya 11 rakaat. Dari Ai’syah radhiyallahu ‘anhu “Sesungguhnya Nabi SAW tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula mengurangkannya dari 11 rakaat. Beliau melakukan shalat 4 rakaat dan janganlah engkau tanya mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian beliau akan kembali shalat 4 rakaat dan jangan engkau tanyakan kembali mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian setelah itu beliau melakukan shalat 3 rakaat. Dan beliau berkata kepadanya (Ai’syah), “Dia melakukan shalat 4 rakaat, ” tidak bertentangan dengan yang melakukan salam setiap 2 rakaat. Dan Nabi SAW bersabda, “Shalat di malam hari 2 rakaat 2 rakaat.” Dan dia (Ai’syah), “Dia melakukan shalat 3 rakaat” atau ini mempunyai makna melakukan witir dengan 1 rakaat dan 2 rakaat. (HR Bukhari). Tetapi di dalam hadits shahih ini, Aisyah radhiyallahu ‘anha sama sekali tidak secara tegas mengatakan bahwa 11 rakaat itu adalah jumlah rakaat shalat tarawih. Yang berkesimpulan demikian adalah para ulama yang membuat tafsiran subjektif dan tentunya mendukung pendapat yang mengatakan shalat tarawih itu 11 rakaat. Mereka beranggapan bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah shalat tarawih. Pendukung 20 Rakaat Sedangkan menurut ulama lain yang mendukung jumlah 20 rakaat, jumlah 11 rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak bisa dijadikan dasar tentang jumlah rakaat shalat tarawih. Karena shalat tarawih tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW kecuali hanya 2 atau 3 kali saja. Dan itu pun dilakukan di masjid, bukan di rumah. Bagaimana mungkin Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadits tentang shalat tarawih beliau SAW? Lagi pula, istilah shalat tarawih juga belum dikenal di masa beliau SAW. Pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 rakaat dengan dua salam. Bagi para ulama itu, apa yang disebutkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha bukanlah jumlah rakaat shalat tarawih, melainkan shalat malam (qiyamullail) yang dilakukan di dalam rumah beliau sendiri. Apalagi dalam riwayat yang lain, hadits itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah rakaat shalat malam beliau, baik di dalam bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan. Maka dengan demikian, keadaan menjadi jelas mengapa di dalam tubuh umat Islam masih ada perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat tarawih yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan menarik, para ulama besar dunia sangat bersikap toleran dalam masalah ini. Toleransi Jumlah Bilangan Rakaat Dengan tidak adanya satu pun hadits shahih yang secara tegas menetapkan jumlah rakaat tarawih Rasulullah SAW, maka para ulama berbeda pendapat tentang jumlahnya. Ada yang 8 rakaat, 11 rakaat, 13 rakaat, 20 rakaat, 23 rakaat, bahkan 36 rakaat. Dan semua punya dalil sendiri-sendiri yang sulit untuk dipatahkan begitu saja. Yang menarik, para ulama di masa lalu tidak pernah saling mencaci atau menjelekkan meski berbeda pendapat tentang jumah rakaat shalat tarawih. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu: ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat. Shaykhul-Islam Ibnu Taimiyah berpendapat, “Jika seseorang melakukan shalat tarawih sebagaimana mazhab Abu Hanifah, As-Syafi’i dan Ahmad yaitu 20 rakaat atau sebagaimana Mazhab Malik yaitu 36 rakaat, atau 13 rakaat, atau 11 rakaat, maka itu yang terbaik. Ini sebagaimana Imam Ahmad berkata, Karena tidak ada apa yang dinyatakan dengan jumlah, maka lebih atau kurangnya jumlah rakaat tergantung pada berapa panjang atau pendek qiamnya. Demikian juga dengan Mufti Saudi Arabia di masa lalu, Al-‘allaamah Sheikh Abdulah bin Baaz ketika ditanya tentang jumlah rakaat tarawih, termasuk yang mendukung shalat tarawih 11 atau 13 rakaat, namun beliau tidak menyalahkan mereka yang meyakini bahwa yang dalilnya kuat adalah yang 20 rakaat. Beliau rahimahullah berkata, “Shalat Tarawih 11 rakaat atau 13 rakaat, melakukan salam pada setiap 2 rakaat dan 1 rakaat witir adalah afdhal, meniru cara Nabi SAW. Dan, siapa pula yang shalatnya 20 rakaat atau lebih maka juga tidak salah. Dan di kedua masjid besar dunia, Masjid Al-Haram Makkah dan masjid An-Nabawi Madinah, sejak dahulu para ulama dan umat Islam di sana shalat tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Dan itu berlangsung sampai hari ini, meski mufti negara punya pendapat yang berbeda. Namun mereka tetap harmonis tanpa ada saling caci. Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Qiyamullail Setelah Tarawih Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Ustadz ane mau tanya. Kalau kita sudah shalat Tarawih dan shalat Witir ba’da shalat ‘Isya, masih boleh Qiyamullail lagi nggak pada diniharinya?Tolong tuliskan dalilnya secara lengkap. Syukron, jazakAllah. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ada sebagian kalangan yang mengambil kesimpulan bahwa shalat witir mengharamkan adanya shalat sunnah malam lain sesudahnya. Hal ini terjadi lantaran ada riwayat yang memerintahkan kita untuk menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam. Riwayat itu memang benar. Kita dianjurkan untuk shalat malam dan kita mengakhirinya dengan shalat witir. Namun apakah anjuran itu juga berfungsi untuk mengharamkan semua shalat sunnah setelahnya? Para ulama mengatakan tidak. Shalat witir memang dianjurkan dilakukan di bagian akhir dari shalat malam, akan tetapi bukan berarti bila setelah melakukan shalat witir maka semua shalat sunnah setelahnya menjadi haram dikerjakan. Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sunnah dua rakaat setelah beliau melakukan shalat witir. Hadits sebagai berikut: عَنْ أُمِّ سَلَمَة  أنه  كَانَ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الوِتْرِ وَهُوَ جَالِس – رواه أحمد وأبو داود والترمذي وغيرهم Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW shalat dua rakaat setelah shalat witir dan beliau duduk (HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmizy) Dengan demikian, tidak ada larangan untuk melakukan shalat tahajjud di malam hari meski sudah melakukan shalat witir di sore hari. Dan tidak ada keharusan shalat witir untuk dilakukan di tengah malam atau di akhir malam. Sebab ada hadits yang menyebutkan tentang hal itu. مَْن ظَنَّ مِنْكُم أَلاَّ يَسْتَيْقِظَ آخِرَهُ – أي اللَّيل – فَلْيُوتِر أَوَّلّه، وَمَن ظَنَّ مِنْكُم أَنَّهُ يَسْتَيْقِظ آخِرَهُ فَلْيُوتِر آخِرَهُ، فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ محَضُورَة وَهِيَ أَفْضَلُ – رواه مسلم وأحمد والترمذي وابن ماجة Siapa yang memperkirakan tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah shalat witir di awal malam. Namun siapa yang bisa memperkirakan bangun di akhir malam, maka lebih utama untuk dilakukan di akhir malam. Karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama. (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmizy) Bila sudah melakukan shalat witir di awal malam, misalnya bersama jamaah shalat tarawih, lalu di akhir malam masih ada kesempatan untuk bertahajjud, silahkan saja. Dan setelah itu tidak perlu lagi dilakukan shalat witir. Karena tidak ada 2 kali shalat witir dalam satu malam. Sebagaimana hadits berikut ini: عَنْ عَليِّ كرم الله وجهه قال:سَمِعْتُ رَسُولَ الله يَقُول لاَ وِتْرَانَ فيِ لَيْلَةٍ- رواه أبو داود والنسائي والترمذي Dari Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat witir 2 kali dalam satu malam.” (HR Abu Daud, An-Nasai dan At-Tirmizy) Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Doa Qunut Dalam Witir Dipertengahan Ramadhan Assalamu’alaikum, wr. Wb Ustadz saya mau tanya tentang hukum membaca do’a qunut di dalam dalam shalat witir dipertengahan bulan Ramadhan, mulai tgl 16 ke atas. Apakah ada dasar hukumnya? Karena banyak sekali masjid-masjid yang saya jumpai melaksanakan hal tersebut. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Doa qunut yang dilakukan pada rakaat terakhir shalat witir adalah sunnah Rasulullah SAW. Dan dilakukan mulai malam ke-16 hingga akhir bulan Ramadhan. Dalilnya adalah hadits berikut ini: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولُ اللهِ كَانَ يُوتِر فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوع Dari Ubai bin Ka`ab radliyallahu `anhu berkata bahwa Rasulullah SAW melakukan qunut pada rakaat witir dan meletakkannya sebelum ruku`.”(HR Ibnu Abi Syaibah 12/41/1, Abu Dawud, An-Nasa’i di dalam Sunan Al-Kubra 218/1-2, Ahmad, At-Thabrani, Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dengan sanad yang shahih Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa qunut pada shalat witir disyariatkan bukan hanya pada bulan Ramadhan tetapi juga di luar bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh imam Ahmad dari hadits Hasan bin Ali berkata: Rasulullah mengajariku kata-kata (doa) yang aku ucapkan pada waktu salat witir: Allahummah dina fiman hadaita, wa a’fina fiiman aafaita…. Imam Tirmidzi mengatakan: hadits ini derajatnya hasan. Imam Nawawi mengatakan: hadits ini sanadnya sahih. Imam Ahmad berkata bahwa qunut pada shalat witir adalah madzhab Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Ibnu Abas, al-Bara’, Anas bin Malik, Hasan al-Bashri, Umar bin Abdul Aziz, Tsauri dan Ibnu Mubarak, Madzhab Hanafiyah. Lafadz Qunut Adapun lafadz doa qunut, kita telah diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau mengajarkannya kepada cucunda beliau Hasan bin Ali. عَنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ عَلَّمَنيِ رَسُولُ الله كَلِمَاتٍ أَقُولهُنَّ فيِ الوِتْر : اللَّهُمَّ اهْدِنيِ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنيِ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ ليِ فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنيِ شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتََ Ya Allah berilah aku hidayah, termasuk pada orang yang Engkau beri hidayah, dan berilah aku keselamatan, dan orang yang Engkau anugrahi keselamatan dan perbaikilah urusanku, termasuk dalam orang yang Engkau perbaiki urusannya, dan berkahilah aku pada apa yang Engkau anugerahkan kepadaku, dan hindarkan aku dari kejahatan apa yang Engkau putuskan, sungguh Engkaulah yang memutuskan dan bukan diputuskan, dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau tolong serta tidak akan mulia orang yang memusuhi-Mu, Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi, tiada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada diri-Mu. (Riwayat Abu Dawud, Nasai dan yang lainnya dengan sanad yang shahih. lihat “Sifat Shalat Nabi” hal: 95-96 cet. ke-7 Dan tidak mengapa melakukan qunut setelah ruku’, juga menambah melaknati orang-orang kafir, dan bershalawat kepada Nabi SAW serta mendoakan kaum muslimin pada pertengahan kedua dari bulan Ramadhan, karena hal itu telah dilakukan di masa Umar radhiyallahu ‘anhu. Dan telah tersebut pada hadist Abdurrahman bin Abdul Qari’: “Dan mereka melaknati orang-orang kafir pada pertengahan Ramadhan”: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الكَفَرَة الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَلاَ يُؤْمِنُونَ بِوَعْدِكَ وَخَالَفَ بَيْنَ كَلِمَتِهِم وَاًلق فيِ قُلُوبِهِم الرُّعْبَ واًلق عَلَيْهِم رِجْزَكَ وَعَذَابِكَ … Ya Allah! Perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu dan mendustakan para Rasul-Mu dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai beraikan persatuan mereka, lemparkan rasa takut pada hati mereka, dan lemparkan adzab-Mu atas mereka wahai Illah yang haq.” Kemudian dalam rangkaian doa qunut itu dilanjutkan dengan membaca shalawat kepada Nabi SAW dan berdoa untuk kaum muslimin semampunya dari kebaikan, lalu mintakan ampun untuk mereka. Setelah selesai melaknati orang-orang kafir dan bersholawat kepada Nabi SAW, maka diteruskan dengan membaca: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ َنعْبُدُ وَلَكَ نُصّلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحفد وَنَرْجُو رَحْمَتَكَ رَبَّنَا وَنَخَافُ عَذَابَكَ الجد إِنَّ عَذَابَكَ لِمَن عَادَيْتَ مُلحَق Ya Allah! Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu kami menuju dan menyegerakan langkah kami Kami mengharap rahmat-Mu wahai Tuhan kami dan kami takut adzab-Mu yang sangat. Sesungguhnya adzab-Mu akan mengenai orang yang memusuhi-Mu.” Kemudian bertakbir dan menuju sujud. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab “Shahihnya” (2/155-156/1100)). Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Apa Saja yang Dilakukan Saat I’tikaf? Assalamu’alaikum wr.wb. Pak Ustadz yang baik, ada beberapa pertanyaan seputar I’tikaf: Sebenarnya apa sih yang dilakukan orang saat I’tikaf, bolehkah hanya diam saja? Apakah I’tikaf harus selalu di masjid dan harus punya wudlu? Apakah sebelum melakukan I’tikaf harus berniat dulu, bagaimana niatnya? Apakah benar kita dianjurkan I’tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, apa dalilnya? Jazakallahu khoiron katsiron. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh, 1. I’tikaf Kata i’tikaf berasal dari ‘akafa alaihi’, artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i’tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar’iyah kata i’tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Selama hari-hari itu, seorang yang melakukan i’tikaf (mu’takif) mengasingkan diri dari segala urusan duniawi dan menggantinya dengan kesibukan ibadat dan zikir kepada Allah dengan sepenuh hati. Dengan i’tikaf seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita berserah diri kepada Allah dengan menyerahkan segala urusannya kepada-Nya, dan bersimpuh di hadapan pintu anugerah dan rahmat-Nya. Yang dilakukan pada saat i’tikaf pada hakikatnya adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Makna taqarrub adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya: A. Shalat Baik shalat wajib secara berjamaah atau punshalat sunnah, baik yang dilakukan secara berjamaah maupun sendirian. Misalnya shalat tarawih, shalat malam (qiyamullail), shalat witir, shalat sunnah sebelum shalat shubuh, shalat Dhuha’, shalat sunnah rawatib (qabliyah dan ba’diyah) dan lainnya. B. Zikir Semua bentuk zikir sangat dianjurkan untuk dibaca pada saat i’tikaf. Namun lebih diutamakan zikir yang lafadznya dari Al-Quran atau diriwayatkan dari sunnah Rasulullah SAW secara shahih. Jenis lafadznya sangat banyak dan beragam, tetapi tidak ada ketentuan harus disusun secara baku dan seragam. Juga tidak harus dibatasi jumlah hitungannya. C. Membaca ayat Al-Quran Membaca Al-Quran (tilawah) sangat dianjurkan saat sedang beri’tikaf. Terutama bila dibaca dengan tajwid yang benar serta dengan tartil. D. Belajar Al-Quran Bila seseorang belum terlalu pandai membaca Al-Quran, maka akan lebih utama bila kesempatan beri’tikaf itu juga digunakan untuk belajar membaca Al-Quran, memperbaiki kualitas bacaan dengan sebaik-baiknya. Agar ketika membaca Al-Quran nanti, ada peningkatan. E. Belajar Memahami Isi Al-Quran Selain pentingnya membaca Al-Quran dengan berkualitas, maka meningkatkan pemahaman atas setiap ayat yang dibaca juga tidak kalah pentingnya. Sebab Al-Quran adalah pedoman hidup kita yang secara khusus diturunkan dari langit. Tidak lain tujuannya agar mengarahkan kita ke jalan yang benar. Apalah artinya kita membaca Al-Quran, kalau kita justru tidak paham makna ayat yang kita baca. Tentunya belajar baca dan memahami ayat Al-Quran membutuhkan guru yang ahli di bidangnya. Tanpa guru, sulit bisa dicapai tujuan itu. F. Berdoa Berdoa adalah meminta kepada Allah atas apa yang kita inginkan, baik yang terkait dengan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat. Dan aktifitas meminta kepada Allah bukanlah kesalahan, bahkan bagian dari pendekatan kita kepada Allah. Allah SWT senang dengan hamba-Nya yang meminta kepada-Nya. Meski tidak langsung dikabulkan, tetapi karena meminta itu adalah ibadah, maka tetaplah meminta. Semakin banyak kita meminta, maka semakin banyak pula pahala yang Allah berikan. Dan bila dikabulkan, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri. Dan meminta kepada Allah (berdoa) sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam beri’tikaf. Namun dari semua kegiatan di atas, bukan berarti seorang yang beri’tikaf tidak boleh melakukan apapun kecuali itu. Dia boleh makan di malam hari, dia juga boleh isterirahat, tidur, berbicara, mandi, buang air, bahkan boleh hanya diam saja. Sebab makna i’tikaf memang diam. Tetapi bukan berarti diam saja sepanjang waktu i’tikaf. Adapun yang terlarang dilakukan saat i’tikaf adalah bercumbu dengan isteri hingga sampai jima’. Sedangkan yang dimakruhkan adalah berbicara yang semata-mata hanya masalah kemegahan dan kesibukan keduniaan saja, yang tidak membawa manfaat secara ukhrawi. Bicara masalah dagang, tentu boleh bila terkait dengan bagaimana dagang yang sesuai syariat. Sebab syariat itu tentu bukan hanya bicara hal-hal di akhirat saja, tetapi tercakup luas semua masalah keduniaan. Sunnat bagi orang yang sedang i’tikaf tidak boleh menengok yang sakit, jangan menyaksikan jenazah, tidak boleh menyentuh perempuan dan jangan bercumbu, dan jangan keluar (dari masjid) untuk satu keperluan kecuali dalam perkara yang tidak boleh tidak, dan tidak ada i’tikaf melainkan di masjid kami.” (HR Abu Dawud). 2. I’tikaf tidak sah dilakukan kecuali di masjid Ini adalah hal yang kebenarannya telah menjadi kesepakatan semua ulama. Sesuai dengan firman Allah SWT: Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187) Sedangkan masalah wudhu, bukan merupakan syarat. Namun sebagian ulama mewajibkan seseorang berwudhu’ bila masuk masjid. Sebagian lain tidak mewajibkan tapi hanya menyunnahkan. 3. Niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat, semua ibadah tidak sah. Tetapi niat itu bukan lafadz yang diucapkan, melainkan sesuatu yang ditetapkan di dalam hati. Lafadz niat hanya sekedar menguatkan, bahkan hukumnya diperdebatkan para ulama. Sebagian menganjur-kannya, tetapi sebagian lain malah melarangnya. Jadi niatkan saja di dalam hati bahwa anda akan melakukan i’tikaf, maka sah sudah niat anda. I’tikaf itu hukumnya sunnah untuk dilakukan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dalilnya adalah perbuatan nabi SAW yang telah melakukannya, bahkan tiap tahun tanpa meninggalkannya sekalipun. Sehingga ada sebagian ulama yang nyaris hampir mewajibkannya. Namun hukumnya tidak wajib, tetapi sunnah yang sangat dianjurkan. Adapun dalilnya adalah: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sampai saat ia dipanggil Allah Azza wa Jalla.” (HR Bukhari dan Muslim). Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh, I’tikaf Terkendala Oleh Jam Kerja Assalamualikum. Wr. Wb. Ustadz yang dirahmati Allah. Ada yang ingin saya tanyakan. Ramadhan tahun ini saya mempunyai jam kerja yang benar-benar tidak nyaman dengan aktivitas ramadhan saya terutama saat 10 hari terakhir. Disaat teman-teman saya khusuk itikaf di Masjid… Saya malah mendapat jadwal kerja dari sore sampai pagi.. dan saya merasa sangat merugi… padahal sangat ingin memaksimalkan 10 hari terakhir dengan Itikaf. Apakah ada saran yang bisa Ustadz berikan kepada saya? Dan setahu saya itikaf itu adalah di Masjid bukan di tempat yang lain. jazakamulllah Khairan katsira. Jawaban Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh, Satu hal yang perlu anda ketahui bahwa di balik keutamaan dan anjuran untuk beri’tikaf di masjid pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, bahwa para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu hukum bukan wajib. Hukumnya sunnah dimana Rasulullah SAW tidak pernah mewajibkannya. Beliau memang tidak pernah meninggalkan i’tikaf, namun tetap saja hukumnya tidak sampai wajib. Sehingga seorang muslim yang tidak sempat untuk melakukan i’tikaf di masjid para 10 malam terakhir bulan Ramadhan itu tidak dikatakan sebagai orang yang berdosa atau melakukan kemaksiatan. Di sisi lain, bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak dan isteri merupakan kewajiban, bukan sekedar sunnah. Sebab seorang suami telah diperintahkan untuk memberi nafkah kepada keluarga yang menjadi tanggungannya. Maka seandainya ada orang yang bisa mengatur waktunya agar tetap bisa bekerja mencari nafkah namun tetap bisa melakukan i’tikaf di masjid, tentu sangat beruntung. Namun buat mereka yang tidak mendapatkan kesempatan untuk beri’tikaf karena alasan jam pekerjaan, tentu bukan berarti semua pintu-pintu kebaikan telah tertutup untuknya. Masih ada ribuan pintu kebaikan lainnya yang tetap terbuka dan bisa dimasuki untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Sehingga anda tidak perlu berkecil hati bila pada bulan Ramadhan tahun ini belum dapat menikmati indahnya malam-malam i’tikaf, semoga di tahun-tahun mendatang Allah SWT memberikan kesempatan itu. Ada seorang yang bercerita bahwa saking cintanya untuk beri’tikaf, dia sengaja tidak mengambil cuti tahunan dari kantor, kecuali setiap tanggal 21 hingga 30 Ramadhan. Tujuannya agar bisa ikut beri’tikaf di masjid. Tentu kita maklum bila tidak semua lapisan umat Islam mendapat kesempatan seperti ini. Pintu-pintu kebaikan masih tetap terbuka lebar, meski tidak harus lewat pintu ‘itikaf. Misalnya al-jihad fi sabilillah yang pernah dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak. Bahkan jihad di bulan Ramadhan jauh lebih berfaedah dan lebih mendatangkan pahala yang besar. Sehingga beliau sampai membuat gubahan syi
  22. Dukut Nugroho Says:
    PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN . . . . . . . . . . . . . . . RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . Jangan lewatkan kesempatan “big sale” Obral besar-besaran pahala tiada tandingan Diskon ampunan dipotong sampai 99% Ramadhan telah datang Selama satu bulan penuh rahmah dan berkah Siapkan doa sekarang juga Jangan ketinggalan shalat malam dan baca Al Quran Kumpulkan point amalan anda. Sunnah disamakan dengan wajib. Point untuk yang wajib berlipat ganda. Juga nantikan bonus tak terduga di akhir bulan Siapa tahu anda berhak mendapatkan door-prize: Lailatul Qadar Ayo kita beramai-ramai menghidupkan Ramadhan RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN DAFTAR ISI 1. MARHABAN YA RAMADHAN……………………………………………………………………………………1 2. RAMADHAN BULAN BERKAH …………………………………………………………………………………. 1 3. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DI DALAMNYA……………5 4. PANDUAN AMALAN DI BULAN RAMADHAN ………………………………………………………………6 5. PANDUAN SHAUM RAMADHAN……………………………………………………………………………..11 6. FIQIH SHAUM………………………………………………………………………………………………………. 17 7. FIQIH SHAUM BAGI MUSLIMAH ……………………………………………………………………………..23 8. PANDUAN SHALAT DAN SHAUM DALAM BEPERGIAN……………………………………………..25 9. PANDUAN MENGGAPAI LAILATUL QODAR……………………………………………………………..28 10. PANDUAN I’TIKAF RAMADHAN………………………………………………………………………………31 11. PANDUAN MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH…………………………………………………………..34 12. PANDUAN SHALAT ‘IEDUL FITHRI DAN ‘IEDUL ADHHA …………………………………………….35 13. SPIRITUALISME DAN MATERIALISME …………………………………………………………………….39 14. SEJENAK BERSAMA PEMUDA……………………………………………………………………………….41 RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 1 1. MARHABAN YA RAMADHAN Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan. Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad) Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama. 2. RAMADHAN BULAN BERKAH Ikhwati wa akhowati fillaah, Salah satu sifat Allah SWT adalah Ia memiliki irodah (kehendak), sebagaimana firman-Nya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS Al Qoshosh [28]:68). RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 2 Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi. Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. Firman Allah: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari -hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS Al Baqoroh [2]:185. Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya: “Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.” (HR. Ath Thabrani). Dalam sabdanya yang lain: “Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan.” (HR. An Nasai dan Al Baihaqi) Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya: RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 3 1. Bulan diturunkannya Al Qur-an. Firman Allah: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al Baqarah [2]:185) Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata: “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia. 2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad) Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya. 3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr. Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anakanak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al Anfal [8]:41. RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 4 Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara. 4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam. 5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. Dijelaskan dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr [97]:1-5) 6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” QS Al Baqarah [2]: 183. Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 5 Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini. 3. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DI DALAMNYA 1. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” (HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi). 2. “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata: Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata: Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru: Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai) 3. “Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.”(H.R.Muslim) 4. “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata: Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an: Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” (H.R. Ahmad, Hadits Hasan). 5. “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan: Dimana orang yang shaum? (untuk masuk Jannah melalui RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 6 pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim). 6. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang (HR.Bukhary Muslim). KESIMPULAN: Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, di antaranya: 1. Bulan Ramadhan adalah: a. Bulan yang penuh Barakah. b. Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup. c. Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu. d. Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR. e. Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2). 2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain: a. Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya. b. Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaa’t. c. Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6). 4. PANDUAN AMALAN DI BULAN RAMADHAN Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia mempunyai makna tersendiri. Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Qur’an, menahan syahwat dengan shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan yaitu: Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 dan akhir Al-Hijr) Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang mulism. Hal itu terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya dihadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan. Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut: RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 7 Shiyam (puasa) Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa), sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh: 183-187. Dan diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah: a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga ramburambunya. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui ramburambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi). b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa: “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR At Turmudzi). c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkn makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga pernah bersabda bahwa: ” Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum ” (Hr Bukhori dan Muslim). d. Bersungguh – sungguh melakukan shiyam dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah SAW bersabda: ” Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan ” (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud). e. Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok). Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa: ” Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur . f. Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa: ” Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. ” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja ” (HR. Abu Daud dan Ahmad). RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 8 g. Berdo’a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do’a sebagai berikut ; Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang yang berpuasa banyak memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda bahwa : ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-rang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR. Ahmad dan Turmudzi). Tilawah (membaca) al Qur’an Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas al Qur’an disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam az Zuhri pernah berkata : ” Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca al Qur’an”. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur’an) dan esensi dasar diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29). Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya) Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan: “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut ” (HR. Turmudzi dan an Nasa’i). Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan iftor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai ” lebih cepat dari angin ” (HR Bukhori). Memperhatikan kesehatan. Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini: a. Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud). b. Berobat seperti dengan berbekam (al hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 9 c. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan oleh Rasulullah SAw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. AL Haitsami) Memperhatikan harmoni keluarga Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus diperuntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri -istri beliau, Aisyah dan Ummu Salamah RA, Rasulullah tokoh yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni i’tikaf, harmoni itu tetap terjaga. Memperhatikan aktivitas da’wah dan sosial Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah, kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah (tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H), mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin), melaksanakan perkawinan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, beliau berkeluarga dengan Hafshoh dan Zainab RA, meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’, meruntuhkan masjid adh Dhiror, dll. Qiyam Ramadhan (sholat tarawih) Di antara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sebagai sholat tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat tarawih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih dalam 11 reka’at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat-riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah reka’at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka’at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan reka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’i, seorang tokoh yang juga dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadits, beliau menyampaikan bahwa: Beberapa informasi tentang jumlah reka’at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka’at, kadang 21 RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 10 dan terkadang 23 reka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka’at mereka membaca bacaanbacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan. I’tikaf. Diantara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAw dalam bulan Ramadhan ialah i’tikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke madinah sehingga wafatnya disana. Lailat al Qodr Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr: 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR. Bukhori Muslim). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa: “Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah mengajarkan do’a sebagai berikut: Umroh Umroh atau haji kecil itu bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan, sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: ” Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim) Zakat Fitrah Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 11 Ramadhan bulan taubat menuju fithroh Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang Maha Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar ketika mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fithrohnya. Khotimah Demikianlah sebagian amaliyah Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian Ramadhan juga menyiratkan salah satu prinsip dasar Islam tentang moderasi dan integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah pernah bersabda ; “Apabila orang -orang mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan berharap agar semua bulan dijadikan sebagai bulan Ramadhan”. (HR. Ibnu Huzaimah). Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, amin. 5. PANDUAN SHAUM RAMADHAN Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku ). (H.R Ahmad). Dirwayatkan dari ‘Aisyah ra: Rasulullah saw. telah bersabda: Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain: Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud). Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari’at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Di antara cara syaithan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya. “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada’ . Maka beliau bersabda: Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa (dalam berusaha) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 12 kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. ” (HR. Hakim). Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. “Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Setiap suatu kaum mengadakan Bid’ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid’ah “(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan bid’ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid’ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadhan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah Shaum Ramadhan sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal di atas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid’ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat ‘Ied berdasarkan Nash-nash yang Shariih (jelas). Dalil – dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. 1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang shaum boleh berbuka. (H.R: Al- Bukhary dan Muslim) 2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa?ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: Manusia (ummat Islam) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw berbuka denganmakan beberapa ruthaab (kurma basah) sebelum shalat, kalau tidak ada makadengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R: Abu Daud dan Al-Hakiem) 4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya airitu bersih. (H.R: Ahmad dan At-Tirmidzi) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 13 5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah. (H.R: Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan) 6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R: Al- Bukhary dan Muslim) 7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda: Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R: Al- Bukhary) 8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda: Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. (H.R: An-Nasa’i) 9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh). Saya berkata: Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur danwaktu Shubuh)?Ia berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R:Al-Bukhary dan Muslim) 10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata: Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. (H.R: Al-Baihaqi) 11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/ minum sahur ) daripadanya. (H.R:Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem) 12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya: Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r. menjawab: ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu Jarir) 13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw.orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan(cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary) 14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw.menggalakkan qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda: Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama’ah) 15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R:Al-Bukhary dan Muslim) 16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R: Muslim) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 14 17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan? maka ia menjawab: Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya: Beliau shalat empat raka’at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka’at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka?at. (H.R: Al-Bukhary,Muslim dan lainnya) 18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat delapan raka’at, kemudian shalat witir. (H.R: Muslim) 19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab: Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at. (H.R:Jama’ah) 20. Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda: Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 21. Dari Ubay bin Ka’ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Shalat witir dengan membaca: Sabihisma Rabbikal A’la)dan (Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad). (H.R: Ahmad, Abu Daud, Annasa’i dan Ibnu Majah) 22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata: Rasulullah saw. Telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir: artinya) Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (H.R: Ahmad, Abu Daud, Annasa’i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) 23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama’ah) 24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda: berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. H.R: Muslim) 25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. bersabda: Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R: Muslim) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 15 26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda: Bacalah artinya) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R: At-Tirmidzi dan Ahmad) 27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya………. (H.R:Jama’ah kecuali At-Tirmidzi ) 29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila beri’tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi dll…) (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 30. Allah ta’ala berfirman: (artinya) Janganlah kalian mencampuri ereka(istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati… Al-Baqarah: 187) 31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya shaum itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia shaum maka hendaklah ia katakan: ” sesungguhnya saya sedang shaum” . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang shaum ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena shaumnya. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. Telah bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. (H.R: Jama’ah Kecuali Muslim) Maksudnya Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya. 33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan: Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami ? Ia menjawab: Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. H.R: Muslim) 34. Rasulullah sw. bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R: Muslim) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 16 KESIMPULAN Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb: 1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6) Sunnah berbuka adalah sbb: a. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. dalil: 2,3 dan 4) b. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. (dalil: 6) c. Setelah berbuka berdo’a dengan do’a sbb: Artinya: Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5) 2. Makan sahur. (dalil: 7 dan 8 ) Adab-adab sahur: a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10) b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in. 3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur’an (dalil: 13) 4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama’ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. Sampai akhir Ramadhan). (dalil: 14,15 dan 16) Cara shalat Tarawih adalah: a. Dengan berjama’ah. (dalil: 19) b. Tidak lebih dari sebelas raka’at yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. (dalil: 17) c. Dibuka dengan dua raka’at yang ringan. (dalil: 18) d. Bacaan dalam witir: Raka’at pertama: Sabihisma Rabbika. Roka’t kedua:Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka’at ketiga: Qulhuwallahu ahad. (dalil: 21) e. Membaca do’a qunut dalam shalat witir. (dalil 22) 5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca: Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. (dalil: 25 dan 26) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 17 6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil: 27) 7. Cara i’tikaf: a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid. (dalil 28) b. Tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil: 29) a. Tidak mencampuri istri dimasa i’tikaf. (dalil: 30) 7. Mengerjakan umrah. (dalil: 33 dan 34) 8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil: 31 dan 32) 6. FIQIH SHAUM Cara Menetapkan Awal dan Akhir Bulan 1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata: Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan: sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. shaum dan memerintahkan semua orang agar shaum.” (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih). 2. “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru’yah dan berbukalah (akhirilah shaum Ramadhan) dengan melihat ru’yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban selama Tiga Puluh hari. “(HR. Bukhary Muslim). 3. KESIMPULAN a. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru’yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya). b. Jika bulan sabit (Hilal) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2). c. Pada dasarnya ru’yah y ang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ‘ Ala Minhaajinnabiy sudah tegak (dalil 2). 4. Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru’yah yag nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama). Rukun Shaum 1. “… dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam…(AL-Baqarah: 187). 2. “Adiy bin Hatim berkata: Ketika turun ayat ; artinya (…hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam…), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 18 dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). ” (H.R. Bukhary Muslim). 3. “Allah Ta’ala berfirman: ” Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya ” Al-Bayyinah:5) 4. “Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan.” H.R Bukhary dan Muslim). 5. “Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata: Telah bersabda Nabi saw.: Barangsiapa yang tidak beniat (shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya .” (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih. 6. KESIMPULAN: Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun shaum Ramadhan adalah sebagai – berikut: a. Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5). b. Menahan makan, minum koitus (Jima’) dengan istri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2). Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan 1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk shaum, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang -orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. ” (Al-Baqarah: 183) 2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi saw telah bersabda: telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan . – Dari orang gila sehingga dia sembuh – dari orang tidur sehingga bangun – dari anak-anak sampai ia ia bermimpi / dewasa.” (H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi). 3. KESIMPULAN Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa: yang diwajibkan shaum Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar. Yang Dilarang Shaum 1. “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha Shalat “(H.R Bukhary Muslim). 2. KESIMPULAN Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh. Yang Diberi Kelonggaran untuk Tidak Shaum Ramadhan 1. “(Masa yang diwajibkan kamu shaum itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 19 haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia shaum) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185.) 2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata: Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk shaum, maka DIA turunkan ayat (dalam surat AL-Baqarah: 183- 184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (AL-Baqarah: 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih). 3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy: Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda: hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus shaum maka tidak ada dosa baginya ” (H.R.Muslim) 4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata: Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan shaum. Selanjutnya ia berkata: Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besoak kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum .” (H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud). 5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata: Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang shaum dan diantara kami ada yang berbuka . Yang shaum tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu shaum, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik ” (HR. Ahmad dan Muslim) 6. “Dari Jabir bin Abdullah: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa?il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (shaum). Maka beliau meminta RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 20 segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk shaum. Maka beliaupun bersabda: mereka itu adalah durhaka. “(HR.Tirmidzy) 7. “Ucapan Ibnu Abbas: wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (Riwayat Abu Dawud). Shahih 8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya (tentang shaum Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab: Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha shaum .” (Riwayat Baihaqi) Shahih. 9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata: Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika shaum Ramadhan. Belberkata: Keduanya boleh berbuka (tidak shaum)dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha shaum” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19). 10. KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah: 1) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak shaum Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah: a) Orang sakit yang masih ada harapan sembuh. b) Orang yang bepergian (Musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk shaum. 2) Orang Mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan shaum karena: a). Umurnya sangat tua dan lemah. b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya. c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya. d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh. e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. (dalil 2,7,8, dan 9). Hal-Hal yang Membatalkan Shaum 1. “…dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam…” Al-Baqarah: 187). 2. “Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda: Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan shaumnya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai). RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 21 3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum – maka tidak wajib qadha (shaumnya tetap sah), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (shaumnya batal). (H.R: Abu Daud dan At-Tirmidziy) 4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata: Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata: Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk shaum (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya. (H.R: Abu Daud) hadits shahih. 6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ……… (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan), maka Rasulullah saw. bersabda: Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab: Tidak. Rasulullah saw bersabda: Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab: Tidak. Beliau bersabda lagi: Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab: Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya: dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya (Madinah) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda: Ambillah untuk memberi makan keluargamu. (H.R: Al-Bukhary dasn Muslim) 8. KESIMPULAN Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan shaum (Ramadhan) ialah sbb: a. Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan shaum. (dalil: 2) b. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan shaum. (dalil: 3) c. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil: 5 dan 6) d. Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini disamping shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa: memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil: 7) e. Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk aghrib).(dalil: 4) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 22 Hal-Hal yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum 1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan shaum, kemudian mandi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) 2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan karena udara panas. (H.R:Ahmad, Malik dan Abu Daud) 3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan shaum. (H.R: Al-Bukhary) . 4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetbeliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R: Al-Jama’ah kecuali Nasa’i) hadits shahih. 5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj: Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata: Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan shaum, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab: Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan shaum. (H.R: Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim). 6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah: Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan shaum. (H.R: Ashhabus Sunan) 7. Perkataan ibnu Abbas: Tidak mengapa orang yang shaum mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary). 8. KESIMPULAN Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum: a. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari. b. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil: 1) c. Berbekam pada siang hari. (dalil: 3) d. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.(dalil 4 dan 5) e. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil: 6) f. Disuntik di siang hari g. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil:7) RAMADHAN BIG SALE . . . . . . . . . . . . . . . . PANDUAN MENUJU KEMENANGAN DALAM RAMADHAN 23 7. FIQIH SHAUM BAGI MUSLIMAH Muqoddimah Dalam surat Al-Baqoroh: 183, Allah SWT memerintahkan umat Islam melaksanakan shiyam, untuk mencapai derajat taqwa. Perintah ini adalah umum, baik untuk pria maupun wanita. Tetapi dalam perincian pelaksanaan shiyam, ada beberapa hukum khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini – insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita secara khusus. Panduan Umum 1. Wanita sebagaimana pria disyari’atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal yang bermanfaat, dan memperbanyak menggunakan waktu untuk beribadah. Seperti memperbanyak bacaan Al-Qur’an, dzikir, do’a, shodaqoh dan lain sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya. 2. Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan hukum-hukum puasa yang bisa mereka cerna sesuai dengan tingkat kefahaman yang mereka miliki. 3. Tidak mengabiskan waktu hanya di dapur, dengan membuat berbagai variasi makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena
  23. Dukut Nugroho Says:

    selamat hari raya idul fitri 1430 h

    Nb. Mohon dibukakan pintu maaf atas segala kesalahan dan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita menjadi orang yang “ merdeka” dari hawa nafsu
    Dukut & keluarga
    Nasihat Rasulullah menjelang Ramadhan
    Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan syiyam dan membaca kitab-Nya.

    Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fukara dan masakin.

    Muliakanlah orang-orang tuamu, sayangilah yang muda, sambunglah tali persudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya, dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarkannya.

    Kasihanilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu.

    Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih;Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

    Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka
    ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

    Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-’Alamin.

    Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu.

    (Sahabat-sahabat bertanya:” Ya Rasulullah!Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”) Rasulullah meneruskan: Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

  24. Dukut Nugroho Says:

    Do’a malaikat Jibril menjelang Ramadhan : “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut’:

    * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada)

    * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri

    * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

    Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah juragan bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jumaat.

    Oleh itu Sebab itu SAYA dan keluarga , TERLEBIH DAHULU MEMOHON MAAF jika saya ada berbuat kesalahan, baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja , semoga kita dapat menjalani ibadah puasa dengan penuh keberkatan.

    AMIEENNNN……..

  25. DUKUT NUGROHO Says:

    please visit my blog address http://www.ar-ratisi.blogspot.com

    Pria mendapatkan Bidadari di Surga, wanita mendapatkan apa ?
    Minggu, 2009 Juli 26 by Mustofa ·

    Pertanyaan:
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Pria mendapatkan istri-istri bidadari di Surga, lalu wanita mendapatkan apa?

    Jawaban:
    Para wanita akan mendapatkan pria ahli Surga, dan pria ahli Surga lebih afdhal dari pada bidadari. Pria yang paling baik ada di antara pria ahli Surga. Dengan demikian, bagian wanita di Surga bisa jadi lebih besar dan lebih banyak daripada bagian pria, dalam masalah pernikahan. Karena wanita di dunia juga (bersuami) mereka mempunyai beberapa suami di Surga. Bila wanita mempunyai 2 suami, ia diberi pilihan untuk memilih di antara keduanya, dan ia akan memilih yang paling baik dari keduanya

    (Fatawa wa Durusul Haramil Makki, Syaikh Ibn Utsaimin 1/132, yang dinukil dalam Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia Fatwa-fatwa tentang wanita 3 cetakan Darul Haq)

    Pertanyaan:
    Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: Ketika saya membaca Al-Qur’an, saya mendapati banyak ayat-ayat yang memberi kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dari kaum laki-laki, dengan balasan bidadari yang cantik sekali. Adakah wanita mendapatkan ganti dari suaminya di akhirat, karena penjelasan tentang kenikmatan Surga senantiasa ditujukan kepada lelaki mukmin. Apakah wanita yang beriman kenimatannya lebih sedikit daripada lelaki mukmin?

    Jawaban:
    Tidak bisa disangsikan bahwa kenikmatan Surga sifatnya umum untuk laki-laki dan perempuan. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan (Ali-Imran:195)

    Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (An-Nahl:97)

    Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun (An-Nisa’:124)

    Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar(Al-Ahzab:35)

    Allah telah menyebutkan bahwa mereka akan masuk Surga dalam firman-Nya: Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan (Yasin:56)

    Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan(Az-Zukhruf:70)

    Allah menyebutkan bahwa wanita akan diciptakan ulang.
    Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan (Al-Waqi’ah: 35-36)

    Maksudnya mengulangi penciptaan wanita-wanita tua dan menjadikan mereka perawan kembali, yang tua kembali muda. Telah disebutkan dalam suatu hadits bahwa wanita dunia mempunyai kelebihan atas bidadari karena ibadah dan ketaatan mereka. Para wanita yang beriman masuk Surga sebagaimana kaum lelaki. Jika wanita pernah menikah beberapa kali, dan ia masuk Surga bersama mereka, ia diberi hak untuk memilih salah satu di antara mereka, maka ia memilih yang paling bagus diantara mereka.

    (Fatawal Mar’ah 1/13 yang dinukil dalam Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia Fatwa-fatwa tentang wanita 3 cetakan Darul Haq)

  26. DUKUT NUGROHO Says:

    Sudah benarkah Syahadat Laa ilaaha illallah saya?
    Selasa, 2009 April 14 by Mustofa ·

    Syahadat Laa ilaaha illallah merupakan pondasi dasar dienul Islam. Ia merupakan rukun pertama dari rukun Islam yang lima. Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kalimat yang menjadi pemisah antara mukmin dan kafir. Ia menjadi tujuan diciptakannya makhluk. Ia juga merupakan sebab di utusnya para rasul. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri diperintah untuk memerangi manusia sehingga manusia mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, sebagaimana hadits yang terdapat dalam Bukhari dan Muslim, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu (yang artinya):
    “Aku diperintah memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah. Barangsiapa yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallah berarti selamat dariku harta dan jiwanya kecuali hak keduanya. Dan adapun perhitungannya (diserahkan) kepada Allah Azza wa Jalla.”

    Karena kalimat Laa ilaaha illallah ini pula ditegakkan timbangan keadilan dan catatan amal. Merupakan materi utama yang akan ditanyakan dan dihisab, merupakan asas agama, merupakan hak Allah atas hamba-Nya untuk masuk Islam dan kunci keselamatan, penentu surga dan neraka.

    Kita terkadang melihat sebagian kaum muslimin –kalau tidak boleh dikatakan banyak- setelah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, telah merasa bahwa dirinya sudah selamat dari api neraka. Asalkan sudah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah sudah pasti masuk surga, sudah jaminan bebas dari api neraka. Mereka tidak lagi melihat haram dan haram. Tidak memperhatikan lagi apakah melakukan ke-syirik-kan atau tidak. Apakah telah melakukan perbuatan yang bisa membatalkan syahadat-nya atau tidak.

    Mereka, selain menyembah Allah juga menyembah kepada yang lain. Datang dan minta ke kuburan, menyembah kuburan, minta berkah kepada batu atau pohon, menggunakan jimat dan mantra-mantra, berdoa kepada selain Allah, menyembelih binatang untuk selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, bersumpah kepada selain Allah, datang, percaya, dan minta kepada dukun, melakukan sihir, dan melakukan perbuatan-perbuatan lainnya yang dapat mengurangi kesempurnaan bahkan membatalkan syahadatnya.

    Ketika diberitahu dan diingatkan, terkadang di antara mereka berdalih dengan hadits: dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal (yang artinya):
    “ Tak ada seorang hamba pun yang bersaksi bahwa tiada illah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya kecuali Allah mengharamkan baginya neraka.” (Riwayat Muslim)

    Sudahkah mereka memahami, apa makna kalimat Laa ilaaha illallah? Apa syarat dan rukun-nya, apa pula konsekuensinya dan pembatal-pembatalnya?

    Ketika mereka (para penyembah berhala) diberitahu, dijelaskan kebenaran, kebanyakan dari mereka berpaling, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah. Mereka tetap saja menyembah berhala dan tidak mau mendengarkan firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta menolak petunjuk orang-orang yang memberi nasihat, dan barangkali juga mereka justru menentang dan menyakiti orang yang mengingkari kebatilan dan dosa-dosa mereka. Allahu Musta’an.

    Mereka lupa (atau berpura-pura lupa?) atau bodoh (atau berpura-pura bodoh?)? Atau memang karena tidak tahu? Belum sampai penjelasan kepada mereka? entahlah. Allahu A’lam; bahwa di dalam kalimat Laa ilaaha illallah terdapat syarat dan rukun yang harus kita penuhi, konsekuensi-konsekuensi yang harus kita laksanakan, ada juga pembatal-pembatal yang harus kita tingggalkan dan jauhi. Jadi tidak semata-mata hanya mengucapkan Laa ilaaha illallah semuanya menjadi beres.

    Kalau kita tidak waspada dan hati-hati, kita dapat berbuat seperti mereka, melakukan hal-hal yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan Laa ilaaha illallah kita. Naudzu billahi min dzalik. Kita berlindung dari hal yang demikian.

    Karenanya mari kita bersama-sama mengoreksi syahadat Laa ilaaha illallah yang telah kita ucapkan. Apakah sudah memenuhi syarat dan rukunnya, maknanya, konsekuensinya, apakah telah meninggalkan pembatal-pembatalnya atau belum. Apabila sudah, alhamdulillah, itu yang kita harapkan. Namun apabila sebaliknya, marilah kita perbaiki, mumpung masih ada kesempatan. Selagi ajal belum sampai tenggorokan.

    Makna Laa ilaaha illallah

    Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dalam bukunya yang diterjemahkan menjadi “Murnikan Syahadat Anda” (hal.35) membawakan analisa Syaikh Sulaiman bin Abdullah dalam buku tafsir ‘Aziz Al-Hamid syarah Kitab Tauhid halaman 53; beliau, Syaikh Sulaiman bin Abdullah menyebutkan makna Laa ilaaha illallah adalah Laa ma’ buda bihaqqin illa ilaahun wahid (tidak ada yang disembah yang sebenarnya kecuali ilah yang satu), yaitu Allah yang tunggal yang tiada memiliki sekutu baginya.

    “Dan tiadalah Kami mengutus sebelummu (Muhammad) seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’:25)
    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl:36)

    Makna ilah yang sebenarnya adalah al-ma’bud (sesuatu yang disembah). Karenanya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajak orang musyrik Quraisy untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah, mereka menjawab:
    “Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu ilah yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad:5)
    Demikian penjelasan Syaikh Jibrin pada buku tersebut hal.35-37.

    Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan di dalam bukunya, yang diterjemahkan dengan judul “Kitab Tauhid I” pada hal 52-53 menjelaskan beberapa penafsiran batil menganai Laa ilaaha illallah ini yang banyak beredar di masyrakat. (Saya nukil dengan sedikit perubahan) Adapun yang menafsirkan “Tidak ada sesembahan kecuali Allah”, “Tidak ada Tuhan selain Allah”; ini adalah tafsiran yang batil. Hal ini menyelisihi kenyataan, karena pada kenyataannya ada yang disembah kecuali Allah. Kemudian, tafsiran tersebut dapat berarti juga bahwa setiap yang disembah baik yang haq maupun batil adalah Allah.
    Sedangkan penafsiran “Tidak ada pencipta selain Allah”, “Tidak ada pemberi rizqi kecuali Allah”, ini hanyalah sebagian dari arti kalimat Laa ilaaha illallah. Bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mencakup tauhid rububiyah saja, sedangkan tauhid meliputi rububiyah, uluhiyah, dan asma dan sifat Allah.
    Demikian pula penafsiran “Tidak ada hakim (penentu hukum) kecuali Allah”, ini juga cuma sebagian dari kalimat Laa ilaaha illallah. Bukan ini yang dikehendaki, karenanya maknanya belum cukup.

    Syarat Laa ilaaha illallah

    Bersaksi Laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat, tanpa syarat-syarat ini tidak bermanfaat bagi yang mengucapkan. Syarat-syarat tersebut adalah:

    1. Al-Ilmu artinya mengetahui makna kalimat ini. Karenanya orang yang mengucapkan tanpa memahami makna dan konsekuensinya, ia tidak dapat memetik manfaat sedikitpun, bagaikan orang yang berbicara dengan bahasa tertentu tapi ia tidak mengerti apa yang diucapkannya.

    Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya):
    “Maka ketahuilah bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Allah.” (Muhammad:19)
    “Melainkan orang yang menyaksikan kebenaran sedang mereka mengerti.” (Az-Zukhruf:86)

    Hadits dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
    “Barangsiapa mati dan dia mengetahui bahwasanya Laa ilaaha illallah ,maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

    2. Al-Yaqin artinya meyakini sepenuhnya kebenaran kalimat ini tanpa ragu dan bimbang sedikitpun.

    Dalilnya firman Allah (yang artinya):
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman keapda Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)

    Hadits dari Abu Hurairah (yang artinya):
    “Tidaklah bertemu Allah seorang hamba yang membawa kedua kalimat syahadat dan dia betul-betul tidak ragu-ragu kecuali dia masuk surga.” (HR. Muslim)

    3. Al-Ikhlas artinya ikhlas tanpa disertai kesyirikan sedikitpun. Inilah konsekuensi pokok Laa ilaaha illallah.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
    ”Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan semata mengharap agar mendapat ridha Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari-Muslim)

    4. Ash-Shidqu artinya jujur tanpa disertai sifat kemunafikan, karena banyak sekali yang mengucapkan kalimat ini akan tetapi tidak diyakini isinya dalam hati.

    Firman Allah (yang artinya):
    “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allahdan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mreka berdusta.” (Al-Baqarah:8-10)

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Tiadalah seseorang bersaksi secara jujur dari hatinya bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kecuali orang tersebut diharamkan dari neraka.” (Bukhari-Muslim)

    5. Al-Mahabbah artinya mencintai kalimat ini dan segala konsekuensinya serta merasa gembira dengan hal itu, hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang munafik.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    “Dan di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah:165)

    Dalam hadits shahih dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
    “Tiga perkara, jika dimiliki oelh seseorang, ia akan mendapat manisnya iman, yaiut: mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain, mencintai seseorang karena Allah semata, dan membenci kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran seperti ia membenci jika dicampakkan ke dalam api neraka.”

    6. Al-Inqiyad artinya tunduk dan patuh melaksanakan hak-hak kalimat ini, dengan cara melaksanakan kewajiban atas dasar ikhlas dan mencari ridha Allah, ini termasuk konsekuensinya.

    Firman Allah Azza wa Jalla (yang artinya):
    “Dan siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat baik, maka dia telah berpegang kepada urwatul wutsqa.” (Lukman:22)

    7. Al-Qobul artinya menerima apa adanya tanpa menolak, hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    “Sesungguhnya apabila dikatakan kepada mereka Laa ilaaha illallah mereka takabur.” (Ash-Shofat:35)

    Syarat-syarat di atas diambil oleh para ulama dari nash Al-Qur’an dan sunnah yang membahas secara khusus tentang kalimat agung ini, menjelaskan hak dan aturan-aturan yang berkaitan dengannya. Yang intinya, kalimat Laa ilaaha illallah bukan sekedar diucapkan dengan lisan.

    Rukun Laa ilaaha illallah

    Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun, yaitu:

    1. An-Nafyu (peniadaan) artinya membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

    2. Al-Itsbat (penetapan) artinya menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

    Dalil dari kedua rukun Laa ilaaha illallah ini adalah firman Allah (yang artinya):
    “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat…” (Al Baqarah:256)

    ‘Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut’ adalah makna dari rukun pertama Laa ilaaha, sedangkan ‘Beriman kepada Allah’ adalah makna rukun kedua illallah.

    Konsekuensi Laa ilaaha illallah

    Mengamalkan konsekuensi Laa ilaaha illallah adalah dengan cara menyembah Allah dengan ikhlas dan mengingkari segala jenis peribadatan kepada selain Allah (syirik). Inilah tujuan utama kalimat ini. Termasuk konsekuensi kalimat ini adalah menerima (dengan ketundukan yang penuh) syariat Allah dalam masalah ibadah, muamalah, halal, haram dan menolak segala macam bentuk syariat dari selain-Nya.

    Allah berfirman (yang artinya):
    “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura:21)

    Pembatal-Pembatal Laa ilaaha illallah

    Di dalam buku: “Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman” disebutkan bahwa: yang dimaksud dengan pembatal-pembatal Laa ilaaha illallah atau pembatal keislaman adalah hal-hal yang dapat merusakkan keislaman seseorang. Manakala hal itu menimpa diri seseorang, maka hal itu dapat merusakkan keislamannya dan mengguggurkan amalan-amalannya, dan dia menjadi termasuk orang-orang yang kekal di dalam api neraka.

    Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah wajib mempelajari pembatal-pembatal ini. Jika tiadak, maka bisa jadi seorang muslim terperosok ke dalamnya sedangkan ia tidak merasa, seperti yang terlihat pada kebanyakan orang yang mengaku dirinya sebagai orang islam. La Haula wa la Quwwata Illah Billah!

    Di dalam buku tersebut, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa pembatal-pembatal Laa ilaaha illallah ini jumlahnya banyak, tapi yang pokok ada sepuluh. Pembatal-pembatal yang lain kembalinya kepada yang sepuluh ini. Saya ringkskan permasalahan ini dari buku tersebut untuk Anda wahai Saudaraku. Pahamilah! Pembatal-pembatal tersebut adalah:

    1.Syirik dalam beribadah kepada Allah
    Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, seperti berdoa kepada selain Allah, menyembelih kurban untuk selain Allah, seperti untuk jin atau kuburan, jembatan, rumah, atau lainnya.

    Allah berfirman (yang artinya):
    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisaa’:48)

    Ada ulama yang membagi syirik menjadi tiga, yaitu: syirik akbar, syirik ashghar, dan syirik khafi. Namun ada juga yang cuma membagi menjadi dua, yaitu: syirik akbar dan syirik ashgar.

    Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menjadikannya pelakunya kekal di dalam neraka, jika ia mati dalam keadaan membawa dosa syirik besar tersebut dan belum bertaubat.
    Diantara yang termasuk syirik besar adalah penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, takut kepada orang yang mati, jin, syaithan bahwa mereka bisa membahayakan dan membuat sakit, meminta kepada orang mati.

    Syirik besar dibagi menjadi empat, yaitu syirik doa(disamping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selainnya), syirik niat, keinginan dan tujuan (menunjukkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah), syirik ketaatan (mentaaati selain Allah dalam hal maksiat kepada Allah), syirik kecintaan (menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan).

    Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari Islam, tetapi mengurangi tauhid dan merupakan perantara kepada syirik besar.
    Syirik kecil dibagi dua, yaitu syirik zhahir (nyata) dan syirik khafi (tersembunyi).
    Syirik zhahir ini terdiri dari perkataan dan perbuatan. Contoh dari perkataan adalah ucapan “Kalau bukan karena Allah dan karena si fulan”, adapun contoh yang berupa perbuatan misalnya memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya atau namimah. Apabila ia berkeyakinan bahwa hal itu sebagai perantara maka ia jatuh pada syirik kecil, namun apabila ia berkeyakin bahwa hal itu dapat menolak bahaya maka itu syirik besar.
    Syirik khafi yaitu syirik dalam keingin dan niat, seperti riya (ingin dipuji orang), sum’ah (ingin didengar orang)

    2.Orang yang membuat “Perantara” antara dirinya dengan Allah, yang kepada perantara-perantara itu ia berdoa atau meminta syafaat, serta bertawakal kepada mereka; maka ia telah kafir berdasarkan ijma’.

    “Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (Al-Isra:56-57)

    3.Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu terhadap kekafiran mereka, atau membenarkan madzab (ideologi) mereka.

    Mengapa demikian?
    Sebab, Allah Jalla wa ‘Ala telah mengkafirkan mereka melalui sekian banyak ayat di dalam kitab-Nya serta memerintahkan untuk memusuhi mereka disebabkan karena mereka telah mengada-adakan kebohongan atas nama Allah, menjadikan sekutu-sekutu di samping Allah serta menganggap Allah mempunyai anak laki-laki. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Allah Jalla wa ‘Ala telah mewajibkan atas kaum muslimin untuk memusuhi dan membenci mereka.
    Seseorang tidak bisa disebut sebagai muslim, sehingga ia mengkafirkan orang-orang musyrik. Jika ia meragukan hal itu, padahal persoalannya sudah nyata mengenai siapa sebenarnya mereka itu, atau ia bimbang mengenai kekafiran mereka padahal ia telah memperoleh kejelasan, berarti ia telah kafir seperti mereka.
    Orang yang membenarkan orang-orang musyrik itu dan menganggap baik terhadap kekufuran dan kezhaliman mereka, maka ia berarti kafir berdasarkan ijma kaum muslimin. Sebab, ia berarti belum/tidak mengenal Islam secara hakiki, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepadaNya dengan ketaatan, berlepas diri dari syirik dan orang-orang yang berbuat syirik. Sedangkan ia justru berwala’ (memberikan loyalitas) terhadap ahli syirik, mana mungkin dia akan mengkafirkan mereka.

    Allah berfirman (yang artinya):
    “Sesugguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Al-Mumtahanah:4)

    Inilah millah Ibrahim, barang siapa membencinya, maka ia berarti telah membodohi diri sendiri. Perhatikan pula surat Al-Maidah:51, Ali Imron:28, Az-Zukhruf:26-27, at-taubah:5, at-taubah:23, al-Mujadilah:23, al-mumtahanah:1, dan msih banyak ayat lain yang menjelaskan mengenai permasalahan ini. Perhatikanlah wahai Saudaraku kamu muslimin. Janganlah kalian tertipu oleh dai-dai yang menyeru kepada api neraka!!

    4.Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum beliau; seperti orang yang lebih mengutamakan hukum thaghut atas hukum beliau.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
    “Sesungguhnya dien (agama) disisi Allah adalah Islam.” (Ali Imran:19)
    “Barangsiapa mencari agama selain dari dien (agama) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imron:85)
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang artinya):
    “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka pastilah kalian telah tersesat denagn keseatan yang jauh.” (HR. Ahmad)

    5.Membenci sebagian (apalagi seluruhnya) ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, walaupun ia mengamalkannya.

    “Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhya mereka benci kepda apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad:8-9)

    6.Memperolok-olok sebagian ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau memperolok pahala dan hukuman Allah.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tak usahlah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah:65-66)

    7.Sihir, seperti sharf (jenis sihir yang ditujukan untuk memisahkan seseorang dengan kekasihnya) dan ‘athaf (di kalangan orang Jawa dikenal dengan istilah pelet). Ia melakukannya atau rela dengan sihir.

    Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya):
    “Keduanya (Harut dan Marut) tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” (Al-Baqarah:102)

    8.Tolong menolong dengan kaum musyrikin dan bantu membantu dengan mereka dalam menghadapi kaum muslimin.

    Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
    “Barangsiapa di antara kalian yang tolong-menolong dengan mereka, maka ia termasuk golongan mereka.” (Al-Maidah:51)

    9.Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai kebebasan keluar dari syariat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana keleluasaan Nabi Khidir untuk tidak mengikuti syariat Musa alaihi salam.

    Dalilnya adalah:
    An-Nasa’I dan laiinya meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau melihat lembaran dari kitab Taurat di tangan Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘Anhu, lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
    “Apakah kamu masih juga bingung wahai putera al-Khathab?!, padahal aku telah membawakan kepadamau ajaran yang putih bersih. Seandainya Musa masih hidup, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku, tentulah kamu tersesat.”
    Dalam riwayat lain disebutkan:
    “Seandainya Musa masih hidup, maka tiada keleluasaan baginay kecuali harus mengikutiku,”
    lalu Umar pun berkata: “Aku telah ridha bila Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien (agama), dan Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) sebagai nabi.”

    10.Berpaling dari dinul (agama) Islam, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya.

    Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
    “Dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling dari padanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah:22)

    Wahai saudaraku,
    Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk kepada kebenaran; ketahuilah bahwa pelaku-pelaku hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang di atas, tidak ada bedanya antara yang melakukan dengan main-main, sungguh-sungguh, ataupun takut (karena harta,jabatan). Semuanya sama saja, kecuali bagi orang yang dipaksa. Orang yang dipaksa memiliki udzur sebagaimana kisahnya Ammar bin Yassir yang kemudian turun ayat An-Nahl:106.

    Semua hal itu besar sekali bahayanya, karenanya setiap kita harus berhati-hati dan menjaga diri dengan baik. Jangan sampai kita terjerumus dalam hal yang berbahaya ini. Kita berlindung kepada Allah dari murka dan adzab-Nya yang pedih.

    Untuk melengkapi risalah ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang dapat mengurangi,merusak,atau membatalkan kesempurnan tauhid Laa ilaaha illallah ini, selain apa yang telah disebutkan di atas. Diantaranya adalah:
    Menggunakan benang, gelang, dan sejenisnya untuk menangkal bahaya. Termasuk juga menggantungkan selembar kertas, sepotong logam kuningan atau besi yang di atasnya tertulis lafdhul jalalah (Allah) atau ayat kursi atau meletakkan mushaf al-Qur’an di dalam mobil atau tempat lainnya dengan keyakinan bahwa semua itu dapat menjaga dan mencegahnya dari bahaya kecelakaan, dari kejelekan pandangan mata yang mengandung sihir (‘ain). Termasuk pula memasang sepotong kertas atau logam yang berbentuk telapak tangan atau terdapat gambar mata dengan keyakinan untuk mencegah pandangan mata (‘ain). Memasang rajah-rajah di warung atau toko dengan harapan agar terhindar dari kecurian,perampokan, dan harapan agar dagangannya laris.
    Menggunakan akik, sabuk, atau benda-benda lainnya yang katanya benda tersebut sudah “diisi”, sehingga orang yang menggunakannya memiliki kesaktian, kekebalan, dan lain sebagainya dari banutan jin.
    Ilmu-ilmu tenaga dalam yang menggunakan bantuan jin, apakah itu white magic ataupun black magic. Semuanya itu dilarang oleh syariat Islam. Apakah itu yang langsung “diisi” ataupun yang diperoleh dengan menggunakan ayat-ayat atau dzikir-dzikir yang bid’ah yang beraneka ragam yang tidak ada asalnya. Semuanya itu dapat merusak syahadat Laa ilaaha illallah.
    Melakukan ruqyah-ruqyah yang tidak syar’i. Membaca hal-hal yang tidak dimengerti. Membaca ayat Qur’an dicampur hafalan-hafalan lain yang mengandung kesyirikan. Termasuk juga pengobatan-pengobatan “alternatif” yang dilakukan oleh para dukun dengan nama yang beraneka ragam, dengan mengelabui kaum muslimin bahwa seolah-olah pengobatannya adalah pengobatan sacara islam, yang diperbolehkan. Di antaranya adalah pemindahan penyakit dari orang yang sakit ke binatang, kemudian binatang itu disembelih untuk melihat bagian mana yang sakit dari si penderita.
    Melakukan penyembelihan bukan karena Allah. Untuk rumah atau gedung yang baru di bangun. Disembelih untuk jembatan-jembatan. Penyembelihan kurban pada bulan Syuro (apa yang dinamakan Syuran). yang semuanya itu bertujuan untuk mengambil manfaat dan menghindari kejahatan dari jin dan setan yang dianggap menunggu dan atau menguasai tempat tersebut. Termasuk juga pembuatan bubur syuro yang ada pada masyarakat jawa. Bernadzar, isti’adzah (mohon perlindungan), istighatsah (mohon pertolongan tuk dimenangkan), dan berdoa kepada selain Allah juga tidak diperbolehkan. Hal yang demikian merusak tauhid.
    “Ngalap berkah” ke kuburan-kuburan/petilasan-petilasan orang-orang yang dianggap shaleh seperti: kyai, nyai, syaikh. Atau “ngalap berkah” ke pohon-pohon angker, tempat-tempat “wingit”. Ada juga yang ke kuburannya para pahlawan, raja, presiden, ataupun nenek moyang. Bahkan ada juga ke makam yang sebenarnya kosong tapi dikatakan sebagai makamnya orang shaleh. Yang aneh lagi, ada juga kuburan yang didatangi untuk ngalap berkah ini yang merupakan kuburan binatang!!.
    Beribadah di samping kubur dengan keyakinan hal itu lebih afdhal. Meminta kepada penghuni kubur, menjadikan penghuni kubur sebagai perantara antara kita dengan Allah. Melakukan thawaf di kuburan. Kita dilarang sholat di kuburan karena dapat menggiring kepada kesyirikan, bagaimana pula kalau kita beribadah kepada kubur? Untuk menjaga tauhid kita dilarang untuk membuat bangunan di atas kubur (memasang “kijing”). Kita dilarang juga untuk menjadikan kuburan sebagai ied (hari raya).
    Kita dilarang untuk bersikap berlebih-lebihan kepada orang shalih dan mengangkat mereka melebihi dari kedudukannya. Ada di antara kaum muslimin yang mengangkat mereka melebihi kedudukannya, mereka angkat sederajat dengan kedudukan rasul, bahkan sederajat dengan Allah. Orang-orang shalih tersebut dianggap ma’sum, terbebas dari dosa.
    Sebagaimana dijelaskan di atas, kita tidak boleh melakukan sihir, mendatangi tukang sihir, dukun, para normal, orang pintar, atau apapun namanya yang berprofesi seperti mereka, yang mengaku mengetahui hal yang ghaib. Kita tidak boleh mendatangi, bertanya, apalagi membenarkan mereka. Hal ini dapat merusak tauhid kita, merusak Laa ilaaha illallah kita. Termasuk juga ilmu nujum yang menggunakan perbintangan yang sekarang ini dinamakan astrologi. Demikian pula Zodiak-zodiak seperti: leo, pisces, aries, dan sebagainya; yang hal ini marak di koran, majalah, ataupun di televisi. Semua ini adalah dilarang.
    Merasa bernasib sial karena suatu hal juga dilarang. Hal ini dalam bahasa dien (agama) dinamakan sebagai thiyarah. Merasa sial kalau mendengar suara burung tertentu, sehingga membatalkan rencananya. Apabila menabrak kucing ketika berkendaraan sudah pasti akan merasa sial (misalnya kecelakaan).Takut mengadakan perkawinan pada bulan Muharram (Suro), tidak boleh bepergian pada hari Sabtu karena hari tersebut hari sial, dan hal-hal lainnya yang semacam dengan ini. Semuanya ini adalah batil. Tidak ada perhitungan bulan atau hari baik, semua hari adalah baik.
    Termasuk perbuatan merusak tauhid ada

  27. DUKUT NUGROHO Says:

    Subject: Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban.

    Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Sya’ban, kemudian akan segera menyongsong bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, semoga kita bisa lebih meningkatkan ibadah baik yang wajib maupun sunnah.

    Keutamaan bulan Sya’ban berdasarkan sabda Rasulullah saw: “Bulan Sya’ban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal oleh Tuhan. Aku menginginkan saat diangkat amalku aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Nasa’I dari Usamah)

    Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi Muhammad sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.
    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Di antara rahasia kenapa Nabi Muhammad saw banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana sholat rawatib adalah sholat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi sholat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan.

    Hikmah di balik puasa Sya’ban adalah:

    1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkala manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.”
    2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban. Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.
    3. Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut. “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari).
    Wallahu a’lam.

    Notes: jangan reply to all yahc

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  28. dukut nugroho Says:

    Yaa Allah…
    Apalah hamba ini?
    Manusia hina yang terlahir dari tanah yang kotor
    hitam dan berlumpur

    Siapalah hamba ini?
    Pencari petunjuk yang munafik
    Yang tertawa dalam kemaksiatan
    Dan menangis dalam kebaikan

    Kenapakah hamba ini?
    Mencari cinta sejati dengan niat suci
    Menunggu teman pembawa “kunci surga”
    Dan kekasih penerang jiwa di dunia dan akhirat

    Sungguh..
    Hamba tidak tahu Apa itu kebenaran hakiki?
    Wujud cinta yang dikasihi
    Dan kekasih yang diridhoi

    Lalu..
    Apalah hamba ini?

    Yaa Allah..
    Engkaulah pencipta pasangan-pasangan hidup
    Lalu, salahkah hamba meminta kebaikan
    Dan melihat firman-Mu terbukti?

    Di satu sisi, sudut yang terang
    Hamba mengajak kepada kebaikan
    Dengan melantunkan Ayat-Ayat-Mu Yang Maha Pengasih
    Berniat bersama bergandeng tangan
    Menuju jalan-Mu
    Menuju naungan Arsy-Mu
    Menuju Surga Firdaus-Mu, dan
    Menuju rahmat dan ridho-Mu

    Lalu… siapalah hamba ini?

    Yaa.. Allah Yang Maha Bercahaya
    Engkau adalah Sang Pencipta Cahaya Cinta di hati
    Pencipta cinta yang diridhoi
    Murkakah Engkau jika hamba memiliki cinta
    yang tercipta di bumi ini?
    Jauhkah hamba dari-Mu jika hamba mencintai “yang baik”?
    Sungguh Engkaulah Penolong
    Maka Tolonglah Yaa Allah
    Tolonglah Yaa Allah
    Tolonglah Yaa Allah

    Tunjukkanlah yang lurus jalannya!
    Yaa Allah Yang Menciptakan Cinta Kasih
    Jika yang di hati itu adalah kebaikan untuk hamba
    Dan jika hamba adalah kebaikan untuk yang ada di hati,
    Maka satukanlah dalam rahmat-Mu

    Yaa Allah Yang Menciptakan Keindahan Kasih Sayang
    Jika yang di hati adalah jawaban terhadap doa
    Maka ridhoilah dengan ampunan-Mu
    Tetapkanlah menuju surga-Mu

    Yaa Allah Yang Maha Lemah Lembut
    Jika ternyata yang di hati adalah keburukan,
    bagi sesama, maka JAUHKANLAH
    Jika ternyata yang terjadi adalah kemurkaan-Mu
    terhadap sesama, maka AMPUNILAH
    Jika ternyata yang dijalani adalah kesesatan,
    maka BERILAH PETUNJUK kepada yang bercahaya,
    yang lurus jalannya dan yang diridhoi

    Hamba memohon dengan sangat!
    Hamba memohon dengan sangat!
    Hamba memohon dengan sangat!

    Hati yang terjaga, Cahaya yang benderang dan Cinta yang diridhoi..

    Amin Yaa Robbal Alamiin!

    NOTES: JANGAN DI REPLY TO ALL YACH…

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  29. dukut nugroho Says:

    Bismillahirrahmaanirahiim

    Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan2 Al-qur’an tentang tujuan hidup yang sebenarnya Nasehat ini untuk semuanya ………..
    Untuk mereka yang sudah memiliki arah………
    Untuk mereka yang belum memiliki arah………
    dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
    nasehat ini untuk semuanya…….
    Semua yang menginginkan kebaikan.

    Saudaraku………….
    Nikah itu ibadah…….
    Nikah itu suci,ingat itu……
    Memang nikah itu bisa karena harta,
    bisa karena kecantikan,
    bisa karena keturunan dan bisa karena agama.

    Jangan engkau jadikan harta,
    keturunan maupun kecantikan sebagai alasan…………
    karena semua itu akan menyebabkan celaka.
    Jadikan agama sebagai alasan……..
    Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

    Saudaraku……….
    Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta……..
    Namun……
    jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
    maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
    Jadikanlah ” ALLAH ” sebagai landasan……
    Niscaya engkau akan selamat
    Tidak saja dunia, tapi juga akherat…….
    Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan……
    Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

    Saudaraku………..
    Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam “istanamu”……
    disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan…….
    Jika ini kau lakukan ” istanamu ” tidak akan langgeng…..
    Lihatlah manusia ter-agung Rasulullah saw….
    tidak marah ketika harus tidur di depan pintu,
    beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak
    mendengar kedatangannya.
    Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya
    ketika lapar……..
    Menjahit bajunya yang robek……..

    Saudaraku………
    Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam “istanamu “……..
    Disayang, dimanja dan dilayani suami……
    Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu……..
    Jika itu engkau lakukan ” istanamu ” akan menjadi neraka bagimu

    Saudaraku…………
    Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu……..
    Jangan engkau terlalu menuruti istrimu……
    Jika itu engkau lakukan akan celaka….
    Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
    tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah…..
    Lihatlah bagaimana Allah menegur ” Nabi “-mu
    tatkala mengharamkan apa yang Allah halalkan
    hanya karena menuruti kemauan sang istri.
    Tegaslah terhadap istrimu……………..
    Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah…….
    Jangan biarkan dia dengan kehendaknya……..
    Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth………..
    Di bawah bimbingan manusia pilihan,
    justru mereka menjadi penentang…..
    Istrimu bisa menjadi musuhmu………..
    Didiklah istrimu……..
    Jadikanlah dia sebagai Hajar,
    wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
    Jadikan dia sebagai Maryam,
    wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya……
    Jadikan dia sebagai Khadijah,
    wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Rasulullah saw
    menerima tugas risalah…..
    Istrimu adalah tanggung jawabmu….
    Jangan kau larang mereka taat kepada Allah…..
    Biarkan mereka menjadi wanita shalilah….
    Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam……..
    Jangan kau belenggu mereka dengan egomu…

    Saudaraku…….
    Jika engkau menjadi istri………
    Jangan engkau paksa suamimu menurutimu……
    Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah……
    Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar,
    yang setia terhadap tugas suami…..
    Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam,
    yang bisa menjaga kehormatannya….
    Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah,
    yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.
    Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu….
    Jangan kau usik suamimu dengan tangismu….
    Jika itu kau lakukan…..
    Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka…………….
    jangan……….

    Saudaraku……..
    Jika engkau menjadi Bapak……
    Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
    Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
    Jadilah bapak yang kasih seperti Rasulullah SAW
    Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah……….
    Ajaklah mereka taat kepada Allah…….
    Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti…….
    Jadikan dia sebagai Ismail yang taat…….
    Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan’an yang durhaka.
    Mohonlah kepada Allah……….
    Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih…..
    Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

    Saudaraku……..
    Jika engkau menjadi ibu….
    Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh….
    Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu….
    Jadikanlah mereka mujahid………
    Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah…..
    Jangan biarkan mereka bermanja-manja…..
    Jangan biarkan mereka bermalas-malas……….
    Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih….
    Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam.

    Notes: apabila ingin me-reply please don’t reply to all oke…nanti akan terkena bandwith MIS oke..thanks

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  30. dukut nugroho Says:

    Wahai Tuhanku, apa pun kebahagiaan dari dunia ini yang akan
    Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada musuh-musuhMU.
    Dan apa pun juga kebahagiaan dari dunia akan tiba yang akan
    Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada sahabat-sahabatMu.
    Bagiku, Engkau sudah cukup.

    Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini
    Dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Engkau di atas segalanya.
    Dari kesegalaan di semesta ini, pilihanku adalah berangkat menemui-Mu.
    Inilah yang akan kuucapkan kelak:“Engkau adalah segala-galanya”.

    Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu.
    Dan kata paling indah di lidahku adalah pujian padaMu.
    Dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Engkau.

    Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu.
    Dan bagaimana mungkin aku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajahMu ?

    Wahai Tuhanku, inilah keluhanku.
    Aku ini orang asing di kerajaanMu dan mati kesepian di di tengah-tengah penyembahMu!

    Wahai Tuhanku, jangan jadikan aku pedang di tangan penakluk perkasa.
    Jadikan aku tongkat kecil penunjuk jalan si orang buta.

    Wahai Tuhanku, jangan jadikan aku pohon besar
    Yang kelak jadi tombak dan gada peperangan.
    Jadikan aku batang kayu rimbun di tepi jalan tempat
    Musafir berteduh memijit kakinya yang lelah.

    Wahai Tuhanku, sesudah aku mati masukkanlah aku ke dalam neraka.
    Dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka
    Sehingga tidak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana.

    Wahai Tuhanku,
    Bilamana aku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku.
    Dan bilamana aku menyembahMu karena gairah nikmat di sorga,
    Maka tutuplah pintu sorga selamanya bagiku.
    Tetapi apabila aku menyembahMu demi Engkau semata,
    Maka jangan larang aku menatap KeindahanMu yang Abadi.

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  31. dukut nugroho Says:

    Assalamualaikum wr wb,

    sebagian Salaf berlomba-lomba menghafal Al Qur’an dan memuraja’ah hafalan mereka. Nah, pada Email kali ini, saya ingin sampaikan rumus praktis bagi antum yang ber’azzam untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an al Karim setelah mempelajari metode metode tadi yang baru saya emailkan sebagai bekal dalam meraih kemampuan untuk dapat menghafal Al-Qur‘ân secara baik. Semoga bermanfaat!

    RUMUS PRAKTIS MENGHAFAL AL QUR’AN

    Jumlah Hafalan / Hari
    PREDIKSI SELESAI TAHFIZH AL QUR’AN

    TAHUN
    BULAN
    HARI

    1 ayat
    17
    7
    9

    2 ayat
    8
    9
    18

    3 ayat
    5
    10
    13

    4 ayat
    4
    4
    24

    5 ayat
    3
    6
    7

    6 ayat
    2
    11
    4

    7 ayat
    2
    6
    3

    8 ayat
    2
    2
    12

    9 ayat
    1
    11
    12

    10 ayat
    1
    9
    3

    11 ayat
    1
    7
    6

    12 ayat
    1
    5
    15

    13 ayat
    1
    4
    6

    14 ayat
    1
    3

    15 ayat
    1
    2
    1

    16 ayat
    1
    1
    6

    17 ayat
    1

    10

    18 ayat

    11
    19

    19 ayat

    11
    1

    ½ lembar
    3
    4
    24

    1 lembar

    10
    6

    Ana mutasif kalau ada kesalahan, afwan

  32. dukut nugroho Says:

    Subject: Bila aku

    Bila aku meminta KEKUATAN,
    Allah memberi aku RINTANGAN agar aku kuat.

    Bila aku meminta KEBIJAKSANAAN,
    Allah memberi aku MASALAH agar aku menyelesaikannya.

    Bila aku meminta KEKAYAAN,
    Allah memberi aku AKAL agar aku bekerja.

    Bila aku meminta KEBERANIAN,
    Allah memberi aku BAHAYA-BAHAYA dan DUGAAN agar aku mengatasinya.

    Bila aku meminta CINTA,
    Allah memberi aku ANAK-ANAK TERLANTAR untuk aku bantu.

    Bila aku meminta KURNIA,
    Allah memberi aku KESEMPATAN.

    Dalam semua hal itu…
    aku TIDAK MENERIMA apa yang AKU INGINKAN,
    Tetapi AKU menerima apa yang AKU PERLUKAN.
    Ternyata doaku telah dikabulkan-NYA.

  33. dukut nugroho Says:

    Maasyaa Allohu ; laa haula walaa quwwata illa billaah …!.

    Sadudaraku Jama’ah MTLK yang dicintai Alloh Ta’ala,

    Tidak terasa, hanya tinggal beberapa minggu lagi, “Tamu Agung Romadhon” – yang telah Alloh Ta’ala siapkan selama sebelas bulan -, insya Alloh akan menemui kita lagi…. Alhamdulillah …!.

    Sebagaimana telah kita ketahui bahwa “Tamu agung” tersebut telah Alloh SWT bekali dengan berbagai macam “paket oleh-oleh” yang akan dibagi-bagikan kepada hamba-Nya yang mau dan pantas untuk menerimanya. Paket oleh-oleh tersebut diantaranya adalah : Paket pahala yang dilipatgandakan, paket ampunan dosa, paket terkabulnya do’a, paket keberkahan, dan paket-paket dahsyat lainnya. …Subhanalloh …!.

    Untuk itu, agar kita termasuk orang yang pantas mendapatkan oleh-oleh tsb maka sambutlah tamu agung tersebut dengan suka cita (Sesuai sabda Rasululloh saw : Fii Marhaban bih …!, (sambutlah ia …!).

    Bentuk penyambutan datangnya “Tamu Agung Romadhon”, tentu saja berbeda dengan datangnya bulan Agustus, atau bulan-bulan lainnya.

    Beberapa cara penyambutan bulan suci Romadhon yang paling utama kita lakukan adalah :

    1. Segera lunasi utang-utang sahum/pusa tahun lalu. …(Hayooo siapa yang masih punya utang …?).

    2. Membersihkan penyakit hati dari : (sikap permusuhan, iri-dengki, rasa dendam, pemarah, dll). Dan tentu saja TIDAK BOLEH KITA LEWATKAN yaitu untuk SALING BERMA’AF-MA’AFAN, sebab : “Ampunan dari Alloh SWT akan sulit kita dapatkan sebelum kita meminta ma’af kepada sesama manusia”. (Terutama pada ortu , isteri/suami kita tercinta).

    3. Perbanyak tolabul’ilmi, karena ilmu akan menuntun kita dan menyempurnakan seluruh amalan, sehingga kita tidak termasuk orang yang di sabdakan oleh Rasululloh saw : “ Kamin shoimin laisa lahu min shaimihi ilal ju’i wal athosyi “. (banyak orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga).

    4. Cara persiapan lainya, insya Alloh akan kita dapatkan dari ceramah-ceramah hikmah romadhon di TV, Majelis Ta’lim, radio, dll.

    Sadudaraku yang dicintai Alloh Ta’ala,

    Akhirnya, melalui e-mail ini, maka saya dengan segala kerendahan hati, dan dari dalam hati yang setulus-tulusnya meminta maaf baik lahir maupun bathin atas segala kesalahan, kekhilafan dan kebodohan saya yang membuat hati temen-temen tidak nyaman.

    Selamat menunaikan ibadah shaum …!

    Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempertemukannya,

    serta meridhoi amalan ibadah Romadhon kita.

    Amin ya robbal ‘alamiin ..!

    Wallohu’alam bishowwab.

    -AR-

  34. dukut nugroho Says:

    Subject: Hari Ini

    Hari hari lewat, pelan tapi pasti
    Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
    Karena aku akan membuka lembaran baru
    Untuk sisa jatah umurku yang baru

    Daun gugur satu-satu
    Semua terjadi karena ijin Allah
    Umurku bertambah satu-satu
    Semua terjadi karena ijin Allah

    Tapi coba aku tengok ke belakang
    Ternyata aku masih banyak berhutang
    Ya, berhutang pada diriku
    Karena ibadahku masih pas-pasan

    Kuraba dahiku
    Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
    Kutimbang keinginanku
    Hmmm, masih lebih besar duniawiku

    Ya Allah.
    Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
    Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
    Masihkan aku diberi kesempatan?

    Ya Allah.
    Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
    Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
    Astagfirullah…

    Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
    Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk.

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  35. dukut nugroho Says:

    Marilah kita mensedekahkan Al-fatehah keatas Arwah Syaidah Marwa al-Sharbini.

    Saya sedih, bukan karena kematian MJ yang dipuja jutaan orang di dunia. Tapi saya sedih, karena pada saat yang sama, berlangsung perkebumian seorang muslimah yang Insya Allah menjadi seorang syahidah karena mempertahankan jilbabnya. Marwa Al-Sharbini, seorang ibu satu anak yang sedang mengandung tiga bulan, syahid akibat ditikam sebanyak 18 kali oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia yang anti-Islam dan anti-Muslim. Tapi berita ini, sama sekali tidak saya temukan di tv-tv kita , negara yang majaroti penduduknya Muslim, bahkan mungkin, tak banyak dari kita yang tahu akan peristiwa yang menimpa Marwa Al-Sharbini.

    Ribuan orang di Mesir yang mengantar jenazah Marwa Al-Sharbini ke tempat istirihatnya yang terakhir, memang mungkin banyak orang yang menangisi kepergian Michael Jackson. Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar seperti MJ. Tapi kepergian Marwa Al-Sharbini adalah lambang jihad seorang muslim. Marwa Al- Sharbini mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Muslimah yang mematuhi ajaran agamanya meski pun untuk itu ia kehilangan nyawanya.

    Marwa Al-Sharbini ditikam di ruang sidang kota Dresden, Jerman saat akan memberikan kesaksian atas ancaman terhadapnya . Ia mengadukan sorang pemuda Jerman bernama Alex W yang kerap menyebutnya “teroris” hanya karena ia mengenakan jilbab. Dalam suatu kesempatan, pemuda itu bahkan pernah menyerang Marwa dan berusaha melepas jilbab Muslimah asal Mesir itu. Di persidangan itulah, Alex kembali menyerang Marwa, kali ini ia menikam Marwa Al-Sharbini berkali-kali. Suami Marwa yang berusaha melindungi isterinya, malah terkena tembakan pehak berkuasa keamanan pengadilan yang berdalih tak sengaja menembak suami Marwa yang kini dalam kondisi kritis di rumah sakit Dresden.

    Peristiwa ini sepi dari pemberitaan di media massa Jerman dan mungkin dari pemberitaan media massa asing dunia karena yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang Barat yang anti-Islam dan anti-Muslim. Situasinya mungkin akan berbeda jika yang menjadi korban adalah satu orang Jerman atau orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Beritanya dipastikan akan gempar dan mendunia.

    Itulah sebabnya, mengapa di tv-tv kita cuma sibuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru itu. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa Al-Sharbini yang mendapat sebutan “Pahlwan Jilbab”. Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin/at dunia untuknya. Tapi tak mengapa Marwa Al-Sharbini, karena engkau akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisiNya ALLAH SWT . Seiring doa dari orang-orang yang mencintaimu. Selamat jalan saudariku, maafkan kami jika kurang peduli …

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  36. dukut nugroho Says:

    From: Abdu Rahman [mailto:abdu_r@ecostargrp.com]
    Sent: Thursday, July 23, 2009 10:38 AM
    To: ‘Mariana’; Yanu T. Nugrahari; Yuyus Ruslan
    Subject: FW: Antara Michael Jackson & Syahidah Marwa al-Sharbini

    Antara Michael Jackson & Syahidah Marwa al-Sharbini

    Saya sedih, bukan karena kematian MJ yang dipuja jutaan orang di dunia. Tapi saya sedih, karena pada saat yang sama, berlangsung perkebumian seorang muslimah yang Insya Allah menjadi seorang syahidah karena mempertahankan jilbabnya. Marwa Al-Sharbini, seorang ibu satu anak yang sedang mengandung tiga bulan, syahid akibat ditikam sebanyak 18 kali oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia yang anti-Islam dan anti-Muslim. Tapi berita ini, sama sekali tidak saya temukan di tv-tv kita , negara yang majaroti penduduknya Muslim, bahkan mungkin, tak banyak dari kita yang tahu akan peristiwa yang menimpa Marwa Al-Sharbini.

    Ribuan orang di Mesir yang mengantar jenazah Marwa Al-Sharbini ke tempat istirihatnya yang terakhir, memang mungkin banyak orang yang menangisi kepergian Michael Jackson. Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar seperti MJ. Tapi kepergian Marwa Al-Sharbini adalah lambang jihad seorang muslim. Marwa Al- Sharbini mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Muslimah yang mematuhi ajaran agamanya meski pun untuk itu ia kehilangan nyawanya.

    Marwa Al-Sharbini ditikam di ruang sidang kota Dresden , Jerman saat akan memberikan kesaksian atas ancaman terhadapnya . Ia mengadukan sorang pemuda Jerman bernama Alex W yang kerap menyebutnya “teroris” hanya karena ia mengenakan jilbab. Dalam suatu kesempatan, pemuda itu bahkan pernah menyerang Marwa dan berusaha melepas jilbab Muslimah asal Mesir itu. Di persidangan itulah, Alex kembali menyerang Marwa, kali ini ia menikam Marwa Al-Sharbini berkali-kali. Suami Marwa yang berusaha melindungi isterinya, malah terkena tembakan pehak berkuasa keamanan pengadilan yang berdalih tak sengaja menembak suami Marwa yang kini dalam kondisi kritis di rumah sakit Dresden .

    Peristiwa ini sepi dari pemberitaan di media massa Jerman dan mungkin dari pemberitaan media massa asing dunia karena yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang Barat yang anti-Islam dan anti-Muslim. Situasinya mungkin akan berbeza jika yang menjadi korban adalah satu orang Jerman atau orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Beritanya dipastikan akan gempar dan mendunia.

    Itulah sebabnya, mengapa di tv-tv kita cuma sebuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru itu. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa Al-Sharbini yang mendapat sebutan “Pahlwan Jilbab”. Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin dunia untuknya. Tapi tak mengapa Marwa Al-Sharbini, karena engkau akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisiNya ALLAH SWT . Seiring doa dari orang-orang yang mencintaimu. Selamat jalan saudariku, maafkan kami jika kurang peduli …

  37. dukut nugroho Says:

    Salah seorang sahabat anggota majelis ini mengirim pesan ke kami tanggapan kiriman kami terdahulu,begini tulisnya:

    kok tidak diberi catatan kalo kisah musa yg meminta rasul untuk mengurangi jumlah kewajiban sholat yg hanya 5 waktu sebenarnya belum teruji dan belum bisa dipastikan bahwa kisah ini fakta atau hanya mitos..??

    kami sudah menjawab, sebagaimana apa yang kami yakini dalam manhaj Dakwah kami bahwa kami tidak akan menyertakan komentar mengenai suatu riwayat, jika riwayat itu sudah diterima oleh Umat. dan itulah yang kami kirimkan ke anggota grup ini. saya berbaik sangka dengan apa yang telah ditulis oleh Muhammad Husain Haikal dalam Kitab Hayatu Muhammad, karena beliau adalah seorang yang cerdas dan buku beliau pada masanya menjadi rujukan ulama dunia. ini terbukuti dari cerita HAMKA pada pengantar terjemahan edisi Indonesia buku ini.
    maka sebagai sebuah rujukan dan dirujuk oleh Ulama sekaliber HAMKA, jauhlah buku ini dari riwayat yang sekedar “mitos”.(walau juga kita harus memahami, ada beberapa pendapat Husain HAikal yang mesti di telaah lebih lanjut)

    Untuk lebih jelasnya saya kutipkan lagi mengenai riwayat itu dari seorang Mufti Arab Saudi, ulama generasi mutaakhirin dan berfikiran salaf yang merupakan rujukan bagi permasalahan dunia juga seorang ahli hadits.
    beliau Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah, mengatakan dalam jawabannya mengenai permasalahan Isra Miraj, dengan penjelasan sebagai berikut:

    “telah banyak (mutawatir) riwayat dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam bahwa beliau diangkat ke langit dan dibukakan baginya pintu-pintu langit sampai langit ketujuh. Allah mengajak bicara beliau dengan kehendak-Nya dan mewajibkan shalat 5 waktu. Pada awalnya Allah mewajibkan shalat 50 waktu, namun Nabi kita Muhammad Shallallahu ’alaihi Wasallam meminta keringanan sampai 5 waktu saja. 5 waktu tapi ganjarannya seperti 50 waktu. Sebab satu kebaikan diberi balasan 10 kebaikan. Hanya kepada Allah pujian dan syukur atas segala kenikmatan-Nya.”(“Hirasatut Tauhid” hal.56-59)

    berikut ini saya salinkan hadits Riwayat Muslim,mudah-mudahan menjadi jawaban atas pertanyaan sahabat tadi:
    Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Aku didatangi Buraq. Lalu aku menunggangnya sampai ke Baitulmakdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf as. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa as. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana. Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratulmuntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa as., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa as. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa as. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap salat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh salat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shahih Muslim No.234)

    kami sebenarnya malas membuat sahabat sekalian berfikir, namun ini harus kami lakukan. jika dilain waktu kami mengirim kepada sahabat sekalian pesan yang berisikan riwayat Nabi, maka Insya ALlah kami telah menyaringnya dengan sedikit ilmu yang kami punya, agar dapat menjadi penyubur cinta kita kepada Rasulullah. dan semoga RAsulullah kelak tersenyum kepada kita dan memberikan minum pada dahaga kerinduan kita di telaganya yang indah.

    Wasalamualaikum

    Terima Kasih,

    Deny Nurcahya

  38. dukut nugroho Says:

    Semoga Hidayah Islam Segera Menyentuhmu, Wall

    Cetak | Kirim | RSS Rabu, 17/06/2009 13:44 WIB

    Apa yang dilakukan Spencer Wall, seorang perempuan AS berusia 20 tahun asal West Texas, tergolong unik dan tidak lazim di tengah masyarakat yang mayoritas non-Muslim. Wall sendiri beragama Kristen, tapi sejak akhir April kemarin ia memutuskan untuk mengenakan busana muslimah lengkap dengan jilbabnya selama satu tahun ini.

    Apa sebenarnya tujuan Wall melakukan itu semua? Wall mengatakan bahwa ia tidak sedang berkesperimen tapi ia belajar dari pengalaman. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian kelompok minoritas-seperti komunitas Muslim- yang kehadirannya selalu dipandang sebelah mata dan dicurigai. Meski Wall sendiri mengklaim tidak sedang mewakili komunitas Muslim.

    “Saya bukan ingin mewakili para muslimah atau komunitas Muslim. Saya ingin tahu seperti apa rasanya menjadi seperti mereka, sebentar saja …” ujar Wall.

    Perubahan penampilan Wall tentu saja mengundang tanya teman-teman dan orang-orang di lingkungan Wall. Dan Wall memang mengalami hal-hal yang tidak diharapkannya sejak mengenakan jilbab dan busana muslimah. Orang kerap memandang Wall dengan curiga, tidak mau berbicara dengannya dan ia sering menerima cemoohan. Bahkan pernah ada pengunjung di restoran tempatnya bekerja, menolak dilayani Wall. Tapi seperti kebanyakan muslimah di AS yang kerap menerima perlakuan tersebut, Wall tidak ambil peduli dan tetap melangkah.

    Pertanyaan yang paling sering diterima Wall adalah pertanyaan darimana ia berasal. Pertanyaan tipikal orang-orang Amerika yang masih melihat warga Muslim sebagai imigran. Awalnya, Wall menjawab pertanyaan itu dengan penjelasan soal “keinginannya belajar dari pengalaman”. Tapi lama-lama, Wall bosan juga dan menjawab pertanyaan itu dengan kalimat pendek,”Saya bukan Muslim, tapi saya mengenakan jilbab karena saya menginginkannya.”

    Meski demikian, Wall mengakui pernyataannya itu tidak sepenuhnya benar, karena jauh di dalam hatinya ia merasa tidak bisa keluar rumah tanpa mengenakan busana muslimah. “Saya pernah mencoba tidak mengenakan jilbab sehari saja. Ternyata saya tidak mampu melakukannya,” aku Wall.

    Bukan hanya dalam berbusana, Wall juga mengikuti kebiasaan sebagaimana layaknya muslimah. Ia menolak kontak fisik terutama dengan laki-laki. Di toko pakaian, Wall pernah meminta pelayan toko untuk menutup celah yang agak terbuka di tempat ganti pakaian, karena kakinya akan terlihat saat mencoba pakaian.

    Wall mengatakan, pengalamannya “menjadi seorang muslimah” mengajarkannya untuk menghargai dan menghormati hal-hal yang sifatnya privasi bagi dirinya sendiri. Satu hal yang menurut Wall, tidak pernah ia rasakan dalam ajaran agama Kristen. Wall bahkan mengatakan, suatu hari nanti ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjalankan salat lima waktu setiap hari.

    “Seperti Anda tahu, kami hidup di tengah masyarakat yang tidak peduli dengan aktivitas peribadahan. Dengan pengalaman saya sekarang, saya merasakan diri saya lebih dekat dengan Tuhan,” ungkap Wall.

    “Pengalaman ini mengajarkan saya untuk menghormati perempuan yang memutuskan untuk di rumah saja menjaga dan mendidik anak-anaknya, menghormati mereka yang mengenakan jilbab dan beraktivitas di luar atau ingin menjadi seorang CEO,” sambung Wall.

    Meski sudah berbusana muslimah dan menyatakan ingin mencoba salat lima waktu, untuk saat ini cahaya Islam mungkin belum menyentuh Wall. Semoga di suatu saat Allah SWT memberikan hidayah Islam padanya. (ln/dailytexan)

  39. dukut nugroho Says:

    Malaikat
    Malaikat (ملاءكة)(baca: malaa-ikah) merupakan kata jamak yang berasal dari Arab malak (ملك) yang berarti kekuatan. Jadi malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.

    Malaikat di dalam ajaran Islam
    Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nuur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad,


    “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.” (HR. Muslim)

    .

    Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

    Walaupun manusia tidak dapat melihat malaikat tetapi jika Allah berkehendak maka malaikat dapat dilihat oleh manusia, yang biasanya terjadi pada para Nabi dan Rasul. Malaikat selalu menampakan diri dalam wujud laki-laki kepada para nabi dan rasul. Seperti terjadi kepada Nabi Ibrahim.

    Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:

    Jibril – Menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul Allah.

    Mikail – Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan.

    Israfil – Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat.

    Izrail – Mencabut nyawa seluruh makhluk.

    Munkar – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.

    Nakir – Memeriksa amal perbuatan manusia di alam barzakh.

    Raqib – Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia.

    Atid – Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia.

    Malik – Menjaga neraka dengan bengis dan kejam.

    Ridwan – Menjaga sorga dengan lemah lembut.

    Selain malaikat tersebut diatas, Al Qur’an dan hadits juga menyebutkan beberapa malaikat lainnya, seperti :

    Zabaniah – 19 malaikat penyiksa dalam neraka.

    Hamalatul ‘Arsy – Empat malaikat pembawa ‘Arsy Allah, pada hari kiamat jumlahnya akan ditambah empat menjadi delapan.

    Malaikat Rahmat

    Malaikat Harut dan Marut – Dua Malaikat yang turun di negeri Babil

    Malaikat Hafazhah (Para Penjaga):

    Kiram al-Katibun – Para malaikat pencatat yang mulia, ditugaskan mengawasi amal seorang hamba-Nya.
    Mu’aqqibat – Para malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti.
    Malaikat penentram hati kaum mukminin[1]

    Malaikat Darda’il – Malaikat yang mencari orang yang berdo’a, bertaubat, minta ampun dan lainnya pada bulan Ramadhan, akan dikabulkan atas izin Allah.[2]

    Dari nama-nama malaikat di atas ada beberapa yang disebut namanya secara spesifik didalam Al Qur’an, yaitu Jibril (QS 2 Al Baqarah: 97,98 dan QS 66 At Tahrim: 4), Mikail (QS 2 Al Baqarah: 98) dan Malik (QS Al Hujurat) dan lain-lain. Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir disebut dalam Hadits.

    Nama Malaikat Maut Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Kemungkinan nama malaikat Izrail didapat dari sumber Israiliyat. Dalam Al Qur’an dia hanya disebut “Malak al-Maut” atau Malaikat Maut.

    Walau namanya hanya disebut dua kali dalam Al Qur’an, malaikat Jibril juga disebut di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan sebutan lain seperti Ruhul Qudus, Ruhul Amin/ Ar-Ruh Al-Amin dll.

    Sifat Malaikat
    Sifat-sifat malaikat yaitu mereka selalu patuh terhadap apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tidak diciptakan untuk membangkang atau melawan kepada Allah. Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi.

    Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak makan, minum atau tidur seperti manusia. Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan.

    Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Beberapa nabi dan rasul telah di tampakkan wujud malaikat yang berubah menjadi manusia, seperti dalam kisah Luth, Maryam, Muhammad dan lain-lainnya.

    Berbeda dengan ajaran Nasrani dan Yahudi, Islam tidak mengenal istilah “Malaikat Yang Terjatuh” (Fallen Angel). Iblis adalah nenek moyang Jin, seperti Adam nenek moyang Manusia. Jin adalah makhluk yang dicipta oleh Allah dari ‘api yang tidak berasap’, sedang malaikat dicipta dari cahaya.

    Tempat Yang Tidak Disukai Malaikat
    Rumah-rumah yang akan dijauhi malaikat misalnya, rumah yang di dalamnya ada anjing, patung (gambar), dan bau busuk atau menyengat di rumah.

    Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

    Muhammad bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

    Jibril pun enggan untuk masuk ke rumah Muhammad sewaktu ia berjanji ingin datang ke rumahnya, dikarenakan ada seekor anak anjing di bawah tempat tidur.

    Malaikat rahmat pun tidak akan mendampingi suatu kaum yang terdiri atas orang-orang yang berteman dengan anjing. Abu Haurairah mengatakan bahwa Muhammad bersabda : “ Malaikat tidak akan menemani kelompok manusia yang di tengah-tengah mereka terdapat anjing”. [HR. Muslim]

    Malaikat di dalam ajaran Kristen

    Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria bahwa ia akan mengandung bayi Yesus (El Greco, 1575)

    Malaikat adalah makhluk surgawi yang bertugas membantu dan melayani Allah.

    Michael = Panglima Perang Surga

    Gabriel = Pembawa Sukacita

    Rafael = Malaikat Penyembuh

    Serafim & Kerubim = Peniup Sangkakala

    Arti dari Michael adalah ‘Siapakah yang sama dengan Allah?’

    Etimologi
    Kata malaikat dalam bahasa Inggris, angel, berasal dari bahasa Latin, angelus, yang pada gilirannya meminjam dari kata Yunani ἄγγελος, ángelos, yang berarti “utusan” (dua gamma “γγ” dalam bahasa Yunani diucapkan sebagai “ng”). Kata terdekat dalam bahasa Ibrani untuk malaikat adalah מלאך, mal’ach Templat:Strong, yang juga berarti “utusan”.

    Malaikat dalam Tanakh

    Patung malaikat di sebuah kuburan di Metairie, Louisiana.

    Istilah “malaikat” dalam Alkitab, מלאך (‘malakh”), mendapatkan artinya hanya ketika disebutkan bersama-sama dengan pengutusnya, yaitu Allah sendiri, seperti misalnya dalam “malaikat TUHAN,” atau “malaikat Allah” (Zakharia 12:8). Sebutan lainnya yang juga digunakan adalah “anak-anak Allah”, (Kejadian 6:4; Ayub 1:6).

    Malaikat disebut sebagai “penjaga” (Daniel 4:13). Mereka disebut sebagai “tentara langit” (Kitab Ulangan 17:3) atau bala tentara “TUHAN” (Yosua 5:14). “Bala tentara,” צבאות Zebaot dalam gelar Yahweh Zebaot, TUHAN dari bala tentara surgawi, mungkin dihubungkan dengan para malaikat. “Bala tentara” ini dihubungkan pula dengan bintang-bintang, karena bintang-bintang dianggap terkait erat dengan para malaikat. Namun, YHWH membedakan diri-Nya dari para malaikat, dan karena itu orang-orang Ibrani dilarang Musa menyembah “bala tentara surga”.

    Sebelum munculnya monoteisme di Israel, gagasan tentang malaikat ditemukan dalam Mal’akh Yahweh, malaikat TUHAN, atau Mal’akh Elohim, malaikat Allah. Mal’akh Yahweh adalah penampakan atau perwujudan Yahweh dalam bentuk manusia. Istilah Mal’akh Yahweh digunakan secara berganti-ganti dengan Yahweh (bandingkan Keluaran 3:2, dengan 3:4; 13:21 dengan 14:19). Mereka yang melihat Mal’akh Yahweh mengatakan bahwa mereka telah melihat Allah (Kejadian 32:30; Hakim-hakim 13:22). Mal’akh Yahweh (atau Elohim) menampakkan diri kepada Abraham, Hagar, Musa, Gideon, &c., dan memimpin bangsa Israel dalam tiang awan (Keluaran 3:2). Penyamaan Mal’akh Yahweh dengan Logos, atau Pribadi kedua dari Tritunggal, tidak ditunjukkan melalui acuan kepada kitab suci Ibrani, tetapi gagasan tentang pengidentifikasian Yang Ada dengan Allah, namun yang dalam pengertian tertentu berbeda daripada-Nya, menggambarkan kecenderungan pemikiran keagamaan Yahudi untuk membedakan pribadi-pribadi di dalam keesaan Allah. Orang Kristen berpendapat bahwa hal ini merupakan gambaran pendahuluan dari doktrin tentang Tritunggal, sementara orang Yahudi Kabalis mengatakan bahwa hal ini kemudian berkembang menjadi pemikiran teologis dan gambaran Kabbalah.

    Setelah doktrin monoteisme dinyatakan secara resmi, dalam periode segera sebelum dan pada masa Pembuangan (Ulangan 6:4-5 dan Yesaya 43:10), kita menemukan banyak gambaran tentang malaikat dalam Kitab Yehezkiel. Nabi Yehezkiel, sebagai nabi di Pembuangan, mungkin dipengaruhi oleh hierarkhi makhluk adikodrati di dalam agama Babel, dan mungkin oleh angelologi Zoroastrianisme. (Namun tidak jelas bahwa doktrin Zoroastrianisme ini sudah berkembang demikian awal). Yehezkiel 9 memberikan gambaran yang terinci mengenai kerub (suatu jenis malaikat). Dalam salah satu penglihatannya Yehezkiel melihat 7 malaikat melaksanakan penghakiman Allah atas Yerusalem. Seperti dalam Kejadian, mereka digambarkan sebagai “manusia”; mal’akh, karena “malaikat”, tidak muncul dalam Kitab Yehezkiel. Belakangan, dalam penglihatan Zakharia, malaikat memainkan peranan penting. Mereka disebut kadang-kadang sebagai “manusia”, kadang-kadang sebagai mal’akh, dan Mal’akh Yahweh tampaknya menduduki tempat utama di antara mereka (Zakharia 1:11).

    Dalam masa pasca-Alkitab, bala tentara surgawi menjadi semakin terorganisasi (barangkali bahkan sejak Zakharia [3:9, 4:10]; dan yang pasti dalam Daniel). Malaikat pun menjadi beragam, sebagian malah juga mempunyai nama.

    Malaikat dalam Perjanjian Baru

    Yakub bergumul dengan malaikat – Gustave Doré, (1855)

    Dalam Perjanjian Baru malaikat seringkali muncul sebagai pelayan Allah adn pembawa penyataan (mis. Matius 1:20 (kepada Yusuf), 4:11. (kepada Yesus), Lukas 1:26 (kepada Maria), Kisah para Rasul 12:7 (kepada Petrus)); dan Yesus berbicara tentang malaikat yang melakukan tugas-tugas seperti itu (mis. Markus 8:38, 13:27), menyiratkan di dalam salah satu ucapannya bahwa mereka tidak menikah ataupun dinikahkan (Markus 12:25).

    Malaikat juga memainkan peranan penting dalam tulisan Apokaliptik. Perjanian Baru tidak terlalu berminat terhadap hierarkhi malaikat, namun doktrin itu mempunyai jejaknya. Pembedaan antara malaikat yang baik dan jahat diakui. Kita mempunyai nama-nama, Gabriel (Lukas 1:19), dan Mikail (Daniel 12:1), dan malaikat jahat Beelzebub, (Markus 3:22) dan Setan (Markus 1:13). Sementara itu kesetiaan sebagian malaikat tidak begitu jelas seperti Abadon atau Apolion (Wahyu 9:11). Peringkat juga disiratkan: penghulu malaikat (Mikail, Yudas 9), malaikat-malaikat dan pemerintah-pemerintah (Roma 8:38; Kolose 2:10), singgasana dan kerajaan (Kolose 1:16). Malaikat muncul berkelompok empat atau tujuh orang (Wahyu 7:1). Dalam Wahyu 1-3 kita bertemu dengan para “Malaiat” dari Ketujuh Gereja di Asia Kecil. Mereka mungkin adalah para malaikat pelindung, yang mendampingi gereja-gereja sama seperti para “pangeran” di dalam Daniel yang berdiri mendampingi bangsa-bangsa. Para “malaikat” ini praktis merupakan personifikasi dari gereja-gereja.

    Gabriel, sang penghulu malaikat, menampakkan diri kepada Maria untuk memberitahukan kepadanya bahwa anak yang akan dilahirkannya kelak adalah Mesias. Malaikat-malaikat lain hadir untuk menyambut kelahirannya. Dalam Matius 28:2, malaikat menampakkan diri pada kubur Yesus, membuat para pengawal Romawi ketakutan, menggulingkan batu dari kubur itu, dan kemudian memberitahukan kepada para perempuan yang datang membawa mur bahwa Yesus telah bangkit. Dalam versi yang lain, Markus 16:5 mengisahkan bahwa malaikat itu tidak kelihatan hingga para perempuan itu masuk ke kubur yang telah terbuka. Malaikat itu digambarkan semata-mata sebagai “seorang muda”. Dalam versi Lukas tentang kisah kebangkitan (Lukas 24:4), dua malaikat tiba-tiba menampakkan diri di dekat para perempuan yang berada di dalam kubur itu. Mereka digambarkan mengenakan pakaian yang “berkilau-kilauan”. Gambaran ini paling mirip dengan versi Yohanes 20:12 yang melukiskan Maria sendirian berbicara dengan “dua orang malaikat yang berpakaian putih” di dalam kubur Yesus.

    Dua malaikat menyaksikan kenaikan Yesus ke surga dan menubuatkan kedatangannya yang kedua kali. Ketika Petrus dipenjarakan, seorang malaikat membuat para pengawal tertidur, melepaskannya dari belenggunya, dan membawanya keluar dari penjara. Malaikat memainkan berbagai peranan dalam Kitab Wahyu. Di antaranya adalah berdiri di sekitar takhta Allah dan menyanyikan ” “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa.”

    Sebuah penafsiran tentang malaikat di dalam kitab-kitab Injil mengatakan bahwa mereka semata-mata adalah manusia yang membawa pesan ilahi. Memang, istilah “angelos” seringkali digunakan bukan untuk menggambarkan makhluk yang berkuasa, melainkan semata-mata mereka yang memberitakan suatu peristiwa penting.

  40. dukut nugroho Says:

    Subject: Isra Miraj

    Kutipan dari Muhammad Huusain Haikal (Hayyatu Muhammad)

    Malam itu Muhammad sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu Talib yang mendapat nama panggilan Umm Hani’. Ketika itu Hindun mengatakan:

    “Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai salat
    akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur. Pada waktu sebelum
    fajar Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan
    ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata: ‘Umm Hani’, saya
    sudah salat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang
    kaulihat di lembah ini. Kemudian saya ke Bait’l-Maqdis
    (Yerusalem) dan bersembahyang di sana. Sekarang saya
    sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat.”

    Kataku: “Rasulullah, janganlah menceritakan ini kepada orang
    lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!”

    “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawabnya.

    Orang yang mengatakan, bahwa Isra’ dan Mi’raj Muhammad
    ‘alaihissalam dengan ruh itu berpegang kepada keterangan Umm
    Hani’ ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah:
    “Jasad Rasulullah s.a.w. tidak hilang, tetapi Allah menjadikan
    isra’8 itu dengan ruhnya.” Juga Mu’awiya b. Abi Sufyan ketika
    ditanya tentang isra’ Rasul menyatakan: Itu adalah mimpi yang
    benar dari Tuhan. Di samping semua itu orang berpegang kepada
    firman Tuhan: “Tidak lain mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu
    adalah sebagai ujian bagi manusia.” (Qur’an, 17:60)

    Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa isra’ dari Mekah ke
    Bait’l-Maqdis itu dengan jasad, landasannya ialah apa yang
    pernah dikatakan oleh Muhammad, bahwa dalam isra’ itu ia
    berada di pedalaman, seperti yang akan disebutkan ceritanya
    nanti. Sedang mi’raj ke langit adalah dengan ruh. Disamping
    mereka itu ada lagi pendapat bahwa isra’ dan mi’raj itu
    keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini
    di kalangan ahli-ahli iImu kalam banyak sekali dan ribuan pula
    tulisan-tulisan sudah dikemukakan orang. Sekitar arti isra’
    ini kami sendiri sudah mempunyai pendapat yang ingin kami
    kemukakan juga. Kita belum mengetahui, sudah adakah orang yang
    mengemukakannya sebelum kita, atau belum. Tetapi, sebelum
    pendapat ini kita kemukakan – dan supaya dapat kita kemukakan
    – perlu sekali kita menyampaikan kisah isra, dan mi’raj ini
    seperti yang terdapat dalam buku-buku sejarah hidup Nabi.

    Dengan indah sekali Dermenghem melukiskan kisah ini yang
    disarikannya dari pelbagai buku sejarah hidup Nabi, yang
    terjemahannya sebagai berikut:

    “Pada tengah malam yang sunyi dan hening, burung-burung
    malampun diam membisu, binatang-binatang buas sudah berdiam
    diri, gemercik air dan siulan angin juga sudah tak terdengar
    lagi, ketika itu Muhammad terbangun oleh suara yang
    memanggilnya: “Hai orang yang sedang tidur, bangunlah!” Dan
    bila ia bangun, dihadapannya sudah berdiri Malaikat Jibril
    dengan wajah yang putih berseri dan berkilauan seperti salju,
    melepaskan rambutnya yang pirang terurai, dengan mengenakan
    pakaian berumbaikan mutiara dan emas. Dan dari sekelilingnya
    sayap-sayap yang beraneka warna bergeleparan. Tangannya
    memegang seekor hewan yang ajaib, yaitu buraq yang bersayap
    seperti sayap garuda. Hewan itu membungkuk di hadapan Rasul,
    dan Rasulpun naik.

    “Maka meluncurlah buraq itu seperti anak panah membubung di
    atas pegunungan Mekah, di atas pasir-pasir sahara menuju arah
    ke utara. Dalam perjalanan itu ia ditemani oleh malaikat. Lalu
    berhenti di gunung Sinai di tempat Tuhan berbicara dengan
    Musa. Kemudian berhenti lagi di Bethlehem tempat Isa
    dilahirkan. Sesudah itu kemudian meluncur di udara.

    “Sementara itu ada suara-suara misterius mencoba menghentikan
    Nabi, orang yang begitu ikhlas menjalankan risalahnya. Ia
    melihat, bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menghentikan hewan
    itu di mana saja dikehendakiNya.

    “Seterusnya mereka sampai ke Bait’l-Maqdis. Muhammad
    mengikatkan hewan kendaraannya itu. Di puing-puing kuil
    Sulaiman ia bersembahyang bersama-sama Ibrahim, Musa dan Isa.
    Kemudian dibawakan tangga, yang lalu dipancangkan diatas batu
    Ya’qub. Dengan tangga itu Muhammad cepat-cepat naik ke langit.

    “Langit pertama terbuat dari perak murni dengan
    bintang-bintang yang digantungkan dengan rantai-rantai emas.
    Tiap langit itu dijaga oleh malaikat, supaya jangan ada
    setan-setan yang bisa naik ke atas atau akan ada jin yang akan
    mendengarkan rahasia-rahasia langit. Di langit inilah Muhammad
    memberi hormat kepada Adam. Di tempat ini pula semua makhluk
    memuja dan memuji Tuhan. Pada keenam langit berikutnya
    Muhammad bertemu dengan Nuh, Harun, Musa, Ibrahim, Daud,
    Sulaiman, Idris, Yahya dan Isa. Juga di tempat itu ia melihat
    Malaikat maut Izrail, yang karena besarnya jarak antara kedua
    matanya adalah sejauh tujuh ribu hari perjalanan. Dan karena
    kekuasaanNya, maka yang berada di bawah perintahnya adalah
    seratus ribu kelompok. Ia sedang mencatat nama-nama mereka
    yang lahir dan mereka yang mati, dalam sebuah buku besar. Ia
    melihat juga Malaikat Airmata, yang menangis karena dosa-dosa
    orang, Malaikat Dendam yang berwajah tembaga yang menguasai
    anasir api dan sedang duduk di atas singgasana dari nyala api.
    Dan dilihatnya juga ada malaikat yang besar luar biasa, separo
    dari api dan separo lagi dari salju, dikelilingi oleh
    malaikat-malaikat yang merupakan kelompok yang tiada hentinya
    menyebut-nyebut nama Tuhan: O Tuhan, Engkau telah menyatukan
    salju dengan api, telah menyatukan semua hambaMu setia menurut
    ketentuan Mu.

    “Langit ketujuh adalah tempat orang-orang yang adil, dengan
    malaikat yang lebih besar dari bumi ini seluruhnya. Ia
    mempunyai tujuhpuluh ribu kepala, tiap kepala tujuhpuluh ribu
    mulut, tiap mulut tujuhpuluh ribu lidah, tiap lidah dapat
    berbicara dalam tujuh puluh ribu bahasa, tiap bahasa dengan
    tujuhpuluh ribu dialek. Semua itu memuja dan memuji serta
    mengkuduskan Tuhan.

    “Sementara ia sedang merenungkan makhluk-makhluk ajaib itu,
    tiba-tiba ia membubung lagi sampai di Sidrat’l-Muntaha yang
    terletak di sebelah kanan ‘Arsy, menaungi berjuta-juta ruh
    malaikat. Sesudah melangkah, tidak sampai sekejap matapun ia
    sudah menyeberangi lautan-lautan yang begitu luas dan
    daerah-daerah cahaya yang terang-benderang, lalu bagian yang
    gelap gulita disertai berjuta juta tabir kegelapan, api, air,
    udara dan angkasa. Tiap macam dipisahkan oleh jarak 500 tahun
    perjalanan. Ia melintasi tabir-tabir keindahan, kesempurnaan,
    rahasia, keagungan dan kesatuan. Dibalik itu terdapat
    tujuhpuluh ribu kelompok malaikat yang bersujud tidak bergerak
    dan tidak pula diperkenankan meninggalkan tempat.

    “Kemudian terasa lagi ia membubung ke atas ke tempat Yang Maha
    Tinggi. Terpesona sekali ia. Tiba-tiba bumi dan langit menjadi
    satu, hampir-hampir tak dapat lagi ia melihatnya, seolah-olah
    sudah hilang tertelan. Keduanya tampak hanya sebesar
    biji-bijian di tengah-tengah ladang yang membentang luas.

    “Begitu seharusnya manusia itu, di hadapan Raja semesta alam.

    “Kemudian lagi ia sudah berada di hadapan ‘Arsy, sudah dekat
    sekali. Ia sudah dapat melihat Tuhan dengan persepsinya, dan
    melihat segalanya yang tidak dapat dilukiskan dengan lidah, di
    luar jangkauan otak manusia akan dapat menangkapnya. Maha
    Agung Tuhan mengulurkan sebelah tanganNya di dada Muhammad dan
    yang sebelah lagi di bahunya. Ketika itu Nabi merasakan
    kesejukan di tulang punggungnya. Kemudian rasa tenang, damai,
    lalu fana ke dalam Diri Tuhan yang terasa membawa kenikmatan.

    “Sesudah berbicara… Tuhan memerintahkan hambaNya itu supaya
    setiap Muslim setiap hari sembahyang limapuluh kali. Begitu
    Muhammad kembali turun dari langit, ia bertemu dengan Musa.
    Musa berkata kepadanya:

    “Bagaimana kauharapkan pengikut-pengikutmu akan dapat
    melakukan salat limapuluh kali tiap hari? Sebelum engkau aku
    sudah punya pengalaman, sudah kucoba terhadap anak-anak Israil
    sejauh yang dapat kulakukan. Percayalah dan kembali kepada
    Tuhan, minta supaya dikurangi jumlah sembahyang itu.

    “Muhammadpun kembali. Jumlah sembahyang juga lalu dikurangi
    menjadi empatpuluh. Tetapi Musa menganggap itu masih di luar
    kemampuan orang. Disuruhnya lagi Nabi penggantinya itu
    berkali-kali kembali kepada Tuhan sehingga berakhir dengan
    ketentuan yang lima kali.

    “Sekarang Jibril membawa Nabi mengunjungi surga yang sudah
    disediakan sesudah hari kebangkitan, bagi mereka yang teguh
    iman. Kemudian Muhammad kembali dengan tangga itu ke bumi.
    Buraqpun dilepaskan. Lalu ia kembali dari Bait’l-Maqdis ke
    Mekah naik hewan bersayap.”
    ——————–

  41. dukut nugroho Says:

    Subject: doa RAsulullah di Thaif (belajar untuk tidak membenci)

    KEtika Rasulullah tercinta dalam keadaan tersiksa di Thaif, dan ditawari Jibril untuk memusnahkan masyarakat Thaif Rasulullah malah menjawab “(tidak) akan tetapi aku malah berharap dari tulang sulbi mereka hadir para pengikut Islam”

    kemudian beliau berdoa dengan doa ini yang mungkin dapat mengobati “kegondokan” kita pada sahabat yang tak tahu berterima kasih pada kita:

    Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku
    Dan sedikitnya kemampuanku
    Dan kehinaanku dihadapan manusia
    Wahai Yang Maha Penyayang
    Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah
    Tuhanku
    Kepada siapa engkau serahkan aku
    Kepada orang yang jauh yang menggangguku
    Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku
    Asal Kau tak marah padaku maka semua itu bukanlah masalah
    bagiku
    Selain dari Keafiatan-Mu yang lebih luas dari yang ada padaku
    Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi
    seluruh kegelapan
    Dan akan memberikan kebaikan pada seluruh urusan dunia dan
    akhirat
    Untuk melepaskan aku dari Marah-Mu
    Atau menghilangkan Murka-Mu dariku
    Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridloan-Mu
    Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu

  42. Dukut Nugroho Says:

    ZIKRUL MAUT ( INGAT AKAN MATI )

    Mati adalah sesuatu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap orang, juga binatang takut mati, kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam kehidupan ini, yang ingin segera mati.Wajar sekali kalau manusia takut mati, sebab mati bererti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan segala yang disayangi atau dicintai. Berpisah dengan anak dan isteri serta kekasih. Berpisah dengan bapa atau ibu, berpisah dengan harta dan pangkat, berpisah dengan dunia dan segala isinya.

    Semua orang takut mati, tetepi ada yang berlebihan sekali, ada pula yang takutnya itu sedikit sahaja, bahkan ada yang tak takut sama sekali, malah berani dan ingin mati. Ketakutan terhadap mati adalah kerana dua hal :-

    Kerana kurang atau tidak adanya pengetahuan kita tentang mati, keadaan mati dan keadaan selepas mati adalah gelap. Semua orang takut menempuh tempat yang gelap dan tidak diketahui.
    Kerana doa dan kesalahan yang sudah bertumpuk dan tidak bertaubat, sehingga mendengar kata mati sudah terbayang azab dan seksa yang diperolehinya akibat dosa dan kesalahan tadi.
    Bagi orang cukup pengetahuan dan keyakinan terhadap hidup sesudah mati dan merasa dirinya tak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka baginya tak ada ketakutan terhadap mati malah ingin mati. Tetapi agama Islam melarang orang ingin cepat mati, agar dapat hidup melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Dan kalau ingin hidup lama adalah dengan tujuan agar dapat semakin banyak melakukan kebaikan bukan pula untuk dapat lebih banyak menumpuk harta dan kekayaan atau keturunan.

    Ada beberapa petunjuk Rasullullah s.a.w. untuk selalu zikrul maut (ingat akan mati) ini, antara lain :-

    Perintah memperbanyak mengingati mati :
    “Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan dan menjadikannya segala macam kelazatan (kematian).” ( Riwayat At-Turmudzi )

    Mengingati kematian dapat melebur dosa dan zuhud :
    “Perbanyaklah mengingati kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia.” ( Riwayat Ibnu Abiddunya )

    Kematian sebagai penasihat pada diri sendiri :
    “Cukuplah kematian itu sebagai penasihat.” ( Riwayat Ath-Thabrani dan Baihaqy )

    Orang cerdik ialah orang yang banyak mengingati mati :
    “Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya uantuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat.” ( Riwayat Ibnu Majah dan Abiddunya )
    Agar selalu ingat kepada kematian perlu dilakukan perkara-perkara berikut :
    Menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut. Betapa dasyatnya dan menakutkan lebih-lebih kalau berdosa. Keadaan sakaratul maut ini digambarkan oleh Rasullullah dalam hadisnya yang bermaksud :
    “Sakitnya sakaratul maut itu kira-kira tiga ratus sakitnya pukulan pedang.” ( Riwayat Abiddunya ).Sesungguhnya Nabi s.a.w. mempunyai segelas air ketika hendak meninggal dunia. Baginda memasukkan tangannya ke dalam air, kemudian menghusap wajahnya dengan air itu dan berkata : “Ya Allah, semoga Tuhan mempermudah kepada saya terhadap sakaratul maut ini.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim )

    Mengunjungi orang sakit, sebab hujung dari penyakit ini tidak lain adalah kematian. Dari itu kita selalu waspada dan berhati-hati.

    Melakukan ziarah kubur, sebagaimana sabda Rasullullah :
    “Lakukanlah ziarah kubur kerana ia mengingatkan mati.” ( Riwayat Muslim )

    Merasakan diri selalu diawasi Allah s.w.t. dimana saja kita berada. Oleh dengan demikian sentiasalah beramal yang baik. Rasullullah s.a.w. bersabda :
    “Seutama-utama iman seseorang itu ialah bahawa ia mengetahui dengan sungguh bahawa Allah s.w.t. itu ada bersama dengannya di manapun ia berada.” ( Riwayat ‘Ubadah bin Shamit )

    Sedarilah bahawa perasaan kita sering disaksikan oleh anggota badan kita sendiri, yakni oleh lidah, tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan hati. Hal ini difahamkan Allah dalam Al-Qur’an yang bermaksud :
    “Pada hari (ketika) lidah tangan dan kaki mereka menyaksikan atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” ( An-Nur: 24 )

    Begitu pula agar disedari bahawa perasaan kita selalu disaksikan. Dilihat dan diikuti oleh siang dan malam bumi tempat kita berpijak, langit serta malaikat Raqib dan Atib dan malaikat-malaikat lainnya. Allah s.w.t. berfirman :
    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadi lehernya sendiri. Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, tiada sesuatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” ( Qaf: 16-18 )
    “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” ( Ar-Ra’d: 11). (Malaikat ini disebut malaikat Hafazhad)

    Sebagaimana disebutkan di atas bahawa mati adalah satu kejadian yang paling berat, paling menakutkan dan paling mengerikan. Satu kejadian yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh setiap manusia, atau kejadian yang tak dapat dihindari dengan cara bagaimanapun juga. Para Nabi dan Rasul, jin dan malaikat sekalipun tidak dapat menghindari diri dari kematian ini.

    Dalam Al-Qur’an Allah s.w.t. menjelaskan :

    Kepastian tentang mati :
    Kematian itu datang sesuai dengan ajal yang telah ditetapkan ke atas mereka (manusia).
    Kemana saja manusia pergi/berlari kematian tetap akan mengejarnya.
    Kematian datang tanpa pilih umur, tanpa pilih waktu dan tempat.
    Cara mati : Rasullullah s.a.w. bersabda :
    Apabila telah tiba hukum Allah kepada seorang hamba untuk mati dan dikuburkan pada suatu tanah, Allah mengadakan suatu keperluan baginya untuk pergi ke tempat itu (sehingga mati dan dikuburkan pada tanah di situ).” ( Riwayat At-Turmudzi )

    ——————————————————————————–

    sakaratul maut

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
    “Maafkanlah, ayahku sedang demam”,kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

    “Siapakah itu wahai anakku?”
    “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
    Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
    “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah.

    Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya Rasululllah
    dengan suara yang amat lemah.
    “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
    “Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

    “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.
    “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
    “Jangankhawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
    “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
    “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh.
    Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

    “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
    “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

    Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” “peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

    Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
    “Ummatii,ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

    Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
    Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: